Mengenang kembali perjalanan hati seorang sahabat …
Hai,
apa kau masih ingat ketika untuk pertamakalinya aku mendengar kau jatuh cinta.
Rasanya surprise banget, orang kaku
dan dingin sepertimu ternyata mempunyai hati yang lembut. Tapi aku sangat
bersyukur sebab kau jatuh cinta pada orang yang tepat yang akhirnya kini
sungguh halal untukmu.
Sore
itu senja menjingga dengan cerahnya ketika sebuah pesan kulihat menyapamu. Aku
geregetan sebab kau masih saja menanggapi dingin sapaan dari para penggemarmu.
Fans yang selalu berusaha mencuri perhatianmu dengan berbagai cara. Kadang aku
merasa geli sendiri. Mungkin saja mereka amat cemburu padaku yang bisa sedekat
ini denganmu, namun aku dan kamu adalah kakak adik yang sudah terlanjur tawar
dengan perasaan seperti itu. Aku kerapkali protes sebab tak tega melihat mereka
bercumbu dengan angan-angannya.
“Kenapa
tak kau pilih saja satu diantara mereka ?”
“Pernikahan
bukan soal belas kasihan. Jika aku memang tak merasakan sesuatu, mengapa mesti
dipaksakan. Lagipula kamu sudah tahu bukan seperti apa calon istri dalam
pandanganku”
Ya,
aku paham. Kamu adalah sahabat yang sangat kupahami. Pendamping hidup adalah
orang yang akan membuatmu tenteram di dalamnya, yang dapat menjaga kehormatannya,
yang selalu menyejukkan, yang cerdas sebagai ibu bagi anak-anakmu kelak. Lalu
yang paling penting adalah dialah perempuan yang mencintai RabbNya melebihi apapun. Dialah perempuan
yang mengenal Nabinya dan dialah perempuan yang akan membuatmu menjadi imam
dunia akhirat. Kulihat diantara mereka memang tak ada yang masuk dalam
kriteriamu tapi apa kau masih ingat aku pernah menentangmu demikian keras.
“Apa
untuk cinta harus selalu ada syarat ? Apa rasa datangnya bisa direncanakan ?
Bukankah mereka yang mengejarmu sesungguhnya tak pernah merencanakan kalau
suatu saat akan jatuh cinta padamu. Bahkan pertemuan denganmu saja mereka tak
pernah menduganya”
“Tapi
Tuhan memberi kita akal untuk berfikir. Semua tak pernah tahu apa yang akan
terjadi tapi manusia wajib berusaha untuk mendapatkan yang terbaik”
Rasanya
lelah juga mendengar keluhan beberapa temanmu yang selalu saja uring-uringan
gara-gara kau tak lekas bertemu dengan
jodoh. Aku tak habis fikir kenapa mereka begitu repot memikirkan urusanmu,
sedang urusannya sendiri belum tentu selesai.
“Amini
saja, mereka seperti itu justru karena mereka peduli”
Ya,
mereka sangat peduli memang. Dan aku juga menjadi lebih peduli tapi bagaimana
akan mencarikanmu seorang pendamping. Masa iya aku akan membuka audisi, ah yang
benar saja.
“Ketika
kamu menginginkan pendamping yang baik maka kamu harus membaikkan dirimu dulu.
Saat makmum itu telah siap maka sebagai imampun kelak aku akan siap untuk
menjadikannya halal. Aku yakin jika Rabbku sedang mengatur pertemuan kami
dengan cara yang sangat indah. Maka kukabarkan saja kepadaNya. Dalam satu waktu dan dimensi yang sama kuyakin ada seorang
perempuan baik yang juga tengah bermunajat kepadaNya. Lalu doa-doa kami akan bertemu di altar cintaNya, bersemi tanpa kami tahu. Semua
menjadi indah dalam wujud kedamaian yang terasa. Hatimu akan semakin peka dan
terasah. Cukup Dia saja yang tahu tentang rasa yang bersemi. Pertemuan itu akan
menjadi indah dalam kehendakNya saja”
Kata-kata
yang terangkai dalam kalimat indahmu sore itu sungguh menyihirku. Kau benar,
segala yang berasal dariNya akan
selalu indah dan tentu saja yang terbaik.
Di sebuah masjid, kutemukan bidadarimu
Aku
pernah mengira ini adalah sebuah ketidaksengajaan. Ketika kita memulai sebuah
perjalanan dan harus singgah di sebuah masjid sebab adzan dhuhur telah
berkumandang. Ini yang sangat kusalutkan darimu, selalu berusaha memenuhi lima waktumu tepat waktu.
“Bagaimana
kita tidak malu meminta sesuatu yang kita ingin dengan segera kepadaNya sedang saat Dia memanggilmu, kamu
lebih mementingkan urusanmu”
Aku
tertawa mendengarnya. Sekali lagi kamu benar, dan aku tengah berusaha untuk tak
pernah menunda saat pertemuan denganNya dalam
keadaan apapun. Bukankah panggilan paling merdu adalah seruanNya.
Di
dalam masjid dengan nuansa biru itu ada kesejukan yang seketika langsung
menyapaku. Aku terperangah dengan kemegahanNya.
Subhanallah, rumah Tuhan ini sangat
indah. Tetes air wudhu masih tampak basah di wajahku, seperti katamu jangan
berusaha untuk mengeringkannya. Biarkan ia menetes dan kering dengan sendirinya
lalu rasakan kesejukan itu cukup dengan hati dan jiwamu saja.
Sebuah
senyum menyapaku. Tatapan itu sungguh teduh, jelas ketundukan tampak disana.
Entah mengapa saat itu hatiku berkata dialah bidadari yang kau cari. Seorang
perempuan dengan gaun biru yang anggun. Begitu saja semua itu teryakini. Aku
tak tahu ketaatan seorang hamba namun ketika dia rela memenuhi seruanNya di tengah perjalanan yang jauh,
ketika ia masih mengingatNya dalam
keadaan apapun maka aku kira dia sangat mencintai Rabbnya. Entah mengapa kami
tiba-tiba menjadi akrab seakan telah lama berkawan. Wajahnya sederhana tapi
meneduhkan, tutur katanya lembut tapi tegas. Kulitnya tak seputih para model di
televisi namun bersinar. Aih, mungkin pula karena air wudhu yang tak pernah
lepas. Bahasanya santun tak menggurui, lebih banyak mendengar. Al Quran kecil
yang tak sengaja kulihat di dalam tasnya yang terbuka semakin meyakinkanku
bahwa aku telah bertemu dengan bidadarimu. Doa lamat kupanjatkan. Aku tahu kalian
tak mungkin kukenalkan karena kita bersekat. Apalagi dia terlebih dulu
meninggalkan masjid itu, aku hanya bisa berharap. Kuharap semesta juga
mengaminkannya. Sahabat, semoga saja kau bertemu dengannya walau aku tak tahu
bagaimana caranya. Tapi aku memilih untuk tak menceritakan ini kepadamu.
Seperti yang kau katakan padaku sebelumnya, cintaNya yang akan mengantarkanmu kepada sang bidadari.
Ini kejutan untukku atau ? …
“Aku
akan menikah”
Kalimat
itu menjadi suguhan paling romantis pagi itu. Aku dan keluargaku sangat senang
mendengarnya. Akhirnya kau bertemu juga dengan bidadarimu. Rasa penasaran
menggelitikku. Siapa yang akhirnya memenangkan hatimu.
Sebuah
foto kau sodorkan padaku. Allahu Akbar,
takbir itu spontan mengalir dari bibirku. Perempuan itu adalah bidadari bergaun
biru yang pernah kutemui di masjid kala itu. Seorang perempuan yang hingga kau katakan
kabar itu belum pernah aku ceritakan kepadamu.
“Dia
? Jadi dia ?”
Rasanya
masih tak percaya tapi aku sangat meyakini kebesaran Tuhan. Tak ada yang tak
mungkin bagiNya.
“Bagaimana
kau bertemu dengannya ? Dimana ?”
Pertanyaan
itu seolah ingin segera menemukan jawab. Kulihat kau hanya tersenyum saja. Aku
semakin tak mengerti ada rahasia apa dibalik semua itu. Bagaimana bisa aku
sebagai sahabatmu tak mengetahuinya.
“Aku
tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tuhan yang telah mempertemukanku dengannya
dengan cara yang indah. Dia sungguh telah mengaturnya dengan sebaik mungkin.
Maka masihkah manusia menyangsikan dan selalu bertanya berulang-ulang.
En,
inilah yang kukatakan bahwa cinta tak pernah bertanya dan tak untuk dijelaskan.
Kamu cukup merasakan kehadirannya dengan hatimu saja. Diam, lihat dan
perhatikan saja segala pertanda. Dia sungguh Maha Tahu kemana hati kita
dilabuhkan. Dekati Dia dengan ikhlas, dalam kepasrahan utuh, satu. Bukankah
kita tak pernah tahu jika pada malam-malam panjang doa-doa kita bertemu dengan
doa-doa lainnya. Kerinduan yang semata berujung kepadaNya, untukNya dan hanya
karenaNya saja. Cukup kau dan Tuhan
saja yang tahu hingga saat itu tiba, entah siapa entah dimana”
“Apa
kau sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya ?”
“Ya,
namun aku tak pernah tahu jika dialah yang Tuhan kirimkan untuk menggenapkan
dienku”
Hari
ini aku kembali tersenyum, seperti itu kelihaian sebuah misteri. Nalar memang
tak mampu menjangkaunya sebab ini bukan perkara yang harus dinalarkan. Hati
adalah jawabannya.
Sahabat,
catatan ini akan menjadi sebuah pembelajaran bagiku juga mereka diluar sana. Tak terasa ya sudah
nyaris satu tahun perjalananmu dengannya. Rumah sederhana kalian sungguh
berlimpah bahagia sebab hati-hati yang menyatu semata karena cintaNya.
Saat kelak malaikat mungilmu bisa membaca, ingin kuhadiahkan catatan ini
padanya agar dia tahu betapa dia memiliki orang tua yang hebat.
“Kamu
kapan ?” tanyamu
“Bukankah
cinta tak perlu bertanya ?”
Hehehe,
dan kitapun tertawa bersama di pelataran senja itu.