Kamis, 08 Agustus 2013

Pelarian Cinta Sang Duffytic



            Love is blind, ungkapan manis yang layak disematkan di pundak Tiffany. Kalimat sakral yang kerap menuai aksi protes dari para pelakunya. Sayang, walaupun mengajukan berbagai argumentasi tetapi sikap yang nyata terpampang di depan mata adalah bukti halus yang tak sanggup disangkal kebenarannya. Pada nasihat yang tak jemu menghampiri, Tiffany masih saja bergeming.
            “Tif, cobalah kamu gunakan nalar! Gimana bisa? Kamu ngejar cowok yang kamu kenal belum genap sebulan lamanya?” tanya Tamara.
            “Ada yang salah? Bukankah kamu sendiri yang bilang? Cinta nggak pernah bisa direncanakan kapan akan datang dan pada hati yang mana ia berlabuh,” jawab Tiffany.
            “Tapi bukan begini caranya,” tegas Tamara.
            “Ah, udahlah! Aku tahu kamu nggak suka aku dekat dengan Duffy, karena kamu juga punya rasa yang sama. Namun sayangnya dia lebih milih aku dibanding kamu. Sadar deh, Tam!” bentak Tiffany.
            “Tif, aku nggak pernah berpikiran sepicik itu. Kamu itu sahabatku, gimana bisa? Aku ngehancurin kebahagiaan kamu. Masalahnya …” ujar Tamara cekat.
            “Tam, stop mengatur hidupku! Jangan pernah ikut campur! Aku juga butuh privacy!” hardik Tiffany.
            “Apa? Privacy katamu? Sejak kapan? Kamu membatasi hidup dalam dinding bernama privacy. Tif, jatuh cinta pada Duffy bukan hal yang salah, tapi akan menjadi keliru karena kamu sudah memiliki Antoni. Aku nggak ingin ada yang terluka diantara kalian, itu saja. Aku hanya peduli! Bukan gengsi apalagi benci,” jelas Tamara.
            Tamara bergegas meninggalkan Tiffany di sudut taman. Ada belati yang seakan menusuk ketika mendengar bantahan Tiffany. Ia sungguh merasa bersalah karena telah mengenalkan Tiffany pada Duffy. Jalan yang tak pernah ingin Tamara lihat akan seperti apa ujungnya kelak.
            ***

            “Kamu nggak sedang bercanda kan, Tif?” tanya Duffy heran.
            “Duffy, percaya deh! Aku sendiri nggak ngerti kenapa seperti ini. Ada rasa nyaman bila di dekatmu, tenang setiap kali berbincang denganmu dan detak yang ada di hatiku berbeda dari apa yang aku alami selama ini,” papar Tiffany.
            “Bukankah kamu pernah cerita udah punya pacar yang saat ini sedang bertugas di Sulawesi? Lalu gimana dengan dia? Kamu akan menduakannya denganku?” tanya Duffy.
            Tiffany terhenyak. Sesaat bayangan Antoni muncul di pelupuk matanya. Senyum yang selama ini membuatnya begitu tergila. Namun kehadiran Duffy telah memberi ruang tersendiri di hatinya. Ia tak rela jika harus melepaskan lelaki itu kepada perempuan lain.
            Bukan berambisi memiliki keduanya namun Tiffany sungguh tak bisa melepaskan dua arjuna yang telah mengisi hidupnya dalam nuansa bahagia yang tak sama.
            “Tapi aku suka kamu, Duf. Aku sangat sayang sama kamu,” rengek Tiffany.
            Duffy menghela napas panjang, ada beban yang memberatinya. Tersudut pada satu kenyataan yang sebenarnya tak bisa ia maafkan sebagai seorang lelaki. Tapi rasa yang melagu di hatinya mengajak dia berdamai dalam satu penerimaan tanpa rasa sakit. Selain hanya cemburu yang kadang singgah setiap kali melihat Tiffany tengah peduli pada Antoni.
            Okey,” jawab Duffy datar dan singkat.
            Tiffany memandang Duffy dengan rasa heran. Ia sama sekali tak bisa menerka jawaban seperti apa yang sedang dilontarkan oleh lelaki yang dikaguminya itu.
            “Maksud kamu? Okey?” selidik Tiffany.
            “Hehehe Tif, kamu lucu banget sih kalau sedang bingung begitu,” goda Duffy.
            “Duf, aku sedang nggak ingin bercanda nih. Maksud kamu apa sih?” tanya Tiffany.
            Duffy beringsut mendekat ke arah Tiffany lalu dengan lembut dipegangnya tangan gadis itu. Cinta, kembali memainkan peran dengan sangat baik. Dalam keadaan yang terbilang tak mungkin sekalipun, cinta masih bisa berbicara atas nama cinta.
            “Kita jalani ya apa yang saat ini kita rasakan. Aku tahu ada satu hati lain yang memiliki hatimu. Namun aku juga tak bisa membohongi diriku. Aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan,” tegas Duffy.
            “Hah? Duf, aku nggak sedang bermimpi bukan? Kamu mau pacaran dengan aku?” tanya Tiffany.
            Duffy mengangguk. Dilihatnya binar indah menari-nari di sepasang mata Tiffany.
            ***
           
            Langit menjanjikan malam dalam kemegahan semesta. Senyum sang bintang tak henti menghadiahi temaram sebentuk cahaya. Gulita bergerak menjelma pelita. Degup rindu berayun lirih dan berbisik mesra.
            Bayangan Tiffany dengan lesung pipit dan sikap manjanya membuat Duffy terhenyak. Ia sungguh tak pernah mengira akan terjebak dalam permainan cinta rumit yang justru sangat ia nikmati. Terbersit sekalipun tak pernah ada dalam benaknya.
            “Dia sangat menggilaimu. Aku saja heran, Duf. Padahal dia udah punya Antoni tapi gimana bisa? Masih menginginkanmu. Hmm, Duffytic,” kata Tamara.
            Teringat kalimat yang pernah dikatakan oleh Tamara. Rasa heran mungkin bukan saja menjadi milik Tamara tapi juga dirinya. Namun ia masih tak menemukan jawaban itu. Duffytic, adalah istilah yang diberikan oleh Tamara untuk perempuan-perempuan yang tergila-gila kepada Duffy.
Duffy mematut dirinya di cermin. Mencoba meneliti satu persatu apa yang membuat perempuan-perempuan seperti Tiffany menjadi demikian suka padanya. Kesederhanaan yang jauh dari kata glamour adalah kesehariannya. Tapi di zaman seperti ini mana ada yang mau menerima itu. Ia juga bukan ukuran otak yang jenius walau bisa memecahkan persoalan-persoalan rumit. Perlengkapan pribadinya belum bisa dibanggakan selain hanya motor butut yang mengantarkannya ke tempat kerja setiap hari.
            “Lalu aku harus bagaimana, Tam? Menghindar dari Tiffany dan perempuan-perempuan itu?” balas Duffy.
            “Nggak juga sih, Duf. Aku juga bingung. Kamu syukuri aja mungkin,” jawab Tamara.   
            Duffy tersenyum mendengar perkataan Tamara di akhir perbincangan mereka. Bersyukur, ya mungkin itulah yang cukup bijak ia lakukan saat ini. Menjalani anugerah pertemuannya dengan Tiffany dalam bahagia saja.
            ***

            “Duf, ayo sarapan dulu! Ibu udah menyiapkan nasi goreng kesukaan kalian,” kata ibu Tiffany.
            Bu Maria, ibunda sang kekasih dengan penuh kasih sayang memperlakukan dia layaknya anak sendiri. Duffy merasa menemukan keluarga yang selama ini begitu hambar dia rasakan. Terpisah jauh dari keluarga demi mengejar cita masa depan adalah sebuah perjuangan yang tak mudah. Kadang rasa rindu memenjarakannya dengan sangat egois, tak memberi sedikit kesempatan untuk berdamai.
            “Lho kok malah bengong. Ayo nggak usah sungkan-sungkan! Anggap saja di rumah sendiri! Anggap kami ini seperti kedua orang tuamu saja!” pinta Bu Maria.
            “Hehehe apalagi ayah nggak punya anak laki-laki,” sambung ayah Tiffany.
            “Terima kasih,” jawab Duffy.
            Kalimat manis itu tiba-tiba meluncur dari bibir Duffy yang mulai kelu. Lisannya seolah mengatup dalam bisu. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan sangat istimewa. Diduakan dengan Antoni, kini bukan lagi alasan yang ia persoalkan. Apalagi kedekatan keluarga besar Tiffany dengan dirinya menjadi poin penting yang tak bisa dilawan.
            ***
           
            Waktu dan jarak adalah keramat yang menjadi alasan untuk sebuah keputusan maha penting dalam hidup juga kelangsungan sebuah hubungan. Seringkali detak yang serupa memilih menyerah pada detik hanya karena terperdaya oleh kilometer yang terukur. Bahagia akan teruji, ketika masa memberi ruang pada dua hati untuk menganalisa sekali lagi makna sebuah rasa.
            “Apa? Tidaaaaaakkkkk!!!”
            Tiffany menjerit histeris. Air matanya bersimbah seiring ratapan pilu yang menyayat kalbu. Tiga ratus enam puluh lima hari bukan bilangan yang sebentar. Kehadiran Duffy telah menyihir hari-harinya menjadi energi tersendiri.
            Ada dentum gelora semangat yang membuatnya bangkit dari setiap kegagalan yang ada. Semua karena lelaki berparas menawan itu. Lalu kini selembar keputusan dari tempatnya bekerja membuat Duffy memilih jalan untuk mengakhiri semuanya.
            “Nggak Duf, aku nggak mau kita putus! Nggak mau, aku nggak mau!”
            “Tif, aku nggak mungkin menjalani hubungan ini lagi. Kota dingin ini sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan bagiku. Jarak kita memang masih dalam bentangan yang terjangkau namun aku bukan pribadi yang bisa bertahan pada Long Distance Relationship. Jarak hanya pemanis sesaat karena setelah itu dua hati nggak akan pernah bisa beradu dalam cawan yang sama. Seperti halnya kamu dan Antoni,” jelas Duffy.
            “Kami bisa dan kamu tahu sendiri bukan kalau sampai saat ini Antoni masih bisa bertahan dalam kesetiaannya padaku,” terang Tiffany.
            “Tapi kamu tidak!” bentak Duffy.
            Tiffany terhenyak mendengar ultimatum dari Duffy. Gadis itu menunduk dan terus terisak. Air mata masih menghangati ranum pipinya. Duffy memilih bungkam dalam diamnya sebab ia mengerti saat ini hati mereka sama-sama tersakiti. Lubang yang mereka ciptakan sendiri sejak mula, sesungguhnya. Pasrah pada takdir, merengkuh nafas cinta yang masih terserak di pelataran taman hati.
            ***

            Duffy berhenti di sebuah taman kota Malang. Sebentar lagi ia akan meninggalkan kota yang selama dua tahun ini telah memberinya warna warni hidup. Keputusan telah dibuat, tak ada yang harus ia pertanyakan dalam kesepakatan hidupnya.
            Secarik kertas dibukanya. Dipandanginya berlama-lama tulisan yang tertera.
            Menugaskan Saudara Duffy Satriawan sebagai supervisor di area wilayah Surabaya. Terhitung mulai tanggal 01 Juli 2011.
            Kalimat itu sangat tegas tanpa penolakan. Ada dilema yang menyerangnya. Bertahan dengan jabatan yang sekarang namun tetap bahagia dengan Tiffany atau mengejar impian yang telah lama tergadaikan.
            Ketika segalanya telah nyata di hadapan, masihkah menolak segenap anugerah yang belum tentu akan menghampirinya kembali di masa yang akan datang? Tak ada jalan lain! Melepaskan juga butuh keikhlasan seperti halnya sebuah penerimaan.
            Degup luruh diantara daun-daun yang berguguran. Permintaan maafnya pada seluruh keluarga besar Tiffany masih menyisakan kepedihan. Tapi tekad Duffy telah bulat, ia harus segera mengejar impiannya di kota pahlawan.
            Langkahnya bergegas meninggalkan taman kota. Dalam geliat aroma kota dingin untuk terakhir kalinya.
            “Duf,” panggil Tiffany.
            Sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Duffy menoleh dalam ragu. Seorang gadis tampak berjalan mendekat.
            “Tif, maaf. Aku benar-benar minta maaf,” jawab Duffy.
            “Terima kasih untuk hari-hari yang indah. Bagiku semua sangat berarti. Bukan tentang singkatnya waktu, bukan pula jalan kita yang mungkin keliru atau perasaan yang terlalu memilih tapi aku bahagia bisa mengenalmu, Duf. Selamat jalan. Semoga kamu bahagia dan menggapai semua mimpi itu,” kata Tiffany.
            Tiffany segera beranjak meninggalkan Duffy, sebelum lelaki itu memberi jawaban. Tiba-tiba Duffy terhenyak ketika dirasakannya sebuah kertas telah ada di genggaman.
            Duf, terima kasih telah membantuku untuk memilih dan menemukan pelarian cinta. Mungkin, Antonilah dermagaku. Tempat untuk tinggal dan menetap. Datanglah ke hari bahagia kami, aku tunggu.
            “Tiffany, aku …”
            Duffy merasakan sesak yang dalam. Hatinya telah berlubang, sakit. Sungguh, sangat sakit.
 ***









KIDUNG SATU DETAK




          Kirana berlari tanpa peduli. Ia terus saja bergerak mendekat di ujung hari yang lambat memenjara waktu dalam air mata tanpa bahasa.
            “Aaaaghhh …” teriaknya hebat.
            Deru ombak sisi Parangkusumo berayun gemulai seiring lekukan hari yang kian senja. Merah saga diantara lipatan jingga semakin meredup. Detak beradu, menderu pilu. Sayat-sayat lara tak lagi sanggup ia tahan. Meski ragu sesaat tegakkan dirinya dalam genggam tanya yang tak jua pasti menemukan jawab.
            “Udahlah Kiran! Kamu nggak perlu menunggu lagi! Semua hanya semu yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana bisa? Satu hati membuka ruang dua rasa yang tak sama. Walau pun atas nama cinta, dalam bahasa berbeda. Kamu bodoh! Sangat bodoh! Hanya perempuan yang nggak ngerti gimana mencintai cinta yang menakar penantian sebagai kepastian di suatu hari nanti,” kata Artur.
            Kirana mendesah. Terngiang kembali percakapannya dengan Artur beberapa waktu lalu. Sahabat yang sangat mengenalnya selayak saudara sedarah. Orang yang diharapkannya mengerti posisi tersulitnya kini namun justru menjadi bagian dari orang-orang yang menghujat keputusannya.
            Jiwa yang ia andalkan untuk memahaminya dalam kacamata berbeda malah menjadi bagian dari orang yang menyudutkannya di gerbang kesalahan. Apa yang salah dengan sebuah penantian? Mengapa banyak hati yang memilih melepaskan dalam keikhlasan terbata? Kenapa rindu yang ia agungkan justru dinilai sebagai jeruji semu yang tak punya harga? Kirana sesak dalam kelu.
             ***
           
            “Kiran, tahu nggak? Semalam aku dapat email dari Shinta. Kamu masih ingat nggak dengan dia?” tanya Bagas.
            “Shinta, teman SMU kita yang dapat beasiswa kuliah ke Jepang itu?” selidik Kirana.
            Bagas mengangguk sambil tersenyum penuh sipu. Kirana menangkap ada yang berbeda dalam nada suara Bagas saat membicarakan Shinta. Wajahnya yang bersemu merah tak bisa ia tutupi.
            “Ada apa dengan dia?” tanya Kirana penasaran.
            “Hmm, dia cerita tentang keadaan disana. Kampus juga kultur mahasiswa di Jepang sangat berbeda dengan kita disini katanya. Nyaris mereka nggak ada waktu untuk santai. Setiap menit sangat berarti. Sekali saja lengah maka akan tertinggal di belakang. Awalnya Shinta merasa berat, namun setelah dua tahun disana dia sudah terbiasa dengan ritme baru itu. Oh ya, dia jadi salah satu mahasiswa teladan yang dapat penghargaan bergengsi beberapa waktu lalu. Kita patut bangga sebagai temannya,” papar Bagas.
            “Oh gitu,” balas Kirana datar.
            “Kamu kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” ucap Bagas.
            “Apa?” seru Kirana.
            Kirana merasa tak enak karena Bagas menangkap perubahan sikapnya.
            “Nggak ada apa-apa kok. Mungkin aku terlalu capek aja seharian ini praktikum di laboratorium terus. Aku pulang dulu ya,” jawab Kirana lekas.
            “Kirana, tunggu!” teriak Bagas.
            Bagas mengejar Kirana yang semakin mempercepat langkahnya. Entah mengapa Kirana merasakan bahwa Bagas hendak memberitahunya sesuatu dan itu tak pernah ingin ia dengar. Caranya bercerita serta senyum tak pernah lepas setiap kali menyebut nama Shinta adalah mimpi buruk yang seharusnya akan hilang saat membuka mata.
            Sebuah sentuhan lembut di tangannya membuat Kirana terpaksa berhenti. Degup memacu tak menentu. Ada lara yang menyerang tiba-tiba dan semua itu ia sembunyikan dibalik bahasa tubuh tak bersahabat.
            “Kirana, aku belum selesai. Ada yang harus kamu tahu!” tegas Bagas.
            “Apa, Gas?” jawab Kirana.
            “Shinta sempat bilang kalau selama tiga tahun di SMU dia menaruh rasa padaku dan tadi malam dengan segenap kejujuran ia ungkapkan semua itu. Aku harus gimana, Kiran? Apa yang harus aku katakan pada dia?” tanya Bagas.
            “Apa?” teriak Kirana.
            Apa yang selama ini ia takutkan sungguh menjadi nyata. Waktu telah lebih dulu memberi Shinta kesempatan untuk mengungkapkan rasa. Sementara dia, hanya sanggup menepikan rasa itu di sebuah ruang sepi. Atas satu alasan, tak ingin Bagas pergi menjauh saat semua telah ia ungkapkan. Kadangkala menari dalam cinta sendiri jauh lebih leluasa dibanding ungkapan rasa.
            “Gas, kamu sayang sama dia?” balas Kirana lemah.
            Pertanyaan lirih itu terasa sebagai beban berat. Kirana mengalihkan pandangnya ke arah taman kampus.
            Menapak jejak di UGM dengan Bagas adalah kebanggaan tersendiri yang sangat senang ia bagi kepada khalayak. Namun ia tak pernah mengira jika dua tahun terlalu sebentar bagi sang waktu untuk membaca rasa.
            “Aku nggak tahu. Aku ngerasa nyaman saat ada di dekatnya. Lalu ketika dia jauh, aku ngerasakan rindu. Apa itu namanya cinta?” jelas Bagas.
            “Mungkin,” jawab Kirana.
            “Maksud kamu?” selidik Bagas.
            “Cinta sulit untuk dimengerti. Kadang logika menjadi demikian terbatas untuk menterjemahkannya. Urusan hati, siapa yang sanggup menerka?” tegas Kirana.
             ***
           
            Kirana termenung di ujung malam. Suara gemericik gerimis yang menyentuh bumi seolah kidung hati sang pecinta. Langit tak bersahabat, dalam jejak pilu kembara hatinya yang menanti selama lima tahun. Masihkah waktu menguji batas setianya kembali?
            Ia mematut hati di depan monitor. Lalu dalam hitungan detik, jemarinya telah lincah menuliskan kata-kata.
            Satu detak lirih menyapa sejak mula
            Degup rasa terbaca demikian rupa
            Sapa tak sanggup diterjemahkan lebih dari biasa
            Ketika hatimu menyuruh rinduku menepi
            Aku diam tak peduli dan masih menanti
            Pilu bermisteri di siluet hati
            ***

            “Kenapa kamu harus menangis jika cinta tak berpamrih? Mengapa merasa pilu jika tulus adalah energi hatimu? Aku tak tahu! Bagaimana hatimu menterjemahkan penantian? Jika gundah yang menggeliat hanya beri semu, lalu untuk apa kamu memilih menanti kembali? Kiran, Bagas hanya punya satu hati. Ia tak mungkin membangun dua ruang rasa disana. Saat titah cinta memilih Shinta, maka kamu tak punya pilihan selain pulang dari hatinya,” ucap Artur.
            “Aku tahu semua menjadi demikian tak tersentuh. Tapi jika dia bisa menilai penantian Shinta selama tiga tahun, bagaimana dia tak membaca penantianku selama lima tahun?” bantah Kirana.
            “Sebenarnya cinta itu sederhana. Saat kamu meyakini satu detak, maka biarkan kidung rasa itu bernyanyi dengan merdu. Tak perlu membuatnya bersembunyi diblik label persahabatan. Gimana Bagas akan ngerti? Jika kamu sendiri nggak pernah ngasih kesempatan kepada hatimu untuk mengatakan itu. Bahasa cinta itu sederhana.”
            Kirana menghela napas panjang. Ada beban yang menyanggah lalu menyeruak lara di sekerat hatinya. Ia tunduk pada pilu yang tersenyum simpul. Taman Pelangi sore ini penuh energi. Sementara jingga mulai menampakkan diri perlahan.
            “Hai, Kiran! Langit yang indah ya?” seru Bagas.
            “Bagas, ngagetin aja deh,” gerutu Kirana.
            “Lagi bahagia ya?” goda Bagas centil.
            “Kamu juga lagi bahagia bukan?” balas Kirana.
            Bagas tersenyum lalu melemparkan pandangnya ke arah senja. Keduanya diam, beku dalam kelu.
            “Aku bahagia bisa merasakan detak ini, saat bersamamu. Tak peduli bagaimana ia memainkan melodinya, namun yang kutahu aku menemukan ujung rindu itu di sisimu,” bisik Bagas dalam hati.
            “Aku bahagia, sungguh bahagia. Mendengar degup di satu detak yang selama ini masih terus menantimu. Aku akan tetap menanti, masih menanti. Meski pun waktu tengah memberiku kisah tentangmu dan Shinta. Ah, detik masih saja mencandaiku dengan genit,” Kirana berkata dalam kalbu.

            Senja merona jingga. Aroma malam segera berganti peran. Satu detak utuh melagu di segumpal senyum sang pecinta. Dua hati yang serasi, saling memuji dalam doa rahasia. Gerimis bertanya, mengapa tak menyatu saja? Mereka menunggu! Saling menunggu! Jawab sang pelangi. 
            Begitulah rindu berkisah!
            ***


           

JEJAK SEKERAT RINDU






              “Nggak mungkin!!! Ini nggak mungkin!!! Aku nggak percaya, tidaaakkk!!!”
            Rea histeris. Tubuhnya terguncang hebat. Air mata tumpah ruah tak terkendali. Jeritnya tak sanggup bisu diantara riuh orang-orang dengan pakaian serba hitam.
            “Re, tenang! Kamu nggak boleh seperti ini!” bujuk Ayunda.
            “Kenapa harus dia? Kenapa?” tanya Rea tertatih.
            Langit gelap. Dunia berputar hebat. Pekat menjerat kuat, tersudut raganya dalam sekat tanpa kalimat. Pingsan! Tubuh Rea terjatuh.
            “Rea, bangun Re! Rea!!!” teriak Ayunda.
            Ayunda bingung. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.
            “Aku dimana?” bisik Rea lirih.
            “Rea? Kamu? Ah, syukurlah,” ucap Ayunda.
            Beberapa orang berhamburan memeluk Rea. Dalam gelimang perih, mereka coba menenangkannya. Pandangan pilu terpancar dari wajah-wajah itu. Sesak menjejali sebagian rongga mereka. Tak ada yang sanggup menolak takdir.
            “Kasihan dia, gimana dia harus menjalani semua ini?” ujar salah seorang diantara mereka.
         “Insyaallah dia akan kuat. Bukankah Allah nggak pernah memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya?” jawab Ayunda dengan tegas.
            Ayunda kesal dengan orang-orang yang hanya bisa mencibir keterpurukan Rea, tanpa memberinya suntikan semangat. Hidup harus terus berjalan walau pun dalam tataran manusia terasa berat.
            “Yun, aku dimana? Apa yang terjadi?” tanya Rea lagi.
           Ayunda tersenyum. Disekanya air mata yang masih tercecer di pipi Rea. Hatinya sedih melihat keadaan Rea, namun ia paham jika Allah akan selalu membersamainya.
            “Sabar ya, Re! Aku tahu kamu kuat dan tabah. Aku yakin kamu bisa mengikhlaskan semua ini,” kata Ayunda.
           “Kakak? Ah, ya kakak, dimana dia? Aku harus ketemu dengan dia,” ujar Rea sembari berdiri dari pembaringannya.
            “Rea, tunggu!” pekik Ayunda.
            Rea tak peduli dengan teriakan Ayunda. Ia terus berjalan menerobos para pelayat
            “Kakak!!!” teriak Rea.
            Tangisnya kembali pecah.
            “Ikhlaskan dia, Re! Kamu harus kuat. Semua adalah takdirNya. Bukankah kamu pernah bilang kalau Allah Maha Tahu segala yang terbaik untuk hidup kita. Rea, Dia pasti sangat tahu kalau kamu sanggup melewati semua ini,” jelas Ayunda.
            ***
           
            Rea tertunduk. Bayangan Larasati, kakak satu-satunya menghampiri. Semalam, mereka masih tarawih dan tadarus bersama. Semalam, Larasati masih membangunkannya untuk menghadap sang Maha Cinta di sepertiga malam terakhir. Dini tadi, mereka masih sahur bersama dan dua puluh menit yang lalu, ia masih menyaksikan senyum khas kakaknya itu mengiringi kepergiannya ke tempat kerja.
           “Hati-hati di jalan, Dik! Ntar kalau jadi buka bersama di kantor, jangan makan yang pedas-pedas! Kalau sampai sakit, nggak ada yang nganterin kamu ke dokter,” nasihatnya.
            “Kan ada kakak yang selalu siap antar jaga, seperti biasanya,” bantah Rea dengan ringan.
            “Oh ya, surat-surat penting kamu udah aku keluarkan semua. Ntar kamu simpan aja sendiri. Jadi kalau butuh, nggak bingung. Lagian nggak bisa tanya lagi sama aku,” jelas Larasati sambil menepuk pundak Rea.
            “Kakak, emangnya mau pergi kemana? Udahlah! Kakak aja yang simpan. Gampanglah! Ntar kalau ada apa-apa, aku bisa tanya kakak,” ujar Rea.
            Tanpa firasat apa pun, Rea dengan tenang memacu motornya menuju ke tempat kerja. Ia masih merasakan tatapan mata Rea yang melihatnya dengan rasa bangga. Sejak dulu, Larasati selalu mengusahakan yang terbaik untuk Rea. Baginya, Rea adalah jelmaan cita-citanya yang tak terlaksana. Semua yang ia impikan, bisa diwujudkan oleh Rea. Ia dan Rea seperti sepasang anak kembar yang selalu melewatkan waktu bersama.
            Kakak nomor satu di dunia! Yup, seperti itu Rea membanggakan Larasati. Perhatian dan cinta yang diberikan oleh Larasati tak pernah berpamrih. Ia sanggup bersabar atas kemanjaan Rea yang kadang kelewat batas. Ia bisa tenang menghadapi sikap Rea yang seringkali kekanak-kanakan dengan sifat suka ngambeknya. Ia bisa bertahan untuk terus menjadi kakak terbaik bagi Rea.
            ***
            
         Aaahhh!!!! Rea tak bisa menahan air matanya. bagaimana bisa Larasati pergi hanya dalam hitungan menit? Bagaimana bisa ia takkan lagi melihat wajah kakaknya itu untuk terakhir kali? Bagaimana bisa waktu berhenti tanpa ia sadari?
            “Ada pendarahan di otaknya. Analisa sementara tim dokter ini disebabkan pembuluh darah besar yang di otak pecah. Dari hasil CT-Scan, terlihat kalau dalam hitungan detik seluruh otak sudah penuh dengan darah. Satu-satunya cara hanya dengan jalan operasi tapi sayang, kemungkinan untuk selamat sangat kecil. Bahkan kami nggak bisa memperkirakan prosentasenya,” tutur tim dokter.
            Badan Rea lemas. Tubuhnya linglung. Ia bahkan tak pernah mengira kenyataan pahit itu. Bukankah tadi Larasati masih sehat dan segar bugar? Lalu kini? Ia terbujur bisu dalam koma. Langit ramadhan meluruhkannya. Degup yang tertatih menuju langit, dalam pengharapan penuh seorang adik yang tak ingin saat setahun kepergian sang ayah akan merenggut sang kakak pula.
            “Maaf, kami nggak bisa berbuat banyak. Detak jantungnya sudah berhenti. Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap tim medis.
            Rea tertunduk di ayat terakhir yang dibacanya. Al quran kecil warisan sang ayah terjatuh dari tangannya, mengiringi kepergian Larasati menuju Sang Maha Cinta. Ia sempat termangu, sesak itu demikian penuh dalam dadanya.
            “Sabar, Nak!” bujuk bunda.
            “Bun, kakak? Aaahhh!!! Kenapa harus kakak? Kenapa seperti ini lagi?” histeria Rea.
          Bunda dan Ayunda segera menenangkan Rea. Mereka memeluk Rea dengan erat, coba menguatkannya.
            “Hey, kamu nggak boleh seperti ini! Ingat kan apa kata ayah? Semua yang bernyawa pasti akan mengalami ini. Dunia hanya pemberhentian sementara. Hidup yang sebenarnya itu disana. Kita semua juga sedang menunggu waktu. Ayolah, kamu tabah ya!” ujar bunda.
            Perempuan paruh baya itu terlihat tegar, meski perih tak ayal menyelinap jauh lebih hebat  di batinnya. Namun ia tak mau Rea rapuh. Bukan hal mudah ketika harus melepaskan satu persatu orang terkasih dari pelukan. Namun ketika kesadaran betapa manusia tak pernah memiliki apa-apa, maka bagaimana bisa harus merasa kehilangan? Bukankah sang pemilik itu hanya Allah? Ramadhan ini, kembali menuai air mata.
            ***

            Rea tersudut di kaki langit senja. Jingga menawarkan kasih terindah di sekeping rindu yang membawanya pada kenangan ayah juga kakak tercintanya. Dua kali ramadhan, dua kali ia harus melepaskan.
            “Apa yang kamu pikirkan, Re?” tanya Ayunda.
            “Eh, Ayunda. Bikin kaget aja,” protes Rea.
            Rea menghela napas. Ia tersenyum menatap langit.
            “Yun, kepergian ayah dan kakak yang tiba-tiba membuat aku sadar. Sungguh, kematian itu begitu dekat dengan siapa saja. Kita nggak pernah tahu kapan ramadhan terakhir untuk kita,” kata Rea.
            “Allah Maha Tahu. Keterpurukan, kesedihan yang kita alami sebenarnya adalah salah satu cara Allah untuk membuat kita tangguh, kuat juga bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik dengan semakin mendekatkan diri padaNya. Mempersiapkan bekal, sehingga ketika waktu itu tiba, kita bisa tersenyum menujuNya,” jawab Ayunda.
            Rea mengangguk. Ia tersenyum sembari menyodorkan selembar puisi kepada Ayunda, yang sempat ia tuliskan di sepertiga malam kemarin.

            Duhai Penjaga Hati,
            Degup rindu luluhkan rasa
            Di kehangatan masa yang menepi
            Mendamba yang tak biasa

            Maha Cinta,
            Sekerat rindu menabur jejak asa
            Pada titah yang terikhlas menyapa
            Demi penantian terindah sebelum masa tiba
            (Rea)
           
            Air mata Ayunda menetes. Ada ruh aksara yang menembus pertahanan jiwanya. Ia memeluk Rea.
            “Semoga kita menjadi bagian dari barisan orang-orang yang dirindukan surga. Aamiin,” ucap Ayunda.
            ***