Love
is blind, ungkapan manis yang layak disematkan di pundak Tiffany. Kalimat
sakral yang kerap menuai aksi protes dari para pelakunya. Sayang, walaupun
mengajukan berbagai argumentasi tetapi sikap yang nyata terpampang di depan
mata adalah bukti halus yang tak sanggup disangkal kebenarannya. Pada nasihat
yang tak jemu menghampiri, Tiffany masih saja bergeming.
“Tif, cobalah kamu gunakan nalar! Gimana
bisa? Kamu ngejar cowok yang kamu kenal belum genap sebulan lamanya?” tanya
Tamara.
“Ada yang salah? Bukankah kamu sendiri yang
bilang? Cinta nggak pernah bisa direncanakan kapan akan datang dan pada hati
yang mana ia berlabuh,” jawab Tiffany.
“Tapi bukan begini caranya,” tegas
Tamara.
“Ah, udahlah! Aku tahu kamu nggak
suka aku dekat dengan Duffy, karena kamu juga punya rasa yang sama. Namun
sayangnya dia lebih milih aku dibanding kamu. Sadar deh, Tam!” bentak Tiffany.
“Tif, aku nggak pernah berpikiran
sepicik itu. Kamu itu sahabatku, gimana bisa? Aku ngehancurin kebahagiaan kamu.
Masalahnya …” ujar Tamara cekat.
“Tam, stop mengatur hidupku! Jangan
pernah ikut campur! Aku juga butuh privacy!”
hardik Tiffany.
“Apa? Privacy katamu? Sejak kapan? Kamu membatasi hidup dalam dinding
bernama privacy. Tif, jatuh cinta
pada Duffy bukan hal yang salah, tapi akan menjadi keliru karena kamu sudah
memiliki Antoni. Aku nggak ingin ada yang terluka diantara kalian, itu saja.
Aku hanya peduli! Bukan gengsi apalagi benci,” jelas Tamara.
Tamara bergegas meninggalkan Tiffany
di sudut taman. Ada
belati yang seakan menusuk ketika mendengar bantahan Tiffany. Ia sungguh merasa
bersalah karena telah mengenalkan Tiffany pada Duffy. Jalan yang tak pernah
ingin Tamara lihat akan seperti apa ujungnya kelak.
***
“Kamu nggak sedang bercanda kan, Tif?” tanya Duffy
heran.
“Duffy, percaya deh! Aku sendiri
nggak ngerti kenapa seperti ini. Ada
rasa nyaman bila di dekatmu, tenang setiap kali berbincang denganmu dan detak
yang ada di hatiku berbeda dari apa yang aku alami selama ini,” papar Tiffany.
“Bukankah kamu pernah cerita udah punya
pacar yang saat ini sedang bertugas di Sulawesi?
Lalu gimana dengan dia? Kamu akan menduakannya denganku?” tanya Duffy.
Tiffany terhenyak. Sesaat bayangan
Antoni muncul di pelupuk matanya. Senyum yang selama ini membuatnya begitu
tergila. Namun kehadiran Duffy telah memberi ruang tersendiri di hatinya. Ia
tak rela jika harus melepaskan lelaki itu kepada perempuan lain.
Bukan berambisi memiliki keduanya
namun Tiffany sungguh tak bisa melepaskan dua arjuna yang telah mengisi
hidupnya dalam nuansa bahagia yang tak sama.
“Tapi aku suka kamu, Duf. Aku sangat
sayang sama kamu,” rengek Tiffany.
Duffy menghela napas panjang, ada
beban yang memberatinya. Tersudut pada satu kenyataan yang sebenarnya tak bisa
ia maafkan sebagai seorang lelaki. Tapi rasa yang melagu di hatinya mengajak
dia berdamai dalam satu penerimaan tanpa rasa sakit. Selain hanya cemburu yang
kadang singgah setiap kali melihat Tiffany tengah peduli pada Antoni.
“Okey,”
jawab Duffy datar dan singkat.
Tiffany memandang Duffy dengan rasa
heran. Ia sama sekali tak bisa menerka jawaban seperti apa yang sedang
dilontarkan oleh lelaki yang dikaguminya itu.
“Maksud kamu? Okey?” selidik Tiffany.
“Hehehe Tif, kamu lucu banget sih
kalau sedang bingung begitu,” goda Duffy.
“Duf, aku sedang nggak ingin bercanda
nih. Maksud kamu apa sih?” tanya Tiffany.
Duffy beringsut mendekat ke arah
Tiffany lalu dengan lembut dipegangnya tangan gadis itu. Cinta, kembali
memainkan peran dengan sangat baik. Dalam keadaan yang terbilang tak mungkin
sekalipun, cinta masih bisa berbicara atas nama cinta.
“Kita jalani ya apa yang saat ini
kita rasakan. Aku tahu ada satu hati lain yang memiliki hatimu. Namun aku juga
tak bisa membohongi diriku. Aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu
rasakan,” tegas Duffy.
“Hah? Duf, aku nggak sedang bermimpi
bukan? Kamu mau pacaran dengan aku?” tanya Tiffany.
Duffy mengangguk. Dilihatnya binar
indah menari-nari di sepasang mata Tiffany.
***
Langit menjanjikan malam dalam kemegahan
semesta. Senyum sang bintang tak henti menghadiahi temaram sebentuk cahaya.
Gulita bergerak menjelma pelita. Degup rindu berayun lirih dan berbisik mesra.
Bayangan Tiffany dengan lesung pipit
dan sikap manjanya membuat Duffy terhenyak. Ia sungguh tak pernah mengira akan
terjebak dalam permainan cinta rumit yang justru sangat ia nikmati. Terbersit
sekalipun tak pernah ada dalam benaknya.
“Dia sangat menggilaimu. Aku saja
heran, Duf. Padahal dia udah punya Antoni tapi gimana bisa? Masih menginginkanmu.
Hmm, Duffytic,” kata Tamara.
Teringat kalimat yang pernah
dikatakan oleh Tamara. Rasa heran mungkin bukan saja menjadi milik Tamara tapi
juga dirinya. Namun ia masih tak menemukan jawaban itu. Duffytic, adalah istilah yang diberikan oleh Tamara untuk
perempuan-perempuan yang tergila-gila kepada Duffy.
Duffy mematut dirinya di cermin. Mencoba meneliti satu persatu apa yang
membuat perempuan-perempuan seperti Tiffany menjadi demikian suka padanya.
Kesederhanaan yang jauh dari kata glamour
adalah kesehariannya. Tapi di zaman seperti ini mana ada yang mau menerima itu.
Ia juga bukan ukuran otak yang jenius walau bisa memecahkan persoalan-persoalan
rumit. Perlengkapan pribadinya belum bisa dibanggakan selain hanya motor butut
yang mengantarkannya ke tempat kerja setiap hari.
“Lalu aku harus bagaimana, Tam?
Menghindar dari Tiffany dan perempuan-perempuan itu?” balas Duffy.
“Nggak juga sih, Duf. Aku juga
bingung. Kamu syukuri aja mungkin,” jawab Tamara.
Duffy tersenyum mendengar perkataan
Tamara di akhir perbincangan mereka. Bersyukur, ya mungkin itulah yang cukup
bijak ia lakukan saat ini. Menjalani anugerah pertemuannya dengan Tiffany dalam
bahagia saja.
***
“Duf, ayo sarapan dulu! Ibu udah
menyiapkan nasi goreng kesukaan kalian,” kata ibu Tiffany.
Bu Maria, ibunda sang kekasih dengan
penuh kasih sayang memperlakukan dia layaknya anak sendiri. Duffy merasa
menemukan keluarga yang selama ini begitu hambar dia rasakan. Terpisah jauh
dari keluarga demi mengejar cita masa depan adalah sebuah perjuangan yang tak
mudah. Kadang rasa rindu memenjarakannya dengan sangat egois, tak memberi
sedikit kesempatan untuk berdamai.
“Lho kok malah bengong. Ayo nggak
usah sungkan-sungkan! Anggap saja di rumah sendiri! Anggap kami ini seperti
kedua orang tuamu saja!” pinta Bu Maria.
“Hehehe apalagi ayah nggak punya
anak laki-laki,” sambung ayah Tiffany.
“Terima kasih,” jawab Duffy.
Kalimat manis itu tiba-tiba meluncur
dari bibir Duffy yang mulai kelu. Lisannya seolah mengatup dalam bisu. Ia tak
menyangka akan mendapatkan perlakuan sangat istimewa. Diduakan dengan Antoni,
kini bukan lagi alasan yang ia persoalkan. Apalagi kedekatan keluarga besar
Tiffany dengan dirinya menjadi poin penting yang tak bisa dilawan.
***
Waktu dan jarak adalah keramat yang
menjadi alasan untuk sebuah keputusan maha penting dalam hidup juga
kelangsungan sebuah hubungan. Seringkali detak yang serupa memilih menyerah
pada detik hanya karena terperdaya oleh kilometer yang terukur. Bahagia akan
teruji, ketika masa memberi ruang pada dua hati untuk menganalisa sekali lagi
makna sebuah rasa.
“Apa? Tidaaaaaakkkkk!!!”
Tiffany menjerit histeris. Air
matanya bersimbah seiring ratapan pilu yang menyayat kalbu. Tiga ratus enam
puluh lima hari
bukan bilangan yang sebentar. Kehadiran Duffy telah menyihir hari-harinya
menjadi energi tersendiri.
Ada dentum gelora semangat yang membuatnya
bangkit dari setiap kegagalan yang ada. Semua karena lelaki berparas menawan
itu. Lalu kini selembar keputusan dari tempatnya bekerja membuat Duffy memilih
jalan untuk mengakhiri semuanya.
“Nggak Duf, aku nggak mau kita
putus! Nggak mau, aku nggak mau!”
“Tif, aku nggak mungkin menjalani
hubungan ini lagi. Kota
dingin ini sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan bagiku. Jarak kita memang
masih dalam bentangan yang terjangkau namun aku bukan pribadi yang bisa
bertahan pada Long Distance Relationship.
Jarak hanya pemanis sesaat karena setelah itu dua hati nggak akan pernah bisa
beradu dalam cawan yang sama. Seperti halnya kamu dan Antoni,” jelas Duffy.
“Kami bisa dan kamu tahu sendiri
bukan kalau sampai saat ini Antoni masih bisa bertahan dalam kesetiaannya
padaku,” terang Tiffany.
“Tapi kamu tidak!” bentak Duffy.
Tiffany terhenyak mendengar
ultimatum dari Duffy. Gadis itu menunduk dan terus terisak. Air mata masih
menghangati ranum pipinya. Duffy memilih bungkam dalam diamnya sebab ia
mengerti saat ini hati mereka sama-sama tersakiti. Lubang yang mereka ciptakan
sendiri sejak mula, sesungguhnya. Pasrah pada takdir, merengkuh nafas cinta
yang masih terserak di pelataran taman hati.
***
Duffy berhenti di sebuah taman kota Malang.
Sebentar lagi ia akan meninggalkan kota
yang selama dua tahun ini telah memberinya warna warni hidup. Keputusan telah
dibuat, tak ada yang harus ia pertanyakan dalam kesepakatan hidupnya.
Secarik kertas dibukanya.
Dipandanginya berlama-lama tulisan yang tertera.
Menugaskan
Saudara Duffy Satriawan sebagai supervisor di area wilayah Surabaya. Terhitung mulai tanggal 01 Juli
2011.
Kalimat itu sangat tegas tanpa
penolakan. Ada
dilema yang menyerangnya. Bertahan dengan jabatan yang sekarang namun tetap
bahagia dengan Tiffany atau mengejar impian yang telah lama tergadaikan.
Ketika segalanya telah nyata di
hadapan, masihkah menolak segenap anugerah yang belum tentu akan menghampirinya
kembali di masa yang akan datang? Tak ada jalan lain! Melepaskan juga butuh
keikhlasan seperti halnya sebuah penerimaan.
Degup luruh diantara daun-daun yang
berguguran. Permintaan maafnya pada seluruh keluarga besar Tiffany masih
menyisakan kepedihan. Tapi tekad Duffy telah bulat, ia harus segera mengejar
impiannya di kota
pahlawan.
Langkahnya bergegas meninggalkan
taman kota.
Dalam geliat aroma kota
dingin untuk terakhir kalinya.
“Duf,” panggil Tiffany.
Sebuah panggilan menghentikan
langkahnya. Duffy menoleh dalam ragu. Seorang gadis tampak berjalan mendekat.
“Tif, maaf. Aku benar-benar minta
maaf,” jawab Duffy.
“Terima kasih untuk hari-hari yang
indah. Bagiku semua sangat berarti. Bukan tentang singkatnya waktu, bukan pula
jalan kita yang mungkin keliru atau perasaan yang terlalu memilih tapi aku
bahagia bisa mengenalmu, Duf. Selamat jalan. Semoga kamu bahagia dan menggapai
semua mimpi itu,” kata Tiffany.
Tiffany segera beranjak meninggalkan
Duffy, sebelum lelaki itu memberi jawaban. Tiba-tiba Duffy terhenyak ketika
dirasakannya sebuah kertas telah ada di genggaman.
Duf,
terima kasih telah membantuku untuk memilih dan menemukan pelarian cinta.
Mungkin, Antonilah dermagaku. Tempat untuk tinggal dan menetap. Datanglah ke
hari bahagia kami, aku tunggu.
“Tiffany, aku …”
Duffy merasakan sesak yang dalam.
Hatinya telah berlubang, sakit. Sungguh, sangat sakit.
***

