Sore yang tak biasa, dalam ruang yang masih asing bagi jiwa. Sebuah harap menjemput pasti kala lembaran tiket sudah nyata di tangan. Menunggu adalah hal yang seringkali membuat orang tak sabar. Denting jam lima masih beberapa jam lagi. Melepas penat, lelah juga rasa lapar dan dahaga akhirnya menjadi pilihan terakhir. Sebuah tempat di sisi kiri, yang mudah terjangkau oleh para pengunjung hanya beberapa langkah saja, menawarkan aneka hidangan penggugah selera. Diantara banyak masakan yang berjejer, sempat terbersit dalam hatiku “Bunda,masakanmu masih jauh lebih istimewa dari semua ini. Walaupun kesederhanaan yang kadang tersaji. Mungkin karena meramunya dengan cinta dan ketulusan. Ah, selalu saja setiap kali berada di tempat yang jauh begini, ada rasa rindu dengan aroma masakan rumah”
Selang beberapa waktu, sebuah tempat makan menjadi pilihan. Tak ada pertimbangan apapun, mengingat waktu yang hanya sesaat saja. Namun justru di tempat itu Tuhan memberiku hadiah istimewa. Memanjakan mata pada sosok seorang malaikat kecil yang barangkali sempat terabai. Tempat duduk yang tak sengaja kupilih, membuat mataku langsung melihatnya dengan jelas.
Lelaki kecil berusia sekitar delapan tahun perkiraanku. Sedari awal kulihat mondar mandir menemui beberapa pengunjung rumah makan di depan. Penolakan yang berulangkali bahkan ada nada hentakan sedikit dalam ucap sang pemilik rumah makan membuat buku kudukku merinding. Tak tega,untungnya pesananku segera datang. Segelas es teh manis langsung saja kuseruput. Berbincang dengan kawan, tertawa dalam hangat rasa namun tanpa mereka sadari pandanganku tak bisa lepas dari anak kecil itu. Sesekali aku melirik kesana, telaga bening mungkin sudah tak bisa kutahan kala itu. andai saja aku tak terlibat dalam perbincangan yang sangat lucu yang sejenak membuatku tertawa terpingkal.
Alhamdulillah, ucap itu sempat nyata dari bibirku. Bukan karena pesanan makanan sudah datang, dalam bayangan rasa lapar yang akan segera sirna. Tapi karena aku melihat ada seseorang yang bersedia menerima jasa anak kecil itu sebagai penyemir sepatu. Lelaki paruh baya yang sangat santun menurutku, setidaknya dia menghadiahi anak kecil itu senyuman sebelum memberikan sepasang sepatu miliknya. Tuhan, disini aku menemukan malaikat kecil itu. Bayanganku akan Ahmad dan kawan-kawannya di simpang lampu merah segera saja terkuak. Rindu, ada rindu berjumpa dengan mereka lagi.
Segelas es teh manis kembali menyadarkanku. Sambil mengaduknya, kulihat sesekali anak kecil itu menyeka peluhnya. Aku tahu tak akan ada yang sia-sia dari setiap tetes peluh yang jatuh. Segera aku beranjak ke sebuah tempat penjual minuman di depan, membuka kulkas dan memilih es teh dalam botol minuman plastik. Sayang, aku malah terlibat beberapa diskusi dengan sang penjual tentang aroma juga rasa minuman itu. Alhasil ketika aku hendak memberikan minuman itu, anak kecil itu sudah tak ada. Barangkali dia telah selesai melakukan tugasnya. Andai ada waktu sedikit saja.
“Kenapa membeli es teh lagi ? yang ini saja belum habis” tanya yang cerdas pikirku
Dan aku hanya punya satu alibi “Untuk diminum di kereta”
Karena aku pecinta es teh manis, jawaban itu tak mengundang curiga siapapun.
Tapi percaya atau tidak, minuman itu akhirnya sampai di tanah garam Bangkalan. Aku tak pernah meminumnya di kereta. Sempat kucoba cicipi, hanya saja bayangan malaikat kecil itu selalu menghampiri.
Tuhan, meski sebotol minuman itu tak pernah sempat kuberikan padanya, semoga doa ini masih ada waktu untuk diijabah.
“Tuhan yang Maha Baik, lindungi dia dimanapun dia berada kini”
Jika saja jejak kaki suatu saat singgah kembali di Stasiun Gambir, semoga kutemui wajah itu dalam keadaan yang lebih baik. Malaikat kecil, ada Tuhan yang memelukmu dengan hangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar