Sabtu, 11 Agustus 2012

Para Pejuang Mimpi ( sebuah sudut dari kelas PR )


Ilmu adalah sajian langit pasti
Menebar rasa di persada semesta
Menantang jiwa-jiwa pemimpi
Menjemput titian berjuta makna

Tak perlu lelah menjelaga
Tiada celah untuk kata menyerah menyapa
Bukankah perjuangan sebuah proses indah
Bagi setitik hidup nan berkah

          Siapa bilang menuntut ilmu hanya milik mereka yang masih muda saja. Siapa bilang menuntut ilmu hanya bagi mereka dengan segenap waktu luang saja. Di sebuah sudut kelas, aura berbeda itu mengajakmu untuk terbang pada jutaan mimpi yang  sedang mereka renda.
          PR tak pernah sunyi, PR tak pernah sepi. Selalu saja ada keseruan di dalamnya. 10 kepala dengan isi otak yang berbeda-beda, berada dalam imaji yang tak sama dan tipikal yang aneka warna. Namun semangat merupa untuk mimpi masa depan. Belajar adalah energi yang akan menjadi kendaraan super canggih untuk sampai pada tujuan hidup yang terangan.

          Anto Nugroho, sang ketua kelas. Selain sebagai pengusaha ternak, ia juga menyalurkan hobinya dengan menjadi MC berbagai acara. Walaupun anak-anaknya telah beranjak remaja namun semangatnya untuk belajar tetap saja tak mau kalah. Alhasil ketika nilai IP sudah ada di tangan, dengan tak sabar segera dipotretnya untuk dipamerkan kepada anak-anaknya. Ah, sebuah usaha menyemangati mereka dengan cara ilmiah, cara cerdas. Sebagai ketua kelas seringkali dia menjadi bahan percobaan untuk menghadapi beberapa dosen demi mendapat salinan materi kuliah. Tapi kalau sedang nggak mood, kelas sedikit sunyi. Maklum saja sebagai seorang MC, dia tak pernah melewatkan hari tanpa cuap-cuap. Kadang-kadang pertanyaannya aneh, tapi tetap saja mendapat tanggapan. Seru dan lucu, menghidupkan suasana dengan cara yang segar.

          Wisnu, bapak yang satu ini juga tak kalah dengan sang ketua kelas. Semangatnya berkobar-kobar untuk tetap belajar disela-sela kesibukan sebagai kepala rumah tangga dan staf pada salah satu dinas di pemerintahan kota. Kebiasaannya meninggalkan kelas setiap jam lima sore semula sempat menjadi pertanyaan. Ada ritual apakah gerangan ? Alhasil ternyata dia berkewajiban menjemput sang buah hati yang hingga saat ini masih belum ia percaya untuk membawa kendaraan sendiri. Sama halnya seperti sang ketua kelas, ia juga sering menjadi tenaga penyulut suasana seru di kelas. Komentar-komentarnya yang kadang sepotong-potong selalu menjadi umpan yang bersambut.

          Peny, sangat salut dengan ibu yang satu ini. Malang – Surabaya bukan jarak yang dekat, namun demi ilmu dia rela menempuhnya. Semangat juangnya untuk terus belajar di tengah kesibukannya menjadi sebuah energi tersendiri di kelas. Sakit yang kadang ia derita tak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus bergerak, tak kalah cepat dengan teman-teman muda lainnya. Sungguh beruntung bisa belajar banyak hal dari beliau yang tak segan berbagi semua pengalaman hidupnya.

          Taufik, bertubuh tinggi tegap membuatnya selalu memilih bangku nomor dua dari belakang di sudut sebelah kiri. Sepertinya itu bangku favoritnya deh. Sebagai salah seorang PNS, dia tak terlena dengan apa yang sudah didapat. Masih banyak mimpi yang ingin dicapainya. Apa yang telah ada bukan berarti menjadi sebuah pencapaian yang sanggup menghentikan langkahnya. Satu hal yang patut disalutkan. Disela-sela kesibukan formalnya, dia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar pada salah satu tempat pendidikan. Ada panggilan jiwa yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Sebentuk kepedulian yang barangkali sudah sedikit menyusut di jaman sekarang. Demi ilmu pula ia harus menyeberang selat. Madura – Surabaya bukan jarak yang dekat walaupun telah terhubung dengan jembatan Suramadu. Tetap saja dibutuhkan niat dan tekat kuat disana.

          Yudo, sebagai PNS ia juga terlihat begitu peduli dengan semangat untuk terus belajar. Bahkan sebuah kepedulian terlihat dari setiap pertanyaan yang dilontarkannya untuk kemajuan instansi tempatnya bekerja. Ilmu yang didapatnya tak egois. Tak hendak dimilikinya sendiri namun semua handak ia aplikasikan bagi instansinya. Sangat jarang bukan kita mendapatkan karyawan yang seperti itu ? Maka bersyukurlah para perusahaan yang memiliki orang-orang seperti ini. semangat …

          Afan Alfian, pejuang tangguh. Bayangkan saja ia harus menempuh jarak Lamongan - Surabaya bahkan ketika jam delapan malam kelas baru saja usai. Lalu jam sembilan pagi keesokan harinya harus kembali berada di kelas. Sebagai pegawai pada salah satu koperasi rumah sakit, semangatnya juga menggebu untuk mengembangkan keadaan yang dilihatnya memang harus dibenahi. Fenomena-fenomena di lapangan tak segan dishare di kelas sehingga menjadi wacana bagi yang lainnya. Tempat duduk paling depan sisi kiri sepertinya tak pernah lepas dari incarannya, entah mengapa.

          Dayat, sang jurnalis yang aktif. Tiada hari tanpa interupsi dan bertanya. Dari ujung timur pulau Madura semua mimpi itu dimula untuk diperjuangkan. Pernah demi tak tertinggal kelas, ia harus rebahan dulu di musholla sembari menanti jam kuliah. Jika bukan karena tekad dan kesungguhan semua itu tak akan pernah terjadi. Tiada lelah, tiada keluh pun kesah. Bukankah mimpi memang harus diperjuangkan ?.

          Kiki, teman seperjuangan menyeberang selat demi meraih ilmu. Sekalipun kesibukan dengan rutinitas yang kadang mengharuskannya pulang hingga larut, tetap saja ia merasa ilmu tak pernah punya alasan untuk menyerah begitu saja. Segala sesuatu memang butuh perjuangan. Semua akan terbayar dengan indah kelak. Lalu mimpi ? Bukan lagi sekedar mimpi.

          Rindra, cewek dengan rutinitas yang padat bahkan kadang hari libur sekalipun masih mengharuskannya bekerja. Datangnya sih kadang telat di kelas, maklum saja karena dia masih harus bekerja sebelumnya. Terlihat aktif namun rasa lelah tak pernah menyurutkan langkah untuk terus meraih ilmu. Berbeda itu istimewa, maka jadilah yang berbeda.

          Aku ? Seperti mereka, sedang berjuang mengejar mimpi.
          Mereka ? Semoga bisa hadir dalam sebuah karya inspirasi, sebagai kado saat kita telah wisuda nanti.
           

Tidak ada komentar: