Sabtu, 28 November 2015
MASIH ADA
Rabu, 30 September 2015
LOMBOK IN LOVE : Part 1
So beautiful ...
Lombok itu cantik. Lombok itu unik. Bisa menjejakkan kaki selama 4 hari disini adalah hal luar biasa. Beruntung seorang kawan lama yang masih bertugas sebagai tour guide, Pak Saiful bersedia menjadi pemandu kami. Ah, indahnya silaturahmi. Padahal kami bertemu sekali saja dengan beliau di tahun 2007 lalu.
Pertamakali menjejakkan kaki di Bandara Internasional Lombok (BIL), kami langsung disuguhi pemandangan asyik. Finally, kami sampai juga di tanah ini. Tempat yang dulu pernah aku impikan untuk menaklukkan Rinjani. Meski satu hal itu belum kesampaian, tapi kami sangat senang karena bisa melepas kerinduan pada pantai setelah hampir 7 bulan melewatkan banyak kesempatan.
Lombok, bukan sekedar memberikan energi laut luar biasa indah. Tapi juga barisan adat dan istiadat yang masih dipegang kokoh.
Tempat pertama, kami dibawa mengunjungi Pantai Kuta. Namanya sangat familiar seperti salah satu tempat wisata di Bali. Tapi yakinlah, ini sangat berbeda. Wow!Amazing! Hamparan laut Maha Sempurna, dengan tahta langit super biru. Sungguh karya alam luar biasa cantik. Kami tak henti memuji keMahaanNya dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Berlarian diantara pasir putih, irama semilir ombak memecah sunyi. Beberapa pasang mata saling bersitatap sebelum akhirnya kami semua sepakat, ini indah. Sangat indah.
Tak hanya Pantai Kuta yang menarik perhatian. Tapi Tanjung Aan yang berjarak beberapa kilometer dari Pantai Kuta lebih dan lebih lagi membuat kami pecah kata. Luruh seluruh kalimat. Kekaguman membuncah. Ada beberapa tebing yang membentang dan biasa digunakan oleh para wisatawan untuk mengabadikan gambar. Tempat ini menjadi begitu difavoritkan. Bayangkan saja berada di ketinggian tebing lalu di bawah terbentang luas hamparan laut dengan pisahan warna hijau hingga biru. Di atas, langit dengan gagah membentang. Ah, Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?
Perjalanan hari pertama di Lombok bukan saja membuat kami takjub. Tapi juga tak henti bersyukur. Mengagumi Kemaha IndahanNya. Betapa Dia sangat sempurna dengan segala ciptaanNya.
Lombok, We're in Love
Selasa, 18 Agustus 2015
Karena kita perlu melihat dari sisi berbeda
Menghabiskan waktu berlama-lama seperti ini. Menenggelamkan diri dalam kesibukan begini. Lelah, tetap saja hinggap. Walau berdalih profesionalisme pun selalu dikedepankan. Namun kadang miris, bagaimana bisa? Melewati detik demi detik dalam pekerjaan. Andai Tuhan tak menitipkan pundak yang cukup kuat, mungkin kaki takkan kuat berdiri melewati semuanya.
Demi apa? Entah. Mencari jawaban satu demi satu hanya akan berujung letih. Lalu apa yang akan membuat tersenyum bila lelah bukan sebuah lillah. Ah, hati.
Tuhan, Ya. Dia adalah alasan terbaik yang menjadikan apa yang kita jalani sebagai rahmat. Melihat dari sisi berbeda, betapa banyak orang diluar sana yang terlalu luas waktu bersantainya dan mereka inginkan kesibukan seperti yang kita punya. Kita semestinya punya cukup kesyukuran untuk segala yang kita miliki. Indah, akan indah. Percayalah!
PadaNya, karenaNya dan untukNya. Hanya itu tujuan kita. Lillah tak pernah lelah.
Jumat, 17 Juli 2015
RINDU KAMI
01 Syawal ...
Kemenangan membahana di seluruh penjuru. Nafas para muslim berpadu dalam kumandang takbir tanpa henti. Riuh para pemudik menjadi pelengkap. Betapa semua insan menyambut hari ini penuh suka cita. Meski tanpa kita sadari, riak kesedihan begitu nyata di satu sudut hati. Ramadhan, bulan penuh ampunan penuh berkah itu akan pergi setelah 30 hari menemani. Bagaimana kami tak merasa rindu? Bagaimana kami tak merasa sesak sedang ramadhan berikutnya tak pernah kami tahu akan sampai atau tidak. Dalam segenap kehambaan, berharap Allah Maha Cinta melimpahkan rahmat agar kami bisa sampai di ramadhan-ramadhan berikutnya dalam sehat, iman dan islam yang teguh. Aamiin.
Ayah, Kakak ...
Menjumpaimu kembali, disini. Di tanah penuh cinta. Tempat segala cinta akan berlabuh dan kembali dipertemukan kelak. Hati kami selalu sesak meski ikhlas sudah kami pasrahkan kepadaNya. Kenangan itu datang, menjemput kami dengan perlahan. Maaf, jika air mata selalu saja basah dalam kelu.
Ayah, Kakak ...
Damailah selalu disana. Semoga Allah menempatkan kalian di tempat paling indah, tempat dimana senyum abadi menjadi damba semua insan.
Rabb, Maha Pengasih.
Terimalah segala amal ibadah mereka. Terangkan alamnya, luaskan kuburnya. Penuhi rumah mereka dengan cintaMu. Ijinkan surgaMu yang abadi menjadi balasan bagi segala kebaikan mereka. Pertemukan dan kumpulkan kami semua sebagai keluarga yang Engkau rahmati, di surgaMu Ya Rabbi. Aamiin.
Senin, 18 Mei 2015
Atas Nama Hati
Karena surprise tidak harus mahal. Sebagai orang yang sangat jarang mendapatkan surprise, hari ini sungguh menjadi catatan luar biasa dalam perjalananku.
I Have Monday!
Pekerjaan super padat selalu menjadi irama yang rutin mendekapku. Tapi semua adalah anugerah yang kerap disyukuri sebagai cinta yang dikirim Sang Maha Cinta. Tapi satu semangat hadir sebab berharap malam ini bisa menyaksikan perhelatan di salah satu TV nasional. Tentu saja aku berharap sang idola Reza Rahadian akan menjadi salah satu yang naik podium. Sayang seribu sayang karena cuaca dan beberapa gangguan diluar teknis, stasiun tv yang kumaksud kurang tertangkap jelas. Ya, apa mau dikata?
"Acaranya di TV mana? Owh, udah jernih kok. Selamat Nonton, ya!"
What? Lidahku kelu. Sesampainya di rumah, Surprise! Nyaris semua saluran TV jernih total. Ah, God! Jadi sesorean dia kesini cuma untuk membetulkan antena TV? Hanya demi aku bisa nonton acara yang aku mau?
Atas nama hati,
Terima kasih untuk kado kecil ini. Bahagia tidak harus mahal, tidak perlu kompleks. Karena ia bisa lahir dari hal kecil dan sesederhana ini. Pada detik yang tidak pernah kita sangka sekali pun.
Atas nama hati,
Thank You So Much.
Ai
Rabu, 29 April 2015
3 KM
Pulang ke kotamu ...
Yogyakarta, rumah kedua yang tak pernah bosan mengajak kami kembali. Entah ini pertemuan kami yang keberapa. Seingatku sih setiap kali kami hendak melakukan perjalanan, meeting point selalu di Yogya.
Stasiun Tugu, Malioboro, Titik Nol, Angkringan dan masih banyak titik lain yang menjadi akses pengingat kami.
Perjalanan kali ini dibuka dengan gerimis. Bukan hanya Yogya, hampir semua kota rata diguyur hujan. Ah, kami bersyukur. Turun hujan berarti rahmat. Semoga perjalanan kami mendapat berkah. Aamiin.
Gunung Kidul ...
Inilah salah satu tempat yang kami tuju. Sebuah pesantren yang baru berkembang. Kami mengenal mereka hanya dalam maya, tapi alhamdulillah Tuhan memberi kesempatan untuk berjumpa degan saudara-saudara baru ini dalam nyata. Meski menjejakkan kaki di Desa Panggang, Gunung Kidul belum pernah terbersit dalam pikiran kami.
Hehehe ternyata beda jarak itu bukan hanya di peta. Setiap warga yang kami minta informasinya selalu mengatakan kalau tempat itu sudah dekat, hanya 3 km. Tapi siapa sangka, sudah berkelok-kelok tanpa henti, kami belum bertemu rumah penduduk sama sekali.
Pohon besar dan seorang lelaki berpakaian putih adalah petunjuk berikutnya. Hari mulai gelap, ditemani lusinan bunga tebu yang mulai memutih sebagai cara kami menghibur diri bahwa tempat itu pasti sebentar lagi akan ada. Sayang, kembali kami bertemu dengan informasi serupa. "Hanya 3 km lagi kok," ucap salah seorang warga.
Taraaaaa ...
Tidak ada kegigihan yang sia-sia. Senyum terkembang dari dua wajah yang memancarkan keteduhan. Ah, inikah karunia Tuhan itu? Di tanah pedalaman ini masih ada orang-orang tanpa pamrih yang berjuang untuk orang lain, untuk anak-anak yang butuh masa depan.
Terima kasih Tuhan.
Perjalanan diantara gerimis yang memberi kami pelajaran indah.
Bersama Berbagi Bahagia.