Senin, 13 Februari 2012

Berbagi Itu Indah (1)

11 Februari 2012

Berada di tengah keramaian, membaur dengan orang-orang dan belajar banyak dari mereka adalah hal langka yang pernah kita sadari. Nggak semua orang bisa menterjemahkan bahwa itu adalah sebuah kesempatan emas yang dihadiahkan Tuhan kepada kita. Aku ingin menjadi bagian dari yang sedikit itu. Ayah pernah berkata bahwa kita tak akan bahagia selagi di sekitar kita masih ada yang menanggung lara. Kita tahu namun sengaja menutup mata dan telinga. Aku pernah hanya mengiyakan saja namun tak sepenuhnya mencoba memahami. Namun kini baru aku sadari setelah Ayah tiada, betapa pelajaran yang nggak sengaja dia berikan sungguh sangat berarti.

Hari ini Tuhan mengajakku berkelana dalam cintaNya.
Tak pernah kusangka jika jejak langkah akan mengantarkanku pada malaikat-malaikat kecil yang sangat tak beruntung. Seorang sahabat dengan jiwa indahnya mengajakku bermain dengan mereka. Semula aku tak mengira jika mereka adalah anak-anak dengan keterbelakangan penglihatan. Sejak kecil mereka tak pernah menikmati indahnya dunia. Bahkan wajah kedua orang tuanya saja mereka tak pernah tahu. Hanya satu yang mereka pahami, bahasa hati dalam cinta. Siapa bilang mereka tak melihat, siapa bilang mereka tak tahu. Sungguh mereka memiliki tingkat kepekaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Sebab mereka menggunakan hatinya. Hati mereka senantiasa benderang. Ketulusan tanpa kenal kebencian, kesyukuran tanpa kenal keluh kesah.

Siang ini, mendampingi mereka mengeja huruf Braille. Ada titik air mata yang menghangati pipiku. Sekuat hati aku mencoba menahannya namun sungguh aku tak mampu. Tuhan, maafkan hatiku yang terlalu cengeng. Ya, aku memang perempuan cengeng yang terlalu mudah menitikkan air mata.

Tuhan, aku selalu mencoba belajar mendapati ketegaran di setiap kenyataan yang selalu Kau tunjukkan. Aku berusaha menjadi perempuan tangguh yang tak selalu menghangati pipinya dengan linangan air mata. Namun sungguh, aku masih belum mampu. Kenyataan yang terlalu miris di hadapanku, seakan sebuah tamparan bagi kalbu kemanusiaanku.

Aku tahu aku tak sempurna bahkan peduliku juga belum layak. Tapi ijinkan dalam waktu yang Kau berkahi untuk usia yang kupunya, beri aku waktu menjadi bagian dari mereka yang terabaikan. Menjadi penghangat bagi dingin yang selalu mereka rasakan, menjadi pembawa bahagia bagi senyum mereka yang telah lama hilang.

Tuhan, ijinkan aku mempunyai berlimpah alasan untuk terus memberikan senyum bagi semua orang. Memberikan bahagia bagi mereka yang telah lama haus kasih sayang. Ijinkan jemari ini menguatkan hati-hati mereka.

Tuhan, pertemukan aku dengan hati yang dapat pahamiku tentang semua ini. Hati yang akan menggandeng jemariku untuk bersama menguatkan mereka. Hati yang membawaku pada kepedulian akan sesama. Hati yang akan memberiku warna senja yang jauh lebih jingga dari yang kulihat kini. Hati yang akan membawaku pada cintaMu, hati yang tulus dalam mencintai kekuranganku. Hati yang akan Kau tuliskan di keharuman surgawiMu.

Tidak ada komentar: