Sabtu, 25 Februari 2012
Kata dahsyat bernama "SEMANGAT"
Aku pernah berada pada titik kejenuhan, merasa lelah dengan segala yang ada. Pernah tak mengerti harus bagaimana. Pernah merasa semangat telah benar-benar hilang meninggalkanku. Tak lagi produktif menulis. Target 100 buah buku antologi yang menjadi salah satu resolusi 2012 seakan sirna. Hingga prtengahan Februari baru 60 buku. Sementara 40 buku yang harus nyata dibutuhkan semangat yang mungkin harus ekstra luar biasa bagiku. Luruh dan benar-benar vakum. Literasiku tak lagi menggeliat seperti bulan lalu.
Aku bukan manusia yang mudah menyerah. Walaupun tak tahu mesti kemana, aku terus mencari semangat itu. Sayang, aku tak pernah menemukannya pada setiap jejak yang kuukir atau tempat yang kusinggahi.
Sebuah perjalanan memberiku makna luar biasa. Aku temukan semangat itu bukan dimana-mana, tapi dalam diriku sendiri. Ya, semangat itu sebenarnya tak pernah kemana-mana. Ia selalu ada dalam diri kita hanya saja rasa lelah kerapkali menjadikan alasan untuk melepaskannya.
Perjalanan yang membuatku menemukan banyak makna hakiki kehidupan. Bukan saja tentang semangat, rasa, kesederhanaan juga ketangguhan. Tapi aku juga menemukan begitu banyak hal yang memperteguh keislaman juga keimananku. Tuhan, terima kasih untuk semuanya. Hanya atas rencanaMu saja, semua ini terjadi.
Senin, 13 Februari 2012
Berbagi Itu Indah (2)
Tanggal yang cantik. Hariku juga sangat cantik. Aku nggak pernah menyangka kalau akan menjejakkan lagi kaki di sawah-sawah ini. Masih jelas dalam ingatan semua pekerjaan ini pernah aku lakukan beberapa tahun silam saat masih asyik berstatus sebagai mahasiswa Pertanian. Sebuah jurusan yang awalnya aku anggap sebagai sebuah kesalahan. Disaat beberapa sahabat seperjuanganku tengah menikmati indahnya masa-masa kuliah dengan santai, karena jurusan yang mereka pilih adalah sosial. Sementara aku harus berkutat dengan seabrek praktikum yang tiap hari harus aku jalani hingga jam enam sore. Belum lagi harus melewati serangkaian tes. Sedang pagi hingga siang harus berkutat dengan kuliah kelas. Rasanya memang tak ada waktu untuk bersantai sekedar jalan-jalan menikmati udara di luar sana, cuci mata dengan teman-teman sebaya, nyaris sangat langka bagiku. Tapi siapa sangka justru padatnya aktivitas kuliah masih memberiku kesempatan untuk mengikuti hampir sepuluh organisasi kampus. Alhasil seringkali tidur hingga larut pagi karena harus membagi waktu. Tak pernah ada yang sia-sia untuk setiap peluh,. Itu janji Tuhan. Aku masih bisa bertanggungjawab pada orang tua dengan menyelesaikan pendidikan kurang dari empat tahun dengan predikat Cumlaude.
Siang ini menapaki kembali ingatanku akan masa lalu, syukur kembali terucap. Andai saja Tuhan tak memberiku kesempatan mencicipi lelah di masa lalu, mungkin saja aku takkan tersenyum disini bersama para petani itu. Rasanya seperti dejavu bisa merasakan lagi bercengkerama dengan tanah, lumpur, panas yang menyengat, padi yang meliuk mesra, peluh yang menetes dan senyum hangat mereka yang selalu bersyukur. Kadang miris meratapi nasib mereka, bagaimana tidak mereka harus rela menerima harga yang terbilang sangat murah setelah panen. Namun tak ada keluh di wajahnya, hanya senyum dan ucap syukur. Ah, Tuhan entah telah kemana ilmu yang selama ini kudapat. Setelah pergulatan zaman menempatkanku pada persinggungan realita yang tak sama.
Hari ini, rinduku tertuntaskan. Bersama para petani-petani itu di sawah, meleburkan kembali sedikit pengetahuan yang hampir saja punah oleh rutinitas yang tak serupa. Asam, basa, lempung … Ah Tuhan, entah berapa istilah lagi yang masih aku ingati kini. Aku rindu, sungguh rindu semua itu.
Dan hari ini, Tuhan terima kasih untuk semuanya. Begitu banyak hal yang harus kuselesaikan hari ini, namun semua terasa indah. Bersama jiwa-jiwa
Berbagi Itu Indah (1)
Berada di tengah keramaian, membaur dengan orang-orang dan belajar banyak dari mereka adalah hal langka yang pernah kita sadari. Nggak semua orang bisa menterjemahkan bahwa itu adalah sebuah kesempatan emas yang dihadiahkan Tuhan kepada kita. Aku ingin menjadi bagian dari yang sedikit itu. Ayah pernah berkata bahwa kita tak akan bahagia selagi di sekitar kita masih ada yang menanggung lara. Kita tahu namun sengaja menutup mata dan telinga. Aku pernah hanya mengiyakan saja namun tak sepenuhnya mencoba memahami. Namun kini baru aku sadari setelah Ayah tiada, betapa pelajaran yang nggak sengaja dia berikan sungguh sangat berarti.
Hari ini Tuhan mengajakku berkelana dalam cintaNya.
Tak pernah kusangka jika jejak langkah akan mengantarkanku pada malaikat-malaikat kecil yang sangat tak beruntung. Seorang sahabat dengan jiwa indahnya mengajakku bermain dengan mereka. Semula aku tak mengira jika mereka adalah anak-anak dengan keterbelakangan penglihatan. Sejak kecil mereka tak pernah menikmati indahnya dunia. Bahkan wajah kedua orang tuanya saja mereka tak pernah tahu. Hanya satu yang mereka pahami, bahasa hati dalam cinta. Siapa bilang mereka tak melihat, siapa bilang mereka tak tahu. Sungguh mereka memiliki tingkat kepekaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Sebab mereka menggunakan hatinya. Hati mereka senantiasa benderang. Ketulusan tanpa kenal kebencian, kesyukuran tanpa kenal keluh kesah.
Siang ini, mendampingi mereka mengeja huruf Braille. Ada titik air mata yang menghangati pipiku. Sekuat hati aku mencoba menahannya namun sungguh aku tak mampu. Tuhan, maafkan hatiku yang terlalu cengeng. Ya, aku memang perempuan cengeng yang terlalu mudah menitikkan air mata.
Tuhan, aku selalu mencoba belajar mendapati ketegaran di setiap kenyataan yang selalu Kau tunjukkan. Aku berusaha menjadi perempuan tangguh yang tak selalu menghangati pipinya dengan linangan air mata. Namun sungguh, aku masih belum mampu. Kenyataan yang terlalu miris di hadapanku, seakan sebuah tamparan bagi kalbu kemanusiaanku. Aku tahu aku tak sempurna bahkan peduliku juga belum layak. Tapi ijinkan dalam waktu yang Kau berkahi untuk usia yang kupunya, beri aku waktu menjadi bagian dari mereka yang terabaikan. Menjadi penghangat bagi dingin yang selalu mereka rasakan, menjadi pembawa bahagia bagi senyum mereka yang telah lama hilang.
Tuhan, ijinkan aku mempunyai berlimpah alasan untuk terus memberikan senyum bagi semua orang. Memberikan bahagia bagi mereka yang telah lama haus kasih sayang. Ijinkan jemari ini menguatkan hati-hati mereka.
Tuhan, pertemukan aku dengan hati yang dapat pahamiku tentang semua ini. Hati yang akan menggandeng jemariku untuk bersama menguatkan mereka. Hati yang membawaku pada kepedulian akan sesama. Hati yang akan memberiku warna senja yang jauh lebih jingga dari yang kulihat kini. Hati yang akan membawaku pada cintaMu, hati yang tulus dalam mencintai kekuranganku. Hati yang akan Kau tuliskan di keharuman surgawiMu.
Berbagi Itu Indah (1)
11 Februari 2012
Berada di tengah keramaian, membaur dengan orang-orang dan belajar banyak dari mereka adalah hal langka yang pernah kita sadari. Nggak semua orang bisa menterjemahkan bahwa itu adalah sebuah kesempatan emas yang dihadiahkan Tuhan kepada kita. Aku ingin menjadi bagian dari yang sedikit itu. Ayah pernah berkata bahwa kita tak akan bahagia selagi di sekitar kita masih ada yang menanggung lara. Kita tahu namun sengaja menutup mata dan telinga. Aku pernah hanya mengiyakan saja namun tak sepenuhnya mencoba memahami. Namun kini baru aku sadari setelah Ayah tiada, betapa pelajaran yang nggak sengaja dia berikan sungguh sangat berarti.
Hari ini Tuhan mengajakku berkelana dalam cintaNya.
Tak pernah kusangka jika jejak langkah akan mengantarkanku pada malaikat-malaikat kecil yang sangat tak beruntung. Seorang sahabat dengan jiwa indahnya mengajakku bermain dengan mereka. Semula aku tak mengira jika mereka adalah anak-anak dengan keterbelakangan penglihatan. Sejak kecil mereka tak pernah menikmati indahnya dunia. Bahkan wajah kedua orang tuanya saja mereka tak pernah tahu. Hanya satu yang mereka pahami, bahasa hati dalam cinta. Siapa bilang mereka tak melihat, siapa bilang mereka tak tahu. Sungguh mereka memiliki tingkat kepekaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Sebab mereka menggunakan hatinya. Hati mereka senantiasa benderang. Ketulusan tanpa kenal kebencian, kesyukuran tanpa kenal keluh kesah.
Siang ini, mendampingi mereka mengeja huruf Braille. Ada titik air mata yang menghangati pipiku. Sekuat hati aku mencoba menahannya namun sungguh aku tak mampu. Tuhan, maafkan hatiku yang terlalu cengeng. Ya, aku memang perempuan cengeng yang terlalu mudah menitikkan air mata.
Tuhan, aku selalu mencoba belajar mendapati ketegaran di setiap kenyataan yang selalu Kau tunjukkan. Aku berusaha menjadi perempuan tangguh yang tak selalu menghangati pipinya dengan linangan air mata. Namun sungguh, aku masih belum mampu. Kenyataan yang terlalu miris di hadapanku, seakan sebuah tamparan bagi kalbu kemanusiaanku.
Aku tahu aku tak sempurna bahkan peduliku juga belum layak. Tapi ijinkan dalam waktu yang Kau berkahi untuk usia yang kupunya, beri aku waktu menjadi bagian dari mereka yang terabaikan. Menjadi penghangat bagi dingin yang selalu mereka rasakan, menjadi pembawa bahagia bagi senyum mereka yang telah lama hilang.
Tuhan, ijinkan aku mempunyai berlimpah alasan untuk terus memberikan senyum bagi semua orang. Memberikan bahagia bagi mereka yang telah lama haus kasih sayang. Ijinkan jemari ini menguatkan hati-hati mereka.
Tuhan, pertemukan aku dengan hati yang dapat pahamiku tentang semua ini. Hati yang akan menggandeng jemariku untuk bersama menguatkan mereka. Hati yang membawaku pada kepedulian akan sesama. Hati yang akan memberiku warna senja yang jauh lebih jingga dari yang kulihat kini. Hati yang akan membawaku pada cintaMu, hati yang tulus dalam mencintai kekuranganku. Hati yang akan Kau tuliskan di keharuman surgawiMu.
Sabtu, 04 Februari 2012
Yang Teryakini
Semakin tinggi pohon maka angin yang bertiup juga semakin kencang. Ada saja gesekan ketika seseorang tengah berada pada tangga kepopulerannya. Tapi aku lebih mengenal kesederhanaannya daripada yang lainnya. Sebab itu berbagai cerita yang mencoba datang dan mengusikku yang entah darimana aku tak peduli.
Saat ada yang bilang kau tak baik, aku tak mendengar
Saat ada yang bilang kau tak setia, aku juga tak mendengar
Saat ada yang bilang kau lupakan, aku tak mendengar
Setiap orang pasti percaya dengan nuraninya. Hati kecil tak pernah berdusta. Yang teryakini, itu yang semestinya.
Gesekan yang ada terhadap setiap manusia sebenarnya adalah cara Tuhan yang indah untuk mengajarkan kita belajar lebih sabar, meluweskan hati, melapangkan jiwa. Memahami lebih bijak bahwa percaya itu penting. Sebuah kekuatan yang akan mengantarkan manusia pada ketulusan.
Selagi aku meyakini apa yang nuraniku katakan, maka seribu orang yang coba mengusik sekalipun aku tak peduli.
Hanya saja tak tega bagaimana bisa mereka melakukan cara-cara seperti itu dengan menjatuhkan orang yang mereka katakan "Sayangi". Itu nggak adil buat dia. Apa ya mereka paham kata "Sayang" yang mereka agung-agungkan itu.
Urusan hati, biar menjadi urusan Tuhan saja. Sebab tak ada manusia yang dapat menakarnya. Apa yang dikatakan hatinya, hanya Tuhan saja yang tahu. Tak perlu memberitahuku tentang dia, sebab nurani dan Tuhanku saja yang akan menuntunnya.
Rabu, 01 Februari 2012
Pelajaran indah untuk sebuah “Peduli”
Kalimat itu masih saja terngiang. Sedalam itu mereka memaknainya. Sungguh, dunia pendidikan sepantasnya berterima kasih kepada anak-anak di pelosok dan pedalaman itu. Sekalipun daerahnya sangat terpencil, bahkan tak terjangkau oleh modernisasi namun semangat belajarnya tak pernah punah. Walaupun jarak yang harus ditempuh begitu jauh dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki tanpa alas apapun, mereka tetap bersedia datang ke sekolah. Kekurangan tenaga pengajar awalnya menjadi kendala.
Tak mudah memang menemukan orang yang bersedia mengabdikan diri di daerah pedalaman dengan sukarela, tanpa tendensi apapun. Akan tetapi tak mudah bukan berarti tak ada. Disana aku masih bisa menemukan sebuah “Kepedulian”. Nyata, sungguh nyata.
Meninggalkan gemerlap kota dengan segala fasilitasnya, tinggal di daerah dengan hidup seadanya bahkan yang paling miris ketika mendapati ada sekolah yang hanya beratapkan langit. Untuk negeri dan masa depan serta mimpi anak-anak kecil itu, semua pengorbanan ini seakan tak berarti.
Melihat senyum dan binar semangat mereka, mengantarkan mereka meraih mimpi adalah hal paling indah yang masih ingin kami capai. Tak ada yang lebih berarti selain dapat bermanfaat bagi orang lain.
Bahagia itu tak pernah bersyarat. Tak peduli di bumi mana kaki berpijak, selama hati kita lapang dan bersyukur maka bahagia akan kita dekap pasti. Mimpi mereka adalah bara yang akan terus membakar nadi-nadi kami untuk berkarya lebih baik lagi. Untukmu negeri, padamu negeri. Untuk mimpi-mimpi anak negeri. Untuk mereka dan masa depannya.