Ilmu
adalah sajian langit pasti
Menebar
rasa di persada semesta
Menantang
jiwa-jiwa pemimpi
Menjemput
titian berjuta makna
Tak
perlu lelah menjelaga
Tiada
celah untuk kata menyerah menyapa
Bukankah
perjuangan sebuah proses indah
Bagi
setitik hidup nan berkah
Siapa
bilang menuntut ilmu hanya milik mereka yang masih muda saja. Siapa bilang
menuntut ilmu hanya bagi mereka dengan segenap waktu luang saja. Di sebuah
sudut kelas, aura berbeda itu mengajakmu untuk terbang pada jutaan mimpi
yang sedang mereka renda.
PR
tak pernah sunyi, PR tak pernah sepi. Selalu saja ada keseruan di dalamnya. 10
kepala dengan isi otak yang berbeda-beda, berada dalam imaji yang tak sama dan
tipikal yang aneka warna. Namun semangat merupa untuk mimpi masa depan. Belajar
adalah energi yang akan menjadi kendaraan super canggih untuk sampai pada
tujuan hidup yang terangan.
Anto Nugroho, sang ketua kelas. Selain
sebagai pengusaha ternak, ia juga menyalurkan hobinya dengan menjadi MC
berbagai acara. Walaupun anak-anaknya telah beranjak remaja namun semangatnya
untuk belajar tetap saja tak mau kalah. Alhasil ketika nilai IP sudah ada di
tangan, dengan tak sabar segera dipotretnya untuk dipamerkan kepada
anak-anaknya. Ah, sebuah usaha menyemangati mereka dengan cara ilmiah, cara
cerdas. Sebagai ketua kelas seringkali dia menjadi bahan percobaan untuk
menghadapi beberapa dosen demi mendapat salinan materi kuliah. Tapi kalau
sedang nggak mood, kelas sedikit
sunyi. Maklum saja sebagai seorang MC, dia tak pernah melewatkan hari tanpa
cuap-cuap. Kadang-kadang pertanyaannya aneh, tapi tetap saja mendapat
tanggapan. Seru dan lucu, menghidupkan suasana dengan cara yang segar.
Wisnu, bapak yang satu ini juga tak
kalah dengan sang ketua kelas. Semangatnya berkobar-kobar untuk tetap belajar
disela-sela kesibukan sebagai kepala rumah tangga dan staf pada salah satu
dinas di pemerintahan kota.
Kebiasaannya meninggalkan kelas setiap jam lima sore semula sempat menjadi pertanyaan. Ada ritual apakah gerangan
? Alhasil ternyata dia berkewajiban menjemput sang buah hati yang hingga saat
ini masih belum ia percaya untuk membawa kendaraan sendiri. Sama halnya seperti
sang ketua kelas, ia juga sering menjadi tenaga penyulut suasana seru di kelas.
Komentar-komentarnya yang kadang sepotong-potong selalu menjadi umpan yang
bersambut.
Peny, sangat salut dengan ibu yang satu
ini. Malang – Surabaya bukan jarak yang dekat, namun demi
ilmu dia rela menempuhnya. Semangat juangnya untuk terus belajar di tengah kesibukannya
menjadi sebuah energi tersendiri di kelas. Sakit yang kadang ia derita tak
pernah menyurutkan langkahnya untuk terus bergerak, tak kalah cepat dengan
teman-teman muda lainnya. Sungguh beruntung bisa belajar banyak hal dari beliau
yang tak segan berbagi semua pengalaman hidupnya.
Taufik, bertubuh tinggi tegap membuatnya
selalu memilih bangku nomor dua dari belakang di sudut sebelah kiri. Sepertinya
itu bangku favoritnya deh. Sebagai salah seorang PNS, dia tak terlena dengan
apa yang sudah didapat. Masih banyak mimpi yang ingin dicapainya. Apa yang
telah ada bukan berarti menjadi sebuah pencapaian yang sanggup menghentikan
langkahnya. Satu hal yang patut disalutkan. Disela-sela kesibukan formalnya,
dia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar pada salah satu tempat pendidikan.
Ada panggilan
jiwa yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Sebentuk kepedulian yang barangkali
sudah sedikit menyusut di jaman sekarang. Demi ilmu pula ia harus menyeberang
selat. Madura – Surabaya
bukan jarak yang dekat walaupun telah terhubung dengan jembatan Suramadu. Tetap
saja dibutuhkan niat dan tekat kuat disana.
Yudo, sebagai PNS ia juga terlihat
begitu peduli dengan semangat untuk terus belajar. Bahkan sebuah kepedulian
terlihat dari setiap pertanyaan yang dilontarkannya untuk kemajuan instansi
tempatnya bekerja. Ilmu yang didapatnya tak egois. Tak hendak dimilikinya
sendiri namun semua handak ia aplikasikan bagi instansinya. Sangat jarang bukan
kita mendapatkan karyawan yang seperti itu ? Maka bersyukurlah para perusahaan
yang memiliki orang-orang seperti ini. semangat …
Afan Alfian, pejuang tangguh. Bayangkan
saja ia harus menempuh jarak Lamongan - Surabaya
bahkan ketika jam delapan malam kelas baru saja usai. Lalu jam sembilan pagi
keesokan harinya harus kembali berada di kelas. Sebagai pegawai pada salah satu
koperasi rumah sakit, semangatnya juga menggebu untuk mengembangkan keadaan
yang dilihatnya memang harus dibenahi. Fenomena-fenomena di lapangan tak segan
dishare di kelas sehingga menjadi
wacana bagi yang lainnya. Tempat duduk paling depan sisi kiri sepertinya tak
pernah lepas dari incarannya, entah mengapa.
Dayat, sang jurnalis yang aktif. Tiada
hari tanpa interupsi dan bertanya. Dari ujung timur pulau Madura semua mimpi
itu dimula untuk diperjuangkan. Pernah demi tak tertinggal kelas, ia harus
rebahan dulu di musholla sembari menanti jam kuliah. Jika bukan karena tekad
dan kesungguhan semua itu tak akan pernah terjadi. Tiada lelah, tiada keluh pun
kesah. Bukankah mimpi memang harus diperjuangkan ?.
Kiki, teman seperjuangan menyeberang
selat demi meraih ilmu. Sekalipun kesibukan dengan rutinitas yang kadang
mengharuskannya pulang hingga larut, tetap saja ia merasa ilmu tak pernah punya
alasan untuk menyerah begitu saja. Segala sesuatu memang butuh perjuangan. Semua
akan terbayar dengan indah kelak. Lalu mimpi ? Bukan lagi sekedar mimpi.
Rindra, cewek dengan rutinitas yang
padat bahkan kadang hari libur sekalipun masih mengharuskannya bekerja.
Datangnya sih kadang telat di kelas, maklum saja karena dia masih harus bekerja
sebelumnya. Terlihat aktif namun rasa lelah tak pernah menyurutkan langkah
untuk terus meraih ilmu. Berbeda itu istimewa, maka jadilah yang berbeda.
Aku
? Seperti mereka, sedang berjuang mengejar mimpi.
Mereka
? Semoga bisa hadir dalam sebuah karya inspirasi, sebagai kado saat kita telah
wisuda nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar