Ayah,
apa kabar ? Fajar baru kembali menaungi kami hari ini. Gema kemenangan
membahana di semesta raya. Suka cita menjadi labuhan suci para perinduNya. Takbir tak henti bergemuruh seiring
kembalinya fitri hati-hati di keagungan cintaNya.
Ayah,
kamipun larut dalam gemerlap. Menyambut nafas baru yang terlahir lagi meski
sedikit sesak saat ramadhan beranjak pergi. Dalam sepenuh harap semoga berkahNya akan membawa kami pada ramadhan di
tahun-tahun mendatang serta menyempurnakan lagi ibadah ini dalam bilangan yang
tergenapi.
Sehari
jelang idul fitri, seperti biasa rumah kitapun berbenah. Saling bahu membahu
membereskan segalanya. Sayup ingatan kami terbang padamu. Tahun kemarin kita
masih bercanda di bawah jendela ini seraya membersihkan kaca-kacanya yang mulai
kotor oleh debu halus.
“Kenapa bisa kotor begini, padahal
setiap hari kita tak pernah absen untuk membersihkannya ?”
“Ini ibarat hati kita, Dik. Lihat deh
walaupun setiap hari kita selalu membersihkan kaca ini, tetap saja ada
debu-debu halus yang singgah. Kalau dibiarkan lama-lama bisa menumpuk, tebal
dan kaca ini jadi gelap tak terlihat”
Teringat
ucapmu, kemarin akupun sempat termenung. Bagian pesan singkat yang kini tak
lagi bisa kudengar darimu. Seperti itu kau ajarkan aku tentang hati, untuk tak
pernah lelah membersihkannya, untuk tak pernah lupa mendatanginya, untuk tak
pernah beku sekedar menyapanya. Kau ajarkan aku segala hal tentang hidup cukup
dalam bahasa kelembutan, cukup dalam sejuknya petuah bijak yang tak pernah
terkesan menggurui apalagi memaksa. Kau biarkan aku untuk mencerna dan
menemukan jawaban itu dalam nurani.
Ayah,
gema takbir membahana di sepanjang malam. Kesedihan sempat bergelayut di hati
aku, kakak dan ummi. Tahun kemarin kita masih melewati malam takbir bersama.
Masih jelas saat kau
bilang,
“CintaNya
yang telah mengantarkan kita pada detik ini, menikmati ramadhan juga hari
kemenangan. Kita tak pernah tahu entah ramadhan tahun depan masih bisa
merasakan lezatnya ibadah ini atau tidak. Dik, jangan pernah menyiakan waktu.
Dekati terus Allah dan RosulNya”
“Kan ada Ayah yang akan terus mengingatkanku”
“Itu kalau Ayah masih di sisimu. Sebab
kamu, kakak dan Ummi adalah tanggung jawab yang akan Ayah bawa di hari
perhitungan kelak. Tapi kalau Allah menjemput Ayah lebih cepat bagaimana ?”
Air
mataku masih terus mengalir, Ayah. Mengingat ucapmu setahun yang lalu.
Mengingat idul fitri tahun kemarin dikala Allah masih memberi kesempatan kita
bersama. Air mata kami membasah semalam.
Pagi
ini, semesta menyambut kami dalam riang dan takbir yang tak henti memuja
kebesaranNya. Tanpamu, semua memang
tak sama. Ada
yang kosong dalam satu sisi hidup. Aku, kakak dan ummi mencoba menguatkan hati
untuk tegar. Ikhlas itu telah nyata tapi manusia adalah pengarsip kenangan yang
paling kuat. Bertahan untuk tetap menghadirkanmu dalam setiap doa-doa kami.
Sebab kami yakin kau masih selalu mendiami hati kami. Waktu dan masa dunia
hanyalah jarak, sekedar jeda yang akan membuat kita bertemu kembali di
kehidupan indah dalam aroma surgawiNya
kelak, kata Ummi. Semoga, Aamiin.
Selepas
sholat Id, telaga bening sungguh tak terbendung. Ayah, kami datang. Di
pemakaman keluarga ini setahun yang lalu, kaulah yang memimpin doa tahlil. Tapi
tahun ini, kami datang menziarahimu. Kukuatkan hati untuk tak mendatangkan
segala kenanganmu tapi melihat wajah ummi yang sendu dalam kesedihan, menatap
matanya yang berair namun coba ia tahan sekuat hatinya, sungguh aku tak kuasa.
Ayah, ijinkan aku menangis. Gundukan tanah merah masih semerbak. Tanah ini
masih selalu basah. Taburan bunga memenuhi pusaramu dan taburan doa tak henti
kami lantunkan untukmu. Semoga Allah senantiasa memberimu cahaya disana.
Mengampuni segala khilaf, menerima segala ibadah dan amal serta memberimu
tempat terbaik seperti yang Ia
janjikan bagi orang-orang beriman.
Ayah,
terima kasih atas segala ajaran hidup dan caramu yang indah mengenalkanku pada
Sang Maha Cinta. Terima kasih untuk tak pernah lelah mengarahkanku untuk terus
melembutkan hati.
Oh
ya, Ayah aku masih mencintai senja sampai hari ini. Terima kasih ya sudah
membawaku untuk mengenalnya. Dan malaikat-malaikat kecil di simpang itu,
alhamdulillah masih nyata. Meski adik-adik di panti telah banyak yang tak bisa
kutemui lagi.
Ayah,
peluk hangat dan cinta kami untukmu.
Meski
ini adalah idul fitri pertama tanpamu, walau tahun ini berbeda tapi kami
percaya Allah akan terus membersamai perjalanan ini. Bukankah hidup tak pernah
membiarkan kita terpuruk selama kita berusaha untuk terus bangkit. Seperti
katamu, hidup bukan tentang usia dan angka tapi sebuah perjalanan yang hasilnya
akan kita bawa di hari perhitungan kelak.
:::
Putri kecilmu :::
Tidak ada komentar:
Posting Komentar