Jumat, 23 Maret 2012
Ketaksempurnaan Itu Sempurna
En, kemandiriannya yang menjadikan dia sempurna.
Sepenggal kalimat itu aku hadiahkan untuk diriku. Pertemuan tak terduga yang mengantarkan pada pelajaran hidup yang sangat berarti.
Selepas bertemu sahabat di Surabaya tanggal 18 Maret 2011, jam lima sore aku memutuskan untuk pulang dengan menggunakan bis kota menuju pelabuhan. Menunggu sudah terlalu lama dan khawatir dengan kemacetan yang ada, akhirnya kuputuskan mengalihkan transportasi dengan taksi. Baru saja hendak mencegat taksi yang lewat, tiba-tiba sebuah bis kota menampakkan dirinya. Karena jalan yang menikung dan tak ada halte untuk berhenti maka aku harus berlari mengejar bis itu di tengah kepadatan lalu lintas. Alhamdulillah, aman sampai di dalam bis namun aku harus mengikhlaskan hati untuk tak dapat tempat duduk. Bis benar-benar penuh, nyaris tak ada sela. Sempat juga menggerutu dalam hati, andai saja aku mengambil pilihan sebelumnya mungkin akan lebih nyaman.
Selang lima belas menit, sang kondektur memberiku kode untuk bergerak ke belakang. Tepat di pojok paling belakang ada sebuah kursi kosong. Terima kasih Rabb, syukurku. Ah, rasanya lega mengingat perjalanan menuju pelabuhan Perak sebagai pemberhentian terakhir masih jauh. Apalagi aku tak perlu berdesakan dengan para penumpang, tempat ini cukup terlindungi. Beberapa lagu yang dimainkan oleh para penyanyi jalanan sempat menyihirku dengan lirik-liriknya yang nyaris semuanya berbau protes juga sindiran. Aku sempat tersenyum menilai kreativitas mereka. Asset yang bagus hanya saja belum tersentuh oleh industri saja.
Di depan RSI, diantara kerumunan penumpang yang berebut naik tampak seorang anak kecil dan seorang lelaki setengah baya memakai kaca mata hitam. Fikirku, dia sehat-sehat saja dan kacamata itu sekedar aksesoris belaka. Astaghfirullah, aku sangat malu pada diriku ketika tahu lelaki itu tak mampu melihat. Membawa tas ransel besar juga dua dus barang, tak mau saat dibantu naik ke bis. Dia menolak dan mengatakan “Saya bisa, saya bisa”. Aku terpana, entah apa yang menyelinap di hatiku kala itu. Gadis kecil itu duduk di sebelahku yang masih kosong, membawa kantong plastik yang berisi sepuluh buah sarikaya di tangannya.
“Namanya siapa ?” seraya kuulurkan tangan
“Nova, Kak”
“Mau kemana, Nov ?”
“Ke Makasar, jenguk nenek yang sedang sakit”
“Cuma berdua saja ?”
“Ya, sama ayah. Kakak mau kemana ?”
“Ke Bangkalan. Sudah pernah ke Madura belum ?”
“Belum tapi kalau ayah sudah pernah”
Senyumnya, sungguh membuatku rindu malam ini. Gadis berusia sepuluh tahun dengan keberanian luar biasa menemani sang ayah yang tak bisa melihat, menyeberangi laut seluas itu. Bukan tentang keberanian semata, tapi keikhlasan dan cintanya pada sang ayah yang menggugahku. Ada rasa tak biasa saat kuusap kepalanya. Mungkin aku terlalu cengeng, tapi tetesan hangat itu tak bisa aku tahan. Aku memang terlahir sebagai anak terakhir, menemukan malaikat-malaikat kecil seperti mereka selalu membuat duniaku berwarna.
Beberapa waktu yang lalu aku masih protes pada keadaan karena merasa salah memilih bis kota ini namun ternyata Tuhan sedang menyiapkan hadiah terindah I dalamnya. Bertemu Nova juga sang ayah yang sangat tangguh.
Ketika sampai di pelabuhan, kulihat ia juga tak mau dibantu untuk membawa barang-barangnya. Sekalipun beberapa orang berusaha menawarkan jasanya. Aku masih tak beranjak, menatap kepergian mereka menuju kapal yang berbeda denganku. Gadis kecil itu menoleh ke arahku yang masih mematung, melambaikan tangannya dengan senyuman manis yang masih kuingat hingga malam ini.
“Kakak” serunya
“Sampai jumpa, Nova” bisikku lirih
Aku sangat tak suka dengan kalimat “Selamat tinggal” sebab aku yakin Tuhan akan mempertemukanku kembali, entah kapan dan dimana.
Hari ini aku belajar, bahwa ketaksempurnaan tak mengharuskan kita bergantung kepada orang lain. Selalu ada alasan untuk setiap keadaan dan Tuhan telah menyiapkan semuanya dengan cara yang sangat indah. Melapangkan hati dan menjalani semua dengan keikhlasan.
Nova, dia mengajariku tentang cinta yang sejati. Kedekatannya dengan sang ayah mengingatkanku pada Ayah yang telah tiada. Rinduku hanya bisa kulabuhkan dalam doa-doa untuknya.
“Tuhan yang Maha Mendengar, titip rindu untuk Ayah. Terangilah dan berikan selalu cahayaMu untuknya. Aamiin”
***
Mengeja Senja @ RSI => Pelabuhan Perak
Sabtu, 10 Maret 2012
En, Karena kamu harus belajar tentang ini
Akhirnya hari ini aku dapat berucap ALHAMDULILLAH
Sebuah terima kasih untuk sahabatku yang sesaat lagi akan mengikrarkan dua hati dalam sebuah penyatuan suci atas namaNya. Sungguh setelah tiga bulan bersama kalian, menjadi yang terpilih untuk mempersiapkan pernikahan kalian adalah anugerah yang aku syukuri kini. Ah, rasanya aku malu pada kalian ketika mengingat betapa di awal aku sempat menolak dengan alasan tak mampu.
“En, jangan pernah mengatakan tak sanggup jika kamu masih ingin berjuang”
Sungguh kalimat itu menjadi sebuah lecutan, penyemangat yang mengantarkanku untuk tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku hanya tak ingin mengecewakan kalian dan kedua keluarga besar. Andai saja aku tetap bersikeras menolak tawaran kalian, mungkin hingga hari ini aku tak pernah tahu jika aku bisa melakukannya.
Sahabat, terima kasih atas semuanya. Kesempatan yang sangat langka untuk seorang event organizer pemula sepertiku. Sebuah alasan yang sempat kalian utarakan di beberapa waktu lalu pernah juga menyudutkanku pada tanya.
“Kenapa harus aku ? Ini bukan event biasa dan aku tak pernah punya pengalaman. Ini acara yang sangat sakral dan harus sukses”
“Kamu tahu kenapa ? Karena kami ingin kamu belajar tentang sesuatu”
“Sesuatu ? Apa ?”
“Hati, rasa juga cinta yang sebenarnya”
Klise, aku bahkan tertawa renyah mendengar kalian mengucapkan itu. Aku masih berfikir pemahamanku tentang itu kurasa lebih baik dari kalian berdua. Egoku mungkin yang berbicara. Sebab urusan hati, hanya Tuhanku saja yang memahaminya.
Sahabat,
Tiga bulan membersamai kalian dalam segala pesiapan. Kutahu ternyata penyatuan itu sungguh tak mudah. Tak sadarkah kalian, aku bahkan berkali-kali menjadi korban kemarahan kalian. Ketika ketaksepahaman hadir, saat resah justru menyeret hati kalian pada rasa cemburu, ketika tiba-tiba cinta merekatkan lagi hati itu, saat ego kemudian membelah keinginan yang berbeda tentang konsep juga warna terpilih. Sungguh aku sempat bingung dengan perubahan-perubahan itu. ingatkah kalian ketika aku bertanya :
“Kenapa kalian akan menikah jika tak pernah sepaham begini ?” aku telah lelah kala itu memberi kalian pengertian tentang konsep kesederhanaan yang coba kutawarkan.
Ah, semuanya menjadi kenangan yang indah tapi sangat berarti untukku. Hari ini aku menemukan jawabnya. Terima kasih sudah mengajarkanku tentang
rasa, arti “Memahami”, tentang “Penerimaan”, Indahnya “Kecemburuan”, Manisnya sebuah “Rindu”, Jarak yang merunut “Kesetiaan”, Air mata yang hadir dalam “Amarah”, kesabaran dan indahnya “Cinta” yang kalian hadirkan semata karenaNya saja.
Sahabat, masih jelas dalam ingatan saat kubersamaimu. Ketika kudengar lafaz doamu di malam-malam panjang itu secara tak sengaja.
“Rabb, jagakanlah hatinya agar selalu menghadirkanMu. Bimbing selalu langkahnya agar tak pernah lepas dari cahayaMu”
Tak ada sedikitpun kau sebutkan agar hatinya tetap setia kepadamu, agar cintanya hanya untukmu. Tak ada keegoisan dalam doamu. Semua yang kau lafazkan adalah untuk kebersamaan dia dan Rabbnya. Aku jatuh cinta pada kalimat doamu malam itu, sahabat. Inikah yang kau katakan cinta kalian karenaNya semata. Sungguh, aku beruntung berada dalam pendar-pendar bahagia kalian.
Dan akhirnya beberapa saat lagi, bahagia itu akan menjadi nyata. Doaku untuk kalian semoga bahagia, menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, selalu dalam lindungan dan cintaNya.
“En, kedekatan spiritual itu tak butuh kata atau kalimat tanya sebab semua bisa dirasa disini (Hati)”
Masih sempat kalian memberiku pelajaran itu, disaat kita menanti hujan reda sore tadi. Walaupun aku hanya tersenyum saat mendengarnya, tapi aku merenungkannya.
Sahabat, terima kasih
Sungguh, terima kasih atas semua pelajaran ini
Sebuah terima kasih untuk sahabatku yang sesaat lagi akan mengikrarkan dua hati dalam sebuah penyatuan suci atas namaNya. Sungguh setelah tiga bulan bersama kalian, menjadi yang terpilih untuk mempersiapkan pernikahan kalian adalah anugerah yang aku syukuri kini. Ah, rasanya aku malu pada kalian ketika mengingat betapa di awal aku sempat menolak dengan alasan tak mampu.
“En, jangan pernah mengatakan tak sanggup jika kamu masih ingin berjuang”
Sungguh kalimat itu menjadi sebuah lecutan, penyemangat yang mengantarkanku untuk tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku hanya tak ingin mengecewakan kalian dan kedua keluarga besar. Andai saja aku tetap bersikeras menolak tawaran kalian, mungkin hingga hari ini aku tak pernah tahu jika aku bisa melakukannya.
Sahabat, terima kasih atas semuanya. Kesempatan yang sangat langka untuk seorang event organizer pemula sepertiku. Sebuah alasan yang sempat kalian utarakan di beberapa waktu lalu pernah juga menyudutkanku pada tanya.
“Kenapa harus aku ? Ini bukan event biasa dan aku tak pernah punya pengalaman. Ini acara yang sangat sakral dan harus sukses”
“Kamu tahu kenapa ? Karena kami ingin kamu belajar tentang sesuatu”
“Sesuatu ? Apa ?”
“Hati, rasa juga cinta yang sebenarnya”
Klise, aku bahkan tertawa renyah mendengar kalian mengucapkan itu. Aku masih berfikir pemahamanku tentang itu kurasa lebih baik dari kalian berdua. Egoku mungkin yang berbicara. Sebab urusan hati, hanya Tuhanku saja yang memahaminya.
Sahabat,
Tiga bulan membersamai kalian dalam segala pesiapan. Kutahu ternyata penyatuan itu sungguh tak mudah. Tak sadarkah kalian, aku bahkan berkali-kali menjadi korban kemarahan kalian. Ketika ketaksepahaman hadir, saat resah justru menyeret hati kalian pada rasa cemburu, ketika tiba-tiba cinta merekatkan lagi hati itu, saat ego kemudian membelah keinginan yang berbeda tentang konsep juga warna terpilih. Sungguh aku sempat bingung dengan perubahan-perubahan itu. ingatkah kalian ketika aku bertanya :
“Kenapa kalian akan menikah jika tak pernah sepaham begini ?” aku telah lelah kala itu memberi kalian pengertian tentang konsep kesederhanaan yang coba kutawarkan.
Ah, semuanya menjadi kenangan yang indah tapi sangat berarti untukku. Hari ini aku menemukan jawabnya. Terima kasih sudah mengajarkanku tentang
rasa, arti “Memahami”, tentang “Penerimaan”, Indahnya “Kecemburuan”, Manisnya sebuah “Rindu”, Jarak yang merunut “Kesetiaan”, Air mata yang hadir dalam “Amarah”, kesabaran dan indahnya “Cinta” yang kalian hadirkan semata karenaNya saja.
Sahabat, masih jelas dalam ingatan saat kubersamaimu. Ketika kudengar lafaz doamu di malam-malam panjang itu secara tak sengaja.
“Rabb, jagakanlah hatinya agar selalu menghadirkanMu. Bimbing selalu langkahnya agar tak pernah lepas dari cahayaMu”
Tak ada sedikitpun kau sebutkan agar hatinya tetap setia kepadamu, agar cintanya hanya untukmu. Tak ada keegoisan dalam doamu. Semua yang kau lafazkan adalah untuk kebersamaan dia dan Rabbnya. Aku jatuh cinta pada kalimat doamu malam itu, sahabat. Inikah yang kau katakan cinta kalian karenaNya semata. Sungguh, aku beruntung berada dalam pendar-pendar bahagia kalian.
Dan akhirnya beberapa saat lagi, bahagia itu akan menjadi nyata. Doaku untuk kalian semoga bahagia, menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, selalu dalam lindungan dan cintaNya.
“En, kedekatan spiritual itu tak butuh kata atau kalimat tanya sebab semua bisa dirasa disini (Hati)”
Masih sempat kalian memberiku pelajaran itu, disaat kita menanti hujan reda sore tadi. Walaupun aku hanya tersenyum saat mendengarnya, tapi aku merenungkannya.
Sahabat, terima kasih
Sungguh, terima kasih atas semua pelajaran ini
Senin, 05 Maret 2012
KEPADA HATI (Lomba Puisi Wedding)
Derap waktu kian mendekat
Senja mulai menjingga di kaki langit
Detak kian terasa dalam detik yang diam
Gemerlap cahaya pecahkan temaram
Dalam perjanjian hati
Sakral suci tergenapi
Keping hati tak lagi sendiri
Satu-satu termaknai
Dua jiwa bersua
Dua hati terpadu
Tak ada lagi nestapa
Enyah sudah sendu
Ini aksaraku :
Kepada hatimu
Kutitipkan rasa sederhana
Bertahta dalam singgasana asmara
Atas nama cintaNya saja
Kepada hatimu
Nafas kasih mengadu
Biar saja kupeluk rindu
Sebab kutahu muara lafaz rasamu
karenaNya saja
Kepada hatiku
Kau sematkan bahasa nurani
Memintal rasa nan suci
Dalam rindu karenaNya saja
Kepada hatiku
Kau raih kata pengikat hati
Menyulam untaian janji
Setia rasa atas namaNya saja
Alun melodi rasa
Dalam senandung kasih mesra
Seirama nada
Sang Maha Cinta
Senja mulai menjingga di kaki langit
Detak kian terasa dalam detik yang diam
Gemerlap cahaya pecahkan temaram
Dalam perjanjian hati
Sakral suci tergenapi
Keping hati tak lagi sendiri
Satu-satu termaknai
Dua jiwa bersua
Dua hati terpadu
Tak ada lagi nestapa
Enyah sudah sendu
Ini aksaraku :
Kepada hatimu
Kutitipkan rasa sederhana
Bertahta dalam singgasana asmara
Atas nama cintaNya saja
Kepada hatimu
Nafas kasih mengadu
Biar saja kupeluk rindu
Sebab kutahu muara lafaz rasamu
karenaNya saja
Kepada hatiku
Kau sematkan bahasa nurani
Memintal rasa nan suci
Dalam rindu karenaNya saja
Kepada hatiku
Kau raih kata pengikat hati
Menyulam untaian janji
Setia rasa atas namaNya saja
Alun melodi rasa
Dalam senandung kasih mesra
Seirama nada
Sang Maha Cinta
Selamat Jalan, Guru
Minggu, 4 Maret 2012 menjadi catatan kesedihan untuk kesekian kalinya. Sebuah kabar yang tak pernah kuduga menghampiri. Kepergian orang yang berjasa mengantarkan banyak insan menuju gerbang kesuksesan dan meraih mimpi.
Nur Salama, guru Sekolah Dasar yang mengenalkanku pada aksara dan kalimat, yang tak kenal kata menyerah membuatku berani bermimpi, yang menyemangatiku untuk sebuah kompetisi hingga langkahku mampu menjejak Jakarta untuk pertamakalinya dalam balutan seragam putih merah dalam usia sembilan tahun. Kedekatannya dengan sebagian besar murid adalah wujud nyata betapa ketulusan dalam memberi kami ilmu tak perlu diragukan lagi.
Hari ini, rumah itu masih juga mendung. Sebuah kejutan luar biasa ketika aku menjejakkan lagi kaki disana, begitu banyak teman sejawat yang juga datang dari berbagai tempat. Maklum saja, perjuangan hidup akhirnya membuat kami terberai di berbagai pelosok. Hanya saja seperti biasanya selalu ada waktu untuk berkumpul di rumah ini. Kami sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri.
Sedikit bernostalgia, kamipun larut pada masa kanak-kanak dulu. Ketika kenakalan-kenakalan kerapkali menjadi sebuah permainan seru. Tertawa lepas setiap kali mendapatkan hukuman bersama. Saling mengadu demi menyelamatkan nasib masing-masing. Tapi Bu Nur tak pernah menghukum kami dengan berat. Apa yang dilakukannya selalu saja pada akhirnya membuat kami jera, belajar dari kesalahan dan tak pernah mau mengulanginya lagi. Aku masih ingat betapa bahasa daerah menjadi pelajaran yang sangat sedikit peminatnya. Maklum saja untuk berbahasa daerah dengan sangat santun sungguh sulit, ada tingkatan-tingkatan bahasa yang harus kami kuasai. Beliau tak kenal menyerah membuat kami menyenangi pelajaran itu.
Pernah kami bertanya apa yang membuat beliau dapat mengingati kami satu persatu setelah sekian lama berlalu. Bayangkan saja meskipun sudah beranjak ke jenjang SLTP, SMU bahkan perguruan tinggi, rumah ini selalu menjadi ajang reuni yang asyik. Malah beberapa kawan yang sudah mempunyai anakpun tak jarang pula membawanya kemari.
“Yang paling diingat oleh guru dari muridnya adalah murid yang pandai, murid yang nakal dan murid yang paling tertinggal di kelas. Dan kalian semua komplit”
Tawa lepas yang dulu pernah nyata. Hari ini ketika suami dari Bu Nur mengulangi pernyataan yang sama, serasa ada telaga bening yang tak kuasa untuk mengalir. Kerinduan, menjalari nadi kami. Mengingat kesibukan akhir-akhir ini telah membuat kami lama tak berkunjung. Lalu kini kami kembali dipertemukan, dalam suasana berbeda. Beliau telah pergi untuk selamanya.
Rabb, sungguh kematian itu sangat dekat kepada setiap insan. Bu Nur menjemput panggilanNya dalam kelapangan tanpa sakit. Seharian masih bercanda dengan anak dan cucunya, nyeri baru terasa ketika menjelang jam sebelas malam. Sebelum sempat sampai di rumah sakit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam perjalanan ke rumah sakit juga masih biasa. Masih bercerita seperti tak ada yang terasa sakit. namun di detik-detik terakhir, tiba-tiba saja tangannya terkulai lemas dan nafas itupun berhembus untuk terakhir kalinya. Subhanallah, Rabb semoga Kau terima segala amal ibadahnya.
Sungguh, kepergiannya yang tiba-tiba masih menyisakan rasa tak percaya. Bukan saja bagi keluarga yang ditinggalkan namun juga bagi kami murid-muridnya. Lebih mengejutkan lagi ketika Tuhan sekali lagi memperlihatkan kuasaNya. Tetangga Bu Nur, tepat di depan rumahnya juga meninggal dunia tepat setelah jenazah Bu Nur dimakamkan. Kabut duka menaungi dua keluarga yang berhadapan. Semua dalam waktu yang tak pernah disangka-sangka dan tanpa firasat apapun.
Sesungguhnya dunia adalah penantian saja. Setiap insan menanti saatnya masing-masing. Sebuah waktu yang tak akan pernah diketahui kapan datangnya. Mempersiapkan bekal dengan sebaik mungkin demi perjumpaan yang indah dengan sang empunya hidup.
Guru, selamat jalan
Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisiNya
Nur Salama, guru Sekolah Dasar yang mengenalkanku pada aksara dan kalimat, yang tak kenal kata menyerah membuatku berani bermimpi, yang menyemangatiku untuk sebuah kompetisi hingga langkahku mampu menjejak Jakarta untuk pertamakalinya dalam balutan seragam putih merah dalam usia sembilan tahun. Kedekatannya dengan sebagian besar murid adalah wujud nyata betapa ketulusan dalam memberi kami ilmu tak perlu diragukan lagi.
Hari ini, rumah itu masih juga mendung. Sebuah kejutan luar biasa ketika aku menjejakkan lagi kaki disana, begitu banyak teman sejawat yang juga datang dari berbagai tempat. Maklum saja, perjuangan hidup akhirnya membuat kami terberai di berbagai pelosok. Hanya saja seperti biasanya selalu ada waktu untuk berkumpul di rumah ini. Kami sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri.
Sedikit bernostalgia, kamipun larut pada masa kanak-kanak dulu. Ketika kenakalan-kenakalan kerapkali menjadi sebuah permainan seru. Tertawa lepas setiap kali mendapatkan hukuman bersama. Saling mengadu demi menyelamatkan nasib masing-masing. Tapi Bu Nur tak pernah menghukum kami dengan berat. Apa yang dilakukannya selalu saja pada akhirnya membuat kami jera, belajar dari kesalahan dan tak pernah mau mengulanginya lagi. Aku masih ingat betapa bahasa daerah menjadi pelajaran yang sangat sedikit peminatnya. Maklum saja untuk berbahasa daerah dengan sangat santun sungguh sulit, ada tingkatan-tingkatan bahasa yang harus kami kuasai. Beliau tak kenal menyerah membuat kami menyenangi pelajaran itu.
Pernah kami bertanya apa yang membuat beliau dapat mengingati kami satu persatu setelah sekian lama berlalu. Bayangkan saja meskipun sudah beranjak ke jenjang SLTP, SMU bahkan perguruan tinggi, rumah ini selalu menjadi ajang reuni yang asyik. Malah beberapa kawan yang sudah mempunyai anakpun tak jarang pula membawanya kemari.
“Yang paling diingat oleh guru dari muridnya adalah murid yang pandai, murid yang nakal dan murid yang paling tertinggal di kelas. Dan kalian semua komplit”
Tawa lepas yang dulu pernah nyata. Hari ini ketika suami dari Bu Nur mengulangi pernyataan yang sama, serasa ada telaga bening yang tak kuasa untuk mengalir. Kerinduan, menjalari nadi kami. Mengingat kesibukan akhir-akhir ini telah membuat kami lama tak berkunjung. Lalu kini kami kembali dipertemukan, dalam suasana berbeda. Beliau telah pergi untuk selamanya.
Rabb, sungguh kematian itu sangat dekat kepada setiap insan. Bu Nur menjemput panggilanNya dalam kelapangan tanpa sakit. Seharian masih bercanda dengan anak dan cucunya, nyeri baru terasa ketika menjelang jam sebelas malam. Sebelum sempat sampai di rumah sakit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam perjalanan ke rumah sakit juga masih biasa. Masih bercerita seperti tak ada yang terasa sakit. namun di detik-detik terakhir, tiba-tiba saja tangannya terkulai lemas dan nafas itupun berhembus untuk terakhir kalinya. Subhanallah, Rabb semoga Kau terima segala amal ibadahnya.
Sungguh, kepergiannya yang tiba-tiba masih menyisakan rasa tak percaya. Bukan saja bagi keluarga yang ditinggalkan namun juga bagi kami murid-muridnya. Lebih mengejutkan lagi ketika Tuhan sekali lagi memperlihatkan kuasaNya. Tetangga Bu Nur, tepat di depan rumahnya juga meninggal dunia tepat setelah jenazah Bu Nur dimakamkan. Kabut duka menaungi dua keluarga yang berhadapan. Semua dalam waktu yang tak pernah disangka-sangka dan tanpa firasat apapun.
Sesungguhnya dunia adalah penantian saja. Setiap insan menanti saatnya masing-masing. Sebuah waktu yang tak akan pernah diketahui kapan datangnya. Mempersiapkan bekal dengan sebaik mungkin demi perjumpaan yang indah dengan sang empunya hidup.
Guru, selamat jalan
Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisiNya
Minggu, 04 Maret 2012
Tuhan, Aku minta maaf
Tuhan, aku minta maaf
Dalam segala lemahku, dalam ketaksengajaan yang kerapkali kujadikan alasan, bahkan saat mendatangimu kini. Tapi sungguh ini bukan alibi yang sengaja aku bangun. Aku benar-benar tak bermaksud menyakiti siapapun. Tak pernah sekalipun melupakan sebentuk janji.
Tuhan, aku minta maaf
Ketaksempurnaanku dalam atribut insan tanpa kusadari menyudutkanku pada sepenggal sikap yang tak kupahami telah membuat beberapa hati kecewa. Parahnya, aku masih mengira semuanya baik-baik saja. Aku yang tak pernah peka akan nada kecewa juga amarah yang terpendam. Semua memang tak seharusnya lahir dalam kata. Keyakinan hati terkadang jauh lebih kuat dibanding ribuan kalimat. Hanya saja, sekali lagi aku lemah menyadarinya.
Tuhan, aku minta maaf
Jika baru hari ini aku mengerti tentang semua ini. Ketika sebuah sentilan tiba-tiba mengejutkanku.
“Neng, kalau aku berada dalam posisinya aku juga akan marah. Aku saja hanya bisa menerka kemana kamu selama satu minggu ini, sakitkah ? Kekhawatiran yang coba aku tepis sebab tak ada satu orangpun saudara yang akan membiarkan fikirannya seperti itu. Aku hanya merasakan kamu sedang butuh waktu untuk sendiri saja”
“Teteh, kalau aku hilang tanpa kabar itu karena sakit. Ditambah lagi selama satu minggu ini ada audit dari pusat. Pulang kantor juga hingga larut, kondisi tubuh benar-benar nggak fit. Janji sebuah deadline mengharuskanku memburu sepotong senja sendiri di sebuah desa selama dua hari terakhir. Aku memang belum sempat memberi kabar kepada siapapun”
Tuhan, aku minta maaf
Sungguh tak pernah ada maksud untuk mengingkari sepotong janji yang pernah tersemat.
“Janji ya, jangan pernah menghilang tanpa kabar lagi”
Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Amanah yang selalu aku jaga dalam setiap tarikan nafas. Jika kali ini belum sempat kukabarkan semuanya, karena keadaan saja.
Tuhan, aku minta maaf
Kupahami amarah itu. Terbaca kecewa meski dalam diam. Selayaknya sebuah kesalahan, maka aku benar-benar minta maaf. Pelajaran berharga untuk hatiku yang masih terlalu manja. Betapa memahami sebuah bahasa “diam”, sungguh tak mudah. Peka yang terasah, sengaja kutempatkan pada perasangka baik.
Tuhan, aku minta maaf
Dalam bahasa yang dimengerti, tulus kata dari hati untuk tak pernah mengulangi kesalahan ini kembali. Maaf, benar-benar maaf.
Dalam segala lemahku, dalam ketaksengajaan yang kerapkali kujadikan alasan, bahkan saat mendatangimu kini. Tapi sungguh ini bukan alibi yang sengaja aku bangun. Aku benar-benar tak bermaksud menyakiti siapapun. Tak pernah sekalipun melupakan sebentuk janji.
Tuhan, aku minta maaf
Ketaksempurnaanku dalam atribut insan tanpa kusadari menyudutkanku pada sepenggal sikap yang tak kupahami telah membuat beberapa hati kecewa. Parahnya, aku masih mengira semuanya baik-baik saja. Aku yang tak pernah peka akan nada kecewa juga amarah yang terpendam. Semua memang tak seharusnya lahir dalam kata. Keyakinan hati terkadang jauh lebih kuat dibanding ribuan kalimat. Hanya saja, sekali lagi aku lemah menyadarinya.
Tuhan, aku minta maaf
Jika baru hari ini aku mengerti tentang semua ini. Ketika sebuah sentilan tiba-tiba mengejutkanku.
“Neng, kalau aku berada dalam posisinya aku juga akan marah. Aku saja hanya bisa menerka kemana kamu selama satu minggu ini, sakitkah ? Kekhawatiran yang coba aku tepis sebab tak ada satu orangpun saudara yang akan membiarkan fikirannya seperti itu. Aku hanya merasakan kamu sedang butuh waktu untuk sendiri saja”
“Teteh, kalau aku hilang tanpa kabar itu karena sakit. Ditambah lagi selama satu minggu ini ada audit dari pusat. Pulang kantor juga hingga larut, kondisi tubuh benar-benar nggak fit. Janji sebuah deadline mengharuskanku memburu sepotong senja sendiri di sebuah desa selama dua hari terakhir. Aku memang belum sempat memberi kabar kepada siapapun”
Tuhan, aku minta maaf
Sungguh tak pernah ada maksud untuk mengingkari sepotong janji yang pernah tersemat.
“Janji ya, jangan pernah menghilang tanpa kabar lagi”
Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Amanah yang selalu aku jaga dalam setiap tarikan nafas. Jika kali ini belum sempat kukabarkan semuanya, karena keadaan saja.
Tuhan, aku minta maaf
Kupahami amarah itu. Terbaca kecewa meski dalam diam. Selayaknya sebuah kesalahan, maka aku benar-benar minta maaf. Pelajaran berharga untuk hatiku yang masih terlalu manja. Betapa memahami sebuah bahasa “diam”, sungguh tak mudah. Peka yang terasah, sengaja kutempatkan pada perasangka baik.
Tuhan, aku minta maaf
Dalam bahasa yang dimengerti, tulus kata dari hati untuk tak pernah mengulangi kesalahan ini kembali. Maaf, benar-benar maaf.
KEJUTAN YANG INDAH DI DINI HARI
PEMENANG EVENT KE-2 GRUP WARUNG ANTOLOGI TEMA "NILAI KEHIDUPAN"
Oleh Novela Nian di Warung Antologi · Sunting Dokumen
Surprise...
Gak nyangka kan bakal ada pengumuman heboh di pagi yang cerah ini.
Check it out.... Ada gak ya nama penamu di sini?
1. Hanya Itu Saja - Trasungging Rhazaki K
2. Buah Dari Sabar - Tamie Emoth
3. Lelaki Menunggu Purnama - Selendang Sulaiman
4. Anak Bertopi Adidas - Safira Khansa
5. Ayahku Cantik - Runy Ginevla
6. Ketika Cinta Berujung Dusta - Riskaninda Maharani
7. Sepatu - Purbasari
8. Semprong Saksi Abadi - Nyi Penengah Dewanti
9. Di Penghujung Akad - Marisa Agustina
10. Sepetak Rumah - Kakaakin
11. Menggapai Pintu yang Sama - Iruka Danishwara W
12. Bait-bait Kisah Anak Pantura - Irfan Fauzi
13. Cangkul Kesayangan - Hanif Wahyu Saputra
14. Batas Integral - Fadila Kireihana
15. Aku, Kamu dan Kita - Erni Misran
16. Merenda Bahagia - Endang SSN
17. Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya - Endah Wahyuni
18. Sebutir Bola Cinta - Elis Widyo Palupi
19. Aku dan Beribu Semutku - Dianca Hyani
20. Sepenggal Kisah Tentang Kehidupan - Ben Putra
21. Kesempurnaan yang Tidak Sempurna - Azzlia Kurniawan
22. Rembulan Bermata Sayu - Aya Arsana
23. Masih Ada Hari Esok - Awiek Libra
24. Bosan - Ally Jane Parker
Untuk 3 cerpen terbaik telah dipilih langsung oleh seorang cerpenis, novelis, script writer Suyatna Pamungkas.
Juara 1 Batas Integral dari Fadila Kireihana
Juara 2 Lelaki Menunggu Purnma dari Selendang Sulaiman
Juara 3 Cinta Berujung Dusta dari Riskaninda Maharani
Kepada 3 pemenang harap mengirim alamat lengkap dan jelas untuk pengiriman paket buku nanti.
Seluruh konributor mendapat harga khusus jika ingin membeli buku terbit.
Selamat kepada semua pemenang. Karya-karya di atas akan diterbitkan di penerbt indie. Semoga jika menjadi buku nanti akan bermanfaat. Amin...
Sebelumnya, untuk royalti pertama akan digunakan sebagai pengganti biaya penerbitan. Sedangkan untuk royalti selanjutnya akan dibagi rata. Semoga tidak ada kesalhpaham. Terima kasih.
Salam karya,
Novela Nian.
Oleh Novela Nian di Warung Antologi · Sunting Dokumen
Surprise...
Gak nyangka kan bakal ada pengumuman heboh di pagi yang cerah ini.
Check it out.... Ada gak ya nama penamu di sini?
1. Hanya Itu Saja - Trasungging Rhazaki K
2. Buah Dari Sabar - Tamie Emoth
3. Lelaki Menunggu Purnama - Selendang Sulaiman
4. Anak Bertopi Adidas - Safira Khansa
5. Ayahku Cantik - Runy Ginevla
6. Ketika Cinta Berujung Dusta - Riskaninda Maharani
7. Sepatu - Purbasari
8. Semprong Saksi Abadi - Nyi Penengah Dewanti
9. Di Penghujung Akad - Marisa Agustina
10. Sepetak Rumah - Kakaakin
11. Menggapai Pintu yang Sama - Iruka Danishwara W
12. Bait-bait Kisah Anak Pantura - Irfan Fauzi
13. Cangkul Kesayangan - Hanif Wahyu Saputra
14. Batas Integral - Fadila Kireihana
15. Aku, Kamu dan Kita - Erni Misran
16. Merenda Bahagia - Endang SSN
17. Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya - Endah Wahyuni
18. Sebutir Bola Cinta - Elis Widyo Palupi
19. Aku dan Beribu Semutku - Dianca Hyani
20. Sepenggal Kisah Tentang Kehidupan - Ben Putra
21. Kesempurnaan yang Tidak Sempurna - Azzlia Kurniawan
22. Rembulan Bermata Sayu - Aya Arsana
23. Masih Ada Hari Esok - Awiek Libra
24. Bosan - Ally Jane Parker
Untuk 3 cerpen terbaik telah dipilih langsung oleh seorang cerpenis, novelis, script writer Suyatna Pamungkas.
Juara 1 Batas Integral dari Fadila Kireihana
Juara 2 Lelaki Menunggu Purnma dari Selendang Sulaiman
Juara 3 Cinta Berujung Dusta dari Riskaninda Maharani
Kepada 3 pemenang harap mengirim alamat lengkap dan jelas untuk pengiriman paket buku nanti.
Seluruh konributor mendapat harga khusus jika ingin membeli buku terbit.
Selamat kepada semua pemenang. Karya-karya di atas akan diterbitkan di penerbt indie. Semoga jika menjadi buku nanti akan bermanfaat. Amin...
Sebelumnya, untuk royalti pertama akan digunakan sebagai pengganti biaya penerbitan. Sedangkan untuk royalti selanjutnya akan dibagi rata. Semoga tidak ada kesalhpaham. Terima kasih.
Salam karya,
Novela Nian.
YANG TERTINGGAL DI STASIUN GAMBIR
Sore yang tak biasa, dalam ruang yang masih asing bagi jiwa. Sebuah harap menjemput pasti kala lembaran tiket sudah nyata di tangan. Menunggu adalah hal yang seringkali membuat orang tak sabar. Denting jam lima masih beberapa jam lagi. Melepas penat, lelah juga rasa lapar dan dahaga akhirnya menjadi pilihan terakhir. Sebuah tempat di sisi kiri, yang mudah terjangkau oleh para pengunjung hanya beberapa langkah saja, menawarkan aneka hidangan penggugah selera. Diantara banyak masakan yang berjejer, sempat terbersit dalam hatiku “Bunda,masakanmu masih jauh lebih istimewa dari semua ini. Walaupun kesederhanaan yang kadang tersaji. Mungkin karena meramunya dengan cinta dan ketulusan. Ah, selalu saja setiap kali berada di tempat yang jauh begini, ada rasa rindu dengan aroma masakan rumah”
Selang beberapa waktu, sebuah tempat makan menjadi pilihan. Tak ada pertimbangan apapun, mengingat waktu yang hanya sesaat saja. Namun justru di tempat itu Tuhan memberiku hadiah istimewa. Memanjakan mata pada sosok seorang malaikat kecil yang barangkali sempat terabai. Tempat duduk yang tak sengaja kupilih, membuat mataku langsung melihatnya dengan jelas.
Lelaki kecil berusia sekitar delapan tahun perkiraanku. Sedari awal kulihat mondar mandir menemui beberapa pengunjung rumah makan di depan. Penolakan yang berulangkali bahkan ada nada hentakan sedikit dalam ucap sang pemilik rumah makan membuat buku kudukku merinding. Tak tega,untungnya pesananku segera datang. Segelas es teh manis langsung saja kuseruput. Berbincang dengan kawan, tertawa dalam hangat rasa namun tanpa mereka sadari pandanganku tak bisa lepas dari anak kecil itu. Sesekali aku melirik kesana, telaga bening mungkin sudah tak bisa kutahan kala itu. andai saja aku tak terlibat dalam perbincangan yang sangat lucu yang sejenak membuatku tertawa terpingkal.
Alhamdulillah, ucap itu sempat nyata dari bibirku. Bukan karena pesanan makanan sudah datang, dalam bayangan rasa lapar yang akan segera sirna. Tapi karena aku melihat ada seseorang yang bersedia menerima jasa anak kecil itu sebagai penyemir sepatu. Lelaki paruh baya yang sangat santun menurutku, setidaknya dia menghadiahi anak kecil itu senyuman sebelum memberikan sepasang sepatu miliknya. Tuhan, disini aku menemukan malaikat kecil itu. Bayanganku akan Ahmad dan kawan-kawannya di simpang lampu merah segera saja terkuak. Rindu, ada rindu berjumpa dengan mereka lagi.
Segelas es teh manis kembali menyadarkanku. Sambil mengaduknya, kulihat sesekali anak kecil itu menyeka peluhnya. Aku tahu tak akan ada yang sia-sia dari setiap tetes peluh yang jatuh. Segera aku beranjak ke sebuah tempat penjual minuman di depan, membuka kulkas dan memilih es teh dalam botol minuman plastik. Sayang, aku malah terlibat beberapa diskusi dengan sang penjual tentang aroma juga rasa minuman itu. Alhasil ketika aku hendak memberikan minuman itu, anak kecil itu sudah tak ada. Barangkali dia telah selesai melakukan tugasnya. Andai ada waktu sedikit saja.
“Kenapa membeli es teh lagi ? yang ini saja belum habis” tanya yang cerdas pikirku
Dan aku hanya punya satu alibi “Untuk diminum di kereta”
Karena aku pecinta es teh manis, jawaban itu tak mengundang curiga siapapun.
Tapi percaya atau tidak, minuman itu akhirnya sampai di tanah garam Bangkalan. Aku tak pernah meminumnya di kereta. Sempat kucoba cicipi, hanya saja bayangan malaikat kecil itu selalu menghampiri.
Tuhan, meski sebotol minuman itu tak pernah sempat kuberikan padanya, semoga doa ini masih ada waktu untuk diijabah.
“Tuhan yang Maha Baik, lindungi dia dimanapun dia berada kini”
Jika saja jejak kaki suatu saat singgah kembali di Stasiun Gambir, semoga kutemui wajah itu dalam keadaan yang lebih baik. Malaikat kecil, ada Tuhan yang memelukmu dengan hangat.
Selang beberapa waktu, sebuah tempat makan menjadi pilihan. Tak ada pertimbangan apapun, mengingat waktu yang hanya sesaat saja. Namun justru di tempat itu Tuhan memberiku hadiah istimewa. Memanjakan mata pada sosok seorang malaikat kecil yang barangkali sempat terabai. Tempat duduk yang tak sengaja kupilih, membuat mataku langsung melihatnya dengan jelas.
Lelaki kecil berusia sekitar delapan tahun perkiraanku. Sedari awal kulihat mondar mandir menemui beberapa pengunjung rumah makan di depan. Penolakan yang berulangkali bahkan ada nada hentakan sedikit dalam ucap sang pemilik rumah makan membuat buku kudukku merinding. Tak tega,untungnya pesananku segera datang. Segelas es teh manis langsung saja kuseruput. Berbincang dengan kawan, tertawa dalam hangat rasa namun tanpa mereka sadari pandanganku tak bisa lepas dari anak kecil itu. Sesekali aku melirik kesana, telaga bening mungkin sudah tak bisa kutahan kala itu. andai saja aku tak terlibat dalam perbincangan yang sangat lucu yang sejenak membuatku tertawa terpingkal.
Alhamdulillah, ucap itu sempat nyata dari bibirku. Bukan karena pesanan makanan sudah datang, dalam bayangan rasa lapar yang akan segera sirna. Tapi karena aku melihat ada seseorang yang bersedia menerima jasa anak kecil itu sebagai penyemir sepatu. Lelaki paruh baya yang sangat santun menurutku, setidaknya dia menghadiahi anak kecil itu senyuman sebelum memberikan sepasang sepatu miliknya. Tuhan, disini aku menemukan malaikat kecil itu. Bayanganku akan Ahmad dan kawan-kawannya di simpang lampu merah segera saja terkuak. Rindu, ada rindu berjumpa dengan mereka lagi.
Segelas es teh manis kembali menyadarkanku. Sambil mengaduknya, kulihat sesekali anak kecil itu menyeka peluhnya. Aku tahu tak akan ada yang sia-sia dari setiap tetes peluh yang jatuh. Segera aku beranjak ke sebuah tempat penjual minuman di depan, membuka kulkas dan memilih es teh dalam botol minuman plastik. Sayang, aku malah terlibat beberapa diskusi dengan sang penjual tentang aroma juga rasa minuman itu. Alhasil ketika aku hendak memberikan minuman itu, anak kecil itu sudah tak ada. Barangkali dia telah selesai melakukan tugasnya. Andai ada waktu sedikit saja.
“Kenapa membeli es teh lagi ? yang ini saja belum habis” tanya yang cerdas pikirku
Dan aku hanya punya satu alibi “Untuk diminum di kereta”
Karena aku pecinta es teh manis, jawaban itu tak mengundang curiga siapapun.
Tapi percaya atau tidak, minuman itu akhirnya sampai di tanah garam Bangkalan. Aku tak pernah meminumnya di kereta. Sempat kucoba cicipi, hanya saja bayangan malaikat kecil itu selalu menghampiri.
Tuhan, meski sebotol minuman itu tak pernah sempat kuberikan padanya, semoga doa ini masih ada waktu untuk diijabah.
“Tuhan yang Maha Baik, lindungi dia dimanapun dia berada kini”
Jika saja jejak kaki suatu saat singgah kembali di Stasiun Gambir, semoga kutemui wajah itu dalam keadaan yang lebih baik. Malaikat kecil, ada Tuhan yang memelukmu dengan hangat.
Sabtu, 03 Maret 2012
Untuk Sepotong Senja
Beberapa hari menghilang, demi sepotong senja. Mengejar juga memburunya pada sebuah tempat tak biasa. Kali ini kulewati perjuangan sendiri, tapi aku yakin suatu saat akan ada yang menemaniku menikmati jingga itu.
Aku jatuh cinta pada senja dan akan selalu jatuh cinta pada jingga itu. Lautan kesyukuran yang tak pernah habis. Ribuan kata yang tak pernah usai. Kesempurnaan lukisan sang Maha Cinta yang selalu mengajakku berdansa dalam rindu yang indah.
Aneh, begitu mereka bilang. Bagaimana bisa seseorang begitu mencintai senja ? Tapi buatku ini tak aneh, sebab aku tak pernah bisa membohongi perasaanku. Sejak pertamakali aku mengenal senja, sejak itu aku jatuh cinta. Ada rasa yang selalu tak bisa terlukis dalam kata, setiap kali senja menghampiri. Melihatnya dari sebuah sudut, saat ia muncul perlahan. Ketika pelan-pelan jingga melukis langit lalu bertemu malam dalam pergantian yang sangat indah.
Andai saja kalian tahu, betapa aku selalu kelu setiap kali untaian-untaian kata tentang senja menghampiri. Rangkaian aksara yang menjelma kalimat-kalimat puitis itu kerapkali membuatku takjub. Aksaraku sangat sederhana, aku tak terlalu pandai melukis kalimat indah tapi aku bisa merasakan apa yang kalian tulis tentang senja.
Senja kali ini adalah sebuah perjuangan. Tatap mata beberapa wajah-wajah polos mereka membuatku tersenyum.
“Kenapa suka dengan senja, Kak ?”
Pertanyaan yang sama yang mungkin hadir di benak beberapa sahabat. Tapi aku hanya bisa menjawab dengan meletakkan tangan di dada.
“Semua itu disini (Hati)”
Kadang sesuatu memang harus dikatakan namun tak jarang pula rasa itu akan begitu saja terasa dalam diam. Kadang hanya dengan menatap senja saja, rasa itu sudah nyata.
Aku jatuh cinta pada teh manis
Apa istimewanya segelas teh manis ? Biasa saja bagi sebagian orang. Tapi buatku, itu racikan yang sangat brilliant. Paduan rasa yang tak biasa, memanjakan dahaga dengan cita rasa yang berbeda. Seperti apapun suasana hati yang mencandaiku, segelas teh manis selalu membuatku berdamai dengan semuanya.
Aku bisa tertawa dalam sedihku, aku bisa tersenyum dalam kesalku, aku bisa peduli dalam keegoisanku. Teh manis mengenalkanku pada zaman yang harus kucerna. Teh manis yang merekatkanku dengan malaikat-malaikat kecilku.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia mengajarkanku betapa berharganya sebuah mimpi. Hanya demi mengecap rasa segelas teh manis jelang berbuka puasa, jiwa-jiwa kecil itu harus membanting tulang dari pagi hingga adzan berkumandang. Dan ketika segelas teh manis bisa mereka dapatkan dari rupiah yang dikumpulkan bersama, mereka harus membagi rasa pelepas dahaga itu bersama beberapa jiwa. Ucapan syukur yang satu persatu bersenandung lirih sempat membuatku getir. Namun disanalah aku menemukan betapa segelas teh manis sungguh sangat berarti. Sebuah harga rasa yang hanya bisa berdendang dalam hati.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia selalu mnegingatkanku betapa syukur itu tak kenal waktu. Betapa diluar sana masih banyak yang menjadikan rasa itu masih sekedar mimpi.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia selalu membawaku pada kesederhanaan. Senyawa rasa yang tak berlebih, racikan makna yang mengejawantah nyata dalam setiap sedunya.
Sederhana saja …
Aku bisa tertawa dalam sedihku, aku bisa tersenyum dalam kesalku, aku bisa peduli dalam keegoisanku. Teh manis mengenalkanku pada zaman yang harus kucerna. Teh manis yang merekatkanku dengan malaikat-malaikat kecilku.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia mengajarkanku betapa berharganya sebuah mimpi. Hanya demi mengecap rasa segelas teh manis jelang berbuka puasa, jiwa-jiwa kecil itu harus membanting tulang dari pagi hingga adzan berkumandang. Dan ketika segelas teh manis bisa mereka dapatkan dari rupiah yang dikumpulkan bersama, mereka harus membagi rasa pelepas dahaga itu bersama beberapa jiwa. Ucapan syukur yang satu persatu bersenandung lirih sempat membuatku getir. Namun disanalah aku menemukan betapa segelas teh manis sungguh sangat berarti. Sebuah harga rasa yang hanya bisa berdendang dalam hati.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia selalu mnegingatkanku betapa syukur itu tak kenal waktu. Betapa diluar sana masih banyak yang menjadikan rasa itu masih sekedar mimpi.
Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada segelas teh manis, sedang dia selalu membawaku pada kesederhanaan. Senyawa rasa yang tak berlebih, racikan makna yang mengejawantah nyata dalam setiap sedunya.
Sederhana saja …
Aku jatuh cinta pada senja
Sejak Ayah mengenalkanku pada jingga di kaki langit sore itu, mataku tak pernah bisa melepaskannya. Gadis kecil yang tiba-tiba saja merasakan betapa langit begitu indah. Tanpa aku sadari, aku menjadi pecandu senja. Bukan saja senyum selalu terlukis di sudut bibirku tapi seringkali tetes hangat mengaliri pipiku. Aku terlalu kagum dengan lukisanNya yang tak pernah tertandingi.
Pada jingga, kutemukan diriku. Pada jingga, kutemukan damai. Pada jingga, kutemukan sunyi dan sendiri yang membuatku lebih mengenalNya. Kala sebagian orang merasakan sunyi begitu mencekam, bagiku sunyi itu indah. Aku bisa berdansa dengan penjagaku. Aku bisa berkidung dengan penilai hatiku. Aku bisa tertawa lepas dengan segala ketaksempurnaanku. Dia tak pernah membuatku merasa sendiri, Dia tak pernah membuatku berjelaga.
Pernah kukabarkan sebuah rindu padaNya. Dia tersenyum dan mengajakku terbang pada rasa yang hanya aku dan Dia saja yang tahu. Lalu kembali kudatangi senja, aku semakin jatuh cinta. Dia tahu aku sangat mencintai lukisan senjaNya, maka diajakNya aku berkelana, mempertemukanku dengan banyak kisah juga jiwa-jiwa yang memperkaya pembelajaran hidupku. Lalu aku, bertambah jatuh cinta.
Senja, takkan pernah habis untuk ku berkisah. Dia mengajakku bertemu dengan malaikat-malaikat kecil, orang tua-orang tua terlantar juga sebuah rasa “Peduli”. Bagaimana bisa aku tak mencintai senja, sedang dia memberiku warna hidup yang semarak. Bagaimana bisa aku tak merindukan senja, sedang dia selalu setia mencandaiku. Bagaimana bisa aku tak mengejar senja, sedang dia selalu memberiku kisah manis di setiap jejaknya.
Dan aku, jatuh cinta pada senja untuk kesekian kalinya.
Saat kau menatap senja, sepenggal senyumku ada disana.
Sederhana saja ….
Pada jingga, kutemukan diriku. Pada jingga, kutemukan damai. Pada jingga, kutemukan sunyi dan sendiri yang membuatku lebih mengenalNya. Kala sebagian orang merasakan sunyi begitu mencekam, bagiku sunyi itu indah. Aku bisa berdansa dengan penjagaku. Aku bisa berkidung dengan penilai hatiku. Aku bisa tertawa lepas dengan segala ketaksempurnaanku. Dia tak pernah membuatku merasa sendiri, Dia tak pernah membuatku berjelaga.
Pernah kukabarkan sebuah rindu padaNya. Dia tersenyum dan mengajakku terbang pada rasa yang hanya aku dan Dia saja yang tahu. Lalu kembali kudatangi senja, aku semakin jatuh cinta. Dia tahu aku sangat mencintai lukisan senjaNya, maka diajakNya aku berkelana, mempertemukanku dengan banyak kisah juga jiwa-jiwa yang memperkaya pembelajaran hidupku. Lalu aku, bertambah jatuh cinta.
Senja, takkan pernah habis untuk ku berkisah. Dia mengajakku bertemu dengan malaikat-malaikat kecil, orang tua-orang tua terlantar juga sebuah rasa “Peduli”. Bagaimana bisa aku tak mencintai senja, sedang dia memberiku warna hidup yang semarak. Bagaimana bisa aku tak merindukan senja, sedang dia selalu setia mencandaiku. Bagaimana bisa aku tak mengejar senja, sedang dia selalu memberiku kisah manis di setiap jejaknya.
Dan aku, jatuh cinta pada senja untuk kesekian kalinya.
Saat kau menatap senja, sepenggal senyumku ada disana.
Sederhana saja ….
Aku jatuh cinta pada embun
Denting rasa yang syahdu kala cahaya belum menjemput. Lukisan semesta yang sangat indah pada serpih alam, di tiap tetes embun. Dingin yang seringkali menyanding raga seolah tak terasa kala tatap mata beradu dengan tetesan-tetesan indah yang terukir dengan manisnya di atas daun itu. Tatap ia, baca dengan hatimu lalu biarkan apa yang kau rasa berkelana bersamanya. Temukan lautan keindahan yang akan membuatmu melayang pada ucap syukur tak terkira. Dan esok, yakini saja kau akan selalu merindukannya.
Kadang aku juga tak mengerti mengapa embun begitu dahsyat membuatku terlena. Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada embun, sedang dia menjadikan detik-detik pertemuan laksana penantian yang indah. Menjamahnya perlahan, merasakan cumbu rayunya di setiap jemari, ditemani kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. Sungguh, Ia Maha Segala.
Indah dan damai, dalam hangat dekap anugerahNya
Sederhana saja ….
Kadang aku juga tak mengerti mengapa embun begitu dahsyat membuatku terlena. Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada embun, sedang dia menjadikan detik-detik pertemuan laksana penantian yang indah. Menjamahnya perlahan, merasakan cumbu rayunya di setiap jemari, ditemani kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. Sungguh, Ia Maha Segala.
Indah dan damai, dalam hangat dekap anugerahNya
Sederhana saja ….
Langganan:
Postingan (Atom)

