Sabtu, 03 Maret 2012

Untuk Sepotong Senja


Beberapa hari menghilang, demi sepotong senja. Mengejar juga memburunya pada sebuah tempat tak biasa. Kali ini kulewati perjuangan sendiri, tapi aku yakin suatu saat akan ada yang menemaniku menikmati jingga itu.
Aku jatuh cinta pada senja dan akan selalu jatuh cinta pada jingga itu. Lautan kesyukuran yang tak pernah habis. Ribuan kata yang tak pernah usai. Kesempurnaan lukisan sang Maha Cinta yang selalu mengajakku berdansa dalam rindu yang indah.

Aneh, begitu mereka bilang. Bagaimana bisa seseorang begitu mencintai senja ? Tapi buatku ini tak aneh, sebab aku tak pernah bisa membohongi perasaanku. Sejak pertamakali aku mengenal senja, sejak itu aku jatuh cinta. Ada rasa yang selalu tak bisa terlukis dalam kata, setiap kali senja menghampiri. Melihatnya dari sebuah sudut, saat ia muncul perlahan. Ketika pelan-pelan jingga melukis langit lalu bertemu malam dalam pergantian yang sangat indah.

Andai saja kalian tahu, betapa aku selalu kelu setiap kali untaian-untaian kata tentang senja menghampiri. Rangkaian aksara yang menjelma kalimat-kalimat puitis itu kerapkali membuatku takjub. Aksaraku sangat sederhana, aku tak terlalu pandai melukis kalimat indah tapi aku bisa merasakan apa yang kalian tulis tentang senja.

Senja kali ini adalah sebuah perjuangan. Tatap mata beberapa wajah-wajah polos mereka membuatku tersenyum.
“Kenapa suka dengan senja, Kak ?”
Pertanyaan yang sama yang mungkin hadir di benak beberapa sahabat. Tapi aku hanya bisa menjawab dengan meletakkan tangan di dada.
“Semua itu disini (Hati)”
Kadang sesuatu memang harus dikatakan namun tak jarang pula rasa itu akan begitu saja terasa dalam diam. Kadang hanya dengan menatap senja saja, rasa itu sudah nyata.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Kayaknya jarang di posting ni blog, ayo pencinta senja, terbitkan kembali tulisanmu di blog ini