Sabtu, 18 Agustus 2012

Lelaki : Kutunggu Lelakumu


Lelaki, Kutunggu Lelakumu

Buku Baru!
Judul : LELAKI : Kutunggu Lelakumu
Penulis: Dian Nafi dan Endang Ssn
Penerbit : Hasfa Publisher
Terbit : Juni 2012
ISBN : 978-602-7693-04-3

            Cinta datang pada setiap hati dengan cara yang sangat indah. Sesuatu yang kadang tak pernah mampu dinalar oleh kemanusiawian kita. Menyapa dalam rasa, mengetuk dalam bahasa yang  dimengerti oleh para perindu. Hanya saja tak semua hati memiliki keberanian yang cukup untuk mengungkapkan segenap anugerah itu. Seperti halnya Indra yang memilih untuk terpaku pada rasa yang dibingkai dalam impian-impian indahnya seorang diri. Kehadiran Mayana dalam segala pesona sempat menawannya pada sebuah titik balik, walau kemudian menguap untuk menyeretnya pada masa yang dia relakan menghilang begitu saja. Ia percaya apa yang telah disiapkan untuknya akan datang dalam sebuah kepastian.
            Esti dan Agung merasa perlu untuk mendekatkan keduanya. Mereka paham bagaimana Indra memperlakukan perasaannya sendiri. Dilema menyeruak ketika Arif juga menaruh rasa yang sama kepada Mayana. Sikap terbuka dan tangguh yang ada dalam diri Arif membuatnya memilih untuk melepaskan perasaan itu demi Indra. Sayang, semua menjadi sia-sia ketika Indra meninggalkan tanah air demi mengejar masa depan yang dipercayainya.
            Jarak bukan fatamorgana, masa juga bukan pedang yang merajam. Pergulatan kisah membuat Indra dan Mayana sekali lagi terdampar dalam dimensi waktu, walau pada kepingan detik yang tak lagi sama. Kepedulian menyatukan mereka atas nama cinta pada sesama. Perpisahan yang tak terelakkan pada akhirnya menjadi sebuah catatan panjang yang mengantarkan keduanya pada sebuah proses pendewasaan diri.
            Geliat ragu belum juga meninggalkan Indra. Sesaat rasanya berada pada pusaran yang pasti namun kemudian luruh pada tanya yang tak pernah terjawab. Lelah tak terelakkan, Mayana tunduk dalam bungkam. Membisu, keduanya berdansa dengan hatinya masing-masing. Kepergian orang-orang tercinta dari sisi keduanya, tetap saja belum mampu menggugah makna betapa kejujuran akan rasa menjadi hal penting. Saling bersikukuh bahwa cinta cukup dalam diam. Bahwa rasa cukup karena peka saja. Bahwa hati cukup dengan bahasa yang ia mengerti. Mereka tak sadar bahwa untuk sesuatu hal adakalanya butuh sebentuk ketegasan.
            Akankah Indra dan Mayana bertemu pada titian rasa terindah ? Atau segalanya justru sirna bersama kebisuan rasa.

Tidak ada komentar: