Selasa, 28 Juni 2016

TRUE LOVE (Part 1)

Megenal cinta artinya memahami perasaan. Sudah menjadi dewasa dalam pemikiran dan mengelola ego. Hal semacam ini mungkin terlalu muluk untuk remaja belasan tahun yang berbalut seragam putih abu-abu. Disaat yang lain sedang berbunga-bunga menikmati indahnya romansa hati, aku terlalu sibuk dengan buku-buku. 

"Sekolah yang bener. Kejar cita-cita. Biar nggak nyesel kalo udah tua."
Begitu Ayah tanpa bosan menasehatiku. Manyun dan kesal tentu saja. Bagaimana tidak? Yang lain masih bisa bersenang-senang dengan kekhasan remajanya, sedang aku harus menjalani semua rutinitas yang mungkin bagi sebagian anak adalah hal menjemukan. Namun aku tidak merasa ini adalah beban. Kenapa begitu? Sebab orang tuaku menjadikan rumah sebagai tempat paling hangat untuk tinggal. Kasih sayang berlimpah, kemanjaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya juga pelajaran-pelajaran indah dari kakak terbaikku. Sungguh, kini aku merasa hidupku sangatlah kaya dengan semua itu. Bukankah bahagia tidak pernah memiliki batas ukuran? Tidak karena materi atau lainnya. Bahagia itu disini (Hati).

Sampai akhirnya aku bertekad untuk tidak pernah menjalin hubungan spesial yang sering dibilang anak  kekinian sebagai pacaran. Aku ingin siapa pun kelak yang Tuhan takdirkan sebagai jodohku, maka dia adalah pacar pertama dan terakhirku. Ikatan yang baru akan dijalani setelah ijab qobul. Pernah beberapa kawan menganggap ini sebagai kelucuan. Mana bisa? Tapi buatku ini adalah janji hati. Semua yang baik, harus dimulai dengan baik dan dengan cara yang baik. 

Adhadyanur Rana Kurniawan ...
Nama ini tidak asing dalam hidupku. Kami kenal sudah sejak 2009. Hanya sebatas rekan kerja yang sangat jarang berkomunikasi karena perbedaan wilayah. Bertemu pun sesekali dalam hitungan jari dan hampir tidak pernah berinteraksi. Kadang aku merasa lucu, bagaimana bisa dia? Ah, begitulah mungkin jodoh diaturNya. Serba tidak dinyana. 

Pertemuan dengannya kembali pada November 2014. Ketika bagian SDM melakukan mutasi wilayah kerja. Dia? Disini? What? Ada penolakan dalam diriku. Secara aku dan beberapa teman belum mengenalnya dengan sangat baik. Kami khawatir tidak akan bisa bersinergi. Tapi mau dikata apa? Keputusan tetap ada di tangan Kantor Wilayah. 

"Terhitung mulai tanggal 01 Januari 2015, kamu pindah wilayah."
Ups! Sungguh aku masih belum percaya. Di malam tahun baru itu aku menerima SK penempatan wilayah baru. Sedihnya bukan karena dia, tapi membayangkan aku harus berpisah dengan teman-teman yang sudah selayak keluarga. Apalagi dalam waktu yang terlalu mendadak. Tak ayal suasana haru biru dan air mata menjadi pelengkap di malam tahun baru itu. Oh ya, terima kasih tak terhingga untuk teman-teman seperjuangan yang sudah menghujaniku dengan banyak hadiah perpisahan, telah merelakan punggung yang cukup kokoh untuk bersandar dari lara kala itu.

Aku pun tenggelam dalam rutinitas yang lebih dibandingkan sebelumnya. Sesekali teman saling berkirim kabar via medsos. Tak terkecuali dia yang tiba-tiba berkirim pesan.
"Bagaimana cara menaklukkan cewek yang tangguh dan keras?" 
Aku tersenyum membaca inbox. Owh, mungkin dia sedang galau, lagi jatuh cinta kali. 
"Sekeras apa pun cewek, telateni aja. Minta dia sama pemiliknya. Pengen dapat pendamping yang baik, dimulai dengan memperbaiki diri dulu." 
Jawaban itu ternyata membuat perubahan telak. 

Pertama kali dia datang ke rumah, aku pikir biasa saja. Sekedar silaturahmi. Tapi kenapa yang ditanyakan malah orang tua? Sedikit bingung sih. Setelah terdiam sejenak, dia pun mulai bicara. 
"Bersedia nggak? Kalo aku khitbah kamu." 
God ... Pertama kalinya dalam hidup aku mendapat pertanyaan seperti ini. Panas dingin tak menentu. Lelaki ini berani mengambil langkah untuk mengkhitbah, disaat yang sama diluar sana banyak laki-laki yang lebih berani mengajak perempuan untuk pacaran. Aku masih tidak percaya. Sungguh nggak percaya!


"Istikharah, Nak! Insyaallah jika dia adalah jodohmu, semoga Allah mengirimkannya dengan cara yang baik dan menjadi kebaikan untuk semuanya," kata Ibu.
Aku mulai teringat pesan peninggalan Ayah. 
"Milih calon pendamping itu lihat agamanya dulu. Kalo dia paham agama, insyaallah dia akan memuliakanmu."
Aku mulai mengajaknya berdiskusi terutama soal agama dan beberapa permasalahan hidup. Setidaknya aku bisa menilai bagaimana cara pandangnya. Bacaan sholat yang baik tidak sengaja aku dengar sewaktu dia menjadi imam di kantor dulu. Insyaallah, Tuhan tidak pernah salah memilih. Berbekal sholat istikharah dan petunjukNya, aku menerima lamarannya.

Januari 2015 adalah saat indah dimana aku menautkan hati. Memilih yang Tuhan pilihkan. Tulang rusuk yang Tuhan datangkan di waktu yang tepat. 18 Januari 2015 dua keluarga besar menyatu dalam acara pertunangan kami. Tujuh bulan setelahnya, September 2015 ijab qobul digelar. Sebuah perjanjian berat antara manusia dengan Tuhan disaksikan ribuan malaikat. Orang bilang ini sangat singkat. Tapi kami selalu percaya bahwa segala yang baik harus disegerakan. 

Duhai tulang rusuk pilihan Tuhan, 
Rasa terpelihara manis 
Raga terjaga baik

Hingga Tuhan menentukan saat
Bersama untuk selamanya
Dalam ikatan suci nan halal

Kita, saling menitipkan hati 
Kita, saling menghidupkan doa dalam malam panjang
Kita, saling bertasbih dalam syukur semata karenaNya
Tidak ada cinta seindah caraNya
Tidak ada rasa selegit pemberianNya
Jemput dengan cara yang baik apa yang telah Tuhan janjikan. 

..... Pecinta Senja .....






FRIENDSHIP ...

Ayo! Terus berlari mengejar mimpi. 
Kita bisa! 
Kita pasti bisa! 
Kita harus bisa! 

Sembari berlarian setiap sore. Membelah senja, menapak jingga. Berbalut busana muslimah yang di dahulu kala belum sengetren sekarang. Meski ini bukan persoalan trend atau kekinian tapi sebuah kewajiban. 

Kami lahir dan tumbuh di kampung. Besar dan bermain layaknya keseruan bocah negeri ini. Tanah yang kami pijak terjunjung dengan sangat lekatnya. Anak negeri yang berani bermimpi tentang masa depan. Bocah-bocah yang senantiasa tertawa walau kadang kehidupan tidak seindah tayangan televisi. Kami tetap saja bergerak, belajar, berlari dan bernyanyi. 

Selayang pandang jiwa membawa kami luruh. Di tanah ini kami kembali. Bukan lagi sebagai bocah ingusan yang selalu asyik dengan debu dan panas. Kami datang dengan mimpi yang sudah nyata. Kami hadir dengan senyum yang kini bisa kami senandungkan dengan sangat manis. Bertahun sudah jiwa-jiwa para bocah berlari. Tangan tak lagi tergamit, raga tak jua berjumpa tapi kami selalu percaya simpul persahabatan tidak akan pernah putus. Meski jejak zaman sangat jarang membawa satu dan yang lainnya untuk berkirim kabar, tapi kami saling menjumpa dalam doa. Setangkup harap semoga sibukku dan sibuk mereka semua adalah sibuk yang indah. Melegakan dan menjernihkan jiwa, karena sibuk masing-masing justru adalah energi untuk kembali pada zaman dimana keceriaan tak lekang. 

Ida, si gadis cantik ini harus rela menghabiskan sebagian besar waktunya di Bumi Bima. Binar matanya berkisah bahwa ia sangat bahagia. Bima, bukan tanah luar Jawa yang gersang juga menakutkan. Bumi Bima itu sangat indah. Walau dari tanah kami masih terhitung jauh tapi perjalanan menuju kesana  justru membuat cerita lebih bernilai. Ah, dua malaikat kecilnya juga sangat lucu. Benar-benar beruntung bisa hidup di dua tanah negeri yang berbeda. Kaya budaya, kaya rasa, kaya hati dan kaya empati. 

Aku, Kiki dan Aning masih setia disini. Setelah berkelana lumayan lama, singgah dari satu kota ke kota lain. Kini, kami kembali untuk negeri yang kami cintai. Demi tanah yang selalu kami junjung tinggi. Berubah? Ya, semua telah berubah. Tubuh tak lagi semungil dulu, walau tawa lebih renyah. Pikiran tak sependek dulu, meski hormat pada budaya tetap kami jaga. Semakin bijak, semakin luas hati, semakin arif. 

Ini kami, yang masih tetap bersemangat tentang masa depan. Ini kami, yang selalu mengagungkan persahabatan sebagai ikatan hati. Ini kami, yang senantiasa saling bergenggaman jemari dalam makna sesungguhnya. Ini kami, bocah-bocah kampung yang turut mewarnai negeri dengan karya. 

Berkah ramadhan, menyemesta. 
Merangkul semua hati dalam catatan rasa nan suci. 
Memeluk senja yang kian hilang, berganti malam. 
Tuhan Maha Baik, terima kasih mengijinkan hati kami berkisah. 




Jumat, 24 Juni 2016

YANG TAK PERNAH TERLUPAKAN

Ada yang bilang ketika kamu ingin tahu seperti apa seseorang, maka lihatlah siapa temannya. Dengan siapa saja dia bergaul, bagaimana cara mereka berinteraksi dan memelihara sebuah pertemanan. Teman atau sahabat adalah nutrisi penting dalam bersosialisasi. Secara tidak langsung membentuk kepribadian dan kebiasaan kita dengan sendirinya. Seringkali hal ini tidak disadari. 

Bahagia, ya aku sangat bahagia karena Tuhan memberi kesempatan dalam hidup untuk bertemu, mengenal hingga menjalin persahabatan dengan mereka. Heterogenitas jelas ada dalam komunitas kami. Namun hal itu bukan aral untuk bersama. Saling menghormati, bertoleransi atas nama jalinan yang indah. Sesibuk dan sesempit apa waktu yang kami punya, kami masih sadar bahwa pendidikan adalah salah satu poin penting untuk mengasah pengetahuan. Apa pun profesimu, jangan pernah menyerah untuk mengejar mimpi. Setiap orang sangat berhak untuk hidup lebih layak. 

Sore itu, setelah sekian lama. Senja meracik begitu cantik. Jingga merona malu di langit Surabaya. Buka puasa bareng sengaja dihelat untuk kembali bersilaturahmi. Terpisah jarak dan waktu tentu saja membuat rindu mendayu-dayu. Satu persatu mulai mengisi ruang. Senyum merekah. Cerita perjalanan yang luar biasa mulai mengalir satu persatu. Maklum saja tidak semua personil berdomisili di Surabaya. Tentu saja kalau bukan karena segunung rindu dan bongkahan cinta, langkah ini tidak akan berjejak dibawah langit yang sama. Dan ah ya, semua tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ada Maha Indah yang mengatur semua keindahan ini. 

Pak Anto ... Si MC yang sudah semakin melebarkan sayapnya ini mulai beraksi. Ternyata tetap saja si ketua kelas memelihara auranya dengan sangat baik hingga kami pun setia menjadi pendengar di setiap ceritanya. Telah banyak yang dilewati namun satu yang pasti dia sangat bahagia karena materi kuliah yang selama 2 tahun didalami tidak pernah sia-sia. Mendengarkan, adalah bagian ilmu yang sudah sangat jarang ada tapi kami sepakat bahwa ini sangat penting. Kalau tidak ada yang mende garkan bagaimana sebuah komunikasi akan efektif? Hehehe.

Suhu Wishnew, seperti itu dia biasa mengeja namanya. Salah seorang praktisi Pemkot yang sering berbagi info seputar provinsi. Masih kalem, tetap vokal dan selalu seru. Banyolan segar khas Suroboyoan lekat. Dia, salah seorang energi dalam komunitas kami. 

Dayat, wah nggak pernah nyangka sekarang sudah sangat berbeda. Lebih politis dan aura bintangnya mulai kerasa. Kabar-kabarnya sih sedang mencalonkan diri. Entah sebagai apa? Posisi penting pokoknya. Sejalan dengan teman Medianya, si Lukman. Dua orang ini keren banget kalau sudah berdiskusi soal politik. Mulai dari hal kecil sampai yang segede Gunung Pangrango tak pernah luput dari bidikan mereka. Salut! 

Kiki, Mas Opex, Yudo dan Kak Affan yang masih selalu kompak dengan belahan jiwanya, serunya nggak kalah juga. Hmm, ada yang mulai berubah setelah sekian lama tidak bertemu. Terlihat lebih dewasa, lebih arif tapi sayang semakin heboh lucunya. Membuat tawa bertubi. Ah, keakraban mana lagi yang harus dikejar? Dalam pelukan bahasa cinta para sahabat, kamu akan mengerti mengapa bersama itu selalu berarti. 

"Maaf, pesanannya kosong."
Kenyataan pertama. 
"Tahu kremeznya habis." 
Kenytaan kedua. 
"Jus tinggal yang ada gmbarnya aja." 
Kenyataan ketiga dan sayangnya kelima gambar itu tak ada satu pun yang aku mau. 
"Mbak, air mineralnya kelebihan." 
Kenyataan keempat dan kami hanya bisa mengelus dada. Semua pesanan langsung masuk bill dan tidak bisa dibatalkan. Okey, Fine
"Nasi gorengnya kosong." 
Kenyataan ini bikin miris semiris-mirisnya. 
"Tapi nasinya ada kan?" Yudo butuh kepastian. 
Si pelayan mengangguk pelan. Nasi ada tapi nasi goreng kosong. Okey! Berarti gorengnya yang nggak ada. Hahaha, ada saja kenyataan hidup yang bikin tergelak. 

Bukan tentang makanannya, bukan tentang momennya tapi seberapa besar keinginan untuk bisa bersama, seberapa hebat perjuangan untuk menepis ego demi perjumpaan yang baik. Seberapa kokoh tali yang kita bangun untuk terus seiring, saling membaikkan. 

Ini belum lengkap, karena masih ada penggenap yang akan membuat kita semakin berwarna. Ucik, Anam, Mbak Andiwi, Pak Ari Junaidi, Bu Tine ... Ayo merapat di 11 Desember 2016. Ada yang spesial dari Pak Anto Nugroho. Hehehe, Peace!

Finally, kita yang selalu seru tak pernah kehabisan bahan untuk merayakan pertemuan. Pada rasa yang dibangun dengan baik, semoga segenap kebaikan melengkapi kita. Aamiin. 

Ups ... Special thanks to Adhadyanur Rana Kurniawan - tulang rusuk pilihan Tuhan, kekasih halal yang menggenapkan. Terima kasih untuk keabadian semua momen.