Sabtu, 26 Mei 2012

RUMAH HATI




Ketika terbebas dari rutinitas kerja dan segala aktivitas kemahasiswaan, maka rumah menjadi tempat paling nyaman untukku. Inilah sekolah pertama yang mengajariku tentang hati dan cinta, dengan dua orang guru penuh keikhlasan. Tak segan memberiku ilmu kehidupan, mengasah dan menempaku menjadi gadis tegar yang kuat. Kesederhanaan adalah baju kehidupan yang membawa setiap jiwa di dalamnya pada segala bentuk kepedulian. Bahagia itu bersama, mereka diluar sana juga berhak mencicipinya. Tak ada kesedihan yang dinikmati sendiri karena kami adalah satu. Di rumah ini segala lelah sirna menjelma senyum yang terbalut cinta.

Kebersamaan adalah hal istimewa yang harus selalu terjaga. Saat seorang guruku harus pergi menujuNya, rumah ini tetap menjadi tempat yang nyaman bagiku. Selalu ada rindu yang memanggil. Guruku pasti telah mempersiapkan rumah ini dengan sangat baik. Rumah ini sangat sederhana tapi istimewa untukku. Tak mudah menghadirkan tempat dengan kedamaian, ketulusan, keihlasan dan cinta di dalamnya. Mereka telah berhasil membangun rumah hati untuk para penghuninya.

Alangkah indahnya saat bisa memberikan rasa damai, tenang dan rindu untuk hati-hati yang menghuninya. Menikmati makanan sederhana sambil memandang langit dan berbincang hati. Keindahan itu nyata. Rumah penuh cinta dan pelukan terhangat memanja. Kidung cinta Ilahi menjadi denting irama yang senantiasa menyejukkan.

"Jangan pernah berhenti untuk selalu membaca ayat cintaNya, dengan begitu rumah ini akan selalu bercahaya", pesan mereka. Mentari menyapa dalam canda pagi. Dapur cinta dengan tiga koki di dalamnya. Ya, rumah ini kini hanya dihuni tiga orang, setelah salah seorang lebih dulu menjumpaiNya dalam cinta. Di ruang ini, ramuan cinta biasa berpadu. Memadukan berbagai resep dengan suka cita, mencoba menu baru yang unik. Ah, guruku ini sedang mempersiapkan aku dan kakakku untuk lebih jago memasak dibandingkan dia. "Walaupun diluar sana begitu banyak sajian makanan lezat yang menggoda, tapi makananmu akan selalu lebih lezat sebab kamu meraciknya dengan bumbu cinta dan keikhlasan", begitu yang selalu dikatakannya. Itu juga mungkin yang membuat semua penghuni rumah ini lebih senang makan di rumah.

Aih guru, kelak ketika tiba waktunya sebuah hati menjemputku maka akan kubangun juga rumah hati disana. Rumah yang berhiaskan kesederhanaan, cinta, kasih sayang dan hati yang luas untuk selalu peduli serta berbagi bahagia tanpa syarat. Akan kuhias rumah hati sederhanaku dengan keikhlasan agar para penghuninyapun merasakan kedamaian itu disana. Akan kubingkai rumah hati sederhanaku dengan ajaran cintaNya agar pemilik tulang rusukku dan malaikat-malaikat mungilku kelak merasakan tenteram di dalamnya. Akan kuberikan pelukan hangat yang mendamaikan seperti yang kuterima disini. Akan kuajak mereka menikmati pagi dalam kesyukuran padaNya. Akan kuajak mereka menjemput rindu terindah di heningnya malam.

Rumah hati sederhana ini tak pernah sepi sebab senyum selalu nyata disini. Tempat damai yang selalu mengajakku kembali. Kedamaian, ketenangan, rasa aman, cinta dan kerinduan yang kelak juga akan aku persiapkan disana.

Rumah hati

LIMA BUKU BARU TERBIT BULAN INI, ALHAMDULILLAH






Ketika Cinta Tak Perlu Bertanya









          Mengenang kembali perjalanan hati seorang sahabat …
          Hai, apa kau masih ingat ketika untuk pertamakalinya aku mendengar kau jatuh cinta. Rasanya surprise banget, orang kaku dan dingin sepertimu ternyata mempunyai hati yang lembut. Tapi aku sangat bersyukur sebab kau jatuh cinta pada orang yang tepat yang akhirnya kini sungguh halal untukmu.

          Sore itu senja menjingga dengan cerahnya ketika sebuah pesan kulihat menyapamu. Aku geregetan sebab kau masih saja menanggapi dingin sapaan dari para penggemarmu. Fans yang selalu berusaha mencuri perhatianmu dengan berbagai cara. Kadang aku merasa geli sendiri. Mungkin saja mereka amat cemburu padaku yang bisa sedekat ini denganmu, namun aku dan kamu adalah kakak adik yang sudah terlanjur tawar dengan perasaan seperti itu. Aku kerapkali protes sebab tak tega melihat mereka bercumbu dengan angan-angannya.

          “Kenapa tak kau pilih saja satu diantara mereka ?”
          “Pernikahan bukan soal belas kasihan. Jika aku memang tak merasakan sesuatu, mengapa mesti dipaksakan. Lagipula kamu sudah tahu bukan seperti apa calon istri dalam pandanganku”
          Ya, aku paham. Kamu adalah sahabat yang sangat kupahami. Pendamping hidup adalah orang yang akan membuatmu tenteram di dalamnya, yang dapat menjaga kehormatannya, yang selalu menyejukkan, yang cerdas sebagai ibu bagi anak-anakmu kelak. Lalu yang paling penting adalah dialah perempuan yang mencintai RabbNya melebihi apapun. Dialah perempuan yang mengenal Nabinya dan dialah perempuan yang akan membuatmu menjadi imam dunia akhirat. Kulihat diantara mereka memang tak ada yang masuk dalam kriteriamu tapi apa kau masih ingat aku pernah menentangmu demikian keras.
          “Apa untuk cinta harus selalu ada syarat ? Apa rasa datangnya bisa direncanakan ? Bukankah mereka yang mengejarmu sesungguhnya tak pernah merencanakan kalau suatu saat akan jatuh cinta padamu. Bahkan pertemuan denganmu saja mereka tak pernah menduganya”
          “Tapi Tuhan memberi kita akal untuk berfikir. Semua tak pernah tahu apa yang akan terjadi tapi manusia wajib berusaha untuk mendapatkan yang terbaik”

          Rasanya lelah juga mendengar keluhan beberapa temanmu yang selalu saja uring-uringan gara-gara kau tak lekas bertemu  dengan jodoh. Aku tak habis fikir kenapa mereka begitu repot memikirkan urusanmu, sedang urusannya sendiri belum tentu selesai.
          “Amini saja, mereka seperti itu justru karena mereka peduli”
          Ya, mereka sangat peduli memang. Dan aku juga menjadi lebih peduli tapi bagaimana akan mencarikanmu seorang pendamping. Masa iya aku akan membuka audisi, ah yang benar saja.

          “Ketika kamu menginginkan pendamping yang baik maka kamu harus membaikkan dirimu dulu. Saat makmum itu telah siap maka sebagai imampun kelak aku akan siap untuk menjadikannya halal. Aku yakin jika Rabbku sedang mengatur pertemuan kami dengan cara yang sangat indah. Maka kukabarkan saja kepadaNya. Dalam satu waktu dan dimensi yang sama kuyakin ada seorang perempuan baik yang juga tengah bermunajat kepadaNya. Lalu doa-doa kami akan bertemu di altar cintaNya, bersemi tanpa kami tahu. Semua menjadi indah dalam wujud kedamaian yang terasa. Hatimu akan semakin peka dan terasah. Cukup Dia saja yang tahu tentang rasa yang bersemi. Pertemuan itu akan menjadi indah dalam kehendakNya saja”
          Kata-kata yang terangkai dalam kalimat indahmu sore itu sungguh menyihirku. Kau benar, segala yang berasal dariNya akan selalu indah dan tentu saja yang terbaik.

          Di sebuah masjid, kutemukan bidadarimu
          Aku pernah mengira ini adalah sebuah ketidaksengajaan. Ketika kita memulai sebuah perjalanan dan harus singgah di sebuah masjid sebab adzan dhuhur telah berkumandang. Ini yang sangat kusalutkan darimu, selalu berusaha memenuhi lima waktumu tepat waktu.
          “Bagaimana kita tidak malu meminta sesuatu yang kita ingin dengan segera kepadaNya sedang saat Dia memanggilmu, kamu lebih mementingkan urusanmu”
          Aku tertawa mendengarnya. Sekali lagi kamu benar, dan aku tengah berusaha untuk tak pernah menunda saat pertemuan denganNya dalam keadaan apapun. Bukankah panggilan paling merdu adalah seruanNya.
          Di dalam masjid dengan nuansa biru itu ada kesejukan yang seketika langsung menyapaku. Aku terperangah dengan kemegahanNya. Subhanallah, rumah Tuhan ini sangat indah. Tetes air wudhu masih tampak basah di wajahku, seperti katamu jangan berusaha untuk mengeringkannya. Biarkan ia menetes dan kering dengan sendirinya lalu rasakan kesejukan itu cukup dengan hati dan jiwamu saja.

          Sebuah senyum menyapaku. Tatapan itu sungguh teduh, jelas ketundukan tampak disana. Entah mengapa saat itu hatiku berkata dialah bidadari yang kau cari. Seorang perempuan dengan gaun biru yang anggun. Begitu saja semua itu teryakini. Aku tak tahu ketaatan seorang hamba namun ketika dia rela memenuhi seruanNya di tengah perjalanan yang jauh, ketika ia masih mengingatNya dalam keadaan apapun maka aku kira dia sangat mencintai Rabbnya. Entah mengapa kami tiba-tiba menjadi akrab seakan telah lama berkawan. Wajahnya sederhana tapi meneduhkan, tutur katanya lembut tapi tegas. Kulitnya tak seputih para model di televisi namun bersinar. Aih, mungkin pula karena air wudhu yang tak pernah lepas. Bahasanya santun tak menggurui, lebih banyak mendengar. Al Quran kecil yang tak sengaja kulihat di dalam tasnya yang terbuka semakin meyakinkanku bahwa aku telah bertemu dengan bidadarimu. Doa lamat kupanjatkan. Aku tahu kalian tak mungkin kukenalkan karena kita bersekat. Apalagi dia terlebih dulu meninggalkan masjid itu, aku hanya bisa berharap. Kuharap semesta juga mengaminkannya. Sahabat, semoga saja kau bertemu dengannya walau aku tak tahu bagaimana caranya. Tapi aku memilih untuk tak menceritakan ini kepadamu. Seperti yang kau katakan padaku sebelumnya, cintaNya yang akan mengantarkanmu kepada sang bidadari.

          Ini kejutan untukku atau ? …
          “Aku akan menikah”
          Kalimat itu menjadi suguhan paling romantis pagi itu. Aku dan keluargaku sangat senang mendengarnya. Akhirnya kau bertemu juga dengan bidadarimu. Rasa penasaran menggelitikku. Siapa yang akhirnya memenangkan hatimu.
          Sebuah foto kau sodorkan padaku. Allahu Akbar, takbir itu spontan mengalir dari bibirku. Perempuan itu adalah bidadari bergaun biru yang pernah kutemui di masjid kala itu. Seorang perempuan yang hingga kau katakan kabar itu belum pernah aku ceritakan kepadamu.
          “Dia ? Jadi dia ?”
          Rasanya masih tak percaya tapi aku sangat meyakini kebesaran Tuhan. Tak ada yang tak mungkin bagiNya.
          “Bagaimana kau bertemu dengannya ? Dimana ?”
          Pertanyaan itu seolah ingin segera menemukan jawab. Kulihat kau hanya tersenyum saja. Aku semakin tak mengerti ada rahasia apa dibalik semua itu. Bagaimana bisa aku sebagai sahabatmu tak mengetahuinya.
          “Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tuhan yang telah mempertemukanku dengannya dengan cara yang indah. Dia sungguh telah mengaturnya dengan sebaik mungkin. Maka masihkah manusia menyangsikan dan selalu bertanya berulang-ulang.
          En, inilah yang kukatakan bahwa cinta tak pernah bertanya dan tak untuk dijelaskan. Kamu cukup merasakan kehadirannya dengan hatimu saja. Diam, lihat dan perhatikan saja segala pertanda. Dia sungguh Maha Tahu kemana hati kita dilabuhkan. Dekati Dia dengan ikhlas, dalam kepasrahan utuh, satu. Bukankah kita tak pernah tahu jika pada malam-malam panjang doa-doa kita bertemu dengan doa-doa lainnya. Kerinduan yang semata berujung kepadaNya, untukNya dan hanya karenaNya saja. Cukup kau dan Tuhan saja yang tahu hingga saat itu tiba, entah siapa entah dimana”

          “Apa kau sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya ?”
          “Ya, namun aku tak pernah tahu jika dialah yang Tuhan kirimkan untuk menggenapkan dienku”

          Hari ini aku kembali tersenyum, seperti itu kelihaian sebuah misteri. Nalar memang tak mampu menjangkaunya sebab ini bukan perkara yang harus dinalarkan. Hati adalah jawabannya.
          Sahabat, catatan ini akan menjadi sebuah pembelajaran bagiku juga mereka diluar sana. Tak terasa ya sudah nyaris satu tahun perjalananmu dengannya. Rumah sederhana kalian sungguh berlimpah bahagia sebab hati-hati yang menyatu semata karena cintaNya.  Saat kelak malaikat mungilmu bisa membaca, ingin kuhadiahkan catatan ini padanya agar dia tahu betapa dia memiliki orang tua yang hebat.

          “Kamu kapan ?” tanyamu
          “Bukankah cinta tak perlu bertanya ?”
          Hehehe, dan kitapun tertawa bersama di pelataran senja itu.

PUISI SENJA, sebuah titik balik


Puisi Senja, Sebuah Titik Balik

Ketika kau memberikan sesuatu kepada seseorang, maka jangan pernah memberikan hal yang serupa pada orang lain. Setiap karya selalu punya cita rasa yang tak sama. Hal yang sama juga akan menjadi berbeda ketika disemai pada ladang yang berbeda. Penerimaan kerap kali menjadi tak serupa. Ini pernah aku pahami dalam rasa. Namun aku terlupa betapa setiap orang selalu punya hak untuk melakukan apapun atas yang ia punya. Senja yang kucinta, mungkin saja tak serupa dengan yang mereka punya. Aku tahu ego menjeratku kala itu.

Sebuah kabar yang kukirimkan kepada seorang sahabat membuatku tersadar. Betapa semuanya belum bening. Masih saja ada dunia yang mencampurinya. Aku masih sempat berkelit padanya, manusiawi bukan jika aku merasa seperti itu. Kecewa yang melanda semata karena aku tak pernah menyangka jika kalimat-kalimat itu juga akan menjadi hadiah bagi orang lain. Hey, memangnya aku siapa. Aku boleh mencintai senja tapi ketika orang lain tiba-tiba menjadi tertarik untuk juga mengenal jingga, masa ya aku tak terima. Semestinya dalam kebeningan hati semua tak usah dirasakan sebagai kecewa, tapi sebentuk teguran dariNya bahwa kita harus segera berbenah. Menata kembali hati agar tak lagi terjangkiti oleh rasa-rasa tak benar seperti itu.

          Tuhan Maha Cinta, tak pernah ingin hamba-hambaNya tersesat. Kupahami bahasa kasihNya dengan sepenuhnya kepasrahan. Menepiskan sesuatu yang bergerak. Membiarkan ia datang dalam rangkaian cintaNya saja. Senja tak pernah sama, begitu juga dengan rasa. Yang terindah hanya yang datang dariNya saja.
          Aku berserah padaMu saja, Rabb.

Jumat, 25 Mei 2012

Aku dan Pena


          Ada gundah saat tak berjumpa, ada gelisah kala tak bersama. Gumpalan rindu meradang memenjarakan geliat-geliat aksara yang terus saja berlarian dengan liar. Tak rela melepaskannya namun tak berdaya  saat raga lemah dan menjemput dalam sebentuk ketentuan untuk mengistirahatkan pena sejenak. 

          Senja begitu saja terlewat, langit tak sempat kusapa seperti biasa namun pena seolah tak hendak terlalu lama bersandar. Satu persatu aksara kembali mengetuk pintu-pintu nalar. Mengajaknya berkelana lagi untuk bertemu dengan milyaran aksara, jutaan kalimat dan ribuan ide yang selalu tak bisa duduk berdiam.
          Diantara raga yang masih melemah, kurangkai lagi aksara. Malam ini semua hendak kumulai. Bertaruh lagi dengan waktu untuk memenuhi segenap janji yang telah tersemat.
         
          Detik telah menggariskan bahwa menulis bukanlah sekedar ceremonial jiwa tapi ia adalah ruh. Setiap detik, segala yang terlihat dan terdengar adalah aksara alam yang berbahasa. Tak ada lagi yang harus terpenjara dalam sekat sebab aksaraku akan selalu bersahabat dengan pena. Penaku tak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergerak, bergerak, bergerak, terus bergerak.