Minggu, 19 Agustus 2012

Surat Kecil Untuk Ayah


          Ayah, apa kabar ? Fajar baru kembali menaungi kami hari ini. Gema kemenangan membahana di semesta raya. Suka cita menjadi labuhan suci para perinduNya. Takbir tak henti bergemuruh seiring kembalinya fitri hati-hati di keagungan cintaNya.
          Ayah, kamipun larut dalam gemerlap. Menyambut nafas baru yang terlahir lagi meski sedikit sesak saat ramadhan beranjak pergi. Dalam sepenuh harap semoga berkahNya akan membawa kami pada ramadhan di tahun-tahun mendatang serta menyempurnakan lagi ibadah ini dalam bilangan yang tergenapi.

          Sehari jelang idul fitri, seperti biasa rumah kitapun berbenah. Saling bahu membahu membereskan segalanya. Sayup ingatan kami terbang padamu. Tahun kemarin kita masih bercanda di bawah jendela ini seraya membersihkan kaca-kacanya yang mulai kotor oleh debu halus.
          “Kenapa bisa kotor begini, padahal setiap hari kita tak pernah absen untuk membersihkannya ?”
          “Ini ibarat hati kita, Dik. Lihat deh walaupun setiap hari kita selalu membersihkan kaca ini, tetap saja ada debu-debu halus yang singgah. Kalau dibiarkan lama-lama bisa menumpuk, tebal dan kaca ini jadi gelap tak terlihat”
          Teringat ucapmu, kemarin akupun sempat termenung. Bagian pesan singkat yang kini tak lagi bisa kudengar darimu. Seperti itu kau ajarkan aku tentang hati, untuk tak pernah lelah membersihkannya, untuk tak pernah lupa mendatanginya, untuk tak pernah beku sekedar menyapanya. Kau ajarkan aku segala hal tentang hidup cukup dalam bahasa kelembutan, cukup dalam sejuknya petuah bijak yang tak pernah terkesan menggurui apalagi memaksa. Kau biarkan aku untuk mencerna dan menemukan jawaban itu dalam nurani.
          Ayah, gema takbir membahana di sepanjang malam. Kesedihan sempat bergelayut di hati aku, kakak dan ummi. Tahun kemarin kita masih melewati malam takbir bersama.
Masih jelas saat kau bilang,
“CintaNya yang telah mengantarkan kita pada detik ini, menikmati ramadhan juga hari kemenangan. Kita tak pernah tahu entah ramadhan tahun depan masih bisa merasakan lezatnya ibadah ini atau tidak. Dik, jangan pernah menyiakan waktu. Dekati terus Allah dan RosulNya”
          “Kan ada Ayah yang akan terus mengingatkanku”
          “Itu kalau Ayah masih di sisimu. Sebab kamu, kakak dan Ummi adalah tanggung jawab yang akan Ayah bawa di hari perhitungan kelak. Tapi kalau Allah menjemput Ayah lebih cepat bagaimana ?”
          Air mataku masih terus mengalir, Ayah. Mengingat ucapmu setahun yang lalu. Mengingat idul fitri tahun kemarin dikala Allah masih memberi kesempatan kita bersama. Air mata kami membasah semalam.

          Pagi ini, semesta menyambut kami dalam riang dan takbir yang tak henti memuja kebesaranNya. Tanpamu, semua memang tak sama. Ada yang kosong dalam satu sisi hidup. Aku, kakak dan ummi mencoba menguatkan hati untuk tegar. Ikhlas itu telah nyata tapi manusia adalah pengarsip kenangan yang paling kuat. Bertahan untuk tetap menghadirkanmu dalam setiap doa-doa kami. Sebab kami yakin kau masih selalu mendiami hati kami. Waktu dan masa dunia hanyalah jarak, sekedar jeda yang akan membuat kita bertemu kembali di kehidupan indah dalam aroma surgawiNya kelak, kata Ummi. Semoga, Aamiin.
          Selepas sholat Id, telaga bening sungguh tak terbendung. Ayah, kami datang. Di pemakaman keluarga ini setahun yang lalu, kaulah yang memimpin doa tahlil. Tapi tahun ini, kami datang menziarahimu. Kukuatkan hati untuk tak mendatangkan segala kenanganmu tapi melihat wajah ummi yang sendu dalam kesedihan, menatap matanya yang berair namun coba ia tahan sekuat hatinya, sungguh aku tak kuasa. Ayah, ijinkan aku menangis. Gundukan tanah merah masih semerbak. Tanah ini masih selalu basah. Taburan bunga memenuhi pusaramu dan taburan doa tak henti kami lantunkan untukmu. Semoga Allah senantiasa memberimu cahaya disana. Mengampuni segala khilaf, menerima segala ibadah dan amal serta memberimu tempat terbaik seperti yang Ia janjikan bagi orang-orang beriman.

          Ayah, terima kasih atas segala ajaran hidup dan caramu yang indah mengenalkanku pada Sang Maha Cinta. Terima kasih untuk tak pernah lelah mengarahkanku untuk terus melembutkan hati.
          Oh ya, Ayah aku masih mencintai senja sampai hari ini. Terima kasih ya sudah membawaku untuk mengenalnya. Dan malaikat-malaikat kecil di simpang itu, alhamdulillah masih nyata. Meski adik-adik di panti telah banyak yang tak bisa kutemui lagi.

          Ayah, peluk hangat dan cinta kami untukmu.
          Meski ini adalah idul fitri pertama tanpamu, walau tahun ini berbeda tapi kami percaya Allah akan terus membersamai perjalanan ini. Bukankah hidup tak pernah membiarkan kita terpuruk selama kita berusaha untuk terus bangkit. Seperti katamu, hidup bukan tentang usia dan angka tapi sebuah perjalanan yang hasilnya akan kita bawa di hari perhitungan kelak.

          ::: Putri kecilmu :::        

Tidak ada komentar: