Lelaki, Kutunggu Lelakumu
Buku Baru!
Judul : LELAKI : Kutunggu Lelakumu
Penulis: Dian Nafi dan Endang Ssn
Penerbit : Hasfa Publisher
Terbit : Juni 2012
ISBN : 978-602-7693-04-3
Judul : LELAKI : Kutunggu Lelakumu
Penulis: Dian Nafi dan Endang Ssn
Penerbit : Hasfa Publisher
Terbit : Juni 2012
ISBN : 978-602-7693-04-3
Cinta datang pada setiap hati dengan
cara yang sangat indah. Sesuatu yang kadang tak pernah mampu dinalar oleh
kemanusiawian kita. Menyapa dalam rasa, mengetuk dalam bahasa yang dimengerti oleh para perindu. Hanya saja tak
semua hati memiliki keberanian yang cukup untuk mengungkapkan segenap anugerah
itu. Seperti halnya Indra yang memilih untuk terpaku pada rasa yang dibingkai dalam
impian-impian indahnya seorang diri. Kehadiran Mayana dalam segala pesona
sempat menawannya pada sebuah titik balik, walau kemudian menguap untuk
menyeretnya pada masa yang dia relakan menghilang begitu saja. Ia percaya apa
yang telah disiapkan untuknya akan datang dalam sebuah kepastian.
Esti dan Agung merasa perlu untuk
mendekatkan keduanya. Mereka paham bagaimana Indra memperlakukan perasaannya
sendiri. Dilema menyeruak ketika Arif juga menaruh rasa yang sama kepada
Mayana. Sikap terbuka dan tangguh yang ada dalam diri Arif membuatnya memilih
untuk melepaskan perasaan itu demi Indra. Sayang, semua menjadi sia-sia ketika
Indra meninggalkan tanah air demi mengejar masa depan yang dipercayainya.
Jarak bukan fatamorgana, masa juga
bukan pedang yang merajam. Pergulatan kisah membuat Indra dan Mayana sekali
lagi terdampar dalam dimensi waktu, walau pada kepingan detik yang tak lagi
sama. Kepedulian menyatukan mereka atas nama cinta pada sesama. Perpisahan yang
tak terelakkan pada akhirnya menjadi sebuah catatan panjang yang mengantarkan
keduanya pada sebuah proses pendewasaan diri.
Geliat ragu belum juga meninggalkan
Indra. Sesaat rasanya berada pada pusaran yang pasti namun kemudian luruh pada
tanya yang tak pernah terjawab. Lelah tak terelakkan, Mayana tunduk dalam
bungkam. Membisu, keduanya berdansa dengan hatinya masing-masing. Kepergian
orang-orang tercinta dari sisi keduanya, tetap saja belum mampu menggugah makna
betapa kejujuran akan rasa menjadi hal penting. Saling bersikukuh bahwa cinta
cukup dalam diam. Bahwa rasa cukup karena peka saja. Bahwa hati cukup dengan
bahasa yang ia mengerti. Mereka tak sadar bahwa untuk sesuatu hal adakalanya
butuh sebentuk ketegasan.
Akankah Indra dan Mayana bertemu
pada titian rasa terindah ? Atau segalanya justru sirna bersama kebisuan rasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar