Megenal cinta artinya memahami perasaan. Sudah menjadi dewasa dalam pemikiran dan mengelola ego. Hal semacam ini mungkin terlalu muluk untuk remaja belasan tahun yang berbalut seragam putih abu-abu. Disaat yang lain sedang berbunga-bunga menikmati indahnya romansa hati, aku terlalu sibuk dengan buku-buku.
"Sekolah yang bener. Kejar cita-cita. Biar nggak nyesel kalo udah tua."
Begitu Ayah tanpa bosan menasehatiku. Manyun dan kesal tentu saja. Bagaimana tidak? Yang lain masih bisa bersenang-senang dengan kekhasan remajanya, sedang aku harus menjalani semua rutinitas yang mungkin bagi sebagian anak adalah hal menjemukan. Namun aku tidak merasa ini adalah beban. Kenapa begitu? Sebab orang tuaku menjadikan rumah sebagai tempat paling hangat untuk tinggal. Kasih sayang berlimpah, kemanjaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya juga pelajaran-pelajaran indah dari kakak terbaikku. Sungguh, kini aku merasa hidupku sangatlah kaya dengan semua itu. Bukankah bahagia tidak pernah memiliki batas ukuran? Tidak karena materi atau lainnya. Bahagia itu disini (Hati).
Sampai akhirnya aku bertekad untuk tidak pernah menjalin hubungan spesial yang sering dibilang anak kekinian sebagai pacaran. Aku ingin siapa pun kelak yang Tuhan takdirkan sebagai jodohku, maka dia adalah pacar pertama dan terakhirku. Ikatan yang baru akan dijalani setelah ijab qobul. Pernah beberapa kawan menganggap ini sebagai kelucuan. Mana bisa? Tapi buatku ini adalah janji hati. Semua yang baik, harus dimulai dengan baik dan dengan cara yang baik.
Adhadyanur Rana Kurniawan ...
Nama ini tidak asing dalam hidupku. Kami kenal sudah sejak 2009. Hanya sebatas rekan kerja yang sangat jarang berkomunikasi karena perbedaan wilayah. Bertemu pun sesekali dalam hitungan jari dan hampir tidak pernah berinteraksi. Kadang aku merasa lucu, bagaimana bisa dia? Ah, begitulah mungkin jodoh diaturNya. Serba tidak dinyana.
Pertemuan dengannya kembali pada November 2014. Ketika bagian SDM melakukan mutasi wilayah kerja. Dia? Disini? What? Ada penolakan dalam diriku. Secara aku dan beberapa teman belum mengenalnya dengan sangat baik. Kami khawatir tidak akan bisa bersinergi. Tapi mau dikata apa? Keputusan tetap ada di tangan Kantor Wilayah.
"Terhitung mulai tanggal 01 Januari 2015, kamu pindah wilayah."
Ups! Sungguh aku masih belum percaya. Di malam tahun baru itu aku menerima SK penempatan wilayah baru. Sedihnya bukan karena dia, tapi membayangkan aku harus berpisah dengan teman-teman yang sudah selayak keluarga. Apalagi dalam waktu yang terlalu mendadak. Tak ayal suasana haru biru dan air mata menjadi pelengkap di malam tahun baru itu. Oh ya, terima kasih tak terhingga untuk teman-teman seperjuangan yang sudah menghujaniku dengan banyak hadiah perpisahan, telah merelakan punggung yang cukup kokoh untuk bersandar dari lara kala itu.
Aku pun tenggelam dalam rutinitas yang lebih dibandingkan sebelumnya. Sesekali teman saling berkirim kabar via medsos. Tak terkecuali dia yang tiba-tiba berkirim pesan.
"Bagaimana cara menaklukkan cewek yang tangguh dan keras?"
Aku tersenyum membaca inbox. Owh, mungkin dia sedang galau, lagi jatuh cinta kali.
"Sekeras apa pun cewek, telateni aja. Minta dia sama pemiliknya. Pengen dapat pendamping yang baik, dimulai dengan memperbaiki diri dulu."
Jawaban itu ternyata membuat perubahan telak.
Pertama kali dia datang ke rumah, aku pikir biasa saja. Sekedar silaturahmi. Tapi kenapa yang ditanyakan malah orang tua? Sedikit bingung sih. Setelah terdiam sejenak, dia pun mulai bicara.
"Bersedia nggak? Kalo aku khitbah kamu."
God ... Pertama kalinya dalam hidup aku mendapat pertanyaan seperti ini. Panas dingin tak menentu. Lelaki ini berani mengambil langkah untuk mengkhitbah, disaat yang sama diluar sana banyak laki-laki yang lebih berani mengajak perempuan untuk pacaran. Aku masih tidak percaya. Sungguh nggak percaya!
"Istikharah, Nak! Insyaallah jika dia adalah jodohmu, semoga Allah mengirimkannya dengan cara yang baik dan menjadi kebaikan untuk semuanya," kata Ibu.
Aku mulai teringat pesan peninggalan Ayah.
"Milih calon pendamping itu lihat agamanya dulu. Kalo dia paham agama, insyaallah dia akan memuliakanmu."
Aku mulai mengajaknya berdiskusi terutama soal agama dan beberapa permasalahan hidup. Setidaknya aku bisa menilai bagaimana cara pandangnya. Bacaan sholat yang baik tidak sengaja aku dengar sewaktu dia menjadi imam di kantor dulu. Insyaallah, Tuhan tidak pernah salah memilih. Berbekal sholat istikharah dan petunjukNya, aku menerima lamarannya.
Januari 2015 adalah saat indah dimana aku menautkan hati. Memilih yang Tuhan pilihkan. Tulang rusuk yang Tuhan datangkan di waktu yang tepat. 18 Januari 2015 dua keluarga besar menyatu dalam acara pertunangan kami. Tujuh bulan setelahnya, September 2015 ijab qobul digelar. Sebuah perjanjian berat antara manusia dengan Tuhan disaksikan ribuan malaikat. Orang bilang ini sangat singkat. Tapi kami selalu percaya bahwa segala yang baik harus disegerakan.
Duhai tulang rusuk pilihan Tuhan,
Rasa terpelihara manis
Raga terjaga baik
Hingga Tuhan menentukan saat
Bersama untuk selamanya
Dalam ikatan suci nan halal
Kita, saling menitipkan hati
Kita, saling menghidupkan doa dalam malam panjang
Kita, saling bertasbih dalam syukur semata karenaNya
Tidak ada cinta seindah caraNya
Tidak ada rasa selegit pemberianNya
Jemput dengan cara yang baik apa yang telah Tuhan janjikan.
..... Pecinta Senja .....