Jumat, 10 Februari 2017

KARENA KAMU TITIPAN TERINDAH

Gerimis menyapa rindu yang kami dulang di setiap detik. Dalam pinta tanpa letih yang selalu kami hadirkan di setiap tarikan nafas. Maha Cinta, sungguh tiada daya dan kekuatan selain pengharapan kepadaMu. 

Dipertemukan dengan cara yang baik, di jalan yang baik dan dengan orang terbaik dalam rencanaMu adalah catatan kehidupan yang selalu kami syukuri. Terima kasih tak terhingga atas semua rancangan Maha Sempurna ini. Melengkapi dan terlengkapi adalah titah kepastianMu. Kami, yang kadang begitu alpa merapal asmaMu, namun cintaMu tidak pernah sedikit pun meninggalkan kami. 

Manusia dalam keseharian yang tak pernah lepas dari keterusikannya kadang membuat kami jengah. Entah kami yang terlalu populer (sok famous) atau terlampau membuat mereka diluar sana penasaran. Masih teringat bagaimana kisah ini membuat khalayak terpaku. Ah, cinta bagi kami tetap sebuah keajaiban dan anugerah. Kami selalu percaya bahwa setiap perasaan berhak tersenyum. Hanya saja terlalu sedikit manusia yang berani menerimanya, dengan dalih hendak menemukan kesempurnaan. Kita yang angkuh kadang lupa bahwa tidak ada kesempurnaan yang berdiri sendiri. Ia akan lengkap saat tergenapi. Tidak ada hati yang tanpa kekurangan. Ia hanya akan utuh ketika dipertemukan. Kita, manusia yang penuh ketakutan yang justru tidak membiarkan pintu terbuka, bahkan ketika Tuhan sudah melebarkan jalan itu sendiri. 

Rindu, ya ini tentang rindu. 
Rindu kami mungkin lebih dari yang mereka tahu. Walau kami selalu saja menghadapi semua pertanyaan itu dengan senyuman. Ya, kini kami sadari bahwa selalu tersenyum atas masalah apa pun bisa memberikan energi positif. Sesuatu yang luar biasa, hati lebih bisa lapang. 

Kapan? Kapan? Kapan? Udah hampir setahun nih. 
Kalimat-kalimat itu sudah terlalu biasa kami dengar. Sedih, boleh jadi sempat hinggap di hati kami sebagai manusia biasa. Tapi kami sangat beruntung karena bisa saling menguatkan satu sama lain. Saling bergandengan dan terus menyemangati. Mengisi hari diluar kesibukan rutinitas kami dengan menekuni hobi secara lebih profesional. Aku, kembali bergelut dengan menulis dan dia terus memperdalam Ilmu fotografi. Tentu saja kami tidak pernah melewatkan waktu tanpa berdua. Travelling adalah cara yang bisa mengakomodasi hobi kami dalam satu waktu. Bersahabat dengan alam, mengcapture semua peristiwa dalam kacamata berbeda. Kami sepakat bahwa apa yang kami jalani harus abadi. Setidaknya anak-anak kami kelak mengerti dan paham bagaimana kehidupan sesungguhnya. Setiap perjalanan adalah kenangan. Setiap kenangan adalah pembelajaran hidup. 

26 September 2016, desir dingin menyapa sepi. Selepas shubuh dalam doa-doa panjang kesyukuran atas setahun penggenapan kami. 
"Subhanallah."
Tangisku pecah. Lidah kelu dalam ketakjuban. Sungguh, kami masih termangu. Dia, kulihat tak kuasa menahan haru. Kami, tunduk. Seutuhnya penyerahan. Tanda (2 strip) itu benar-benar nyata. 
Duhai Maha Kasih, terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Denyut mungil di rahim ini adalah anugerah dan mukjizat indahMu. Kami, pasrah dalam sebenar-benarnya kepasrahan. 

Kado indah di pernikahan kami. Tidak ada yang menandinginya. Semoga kami bisa menjaga amanah ini dengan baik. Semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah dengan titipanMu. 

Nak, sehat terus ya. Semoga Allah terus menjagaMu dalam sebaik-baiknya penjagaan. Semoga Engkau tumbuh kembang dengan baik, normal dan sempurna dalam cintaNya. Kami, menyayangimu utuh.

========================================================================
Tentang Kamu, Malaikat Kecilku.
Tulisan pertama Bunda, Untukmu. 

Rabu, 21 September 2016

CONGRATS, My Boy!

September menjadi cerita yang terbingkai indah. Entah kenapa, selalu ada kejutan manis di setiap bulan ini. Penyatuan dua hati kita juga di bulan yang sama. Ketika ijab telah diikrarkan, seketika juga semesta riuh bernyanyi. Alhamdulillah, Tuhan menjawab doa-doa dengan cara sangat indah. Kita yang percaya kekuatan cinta sejati sempat bertanya. Saat dalam waktu singkat, dua hati tertaut begitu saja. Tapi di dunia tidak pernah ada yang kebetulan, bukan? Skenario Tuhan tidak pernah salah. Indah, sudah pasti. Bahagia, tentu saja. Kita hanya perlu meluaskan hati dalam kepasrahan sepasrah-pasrahnya. Kepasrahan terbaik bukan berarti tanpa usaha dan pengharapan. Saling membaikkan dan membentuk diri menjadi pribadi yang diimpikan. Ada yang bilang bahwa jodohitu adalah seperti apakita. Mau yang baik, maka harus membaikkan diri. Dan aku bahagia, Tuhan sudah mengirimkanmu untukku. Telah menuliskan namamu dalam takdirku. 

September penuh berkah. 
Bulan ini, ketika gema takbir membahana seluruh semesta, kamu hadir memecah. Senyum bahagia mengiringi hadirmu. Satu persatu harapan dan doa mengalir di tubuh mungilmu. Kehadiranmu adalah anugerah indah untuk seluruh keluarga. Dalam besar harap semoga menjadi keberkahan untuk segenap sesama. Bermanfaat bagi seluruh manusia. Kamu, adalah tumpuan doa yang tak lekang. Lirih lisan suci melafalkan namamu, Adhadyanur Rana Kurniawan. 

17 September adalah hari bersejarah dalam langkahmu. Segenap doa semoga kamu selalu berlimpah berkah, senantiasa sehat, diluaskan rezeki, selalu bahagia. Semakin dicintai Tuhan dan bermanfaat bagi sesama. Semoga bisa terus menjadi suami sholeh, lelaki hebat untuk aku dan anak-anak kita.

Hatimu, bukan milikmu. Adamu, bukan karenamu. Tapi nyatamu, menjadi berkah ketika kamu bisa bermanfaat bagi sesama. Jadilah penerang, lentera yang tak lekang. 

Happy Bornday, My Love!
I'm not a Writer
I'm not a Photographer
Because I'm so happy to be your wife. 

Minggu, 28 Agustus 2016

B R I O N E S I A

Keluarga adalah harta yang berharga. Sesedikit apa pun waktu yang kamu punya, tidak etis jika mereka menjadi terabaikan. Karena sejatinya, keluarga bukan bagian dari sisa waktu di sela kesibukanmu.

Brionesia  ...
Mungkin dari sini kita bisa belajar bagaimana menjadi keluarga dan pribadi yang hangat. Bukan hanya untuk keluarga, tapi juga sahabat dan teman-teman baru yang lebih bangga mereka sebut sebagai keluarga baru.

Brionesia, berdiri diatas banyak perbedaan. Ras, suku, agama, budaya, hobi hingga adat istiadat. Tapi semua perbedaan menjadi lenyap oleh satu kata bernama keikhlasan. Ikhlas untuk bersama, menyatukan rasa dalam hangatnya genggaman jemari yang tertaut. Sekian banyak beda menjadi luluh di hadapan rasa yang mereka sebut kebersamaan. Ya, ini bukan kebersamaan semu. Pun bukan sekedar pencitraan. Ini rasa, sesungguhnya. Kita, saudara seutuhnya. Bangga bisa menjadi bagian dari keluarga yang sarat kehangatan ini. Bahagia bisa menjadi serpihan dari mutiara kehidupan ini.

Brionesia, mengajarkan betapa harta bukan hal yang layak dikedepankan. Roda 4 adalah anugerah, yang harus dikemas dalam kesyukuran tanpa batas. Bukan untuk berdiri jumawa dengan dada terbusung. Tidak, bukan seperti itu. Disini, semua hati berdiri sama. Tunduk, luruh.

Berbagi, berbagi dan berbagi.
Brionesia membuka rasa betapa apa yang kita punya sungguh ada sebagian milik orang lain. Komunitas ini bisa menjadi jembatan mengasah empati. Melihat dengan sisi berbeda. Adanya diri selayaknya "Ada" untuk mereka yang membutuhkan. Tidak akan berkurang sepeser pun apa yang sudah diberi. Bukankah hidup sebenarnya adalah seberapa besar kita bermanfaat bagi sesama? Bukankah harta sesungguhnya adalah apa yang kita beri kepada mereka yang membutuhkan?

Brionesia, sebuah nilai kehidupan. Bagaimana setiap diri menjadi hangat dalam kebersamaan. Bagaimana setiap hati menjadi lebih terasah untuk menjadi manusia seutuhnya. Sebuah pelajaran indah bahwa keluarga adalah tempat yang paling hangat untuk pulang.

Disini,
Temukan dirimu seutuhnya.
Disini,
Jadilah insan selayaknya.
Disini,
Keluarga yang akan selalu dirindukan.

- SSN | Writer -

::: 28 08 2016 :::
Pazkul Sidoarjo
Kopdar Brionesia Jatim

Senin, 18 Juli 2016

TRUE LOVE (Part 2)

Karena cinta tidak pernah salah
Karena rindu selalu tahu 
Dimana ia ingin tinggal dan menetap
Meski senja tak selalu merona jingga 
Tapi ia datang di tempat yang seharusnya 


Membangun pertahanan tinggi dan kuat bisa jadi adalah caraku membentengi diri dari rasa dan cinta yang tidak pada tempatnya. Tidak ingin salah langkah, apalagi keliru menempatkan rasa pada hati yang bukan untukku. Tapi siapa yang tahu hati mana yang tertulis. Meski jiwa dan belahannya sudah menjadi satu paket, tetap saja kita harus melewati jalan yang kadang tidak semanis gerimis di sore hari. 

Pak Ari, dosen favorit di Pasca Sarjana kami pernah berkata bahwa semakin tinggi pendidikan seorang perempuan maka semakin susah untuk dekat dengan jodoh. Apalagi faktanya dari 5 orang perempuan yang ada di kelas, semuanya belum ada yang punya pacar. Ups, bukan berarti kami down. Justru penjelasan Pak Ari berikutnya membuat kami menjadi bangga. Beliau berkata bahwa perempuan hebat untuk lelaki hebat. Perempuan baik untuk lelaki baik. Alhamdulillah. 

Memperbaiki diri dan terus memantaskan diri untuk kemudian siap dipertemukan dengan tulang rusuk yang sudah Tuhan janjikan. Ya, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Skenarionya sungguh indah. Datang tanpa dinyana. Bertemu tanpa rencana. Tapi aku sangat yakin, di dunia ini tidak pernah ada sesuatu hal pun yang terjadi karena kebetulan. Segalanya ada campur tangan Tuhan.

Ketidaksukaan itu sempat muncul di awal perkenalan kami. Entah mengapa, sosoknya menjadi sangat tidak menyenangkan. Mungkin karena aku belum mengenalnya secara dekat. Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang. Hampir kebanyakan dari kita hanya melihat dari sisi luar dan pendapat orang saja. Padahal bisa jadi orang yang berbagi pendapat adalah mereka yang juga tidak mengenal secara baik. Sedikit demi sedikit perasaan itu terpupuk. Meski tidak pernah bersinggungan dalam banyak hal, namun aura negatif sudah tertanam. Sampai pada akhirnya aku berkesempatan satu kantor dengan adik kandungnya, Rona.

Secara tak sengaja mendengar cerita tentangnya setiap hari, masih membuatku bergeming. Mungkin karena saat itu aku sudah mempunyai tokoh ideal sendiri. Sosok lelaki ideal dalam kacamata sebagai perempuan. Mau sebaik apa pun sekitar berkisah tentangnya, tetap saja dalam penilaianku bukan dia jawaban yang aku cari. Lagipula aku juga tahu, dia mempunyai kriteria sendiri dalam kacamata sebagai lelaki. Mana ada lelaki yang mengidolakan perempuan penggila buku, pecinta senja apalagi penulis. Setidaknya untuk ukuran lelaki moderen kala itu. 

Kepergian sang Bunda menjadi titik balik kehidupannya. Dia yang sebelumnya lebih asyik dengan teman-teman sepermainan. Lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah. Lebih terbuka pada dunia sekitar dibandingkan keluarga. Perlahan mulai berubah. Aku juga secara tak sengaja mengirimkan sebuah buku karyaku bersama beberapa penulis, Ibuku Adalah. Banyak hati yang tersentuh juga terinspirasi dan mengalami perubahan total dalam kehidupan setelah membaca kisah inspiratif di dalamnya. Aku juga berharap dia pun begitu. Walau ini hanya sekedar perhatian sebagai seorang anak yang selama ini merasakan bahwa keluarga dan rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang. Sharing dengan sang adik juga tanpa aku sadari menjadi amunisi baru untuk berubah. 

Rutinitasku ke luar kota untuk menghadiri acara kepenulisan membuatku sering bertemu dengannya. Bukan karena kami mengikuti kegiatan yang sama, tapi karena aku selalu menitipkan kendaraan di rumahnya. Tepatnya kepada sang adik. Setiap kali aku meminta tolong sang adik untuk mengantarkan ke Pelabuhan, selalu ada alasan tidak bisa. Kadang ia sedang repot dengan anak ya yang masih kecil atau kesibukan rumah tangga lainnya. Alih-alih menyuruhku menunggu, tapi ia melemparkan tugas kepada sang kakak untuk mengantarkan. Alhasil sepanjang jalan, kami mengobrol banyak hal. Biasa saja,menurutku semuanya masih serba biasa. Namun, manusia mana yang bisa menebak apa yang akan terjadi beberapa waktu mendatang. Bahkan aku juga tidak pernah mengira jika ternyata Tuhan sudah menuliskan cerita lebih berarti di dalamnya. 

Kadang segala sesuatu datang dengan cara sederhana. Kadang perasaan bisa melompat-lompat dengan lihai. Kadang kita menjadi manusia yang tidak sadar dengan apa yang kita alami. 
Kadang .........


(Bersambung) 




Selasa, 28 Juni 2016

TRUE LOVE (Part 1)

Megenal cinta artinya memahami perasaan. Sudah menjadi dewasa dalam pemikiran dan mengelola ego. Hal semacam ini mungkin terlalu muluk untuk remaja belasan tahun yang berbalut seragam putih abu-abu. Disaat yang lain sedang berbunga-bunga menikmati indahnya romansa hati, aku terlalu sibuk dengan buku-buku. 

"Sekolah yang bener. Kejar cita-cita. Biar nggak nyesel kalo udah tua."
Begitu Ayah tanpa bosan menasehatiku. Manyun dan kesal tentu saja. Bagaimana tidak? Yang lain masih bisa bersenang-senang dengan kekhasan remajanya, sedang aku harus menjalani semua rutinitas yang mungkin bagi sebagian anak adalah hal menjemukan. Namun aku tidak merasa ini adalah beban. Kenapa begitu? Sebab orang tuaku menjadikan rumah sebagai tempat paling hangat untuk tinggal. Kasih sayang berlimpah, kemanjaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya juga pelajaran-pelajaran indah dari kakak terbaikku. Sungguh, kini aku merasa hidupku sangatlah kaya dengan semua itu. Bukankah bahagia tidak pernah memiliki batas ukuran? Tidak karena materi atau lainnya. Bahagia itu disini (Hati).

Sampai akhirnya aku bertekad untuk tidak pernah menjalin hubungan spesial yang sering dibilang anak  kekinian sebagai pacaran. Aku ingin siapa pun kelak yang Tuhan takdirkan sebagai jodohku, maka dia adalah pacar pertama dan terakhirku. Ikatan yang baru akan dijalani setelah ijab qobul. Pernah beberapa kawan menganggap ini sebagai kelucuan. Mana bisa? Tapi buatku ini adalah janji hati. Semua yang baik, harus dimulai dengan baik dan dengan cara yang baik. 

Adhadyanur Rana Kurniawan ...
Nama ini tidak asing dalam hidupku. Kami kenal sudah sejak 2009. Hanya sebatas rekan kerja yang sangat jarang berkomunikasi karena perbedaan wilayah. Bertemu pun sesekali dalam hitungan jari dan hampir tidak pernah berinteraksi. Kadang aku merasa lucu, bagaimana bisa dia? Ah, begitulah mungkin jodoh diaturNya. Serba tidak dinyana. 

Pertemuan dengannya kembali pada November 2014. Ketika bagian SDM melakukan mutasi wilayah kerja. Dia? Disini? What? Ada penolakan dalam diriku. Secara aku dan beberapa teman belum mengenalnya dengan sangat baik. Kami khawatir tidak akan bisa bersinergi. Tapi mau dikata apa? Keputusan tetap ada di tangan Kantor Wilayah. 

"Terhitung mulai tanggal 01 Januari 2015, kamu pindah wilayah."
Ups! Sungguh aku masih belum percaya. Di malam tahun baru itu aku menerima SK penempatan wilayah baru. Sedihnya bukan karena dia, tapi membayangkan aku harus berpisah dengan teman-teman yang sudah selayak keluarga. Apalagi dalam waktu yang terlalu mendadak. Tak ayal suasana haru biru dan air mata menjadi pelengkap di malam tahun baru itu. Oh ya, terima kasih tak terhingga untuk teman-teman seperjuangan yang sudah menghujaniku dengan banyak hadiah perpisahan, telah merelakan punggung yang cukup kokoh untuk bersandar dari lara kala itu.

Aku pun tenggelam dalam rutinitas yang lebih dibandingkan sebelumnya. Sesekali teman saling berkirim kabar via medsos. Tak terkecuali dia yang tiba-tiba berkirim pesan.
"Bagaimana cara menaklukkan cewek yang tangguh dan keras?" 
Aku tersenyum membaca inbox. Owh, mungkin dia sedang galau, lagi jatuh cinta kali. 
"Sekeras apa pun cewek, telateni aja. Minta dia sama pemiliknya. Pengen dapat pendamping yang baik, dimulai dengan memperbaiki diri dulu." 
Jawaban itu ternyata membuat perubahan telak. 

Pertama kali dia datang ke rumah, aku pikir biasa saja. Sekedar silaturahmi. Tapi kenapa yang ditanyakan malah orang tua? Sedikit bingung sih. Setelah terdiam sejenak, dia pun mulai bicara. 
"Bersedia nggak? Kalo aku khitbah kamu." 
God ... Pertama kalinya dalam hidup aku mendapat pertanyaan seperti ini. Panas dingin tak menentu. Lelaki ini berani mengambil langkah untuk mengkhitbah, disaat yang sama diluar sana banyak laki-laki yang lebih berani mengajak perempuan untuk pacaran. Aku masih tidak percaya. Sungguh nggak percaya!


"Istikharah, Nak! Insyaallah jika dia adalah jodohmu, semoga Allah mengirimkannya dengan cara yang baik dan menjadi kebaikan untuk semuanya," kata Ibu.
Aku mulai teringat pesan peninggalan Ayah. 
"Milih calon pendamping itu lihat agamanya dulu. Kalo dia paham agama, insyaallah dia akan memuliakanmu."
Aku mulai mengajaknya berdiskusi terutama soal agama dan beberapa permasalahan hidup. Setidaknya aku bisa menilai bagaimana cara pandangnya. Bacaan sholat yang baik tidak sengaja aku dengar sewaktu dia menjadi imam di kantor dulu. Insyaallah, Tuhan tidak pernah salah memilih. Berbekal sholat istikharah dan petunjukNya, aku menerima lamarannya.

Januari 2015 adalah saat indah dimana aku menautkan hati. Memilih yang Tuhan pilihkan. Tulang rusuk yang Tuhan datangkan di waktu yang tepat. 18 Januari 2015 dua keluarga besar menyatu dalam acara pertunangan kami. Tujuh bulan setelahnya, September 2015 ijab qobul digelar. Sebuah perjanjian berat antara manusia dengan Tuhan disaksikan ribuan malaikat. Orang bilang ini sangat singkat. Tapi kami selalu percaya bahwa segala yang baik harus disegerakan. 

Duhai tulang rusuk pilihan Tuhan, 
Rasa terpelihara manis 
Raga terjaga baik

Hingga Tuhan menentukan saat
Bersama untuk selamanya
Dalam ikatan suci nan halal

Kita, saling menitipkan hati 
Kita, saling menghidupkan doa dalam malam panjang
Kita, saling bertasbih dalam syukur semata karenaNya
Tidak ada cinta seindah caraNya
Tidak ada rasa selegit pemberianNya
Jemput dengan cara yang baik apa yang telah Tuhan janjikan. 

..... Pecinta Senja .....






FRIENDSHIP ...

Ayo! Terus berlari mengejar mimpi. 
Kita bisa! 
Kita pasti bisa! 
Kita harus bisa! 

Sembari berlarian setiap sore. Membelah senja, menapak jingga. Berbalut busana muslimah yang di dahulu kala belum sengetren sekarang. Meski ini bukan persoalan trend atau kekinian tapi sebuah kewajiban. 

Kami lahir dan tumbuh di kampung. Besar dan bermain layaknya keseruan bocah negeri ini. Tanah yang kami pijak terjunjung dengan sangat lekatnya. Anak negeri yang berani bermimpi tentang masa depan. Bocah-bocah yang senantiasa tertawa walau kadang kehidupan tidak seindah tayangan televisi. Kami tetap saja bergerak, belajar, berlari dan bernyanyi. 

Selayang pandang jiwa membawa kami luruh. Di tanah ini kami kembali. Bukan lagi sebagai bocah ingusan yang selalu asyik dengan debu dan panas. Kami datang dengan mimpi yang sudah nyata. Kami hadir dengan senyum yang kini bisa kami senandungkan dengan sangat manis. Bertahun sudah jiwa-jiwa para bocah berlari. Tangan tak lagi tergamit, raga tak jua berjumpa tapi kami selalu percaya simpul persahabatan tidak akan pernah putus. Meski jejak zaman sangat jarang membawa satu dan yang lainnya untuk berkirim kabar, tapi kami saling menjumpa dalam doa. Setangkup harap semoga sibukku dan sibuk mereka semua adalah sibuk yang indah. Melegakan dan menjernihkan jiwa, karena sibuk masing-masing justru adalah energi untuk kembali pada zaman dimana keceriaan tak lekang. 

Ida, si gadis cantik ini harus rela menghabiskan sebagian besar waktunya di Bumi Bima. Binar matanya berkisah bahwa ia sangat bahagia. Bima, bukan tanah luar Jawa yang gersang juga menakutkan. Bumi Bima itu sangat indah. Walau dari tanah kami masih terhitung jauh tapi perjalanan menuju kesana  justru membuat cerita lebih bernilai. Ah, dua malaikat kecilnya juga sangat lucu. Benar-benar beruntung bisa hidup di dua tanah negeri yang berbeda. Kaya budaya, kaya rasa, kaya hati dan kaya empati. 

Aku, Kiki dan Aning masih setia disini. Setelah berkelana lumayan lama, singgah dari satu kota ke kota lain. Kini, kami kembali untuk negeri yang kami cintai. Demi tanah yang selalu kami junjung tinggi. Berubah? Ya, semua telah berubah. Tubuh tak lagi semungil dulu, walau tawa lebih renyah. Pikiran tak sependek dulu, meski hormat pada budaya tetap kami jaga. Semakin bijak, semakin luas hati, semakin arif. 

Ini kami, yang masih tetap bersemangat tentang masa depan. Ini kami, yang selalu mengagungkan persahabatan sebagai ikatan hati. Ini kami, yang senantiasa saling bergenggaman jemari dalam makna sesungguhnya. Ini kami, bocah-bocah kampung yang turut mewarnai negeri dengan karya. 

Berkah ramadhan, menyemesta. 
Merangkul semua hati dalam catatan rasa nan suci. 
Memeluk senja yang kian hilang, berganti malam. 
Tuhan Maha Baik, terima kasih mengijinkan hati kami berkisah. 




Jumat, 24 Juni 2016

YANG TAK PERNAH TERLUPAKAN

Ada yang bilang ketika kamu ingin tahu seperti apa seseorang, maka lihatlah siapa temannya. Dengan siapa saja dia bergaul, bagaimana cara mereka berinteraksi dan memelihara sebuah pertemanan. Teman atau sahabat adalah nutrisi penting dalam bersosialisasi. Secara tidak langsung membentuk kepribadian dan kebiasaan kita dengan sendirinya. Seringkali hal ini tidak disadari. 

Bahagia, ya aku sangat bahagia karena Tuhan memberi kesempatan dalam hidup untuk bertemu, mengenal hingga menjalin persahabatan dengan mereka. Heterogenitas jelas ada dalam komunitas kami. Namun hal itu bukan aral untuk bersama. Saling menghormati, bertoleransi atas nama jalinan yang indah. Sesibuk dan sesempit apa waktu yang kami punya, kami masih sadar bahwa pendidikan adalah salah satu poin penting untuk mengasah pengetahuan. Apa pun profesimu, jangan pernah menyerah untuk mengejar mimpi. Setiap orang sangat berhak untuk hidup lebih layak. 

Sore itu, setelah sekian lama. Senja meracik begitu cantik. Jingga merona malu di langit Surabaya. Buka puasa bareng sengaja dihelat untuk kembali bersilaturahmi. Terpisah jarak dan waktu tentu saja membuat rindu mendayu-dayu. Satu persatu mulai mengisi ruang. Senyum merekah. Cerita perjalanan yang luar biasa mulai mengalir satu persatu. Maklum saja tidak semua personil berdomisili di Surabaya. Tentu saja kalau bukan karena segunung rindu dan bongkahan cinta, langkah ini tidak akan berjejak dibawah langit yang sama. Dan ah ya, semua tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ada Maha Indah yang mengatur semua keindahan ini. 

Pak Anto ... Si MC yang sudah semakin melebarkan sayapnya ini mulai beraksi. Ternyata tetap saja si ketua kelas memelihara auranya dengan sangat baik hingga kami pun setia menjadi pendengar di setiap ceritanya. Telah banyak yang dilewati namun satu yang pasti dia sangat bahagia karena materi kuliah yang selama 2 tahun didalami tidak pernah sia-sia. Mendengarkan, adalah bagian ilmu yang sudah sangat jarang ada tapi kami sepakat bahwa ini sangat penting. Kalau tidak ada yang mende garkan bagaimana sebuah komunikasi akan efektif? Hehehe.

Suhu Wishnew, seperti itu dia biasa mengeja namanya. Salah seorang praktisi Pemkot yang sering berbagi info seputar provinsi. Masih kalem, tetap vokal dan selalu seru. Banyolan segar khas Suroboyoan lekat. Dia, salah seorang energi dalam komunitas kami. 

Dayat, wah nggak pernah nyangka sekarang sudah sangat berbeda. Lebih politis dan aura bintangnya mulai kerasa. Kabar-kabarnya sih sedang mencalonkan diri. Entah sebagai apa? Posisi penting pokoknya. Sejalan dengan teman Medianya, si Lukman. Dua orang ini keren banget kalau sudah berdiskusi soal politik. Mulai dari hal kecil sampai yang segede Gunung Pangrango tak pernah luput dari bidikan mereka. Salut! 

Kiki, Mas Opex, Yudo dan Kak Affan yang masih selalu kompak dengan belahan jiwanya, serunya nggak kalah juga. Hmm, ada yang mulai berubah setelah sekian lama tidak bertemu. Terlihat lebih dewasa, lebih arif tapi sayang semakin heboh lucunya. Membuat tawa bertubi. Ah, keakraban mana lagi yang harus dikejar? Dalam pelukan bahasa cinta para sahabat, kamu akan mengerti mengapa bersama itu selalu berarti. 

"Maaf, pesanannya kosong."
Kenyataan pertama. 
"Tahu kremeznya habis." 
Kenytaan kedua. 
"Jus tinggal yang ada gmbarnya aja." 
Kenyataan ketiga dan sayangnya kelima gambar itu tak ada satu pun yang aku mau. 
"Mbak, air mineralnya kelebihan." 
Kenyataan keempat dan kami hanya bisa mengelus dada. Semua pesanan langsung masuk bill dan tidak bisa dibatalkan. Okey, Fine
"Nasi gorengnya kosong." 
Kenyataan ini bikin miris semiris-mirisnya. 
"Tapi nasinya ada kan?" Yudo butuh kepastian. 
Si pelayan mengangguk pelan. Nasi ada tapi nasi goreng kosong. Okey! Berarti gorengnya yang nggak ada. Hahaha, ada saja kenyataan hidup yang bikin tergelak. 

Bukan tentang makanannya, bukan tentang momennya tapi seberapa besar keinginan untuk bisa bersama, seberapa hebat perjuangan untuk menepis ego demi perjumpaan yang baik. Seberapa kokoh tali yang kita bangun untuk terus seiring, saling membaikkan. 

Ini belum lengkap, karena masih ada penggenap yang akan membuat kita semakin berwarna. Ucik, Anam, Mbak Andiwi, Pak Ari Junaidi, Bu Tine ... Ayo merapat di 11 Desember 2016. Ada yang spesial dari Pak Anto Nugroho. Hehehe, Peace!

Finally, kita yang selalu seru tak pernah kehabisan bahan untuk merayakan pertemuan. Pada rasa yang dibangun dengan baik, semoga segenap kebaikan melengkapi kita. Aamiin. 

Ups ... Special thanks to Adhadyanur Rana Kurniawan - tulang rusuk pilihan Tuhan, kekasih halal yang menggenapkan. Terima kasih untuk keabadian semua momen.