Kamis, 08 Agustus 2013

JEJAK SEKERAT RINDU






              “Nggak mungkin!!! Ini nggak mungkin!!! Aku nggak percaya, tidaaakkk!!!”
            Rea histeris. Tubuhnya terguncang hebat. Air mata tumpah ruah tak terkendali. Jeritnya tak sanggup bisu diantara riuh orang-orang dengan pakaian serba hitam.
            “Re, tenang! Kamu nggak boleh seperti ini!” bujuk Ayunda.
            “Kenapa harus dia? Kenapa?” tanya Rea tertatih.
            Langit gelap. Dunia berputar hebat. Pekat menjerat kuat, tersudut raganya dalam sekat tanpa kalimat. Pingsan! Tubuh Rea terjatuh.
            “Rea, bangun Re! Rea!!!” teriak Ayunda.
            Ayunda bingung. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.
            “Aku dimana?” bisik Rea lirih.
            “Rea? Kamu? Ah, syukurlah,” ucap Ayunda.
            Beberapa orang berhamburan memeluk Rea. Dalam gelimang perih, mereka coba menenangkannya. Pandangan pilu terpancar dari wajah-wajah itu. Sesak menjejali sebagian rongga mereka. Tak ada yang sanggup menolak takdir.
            “Kasihan dia, gimana dia harus menjalani semua ini?” ujar salah seorang diantara mereka.
         “Insyaallah dia akan kuat. Bukankah Allah nggak pernah memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya?” jawab Ayunda dengan tegas.
            Ayunda kesal dengan orang-orang yang hanya bisa mencibir keterpurukan Rea, tanpa memberinya suntikan semangat. Hidup harus terus berjalan walau pun dalam tataran manusia terasa berat.
            “Yun, aku dimana? Apa yang terjadi?” tanya Rea lagi.
           Ayunda tersenyum. Disekanya air mata yang masih tercecer di pipi Rea. Hatinya sedih melihat keadaan Rea, namun ia paham jika Allah akan selalu membersamainya.
            “Sabar ya, Re! Aku tahu kamu kuat dan tabah. Aku yakin kamu bisa mengikhlaskan semua ini,” kata Ayunda.
           “Kakak? Ah, ya kakak, dimana dia? Aku harus ketemu dengan dia,” ujar Rea sembari berdiri dari pembaringannya.
            “Rea, tunggu!” pekik Ayunda.
            Rea tak peduli dengan teriakan Ayunda. Ia terus berjalan menerobos para pelayat
            “Kakak!!!” teriak Rea.
            Tangisnya kembali pecah.
            “Ikhlaskan dia, Re! Kamu harus kuat. Semua adalah takdirNya. Bukankah kamu pernah bilang kalau Allah Maha Tahu segala yang terbaik untuk hidup kita. Rea, Dia pasti sangat tahu kalau kamu sanggup melewati semua ini,” jelas Ayunda.
            ***
           
            Rea tertunduk. Bayangan Larasati, kakak satu-satunya menghampiri. Semalam, mereka masih tarawih dan tadarus bersama. Semalam, Larasati masih membangunkannya untuk menghadap sang Maha Cinta di sepertiga malam terakhir. Dini tadi, mereka masih sahur bersama dan dua puluh menit yang lalu, ia masih menyaksikan senyum khas kakaknya itu mengiringi kepergiannya ke tempat kerja.
           “Hati-hati di jalan, Dik! Ntar kalau jadi buka bersama di kantor, jangan makan yang pedas-pedas! Kalau sampai sakit, nggak ada yang nganterin kamu ke dokter,” nasihatnya.
            “Kan ada kakak yang selalu siap antar jaga, seperti biasanya,” bantah Rea dengan ringan.
            “Oh ya, surat-surat penting kamu udah aku keluarkan semua. Ntar kamu simpan aja sendiri. Jadi kalau butuh, nggak bingung. Lagian nggak bisa tanya lagi sama aku,” jelas Larasati sambil menepuk pundak Rea.
            “Kakak, emangnya mau pergi kemana? Udahlah! Kakak aja yang simpan. Gampanglah! Ntar kalau ada apa-apa, aku bisa tanya kakak,” ujar Rea.
            Tanpa firasat apa pun, Rea dengan tenang memacu motornya menuju ke tempat kerja. Ia masih merasakan tatapan mata Rea yang melihatnya dengan rasa bangga. Sejak dulu, Larasati selalu mengusahakan yang terbaik untuk Rea. Baginya, Rea adalah jelmaan cita-citanya yang tak terlaksana. Semua yang ia impikan, bisa diwujudkan oleh Rea. Ia dan Rea seperti sepasang anak kembar yang selalu melewatkan waktu bersama.
            Kakak nomor satu di dunia! Yup, seperti itu Rea membanggakan Larasati. Perhatian dan cinta yang diberikan oleh Larasati tak pernah berpamrih. Ia sanggup bersabar atas kemanjaan Rea yang kadang kelewat batas. Ia bisa tenang menghadapi sikap Rea yang seringkali kekanak-kanakan dengan sifat suka ngambeknya. Ia bisa bertahan untuk terus menjadi kakak terbaik bagi Rea.
            ***
            
         Aaahhh!!!! Rea tak bisa menahan air matanya. bagaimana bisa Larasati pergi hanya dalam hitungan menit? Bagaimana bisa ia takkan lagi melihat wajah kakaknya itu untuk terakhir kali? Bagaimana bisa waktu berhenti tanpa ia sadari?
            “Ada pendarahan di otaknya. Analisa sementara tim dokter ini disebabkan pembuluh darah besar yang di otak pecah. Dari hasil CT-Scan, terlihat kalau dalam hitungan detik seluruh otak sudah penuh dengan darah. Satu-satunya cara hanya dengan jalan operasi tapi sayang, kemungkinan untuk selamat sangat kecil. Bahkan kami nggak bisa memperkirakan prosentasenya,” tutur tim dokter.
            Badan Rea lemas. Tubuhnya linglung. Ia bahkan tak pernah mengira kenyataan pahit itu. Bukankah tadi Larasati masih sehat dan segar bugar? Lalu kini? Ia terbujur bisu dalam koma. Langit ramadhan meluruhkannya. Degup yang tertatih menuju langit, dalam pengharapan penuh seorang adik yang tak ingin saat setahun kepergian sang ayah akan merenggut sang kakak pula.
            “Maaf, kami nggak bisa berbuat banyak. Detak jantungnya sudah berhenti. Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap tim medis.
            Rea tertunduk di ayat terakhir yang dibacanya. Al quran kecil warisan sang ayah terjatuh dari tangannya, mengiringi kepergian Larasati menuju Sang Maha Cinta. Ia sempat termangu, sesak itu demikian penuh dalam dadanya.
            “Sabar, Nak!” bujuk bunda.
            “Bun, kakak? Aaahhh!!! Kenapa harus kakak? Kenapa seperti ini lagi?” histeria Rea.
          Bunda dan Ayunda segera menenangkan Rea. Mereka memeluk Rea dengan erat, coba menguatkannya.
            “Hey, kamu nggak boleh seperti ini! Ingat kan apa kata ayah? Semua yang bernyawa pasti akan mengalami ini. Dunia hanya pemberhentian sementara. Hidup yang sebenarnya itu disana. Kita semua juga sedang menunggu waktu. Ayolah, kamu tabah ya!” ujar bunda.
            Perempuan paruh baya itu terlihat tegar, meski perih tak ayal menyelinap jauh lebih hebat  di batinnya. Namun ia tak mau Rea rapuh. Bukan hal mudah ketika harus melepaskan satu persatu orang terkasih dari pelukan. Namun ketika kesadaran betapa manusia tak pernah memiliki apa-apa, maka bagaimana bisa harus merasa kehilangan? Bukankah sang pemilik itu hanya Allah? Ramadhan ini, kembali menuai air mata.
            ***

            Rea tersudut di kaki langit senja. Jingga menawarkan kasih terindah di sekeping rindu yang membawanya pada kenangan ayah juga kakak tercintanya. Dua kali ramadhan, dua kali ia harus melepaskan.
            “Apa yang kamu pikirkan, Re?” tanya Ayunda.
            “Eh, Ayunda. Bikin kaget aja,” protes Rea.
            Rea menghela napas. Ia tersenyum menatap langit.
            “Yun, kepergian ayah dan kakak yang tiba-tiba membuat aku sadar. Sungguh, kematian itu begitu dekat dengan siapa saja. Kita nggak pernah tahu kapan ramadhan terakhir untuk kita,” kata Rea.
            “Allah Maha Tahu. Keterpurukan, kesedihan yang kita alami sebenarnya adalah salah satu cara Allah untuk membuat kita tangguh, kuat juga bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik dengan semakin mendekatkan diri padaNya. Mempersiapkan bekal, sehingga ketika waktu itu tiba, kita bisa tersenyum menujuNya,” jawab Ayunda.
            Rea mengangguk. Ia tersenyum sembari menyodorkan selembar puisi kepada Ayunda, yang sempat ia tuliskan di sepertiga malam kemarin.

            Duhai Penjaga Hati,
            Degup rindu luluhkan rasa
            Di kehangatan masa yang menepi
            Mendamba yang tak biasa

            Maha Cinta,
            Sekerat rindu menabur jejak asa
            Pada titah yang terikhlas menyapa
            Demi penantian terindah sebelum masa tiba
            (Rea)
           
            Air mata Ayunda menetes. Ada ruh aksara yang menembus pertahanan jiwanya. Ia memeluk Rea.
            “Semoga kita menjadi bagian dari barisan orang-orang yang dirindukan surga. Aamiin,” ucap Ayunda.
            ***

Tidak ada komentar: