Senin, 18 Juli 2016

TRUE LOVE (Part 2)

Karena cinta tidak pernah salah
Karena rindu selalu tahu 
Dimana ia ingin tinggal dan menetap
Meski senja tak selalu merona jingga 
Tapi ia datang di tempat yang seharusnya 


Membangun pertahanan tinggi dan kuat bisa jadi adalah caraku membentengi diri dari rasa dan cinta yang tidak pada tempatnya. Tidak ingin salah langkah, apalagi keliru menempatkan rasa pada hati yang bukan untukku. Tapi siapa yang tahu hati mana yang tertulis. Meski jiwa dan belahannya sudah menjadi satu paket, tetap saja kita harus melewati jalan yang kadang tidak semanis gerimis di sore hari. 

Pak Ari, dosen favorit di Pasca Sarjana kami pernah berkata bahwa semakin tinggi pendidikan seorang perempuan maka semakin susah untuk dekat dengan jodoh. Apalagi faktanya dari 5 orang perempuan yang ada di kelas, semuanya belum ada yang punya pacar. Ups, bukan berarti kami down. Justru penjelasan Pak Ari berikutnya membuat kami menjadi bangga. Beliau berkata bahwa perempuan hebat untuk lelaki hebat. Perempuan baik untuk lelaki baik. Alhamdulillah. 

Memperbaiki diri dan terus memantaskan diri untuk kemudian siap dipertemukan dengan tulang rusuk yang sudah Tuhan janjikan. Ya, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Skenarionya sungguh indah. Datang tanpa dinyana. Bertemu tanpa rencana. Tapi aku sangat yakin, di dunia ini tidak pernah ada sesuatu hal pun yang terjadi karena kebetulan. Segalanya ada campur tangan Tuhan.

Ketidaksukaan itu sempat muncul di awal perkenalan kami. Entah mengapa, sosoknya menjadi sangat tidak menyenangkan. Mungkin karena aku belum mengenalnya secara dekat. Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang. Hampir kebanyakan dari kita hanya melihat dari sisi luar dan pendapat orang saja. Padahal bisa jadi orang yang berbagi pendapat adalah mereka yang juga tidak mengenal secara baik. Sedikit demi sedikit perasaan itu terpupuk. Meski tidak pernah bersinggungan dalam banyak hal, namun aura negatif sudah tertanam. Sampai pada akhirnya aku berkesempatan satu kantor dengan adik kandungnya, Rona.

Secara tak sengaja mendengar cerita tentangnya setiap hari, masih membuatku bergeming. Mungkin karena saat itu aku sudah mempunyai tokoh ideal sendiri. Sosok lelaki ideal dalam kacamata sebagai perempuan. Mau sebaik apa pun sekitar berkisah tentangnya, tetap saja dalam penilaianku bukan dia jawaban yang aku cari. Lagipula aku juga tahu, dia mempunyai kriteria sendiri dalam kacamata sebagai lelaki. Mana ada lelaki yang mengidolakan perempuan penggila buku, pecinta senja apalagi penulis. Setidaknya untuk ukuran lelaki moderen kala itu. 

Kepergian sang Bunda menjadi titik balik kehidupannya. Dia yang sebelumnya lebih asyik dengan teman-teman sepermainan. Lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah. Lebih terbuka pada dunia sekitar dibandingkan keluarga. Perlahan mulai berubah. Aku juga secara tak sengaja mengirimkan sebuah buku karyaku bersama beberapa penulis, Ibuku Adalah. Banyak hati yang tersentuh juga terinspirasi dan mengalami perubahan total dalam kehidupan setelah membaca kisah inspiratif di dalamnya. Aku juga berharap dia pun begitu. Walau ini hanya sekedar perhatian sebagai seorang anak yang selama ini merasakan bahwa keluarga dan rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang. Sharing dengan sang adik juga tanpa aku sadari menjadi amunisi baru untuk berubah. 

Rutinitasku ke luar kota untuk menghadiri acara kepenulisan membuatku sering bertemu dengannya. Bukan karena kami mengikuti kegiatan yang sama, tapi karena aku selalu menitipkan kendaraan di rumahnya. Tepatnya kepada sang adik. Setiap kali aku meminta tolong sang adik untuk mengantarkan ke Pelabuhan, selalu ada alasan tidak bisa. Kadang ia sedang repot dengan anak ya yang masih kecil atau kesibukan rumah tangga lainnya. Alih-alih menyuruhku menunggu, tapi ia melemparkan tugas kepada sang kakak untuk mengantarkan. Alhasil sepanjang jalan, kami mengobrol banyak hal. Biasa saja,menurutku semuanya masih serba biasa. Namun, manusia mana yang bisa menebak apa yang akan terjadi beberapa waktu mendatang. Bahkan aku juga tidak pernah mengira jika ternyata Tuhan sudah menuliskan cerita lebih berarti di dalamnya. 

Kadang segala sesuatu datang dengan cara sederhana. Kadang perasaan bisa melompat-lompat dengan lihai. Kadang kita menjadi manusia yang tidak sadar dengan apa yang kita alami. 
Kadang .........


(Bersambung)