Rasa Dalam Sekat
Malam masih berjelaga. Pekat selimuti raga dalam dingin yang kian menyentuh. Ada hampa juga haru. Resah beradu dengan denting dawai hati yang mencoba mengetuk, datang sesaat menyelinap bersama sapa tak biasa.
“Astaghfirullah” aku tersentak
“Kenapa ? Mimpi buruk ?” seru Bunda yang menemaniku malam itu
Mengambil wudhu dan bermunajat dalam dua rokaat di sepertiga malam, mencoba mengadu di atas sajadah panjang. Sungguh, aku tak pernah tahu ada makna apa dibalik semua pertanda. Namun aku sangat percaya segala yang dihadirkanNya dalam sadar atau tidak, senantiasa berbahasa. ***
Sebuah bayang dalam samar menyentuh sisi hati yang selama ini terlalu lama kulindungi. Tak ingin melangkah dalam rasa yang tak semestinya, maka kutautkan saja benang-benang rindu dalam dekap sang Maha Cinta. Lalu malam itu, dalam peluk hangatNya, aku larungkan tanya. Adakah yang harus aku syukuri atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Sayang atau cinta, semua masih sangat misteri. Tak ada satupun hati yang dapat memastikannya. Begitu juga aku. Tak ingin terjebak dalam ego yang hanya menyesatkan kemurnian perasaan belaka.
“Kau mengenalnya ? Lalu kenapa tak mencoba menyingkap misteri, mengapa tak berusaha menjegal sekat yang ada diantara kalian ?” tanya Dinda, sahabatku
“Aku hanya ingin rasa itu datang semata karenaNya. Disaat hatinya memilihku, maka itu karena Dia. Begitu juga sebaliknya”
“Tapi sampai kapan kalian saling berdiam ? Menikmati perasaan itu hanya dalam diam saja ? Bagaimana sekat itu akan menghilang jika satu dan yang lain saling bertahan dengan egonya ?”
Aku tersenyum, entah. Semua memang terjadi dalam diam. Sang Maha Cinta mendatangkan bayangnya dalam waktu yang tak pernah kurencana. Menyapa begitu saja, murni. Hati-hati saling terjaga untuk sebenarnya memurnikan rasa. Bagaimana semua itu akan berujung, maka biar Rabbku saja yang memberikan ruang terindah itu.
Pertautan rasa ini memang tak biasa. Apa yang kami jalani bukan sebuah pertemuan seperti yang terjadi pada mereka diluar sana. Aku merasakan sebuah penemuan. Sebentuk ingin yang akhirnya aku temukan. Menemukan sebuah pencapaian yang ada pada diriku. Kadangkala terkesan rumit, tapi indah. Damai dan sederhanakan saja. ***
Rindu, menjadi bumbu paling manis dalam aura merah jambu sebuah hati. Disaat mereka berlomba dalam ribuan kalimat puitis yang melambungkan, maka aku hanya diam. Dia juga diam. Tapi ada rasa yang terhubung, dalam diam.
“Lalu bagaimana jika rindu tergelitik menyapa sisi manusiawimu ?” ucap Dinda
“Saat rindu menyapa maka nyanyikan saja syair jiwa itu kepada sang Maha Cinta. Tunduk dalam sujud panjang agar Dia menyampaikannya kepada sang empunya hati” jelasku
Dan dalam temaram malam yang semakin pekat, ada ego yang bertanya. Kenapa bertahan dalam sekat juga diam, sedang menjelaskan semuanya dalam kalimat gamblang akan lebih indah. Aku tersenyum menatap pijar galaksi bintang di langit, dalam diam. Hatiku terusik dalam jawab yang teryakini.
“Sekat itu masih ada, tapi aku percaya Allah sedang mengatur pertemuan itu dalam nyata dengan cara yang sangat indah untuk hambaNya. Maka masih pantaskah kita resah dan gulana”
Menikmati saja rasa yang masih bermisteri, indah saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar