Sabtu, 19 Maret 2011

PERSEMBAHAN CINTA YANG TAK LEKANG

Sebuah cinta yang akan selalu terpatri dalam prasasti hidup tanpa terpasung waktu. Rintisan kasih yang senantiasa tersemai dalam bingkai hati atas nama keabadian. Kepadanya, segenap ingin terlabuh.
Senyumnya, sebuah mahakarya yang senantiasa mengukir langkah berarti bagi kehidupan.
Untukmu Ibu, persembahan cinta aku semaikan.

KULEPASKAN KAU DARI HATIKU


Dan kini, aku tak ingin menyaksikan hujan mengguyur langit hatiku. cukuplah gerimis membuatnya luluh lantak. Surat merah jambu bertuliskan namamu dan namanya untuk penyatuan dua hati yang akan kau bingkai pada akad nan suci telah membuat gerimisku reda seketika. Cukuplah gerimis yang kau cipta pada langitku sebab kini ku tak ingin membuatnya redup lagi. Langitku harus cerah, rona mentariku tak perlu lagi tertutup awan. Bukankah larik pelangi jauh lebih indah saat hujan reda.

Duhai gerimis .. kulepaskan kau dari hatiku. biarkan kubangun lagi rumah hatiku dengan taman yang jauh lebih indah, yang akan menjadi lentera hingga ujung perjalanan.

[ LEUTIKA IN YOUR BLOG ] MAKE YOUR DREAMS NEVER GIVE UP

[ LEUTIKA IN YOUR BLOG ]
MAKE YOUR DREAMS NEVER GIVE UP


ENDANG SSN


Agustus 2010, adalah awal mula aku mengenal leutika. Seorang sahabat maya yang menyempatkan waktunya sekedar membaca beberapa catatan di blogku, memberiku tawaran yang sangat menggoda. Tetapi sejujurnya ada rasa tak percaya diri untuk memulainya.
“Tulisanmu enak lho untuk dibaca, renyah. Kenapa tak kau coba ikutkan pada beberapa lomba kepenulisan yang sering diadalakan di dunia maya”
Aku tersentil membacanya, tanpa aku minta dia mengirimkan pesan dan memberi bocoran nama “Leutika”. Aneh dan asing, kesan pertamaku. Entah bagaimana caraku berjabat tangan dengannya, hingga dalam waktu sekejap aku merasa telah begitu dekat dengannya. Bukan karena karyaku yang berada pada tangga juara namun karena semakin seringnya kegagalan menggandengku dalam setiap event yang diadakan.
Kegagalan kadang menempatkanku pada celah ketakpedulian yang kuterima darinya. Apa karena aku hanya seorang pemula ? Mungkinkah. Event yang terus menerus berlangsung tanpa jeda, sejatinya menjadi tempat belajar paling penting bagi pemula sepertiku. Aku tak pernah merasa harus menangisi keterpurukan karena beberapa karya yang tersisih. Entah mengapa aku merasa semakin tertantang. Ada sebuah pembuktian yang harus aku taklukkan. Tantangan baru yang tak butuh tangisan dan rengekan kegagalan, namun sebuah semangat pantang menyerah. Mimpi, itu yang hendak aku raih. Aku semakin termotivasi untuk terus berkarya, mencoba dan terus mencoba. Beberapa nama besar yang telah menjelma selayak leutikan sejati kerap menjadi acuan perjalananku. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama, itu yang selalu leutika berikan kepada setiap orang yang mau berkarya. Jatuh bangun adalah catatan yang akan mengantarkan setiap orang ke tangga kesuksesan, suatu saat nanti. Kini, semua itu menjadi pengalaman paling berharga yang tak pernah lekang oleh waktu.
Berkarya bersama leutika, tak ada ruginya. Leutika memberi kesempatan yang sangat luas kepada setiap penulis untuk mengekspresikan segala mimpinya. Ketika karya telah menjadi pilihan, maka segala hal yang berhubungan dengan buku dilahirkan melalui ajang diskusi dari kedua belah pihak. Tak ada keegoisan di dalamnya. Apa yang penulis mau, mencoba dijembatani dalam keselarasan ide yang mereka punya. Meminta pendapat dan masukan dari apa yang dihasilkan sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku. Sesuatu yang jarang ditemui pada penerbit-penerbit lainnya. Satu hal yang selama ini sangat mendapatkan pujian dari setiap buku yang diterbitkan, ”Covernya bagus banget”. Sungguh, salut banget dengan para pahlawan-pahlawan yang telah memberi warna berbeda dengan sentuhan yang super indah. Like it so much.
Beberapa layanan kemudahan mencoba leutika tawarkan. Mulai dari self publishing atau event kerjasama dengan beberapa persyaratan yang tak memberatkan bagi kedua belah pihak. Leutika telah membuat banyak mimpi anak negeri menjadi nyata. Ketika menulis itu terasa begitu indah, maka leutika mencoba mewujudkan apa yang kita mau. Jatuh bangun adalah hal biasa, kalah menang tak jadi soal, bukankah setiap mimpi harus diperjuangkan ? Bukan hanya menunggu keajaiban menjemput dalam kereta kencana. Leutika juga memberikan kemudahan kepada beberapa penulis yang hendak menerbitkan karyanya tanpa melalui sebuah kompetisi, walaupun dengan kompensasi sesuai ketentuan yang ditetapkan. Bersama leutika, maka mimpimu tak hanya sekedar mimpi. Karena mimpi itu tak boleh menyerah pada keadaan, ia harus terus nyata selama kita masih punya daya untuk berjuang. Sebuah pelajaran berharga yang dirangkai dengan sangat manis oleh leutika.
Harga buku yang iterbitkan di leutika memang sedikit lebih mahal dibandingkan yang lain, sebab kertas yang dipakaipun sangat bagus. Dari beberapa karya yang telah aku miliki dari leutika, hampir semuanya tak ada yang mengecewakan. Mulai dari sampul, layout, warna, komposisi judul buku dan kekuatan yang ditonjolkan pada cover, membuat setiap mata tertarik untuk memiliki. Apalagi dengan sistem penjualan online, maka apa yang telah dilakukan oleh leutika sangat membantu para penulis. Leutika juga menyediakan paket editing serta sarana promosi untuk buku-buku yang diterbitkannya. Jadi menerbitkan buku di leutika ? Why not, because leutika make your dreams never give up.

LEUTIKA …. YES !

Kamis, 03 Februari 2011

RAHASIA HATI

RAHASIA HATI
Endang Ssn


Kepada Hati itu …
Untuk kesekian kalinya dalam rinai hujan yang mengguyur gersang kota, sepucuk surat tak pernah sampai kembali menjadi pelipur. Dalam debaran yang menggelayut manja, kala secercah senyum membuat napak tilas hati menjadi tak menentu. Kala sapa ramah berujar lirih, menautkan raga pada kelu yang tak pernah mampu bergerak.

Kepada Hati itu …
Kehadiran menyentuh sisi rasa yang telah lama luruh dalam penantian. Menjajaki gersang hati yang tercerabut oleh sebuah ketakberdayaan. Segala tunduk dalam aura cinta yang bersemi dari keping waktu. Membuat penyadaran bahwa segala keindahan pantas menjadi milik setiap nama, hanya kesempatan yang selalu menunggu sang waktu membawanya dalam perjalanan yang membungkus kisah.

Kepada hati itu …
Suatu masa akan menuntun arah cintaku menemuimu. Entah berapa lama lagi kisah itu akan dapat kutulis dalam sepasang puisi yang akan kurangkai. Menjemputmu dalam rumah hati terindah yang akan kau tinggali bukan sekedar persinggahan. Menaburi taman mimpi dengan asa yang akan kita raih pada masa depan, bukan sekedar catatan tanpa makna. Merengkuh jarak dan masa menjadi pelabuhan pasti akan sejatinya rasa, bukan semu belaka.

Kepada hati itu …
Suatu hari nanti, entah siapa, entah dimana .... tak pernah kutahu.

KETIKA TANGANKU SERUPAMU (naskah women only)

KETIKA TANGANKU SERUPAMU

Endang SSN


Wajah cantik, tutur lembut dan laku yang bijak, gambaran yang tercitra dalam raga seorang perempuan. Tak ada beda, bagiku semua perempuan terlahir cantik tanpa cela, hanya butuh rasa syukur untuk mengamini segala anugerah tersebut. Perempuan dan dunia selayak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Berapa banyak perubahan dunia disebabkan oleh daya seorang perempuan, bahkan dibalik kesuksesan lelaki manapun, selalu ada perempuan hebat dibaliknya.
Pergolakan zaman dan pergeseran peradaban terkadang menempatkan seorang perempuan pada sisi terlemah. Dianggap tak berdaya, tak mampu memanggul segala tugas berat di pundaknya yang lembut. Kerapuhan seringkali diidentikkan dari air mata yang kerapkali mengalir dari rasa yang tersentuh. Bukankah itu kodrati ? Mengapa mesti menganggapnya sebentuk kelemahan.
Ada baiknya kita mengembangkan cakrawala berfikir, sekedar melihat kembali berapa banyak perempuan yang mampu berkembang di tengah himpitan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Lihatlah di seluruh pelosok dunia, tak ada lagi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki. Pekerjaan mereka juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Emansipasi yang telah lama didengungkan memang menjadi batu loncatan sebagai pembuka gerbang menuju kemerdekaan berkarya. Kalau dulu seorang perempuan hanya bisa berdiam diri di rumah, menjalankan tugas rutin sebagai ibu rumah tangga dan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, kini dunia mereka tak hanya seluas rumah yang ditempati. Begitu banyak perempuan yang mampu mencatatkan namanya di lembar sejarah walaupun Ia hanya seorang ibu rumah tangga. Contohnya saja penulis ternama sehebat Djenar Mahesa Ayu dari Indonesia. Namanya sangat unggul tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang ibu. Merangkaikan kata, menebarkan karya yang memberi manfaat bagi dunia namun raganya tetap ada sebagai pendamping bagi keluarga yang membutuhkan. Ketika malam-malam dihabiskannya di depan komputer demi menyelesaikan catatan demi catatan, hatinya sebagai perempuan selalu nyata membelai anak-anaknya dan mengantarkan mereka menuju gerbang masa depan.

Terlepas dari segala kesuksesan yang telah direguk oleh sebagian perempuan, mungkin kita bisa berkaca pada beberapa buruh migran yang mengabdikan dirinya di negeri orang demi keluarga. Ketakutan akan jarak dan masa yang memisahkan mereka dengan keluarga, telah berhasil ditepis. Semangat yang terus menyala menjadikan mereka selayak lentera yang tak pernah padam. Beberapa media telah seringkali memotret kehidupan mereka, keteguhan dan perjuangan untuk mengubah nasib menjadikan segala aral dan rintangan tak lagi nyata. Berganti peran dengan laki-laki kerap mereka jalani. Tugas yang dipikulnyapun tak bisa dipandang sébelah mata. Para perempuan ini rela menghabiskan sisa hidupnya demi menghidupi keluarga tercinta, adakah perghargaan atas semua itu ?. Tak peduli lencana akan tersemat di dada mereka atau tidak, sebentuk rasa tanggung jawab membuat mereka rela mengatasnamakan segala pengorbanan dalam setitik keikhlasan. Demi hidup dan orang-orang yang dicintainya.

Para perempuan telah mulai menapaki sisi lain dari hidupnya. Memahami arti emansipasi dalam kadar yang semestinya, tak melebihkannya atas nama perubahan pola pikir. Menata hidup dengan lebih baik dan memberi cerminan layak atas kodratnya. Perasaan kebersamaan yang dirasakan sebagai sesama perempuan perlahan mulai mencuat seiring beberapa kekerasan yang kerap menimpa kaumnya. Ketika sebuah berita menyebabkan salah satu dari mereka tertindas oleh kekejaman dunia, maka seluruh hati dan perasaan bersatu demi meringankan beban. Tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal, tak pernah dipertanyakannya darimana berita tersiar. Merasa senasib sebagai perempuan menggugah hati mereka untuk bersatu menegakkan apa yang menjadi hak dan memberi pencerahan untuk segala kewajiban yang harus dijalaninya.

Beberapa kejadian yang sangat menggugah ketika kaumnya mendapat sorotan dalam dunia kesehatan. Perempuan selalu rentan dengan penyakit yang sering menjadi halilintar, kanker rahim. Hingga detik ini berapa banyak perempuan dari seluruh dunia yang terjangkit dan sedang menjalani pengobatan untuk penyakit tersebut. Biaya yang tidak sedikit serta proses penyembuhan yang tak kunjung terlihat hasilnya, seringkali menjadikan para penderita pesimis. Merasa hidup mereka telah berakhir, memandang kenyataan sebagai ketakadilan yang mesti diterima dengan setengah hati.
Dari sinilah rasa persatuan sebagai perempuan mulai menuai. Perasaan sebagai raga yang menderita, ritme hidup yang telah hilang arah, sedikit demi sedikit menghimpun mereka yang tersebar menjadi satu dalam arti sesungguhnya. Mereka yang berkecukupan dari sisi materi tak harus berfikir panjang untuk merogoh isi kantongnya. Para perempuan telah memahami bahwa banyak yang bisa mereka berikan untuk kaumnya. Sumbangan pemikiran untuk menemukan obat dari penyakit yang diderita, berbagai informasi yang sengaja dibagi demi menemukan jalan keluar serta tenaga yang hanya mereka miliki rela diberikannya untuk kembali menyemaikan semangat. Hidup ini indah dan harus terus diindahkan. Semua akan nyata jika persatuan sebagai perempuan dapat terjalin rekat.

Menyatukan pemikiran untuk seiring menuju perbaikan bukan hal mustahil untuk nyata. Bahkan dengan ragam teknologi yang kian marak saat ini, dimana seluruh dunia terasa berada dalam genggaman. Sekalipun ada hal yang kadang hadir sebagai rintangan. Diantaranya beberapa perempuan yang lebih condong pada perasaannya dalam mengatasi beberapa masalah pelik yang dihadapi, melepaskan logika berfikir seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Ketika perasaan sudah menjadi landasan dari setiap permasalahan, maka kita akan terlupa untuk lebih bersifat objektif dan menakar persoalan pada tempat sebenarnya. Adanya perasaan iri yang kerapkali muncul antara satu perempuan dengan yang lainnya. Keberadaan ide yang tidak sejalan, membuat sebagian perempuan memilih mengalah namun menggerutu di belakang atau memilih pergi dan tak menggubris apa yang telah disepakati semula. Ketika perempuan tak mampu memahami arti persatuan yang sesungguhnya, maka akan muncul pemikiran bahwa dia sudah lebih dari laki-laki. Disinilah rintangan yang seharusnya dicerna dan dicari jalan tengahnya.

Ketika sejarah menuliskan bahwa perempuan dapat saling bahu membahu dengan laki-laki dalam banyak hal, semestinya beban hidup dapat teratasi bersama. Bukan berarti perempuan menjadi lebih tinggi atau menyepelekan keberadaan kaum yang lain. Emansipasi menjadikan perempuan sejajar dalam menuntut ilmu, punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Namun sisi kodrat sebagai istri dan ibu tetap tak pernah berubah. Kelembutan dan kebijaksanaan tetap menjadi pembungkus raga yang tak pernah bergeming. Perempuan juga tetap memiliki perasaan yang halus yang juga butuh kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Keberadaan perempuan memang tak lagi dipandang sebelah mata seperti masa lalu, Ia menjadi kebutuhan yang melengkapi keberadaan dunia. Beban yang menjerat tak semestinya hanya dipikul satu raga, bukankah dengan kebersamaan segalanya akan terasa lebih ringan. Suratan yang tergaris dalam tangan memanglah tak sama namun ketika tangan mereka serupa denganmu untuk turut menanggung beban dan berkarya, maka biarlah ia bersama dengan kaummu, seiring bergandengan menuju kesuksesan hidup. ***

KETIKA TANGANKU SERUPAMU (naskah women only)

KETIKA TANGANKU SERUPAMU
Endang SSN


Wajah cantik, tutur lembut dan laku yang bijak, gambaran yang tercitra dalam raga seorang perempuan. Tak ada beda, bagiku semua perempuan terlahir cantik tanpa cela, hanya butuh rasa syukur untuk mengamini segala anugerah tersebut. Perempuan dan dunia selayak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Berapa banyak perubahan dunia disebabkan oleh daya seorang perempuan, bahkan dibalik kesuksesan lelaki manapun, selalu ada perempuan hebat dibaliknya.
Pergolakan zaman dan pergeseran peradaban terkadang menempatkan seorang perempuan pada sisi terlemah. Dianggap tak berdaya, tak mampu memanggul segala tugas berat di pundaknya yang lembut. Kerapuhan seringkali diidentikkan dari air mata yang kerapkali mengalir dari rasa yang tersentuh. Bukankah itu kodrati ? Mengapa mesti menganggapnya sebentuk kelemahan.
Ada baiknya kita mengembangkan cakrawala berfikir, sekedar melihat kembali berapa banyak perempuan yang mampu berkembang di tengah himpitan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Lihatlah di seluruh pelosok dunia, tak ada lagi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki. Pekerjaan mereka juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Emansipasi yang telah lama didengungkan memang menjadi batu loncatan sebagai pembuka gerbang menuju kemerdekaan berkarya. Kalau dulu seorang perempuan hanya bisa berdiam diri di rumah, menjalankan tugas rutin sebagai ibu rumah tangga dan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, kini dunia mereka tak hanya seluas rumah yang ditempati. Begitu banyak perempuan yang mampu mencatatkan namanya di lembar sejarah walaupun Ia hanya seorang ibu rumah tangga. Contohnya saja penulis ternama sehebat Djenar Mahesa Ayu dari Indonesia. Namanya sangat unggul tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang ibu. Merangkaikan kata, menebarkan karya yang memberi manfaat bagi dunia namun raganya tetap ada sebagai pendamping bagi keluarga yang membutuhkan. Ketika malam-malam dihabiskannya di depan komputer demi menyelesaikan catatan demi catatan, hatinya sebagai perempuan selalu nyata membelai anak-anaknya dan mengantarkan mereka menuju gerbang masa depan.

Terlepas dari segala kesuksesan yang telah direguk oleh sebagian perempuan, mungkin kita bisa berkaca pada beberapa buruh migran yang mengabdikan dirinya di negeri orang demi keluarga. Ketakutan akan jarak dan masa yang memisahkan mereka dengan keluarga, telah berhasil ditepis. Semangat yang terus menyala menjadikan mereka selayak lentera yang tak pernah padam. Beberapa media telah seringkali memotret kehidupan mereka, keteguhan dan perjuangan untuk mengubah nasib menjadikan segala aral dan rintangan tak lagi nyata. Berganti peran dengan laki-laki kerap mereka jalani. Tugas yang dipikulnyapun tak bisa dipandang sébelah mata. Para perempuan ini rela menghabiskan sisa hidupnya demi menghidupi keluarga tercinta, adakah perghargaan atas semua itu ?. Tak peduli lencana akan tersemat di dada mereka atau tidak, sebentuk rasa tanggung jawab membuat mereka rela mengatasnamakan segala pengorbanan dalam setitik keikhlasan. Demi hidup dan orang-orang yang dicintainya.

Para perempuan telah mulai menapaki sisi lain dari hidupnya. Memahami arti emansipasi dalam kadar yang semestinya, tak melebihkannya atas nama perubahan pola pikir. Menata hidup dengan lebih baik dan memberi cerminan layak atas kodratnya. Perasaan kebersamaan yang dirasakan sebagai sesama perempuan perlahan mulai mencuat seiring beberapa kekerasan yang kerap menimpa kaumnya. Ketika sebuah berita menyebabkan salah satu dari mereka tertindas oleh kekejaman dunia, maka seluruh hati dan perasaan bersatu demi meringankan beban. Tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal, tak pernah dipertanyakannya darimana berita tersiar. Merasa senasib sebagai perempuan menggugah hati mereka untuk bersatu menegakkan apa yang menjadi hak dan memberi pencerahan untuk segala kewajiban yang harus dijalaninya.

Beberapa kejadian yang sangat menggugah ketika kaumnya mendapat sorotan dalam dunia kesehatan. Perempuan selalu rentan dengan penyakit yang sering menjadi halilintar, kanker rahim. Hingga detik ini berapa banyak perempuan dari seluruh dunia yang terjangkit dan sedang menjalani pengobatan untuk penyakit tersebut. Biaya yang tidak sedikit serta proses penyembuhan yang tak kunjung terlihat hasilnya, seringkali menjadikan para penderita pesimis. Merasa hidup mereka telah berakhir, memandang kenyataan sebagai ketakadilan yang mesti diterima dengan setengah hati.
Dari sinilah rasa persatuan sebagai perempuan mulai menuai. Perasaan sebagai raga yang menderita, ritme hidup yang telah hilang arah, sedikit demi sedikit menghimpun mereka yang tersebar menjadi satu dalam arti sesungguhnya. Mereka yang berkecukupan dari sisi materi tak harus berfikir panjang untuk merogoh isi kantongnya. Para perempuan telah memahami bahwa banyak yang bisa mereka berikan untuk kaumnya. Sumbangan pemikiran untuk menemukan obat dari penyakit yang diderita, berbagai informasi yang sengaja dibagi demi menemukan jalan keluar serta tenaga yang hanya mereka miliki rela diberikannya untuk kembali menyemaikan semangat. Hidup ini indah dan harus terus diindahkan. Semua akan nyata jika persatuan sebagai perempuan dapat terjalin rekat.

Menyatukan pemikiran untuk seiring menuju perbaikan bukan hal mustahil untuk nyata. Bahkan dengan ragam teknologi yang kian marak saat ini, dimana seluruh dunia terasa berada dalam genggaman. Sekalipun ada hal yang kadang hadir sebagai rintangan. Diantaranya beberapa perempuan yang lebih condong pada perasaannya dalam mengatasi beberapa masalah pelik yang dihadapi, melepaskan logika berfikir seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Ketika perasaan sudah menjadi landasan dari setiap permasalahan, maka kita akan terlupa untuk lebih bersifat objektif dan menakar persoalan pada tempat sebenarnya. Adanya perasaan iri yang kerapkali muncul antara satu perempuan dengan yang lainnya. Keberadaan ide yang tidak sejalan, membuat sebagian perempuan memilih mengalah namun menggerutu di belakang atau memilih pergi dan tak menggubris apa yang telah disepakati semula. Ketika perempuan tak mampu memahami arti persatuan yang sesungguhnya, maka akan muncul pemikiran bahwa dia sudah lebih dari laki-laki. Disinilah rintangan yang seharusnya dicerna dan dicari jalan tengahnya.

Ketika sejarah menuliskan bahwa perempuan dapat saling bahu membahu dengan laki-laki dalam banyak hal, semestinya beban hidup dapat teratasi bersama. Bukan berarti perempuan menjadi lebih tinggi atau menyepelekan keberadaan kaum yang lain. Emansipasi menjadikan perempuan sejajar dalam menuntut ilmu, punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Namun sisi kodrat sebagai istri dan ibu tetap tak pernah berubah. Kelembutan dan kebijaksanaan tetap menjadi pembungkus raga yang tak pernah bergeming. Perempuan juga tetap memiliki perasaan yang halus yang juga butuh kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Keberadaan perempuan memang tak lagi dipandang sebelah mata seperti masa lalu, Ia menjadi kebutuhan yang melengkapi keberadaan dunia. Beban yang menjerat tak semestinya hanya dipikul satu raga, bukankah dengan kebersamaan segalanya akan terasa lebih ringan. Suratan yang tergaris dalam tangan memanglah tak sama namun ketika tangan mereka serupa denganmu untuk turut menanggung beban dan berkarya, maka biarlah ia bersama dengan kaummu, seiring bergandengan menuju kesuksesan hidup. ***

KETIKA TANGANKU SERUPAMU (naskah women only)

KETIKA TANGANKU SERUPAMU

Endang SSN


Wajah cantik, tutur lembut dan laku yang bijak, gambaran yang tercitra dalam raga seorang perempuan. Tak ada beda, bagiku semua perempuan terlahir cantik tanpa cela, hanya butuh rasa syukur untuk mengamini segala anugerah tersebut. Perempuan dan dunia selayak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Berapa banyak perubahan dunia disebabkan oleh daya seorang perempuan, bahkan dibalik kesuksesan lelaki manapun, selalu ada perempuan hebat dibaliknya.
Pergolakan zaman dan pergeseran peradaban terkadang menempatkan seorang perempuan pada sisi terlemah. Dianggap tak berdaya, tak mampu memanggul segala tugas berat di pundaknya yang lembut. Kerapuhan seringkali diidentikkan dari air mata yang kerapkali mengalir dari rasa yang tersentuh. Bukankah itu kodrati ? Mengapa mesti menganggapnya sebentuk kelemahan.
Ada baiknya kita mengembangkan cakrawala berfikir, sekedar melihat kembali berapa banyak perempuan yang mampu berkembang di tengah himpitan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Lihatlah di seluruh pelosok dunia, tak ada lagi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki. Pekerjaan mereka juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Emansipasi yang telah lama didengungkan memang menjadi batu loncatan sebagai pembuka gerbang menuju kemerdekaan berkarya. Kalau dulu seorang perempuan hanya bisa berdiam diri di rumah, menjalankan tugas rutin sebagai ibu rumah tangga dan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, kini dunia mereka tak hanya seluas rumah yang ditempati. Begitu banyak perempuan yang mampu mencatatkan namanya di lembar sejarah walaupun Ia hanya seorang ibu rumah tangga. Contohnya saja penulis ternama sehebat Djenar Mahesa Ayu dari Indonesia. Namanya sangat unggul tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang ibu. Merangkaikan kata, menebarkan karya yang memberi manfaat bagi dunia namun raganya tetap ada sebagai pendamping bagi keluarga yang membutuhkan. Ketika malam-malam dihabiskannya di depan komputer demi menyelesaikan catatan demi catatan, hatinya sebagai perempuan selalu nyata membelai anak-anaknya dan mengantarkan mereka menuju gerbang masa depan.

Terlepas dari segala kesuksesan yang telah direguk oleh sebagian perempuan, mungkin kita bisa berkaca pada beberapa buruh migran yang mengabdikan dirinya di negeri orang demi keluarga. Ketakutan akan jarak dan masa yang memisahkan mereka dengan keluarga, telah berhasil ditepis. Semangat yang terus menyala menjadikan mereka selayak lentera yang tak pernah padam. Beberapa media telah seringkali memotret kehidupan mereka, keteguhan dan perjuangan untuk mengubah nasib menjadikan segala aral dan rintangan tak lagi nyata. Berganti peran dengan laki-laki kerap mereka jalani. Tugas yang dipikulnyapun tak bisa dipandang sébelah mata. Para perempuan ini rela menghabiskan sisa hidupnya demi menghidupi keluarga tercinta, adakah perghargaan atas semua itu ?. Tak peduli lencana akan tersemat di dada mereka atau tidak, sebentuk rasa tanggung jawab membuat mereka rela mengatasnamakan segala pengorbanan dalam setitik keikhlasan. Demi hidup dan orang-orang yang dicintainya.

Para perempuan telah mulai menapaki sisi lain dari hidupnya. Memahami arti emansipasi dalam kadar yang semestinya, tak melebihkannya atas nama perubahan pola pikir. Menata hidup dengan lebih baik dan memberi cerminan layak atas kodratnya. Perasaan kebersamaan yang dirasakan sebagai sesama perempuan perlahan mulai mencuat seiring beberapa kekerasan yang kerap menimpa kaumnya. Ketika sebuah berita menyebabkan salah satu dari mereka tertindas oleh kekejaman dunia, maka seluruh hati dan perasaan bersatu demi meringankan beban. Tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal, tak pernah dipertanyakannya darimana berita tersiar. Merasa senasib sebagai perempuan menggugah hati mereka untuk bersatu menegakkan apa yang menjadi hak dan memberi pencerahan untuk segala kewajiban yang harus dijalaninya.

Beberapa kejadian yang sangat menggugah ketika kaumnya mendapat sorotan dalam dunia kesehatan. Perempuan selalu rentan dengan penyakit yang sering menjadi halilintar, kanker rahim. Hingga detik ini berapa banyak perempuan dari seluruh dunia yang terjangkit dan sedang menjalani pengobatan untuk penyakit tersebut. Biaya yang tidak sedikit serta proses penyembuhan yang tak kunjung terlihat hasilnya, seringkali menjadikan para penderita pesimis. Merasa hidup mereka telah berakhir, memandang kenyataan sebagai ketakadilan yang mesti diterima dengan setengah hati.
Dari sinilah rasa persatuan sebagai perempuan mulai menuai. Perasaan sebagai raga yang menderita, ritme hidup yang telah hilang arah, sedikit demi sedikit menghimpun mereka yang tersebar menjadi satu dalam arti sesungguhnya. Mereka yang berkecukupan dari sisi materi tak harus berfikir panjang untuk merogoh isi kantongnya. Para perempuan telah memahami bahwa banyak yang bisa mereka berikan untuk kaumnya. Sumbangan pemikiran untuk menemukan obat dari penyakit yang diderita, berbagai informasi yang sengaja dibagi demi menemukan jalan keluar serta tenaga yang hanya mereka miliki rela diberikannya untuk kembali menyemaikan semangat. Hidup ini indah dan harus terus diindahkan. Semua akan nyata jika persatuan sebagai perempuan dapat terjalin rekat.

Menyatukan pemikiran untuk seiring menuju perbaikan bukan hal mustahil untuk nyata. Bahkan dengan ragam teknologi yang kian marak saat ini, dimana seluruh dunia terasa berada dalam genggaman. Sekalipun ada hal yang kadang hadir sebagai rintangan. Diantaranya beberapa perempuan yang lebih condong pada perasaannya dalam mengatasi beberapa masalah pelik yang dihadapi, melepaskan logika berfikir seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Ketika perasaan sudah menjadi landasan dari setiap permasalahan, maka kita akan terlupa untuk lebih bersifat objektif dan menakar persoalan pada tempat sebenarnya. Adanya perasaan iri yang kerapkali muncul antara satu perempuan dengan yang lainnya. Keberadaan ide yang tidak sejalan, membuat sebagian perempuan memilih mengalah namun menggerutu di belakang atau memilih pergi dan tak menggubris apa yang telah disepakati semula. Ketika perempuan tak mampu memahami arti persatuan yang sesungguhnya, maka akan muncul pemikiran bahwa dia sudah lebih dari laki-laki. Disinilah rintangan yang seharusnya dicerna dan dicari jalan tengahnya.

Ketika sejarah menuliskan bahwa perempuan dapat saling bahu membahu dengan laki-laki dalam banyak hal, semestinya beban hidup dapat teratasi bersama. Bukan berarti perempuan menjadi lebih tinggi atau menyepelekan keberadaan kaum yang lain. Emansipasi menjadikan perempuan sejajar dalam menuntut ilmu, punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Namun sisi kodrat sebagai istri dan ibu tetap tak pernah berubah. Kelembutan dan kebijaksanaan tetap menjadi pembungkus raga yang tak pernah bergeming. Perempuan juga tetap memiliki perasaan yang halus yang juga butuh kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Keberadaan perempuan memang tak lagi dipandang sebelah mata seperti masa lalu, Ia menjadi kebutuhan yang melengkapi keberadaan dunia. Beban yang menjerat tak semestinya hanya dipikul satu raga, bukankah dengan kebersamaan segalanya akan terasa lebih ringan. Suratan yang tergaris dalam tangan memanglah tak sama namun ketika tangan mereka serupa denganmu untuk turut menanggung beban dan berkarya, maka biarlah ia bersama dengan kaummu, seiring bergandengan menuju kesuksesan hidup. ***