Sabtu, 23 Februari 2013

Blacky & Niky




     Mendung yang menaungi kota sedari pagi mungkin menjadi salah satu kendala untuk sebagian orang karena harus mengurungkan beberapa rencana perjalanan. Tapi tidak denganku, mendung menjadi salah satu anugerah. Selain aku bisa menemani bunda, aku juga masih bisa bercumbu dengan Blacky and Niky. Dua benda yang selama beberapa waktu ini tak pernah jemu menemani.
     Blacky, si laptop ajaib yang tak pernah lelah untuk terus mengalirkan kata-kata sarat makna, kadang juga romantis namun tak jarang pula penuh air mata. Ia selalu tersenyum setiap kali jemariku bergerak dan semangat menulis itu demikian kuat. Ia juga tahu aku bukanlah perangkai kata terhebat tapi ia paham aku punya cinta untuk dunia yang satu ini, literasi. Setidaknya aku dan Blacky percaya saat mampu mencinta maka tak akan punya alasan untuk meninggalkannya dengan alasan apapun. Terlebih cuma karena rasa letih, lelah apalagi moody. Menulis membuatku bisa berbagi. Sebab aku dan Blacky percaya setiap catatan adalah sebuah pelajaran berharga bagi kehidupan. Meski tak semua orang suka menulis tapi banyak orang yang suka membaca. Dan aku tak pernah letih untuk terus berjuang agar semakin banyak lagi orang-orang yang mau menulis. Kadang kala kita hanya terbelenggu oleh rasa ketakutan yang tak penting. Ada yang merasa tak percaya diri hanya karena seorang pemula. Bukankah kalau kita tak pernah memulakan segala sesuatu, kita tak akan pernah tahu bagaimana hasilnya.

     Hari ini Niky tak mau kalah. Dalam kebisuan yang sahaja, ia sanggup menangkap aneka momen spesial untuk kemudian menjadi abadi. Sayang, karena aku lebih menyukai alam dan potret sosial maka bidikan si Niky penuh dengan peristiwa-peristiwa itu. Aku sangat sayang dengan Niky. Seperti halnya Blacky, ia selalu ada setiap kali aku mengajaknya membidik senja. Jingga yang merenda di langit adalah nyanyian rasa yang selalu tak sanggup terlukiskan. Kali ini, Niky menangkap mendung yang indah. Guratan alam tak biasa yang sesaat lagi akan menjadi hujan. Hujan, peristiwa alam ini sangat indah. Melodi yang hadir akan mengajakmu keluar dari kesepian yang menghimpit.
     Jangan lagi mencemburui mereka, begitu mungkin yang bisa kukatakan kepada sahabat-sahabatku. Mungkin waktuku memang lebih banyak dengan keduanya. Laptop dan kamera adalah dua hal yang membuatku bisa bebas berkelana mengeja berbagai pelajaran hidup. Bersama mereka, aku juga bisa berbagi. Dan tentu saja, aku bisa memburu senja di beberapa daerah.

     Blacky, kepadanya aku juga berterima kasih. Dalam ketangguhan dan semangat luar biasa, 9 naskah novel telah lahir. 2 telah terbit, 4 sedang menunggu waktu di penerbit dan 3 masih dalam proses penggarapan.

     Percayalah, menulis akan membuatmu memaknai sunyi dengan lebih bijak. Setidaknya tak ada waktu yang tersia. Menulis membuatmu mengerti betapa setiap inci peristiwa, setiap pandang mata dan setiap kata yang terdengar adalah peka yang harus diasah untuk kemudin dibagi kepada sesama sebagai hal yang bermanfaat. Ide itu ada di sekitarmu, jadi tak perlu jumpalitan dengan segala alasan untuk tidak menulis. Keep Writing !
      

Jumat, 22 Februari 2013

Mengeja Hidup dari Si Pecel Pincuk





     Hari ini kembali sebuah pelajaran berharga singgah di rapalan jejak yang kupunya. Pada lembaran baru di halaman yang tak lagi terhitung, semesta mengajak satu sisi hati kembali mencumbui catatan raga.
     Sukses adalah impian banyak orang. Aku, kamu juga mereka diluar sana. Tapi tak banyak orang yang mau berjuang menggapainya dari titik nol. Segala yang diinginkan, mesti lekas terjadi. Padahal hidup bukanlah proses yang serba instan. Sedikit sekali orang yang menghargai susah payahnya sebuah pencapaian sebagai sebuah pelajaran maha indah yang kelak akan menjadi pembelajaran bagi tunas-tunas kita.
    
     Kali ini sengaja aku tak sarapan pagi di rumah seperti biasanya. Salah satu alasan adalah rasa penasaran oleh cerita salah seorang kawan yang mengatakan bahwa nasi pecel pincuk di stadion Bangkalan itu enak banget. Menurutku pecel sih sama saja dimana-mana, yang membedakan paling cuma cita rasa manis atau pedasnya saja. Karena tak hanya satu orang yang memberikan testimoni maka tak ayal akupun tergelitik untuk mencoba. Mungkin beberapa orang menganggapku ketinggalan zaman karena hari ini adalah untuk pertamakalinya aku mencicipi nasi pecel pincuk itu. Tanpa membuang waktu, kami segera meluncur ke stadion. Jam begini sudah sepi. Ada ketakutan jangan-jangan nasi pecelnya sudah habis. Hmm, benar saja, si penjual bilang mungkin kalau untuk 6 orang masih bisa. Pas deh, dengan 4 bungkus titipan kawan lainnya.
     Suasana disini memang nyaman. Sejuk dengan pemandangan yang asri. Menikmati makanan sederhana seperti ini diselingi senda gurau para pengunjung adalah keadaan yang sejenak bisa merehatkan pikiran dari kesibukan di kantor. 




     “Pasti deh mulai wawancara”
     Aku selalu geli setiap kali mendengar kalimat ini. Sudah menjadi kebiasaan saat bertemu orang-orang seperti mereka, aku tak hanya menikmati menu yang tersaji tapi juga mengajak si penjual ngobrol. Karena aku selalu yakin, akan ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dan kita tak pernah tahu darimana itu akan datang.

     Bapak Ahmad, mungkin bisa dikatakan salah satu orang yang sukses dengan usahanya. Tapi dibalik semua itu dia adalah pejuang hidup yang keras dan tangguh.
     “Sudah lama berjualan seperti ini, Pak ?”
     “Belum terlalu lama, Neng”
     “Hmm kenapa memilih nasi pecel pincuk ?”
     “Ceritanya panjang. Dulu bapak kerja di perusahaan yang ada di Jakarta. Cukup sukses sih karena sampai menduduki salah satu posisi penting. Tapi kemudian kolaps dan bangkrut”
     “Terus ?”
     “Bapak pulang kembali kesini. Jadi pengangguran dan hanya berjualan sticker kecil-kecilan. Yang beli juga anak-anak SD. Kehidupan masih tetap, tak berubah padahal anak-anak sudah mulai sekolah. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja susah. Sampai akhirnya bapak berdiskusi sama istri untuk buka usaha saja. Dengan pinjaman modal, akhirnya kami sepakat untuk menjual nasi pecel pincuk. Awalnya ide itu datang dari obrolan beberapa teman. Setiap kali mereka datang kesini selalu tanya nasi pecel yang enak itu dimana, harganya berapa. Rata-rata kan Rp 9000 lalu bapak bilang, ya sudah Rp 5000 saja beli di aku”
     “Lalu mulailah mencari tempat. Dengan sepeda motor butut akhirnya kami harus mengangkut barang-barang dari rumah ke stadion. Kami memilih menjualnya malam hari. Spekulasi juga sih mana ada orang yang mau makan nasi pecel malam-malam. Tapi segala sesuatu kalau belum dicoba nggak akan tahu hasilnya seperti apa. Sebenarnya kita hanya butuh keberanian untuk mengambil resiko, itu saja. Tapi bapak percaya bahwa jika kita berikhtiar dengan benar maka Tuhan sudah menyiapkan jalannya. Sungguh saat itu bapak benar-benar sudah mengesampingkan segala rasa malu. Walaupun dulu pernah mengenakan dasi seperti orang-orang kantoran itu dan kini banting setir seperti ini, rasanya nggak ada yang salah. Yang salah hanya mereka yang tak pernah berani untuk bangkit ketika terjatuh. Hidup nggak selamanya manis. Kalau kita tak pernah merasakan keadaan seperti ini mungkin kita tak akan pernah bisa belajar selamanya. Kehancuran yang lebih besar tentu saja akan menghampiri kita”
     “Hmm, pencapaiannya seperti apa setelah menjalani semua itu ?”
     “Bapak nggak pernah mengira, Neng. Tuhan menjawab segala kerja keras dan semangat tak kenal menyerah itu dengan cara yang indah. Bayangkan saja mana ada nasi pecel yang harus mengantri dengan pakai nomor untuk membelinya. Macam mau menabung di bank Neng saja ya”
    
     Aku tertawa bersama sinar matanya yang masih penuh dengan semangat. Aku memasuki sebuah ranah baru, tentang hidup yang harus dihadapi apapun keadaannya. Letih, lelah, perih dan air mata adalah kegetiran yang telah dijadikan obat paling mujarab oleh Pak Ahmad untuk bangkit dan menemukan keberhasilannya. Masihkah kita memasung hati dan jiwa dalam tangis yang berdarah-darah hanya karena sentilan sesaat, masihkan kita mencemburui manisnya hidup yang dimiliki orang lain padahal Tuhan sedang memberikan ruang yang jauh lebih indah andai saja kita tetap pada prasangka terbaik untukNya serta berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

     “Neng pasti nggak percaya, bonus apa yang sudah Tuhan berikan dengan cara yang sangat indah ?”
     “Apa ?”
     Dia menunjuk pada sebuah kendaraan roda 4 yang diparkir di sebelah kanan dari tempatnya berjualan. Aku berjalan mendekati kendaraan itu dan tersenyum ketika sebuah banner juga sudah terpasang disana. Kemajuan yang luar biasa. Dan semua itu hanya ia dapatkan dalam jangka waktu 8 bulan saja. Subhanallah, kado yang indah. Hanya orang-orang yang mau bangkit, tak meratapi keterpurukan lalu mengumpulkan semangat untuk berjuang. Hidup tidak mudah tapi akan menjadi indah jika kita mengerti bagaimana untuk hidup, sesungguhnya. 
     Bertemu dengan Pak Ahmad pagi ini adalah anugerah yang pantas kusyukuri. Tak semua orang berkesempatan mendengar pelajaran hidup yang demikian berarti.
     Kepada Pak Ahmad dan orang-orang diluar sana yang tetap bersahaja dalam kesederhanaan, yang selalu berbaik sangka pada Tuhan, yang tak lupa berterimakasih pada segala kegetiran hidup serta yang tak kenal kata gengsi walau harus kembali memulai hidup dari nol, kepada merekalah kita harus belajar. Tentang perjuangan, pemaknaan air mata juga indahnya senyum.

     Akan selalu ada pelangi, selepas hujan
     Jadi jangan pernah menyerah
Walau air mata akan menjadi bagian cerita
Karena hidup lebih berwarna dengan perjuangan

Mereka bisa, kita juga bisa

Kamis, 21 Februari 2013

NEW NOVELET : LOVE

Ingin tahu bagaimana cinta dikemas dalam cerita yang berbeda ? Mau tahu setting-setting keren yang melengkapi setiap cerita ? Jangan lewatkan buku yang satu ini.

6 Cerita cinta, 6 Penulis




Cuplikan Novelet "SRIKANDI  DA'IRING"



1.   Sunrise, Aku mencumbumu

Pagi menyemarak, gundah lepas sudah. Terpukau kalimat cinta dalam tabur pelangi. Berdenting pada irama semusim yang berganti. Mengalun syahdu untuk menghempas fatamorgana waktu. Perempuan itu terhenyak ketika sebuah suara mengejutkannya dari belakang.
“Mengapa kita harus berjuang ? Bukankah tanah ini telah cukup memberi apa yang kita mau” tanya perempuan itu
“Sebab hidup bukan sekedar menerima. Hidup adalah teriakan-teriakan nadi pada zaman yang tak mau memberi kita ruang berlebih” jawab lelaki renta itu
“Begitukah ? Apakah itu bukan bisikan kecemburuan yang menguasai jiwa, tak sanggup terbaca lalu memilih berontak pada saat dan masa yang tak tepat ?”
“Tak tepat katamu ? Hey Nona, lihat sekelilingmu. Apa yang kau baca dari tanah ini ? Aku ragu apakah darahmu masih mendidih ketika kukatakan kau tak pantas menjadi anak tanah ini”
Perbincangan pagi, selepas embun meninggalkan dedaunan dan berpulang pada kedamaian hakikinya. Sri, gadis desa yang tumbuh meremaja dengan segenap kompleksitas tanah airnya. Tanah tempatnya mencium aroma surgawi setiap kali melihat hamparan laut yang bergerak mendayu-dayu. Saat ombak berarak dan berlari ke arahnya setiap kali dia datang di sisi pantai. Ketika kicau burung menyenandung syair semesta dalam dentuman impian yang menggunung. Manakala berjuta ingin membuncah untuk membawa keindahan tanah ini pada dunia diluar sana.
Da’iring, ia sangat mencintai desa itu. Terlahir dalam keluarga sederhana yang masih tergolong cukup untuk memberinya kesempatan mengenyam pendidikan hingga bangku universitas. Ini juga adalah sebuah perjuangan di tengah hiruk pikuk masyarakat yang lebih memilih untuk menikahkan anak gadis mereka di usia yang terlampau dini.
***

“Mau bagaimana lagi, Sri ? Aku tak punya pilihan lain”
“Kamu harus berjuang, Romlah. Nggak bisa menurut saja dengan kehendak-kehendak yang mengurung mimpimu. Aku sangat mengenalmu, bakatmu terlalu sayang untuk kau abaikan. Apa kamu mau terkurung di sangkar emas tanpa punya daya kreasi sedikitpun ?”
“Dulu, aku pernah berfikir hal yang sama denganmu. Namun kini ? Aku memang memilih menyerah. Kau lihat itu, debur ombak yang selalu berpadu dengan sunrise. Tempat ini terlalu berarti untuk kutinggalkan. Ada banyak amanah yang harus aku penuhi. Kadangkala hidup mengajak kita untuk berderma pada sesuatu yang tak kita inginkan. Tapi aku percaya pada suatu masa kelak, entah di dimensi waktu yang mana kita akan tersenyum dengan pilihan ini”
“Rom, jujurlah padaku. Apa kamu bahagia dengan pilihan ini ? Usia kita sangat dini untuk menjalani tanggungjawab sebesar itu. Apa kamu nggak iri dengan gadis-gadis diluar desa kita yang bisa dengan bebas menentukan nasibnya ? Apa kamu nggak ingin bisa melanglang buana hingga ke negeri Cina untuk masa depan yang cerah ? Apa kamu nggak …”
“Sri, cukup. Aku bilang cukup. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sunrise ini bukan lagi milikmu”
“Apa ? Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan ?”
“Aku bilang pergilah, pergi !. Aku sudah memilih dan kumohon jangan pernah mengusik apa yang aku lakukan. Kamu urus saja dirimu. Kulihat kamu juga nggak lebih membanggakannya dibanding aku. Apa kamu pernah bertanya pada orang tuamu, benarkah mereka bisa melepasmu seperti yang kamu inginkan itu ? Aku ragu”
Romlah berkata dengan sinis lalu ia pergi meninggalkan Sri sendiri. Dalam sunyi yang menghening, sunrise sedikit demi sedikit juga pergi. Terik mulai menyengat, namun Sri masih saja terpaku. Tempat ini tak pernah bisa ia lepaskan begitu saja. Disinilah ia selalu mengawali hari, bertemu dengan pelaku-pelaku hidup yang memberinya banyak ruang untuk belajar. Air matanya mengalir, ada gemuruh di dadanya sebagai tanda tak terima pada zaman.
“Aaaaaaggghhhhh”
Gadis itu berteriak memecah alam. Semesta bergidik mendengar seruan yang sungguh tak biasa. Kelembutan itu telah lenyap, sapa manis itu tak lagi tersirat di seraut wajah manis. Sri mematung, kelu dan beku melilit lidahnya. Asam lambungnya seakan mulai memuncak dan memuntahkan bara-bara hangat ketaksepakatan. Cintanya pada Da’iring tak  bisa dipungkiri tapi ia juga tak ingin memeluk Da’iring sepanjang hidupnya. Ada yang ingin dibaginya dengan dunia diluar sana. Da’iring serasa labirin yang menjerat dan membuatnya terkurung tanpa menemukan arah jalan pulang.
***


Bagaimana kelanjutan dari kisah ini ? Temukan jawabannya dalam buku 
CINTA : Kemarin, Esok dan Selamanya

Bisa dipesan dan dibeli dari sekarang 
Masih ada 5 cerita lainnya yang sangat menarik, mengharu biru dan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. So, tunggu apa lagi. Serbuuuuuuuu 

Berartinya sebuah “PEDULI”




    Untuk sebuah peduli, aksaraku menari
     Kalimat itu adalah tagline dari Blogku. Bukan sekedar kalimat tanpa arti yang hanya mengumbar kata. Kalimat itu adalah energi sekaligus mesin pengingat untukku betapa sebagai manusia kita adalah bagian dari manusia lainnya. Kalimat itu pula yang sering memberiku energi untuk tak pernah letih berbagi. Ada hak orang lain pada kesempurnaan yang kita miliki. Ada senyum mereka di kebahagiaan yang kita rasakan.
     Membaca salah satu catatan yang diposting oleh seorang sahabat dari Sampang, aku terharu. Sesuatu yang pernah aku dan beberapa sahabat lakukan yang bahkan hingga detik ini kami telah melupakannya, ternyata berdampak besar. Kurasa apa yang pernah kami berikan hanyalah secuil hal kecil.

     Satu tahun yang lalu dalam sebuah tajuk perjalanan “Bersama Berbagi Bahagia” ditemani oleh empat jiwa baik berhati indah, begitu sahabatku menyebutnya. Kami menyusuri empat kabupaten di Pulau Madura. Menyinggahi beberapa daerah pedalaman yang sama sekali sangat jauh dari angan kami kala itu. Pemandangan dahsyat disajikan Tuhan di setiap jejak yang kami lalui. Ada mutiara-mutiara terpendam yang sangat jauh dari publikasi. Ada hati-hati indah yang benderang namun tak tersentuh peradaban moderen. Di perkampungan yang sangat jauh dari kota dan berada di belakang pegunungan, kami berjumpa dengan seorang sahabat yang ternyata tanpa disadari telah lama mengagumi kami. Ah sungguh sempat tersanjung tapi segera kami berbenah hati. Tidak, kami hanyalah manusia biasa dengan segenap kesederhanaan hidup. Satu hal yang mengejutkan di pelosok itu ada bibit-bibit literasi. Mereka yang terbelenggu oleh keterbatasan namun tak pernah membelenggu gelora serta semangat menulisnya. Sumenep, sajian alam Maha Indah dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pada mereka, kami belajar bagaimana menghargai hidup dan menapakinya dengan lebih bijaksana. Pada mereka, kami coba kembali memahami betapa hidup akan sangat berarti ketika kita tak pernah tenggelam dalam kesedihan, keterbatasan dan terus meratap. Hidup akan memberikan ruang dan cahayanya ketika kita tak pernah menyerah untuk menyalakan dian semangat guna meraih mimpi. Impian yang seyogyanya milik semua orang, dan hanya akan menjadi milik mereka yang tak pernah kenal lelah untuk memperjuangkannya.

     Pada sebuah daerah di Sampang, malaikat-malaikat kecil kembali menyambut kami dengan riuh tawa khas. Gambaran masa yang memprihatinkan tapi tak memudarkan senyum diantara mereka. Sempat miris melihat kondisi sekolah yang sangat jauh dari kata layak. Bagaimana tidak, sekolah ini tak mempunyai perpustakaan padahal buku aalah sumber ilmu dalam proses belajar mengajar. Satu yang kusalutkan sebab dalam keterbelakangan seperti itu, mereka tak kenal menyerah untuk terus belajar. Dengan pakaian seadanya yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan seragam-seragam anak sekolah di kota, kadang tanpa sepatu, tapi melihat mereka berlarian menuju sekolah ini sungguh tak kuasa menahan sesak di dada. Setidaknya mereka mengerti, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari cara mereka mengejar mimpi.
     Berada di haapan mereka walau dalam waktu yang sebentar, sekedar berbincang mendengar keluh kesah serta berbagi pengalaman betapa kamipun pernah berada dalam situasi yang tak nyaman seperti itu. Keterbatasan, sekali lagi menjadi ancaman mematikan jika menyerang anak-anak yang mudah putus asa. Kepada mereka, kami berbagi bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mengejar impiannya, tapi tidak semua orang berani melakukan itu. Banyak yang memilih menyerah dan mundur sebelum berperang. Kalau kami bisa berdiri seperti apa yang mereka kagumi kini, maka merekapun harus percaya bahwa di masa datang merekalah yang akan berdiri seperti ini.

     “Kini, sekolah kami sudah punya perpustakaan”
     Kabar itu membuat aku dan sahabat lainnya sumringah. Ah, sungguh perjuangan kalian tak pernah sia-sia. Kini, perpustakaan itu bukan mimpi lagi bukan ? Sekarang kalian bisa mengejar segala ketertinggalan. Walaupun koleksinya belum sebanyak sekolah pada umumnya, tak perlu berkecil hati. Sebab aku percaya diluar sana masih banyak para sahabat yang bersedia untuk menyumbangkan buku-buku mereka dengan ikhlas.
     Menjadi bagian dari perubahan itu adalah anugerah. Tidak semua orang berkesempatan berada di dalamnya. Dulu, kami hanya melakukan itu tulus tanpa pernah berfikir apa yang akan terjadi di masa berikutnya. Bukankah hal baik yang kita lakukan kepada orang lain, tak semestinya diingati terus. Tak pernah disangka jika hal kecil akan berdampak besar di kemudian hari.

     Aku selalu percaya bahwa Tuhan sudah menitipkan kepedulian kepada setiap hati, ada yang mengambilnya tapi ada pula yang memilih melepaskannya. Peduli, mungkin kata biasa tapi ia menjadi sangat berarti ketika berada di hati yang tepat dan untuk hati yang tepat. Maka masihkah kita menutup mata, telinga dan kepekaan hanya karena keegoisan sebagai manusia.
     Marilah saling bergandengan, berpegangan tangan untuk mereka diluar sana yang membutuhkan uluran tangan. Merapatkan barisan untuk terus bergerak nyata. Masih banyak anak-anak di daerah pedalaman, pelosok-pelosok yang tak terjangkau yang sesungguhnya mempunyai hak sama seperti anak-anak lainnya. Mari saling merapatkan barisan untuk memberi warna pada jejak kehidupan yang memberi kita kesempatan berbuat lebih banyak untuk mereka. Percayalah, hatiku, hatimu bahkan hati-hati mereka diluar sana adalah hati terpilih. Maka masihkah kita tak peduli ?.


::: Pecinta Senja :::

Senin, 18 Februari 2013

Hidup Mengajarkan Kita Untuk Hidup





            Dalam bahagia, tawa leluasa hadir. Diantara riuh gemilang kemenangan, air mata bukan lagi kawan bercengkerama. Kita lena, beku dalam sorak yang melagu. Kita terbang, lupa untuk berpijak.
            Kala sentilan sesaat menyapa pelan, degup rasa bergerak hebat dalam ketakadilan yang dipertanyakan. Terlupa betapa Tuhan sedang ajarkan sebuah makna hakikinya hidup.

            Hati merana, menagih pertanggungjawaban zaman. Bagaimana bisa mempersalahkan segala kebisuan yang ada di sekitar. Lalu kemana selama ini jiwa bergerak. Mengapa tak pernah mencoba berterima kasih pada segenap kegetiran, bukankah dari sana segala mula penemuan makna itu.
            Kesedihan, rasa kehilangan, kesepian yang membelenggu sunyi adalah bahasa semesta yang sedang mangajak kita untuk mengerti betapa berharganya sebuah kebersamaan. Ketakberdayaan mengajarkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan. Tak layak kesombongan menjadi tunggangan makhluk bernama manusia di bumi ini.
            Sikap tak bersahabat, ketakpedulian dan tanggapan dingin yang menyudutkan kita pada satu fase merasa tak berarti sesungguhnya adalah cara hidup mengajarkan kita menjadi pribadi yang tegar dalam segala prasangka terbaik. Semestinya kita berterima kasih pada semua itu, bukan mengecamnya dengan air mata kesedihan.

            Hidup mengajarkan kita untuk hidup dengan lebih hidup.
            Memberi ruang untuk mengeja setiap makna dengan lebih bermakna
            Dan senantiasa tersenyum kepada segala peristiwa
Juga jiwa yang menoreh lara

            ::: Pecinta Senja :::

Minggu, 17 Februari 2013

JUST DO IT



Just Do It
[Begitulah Penulis Menulis]


Endang SSN

          




            “Bagaimana caranya menulis setelah lama nggak menulis ?”
            Sebuah pesan singkat datang tiba-tiba. Pertanyaan yang sama dan sering kuterima. Mau menulis, ya menulislah. Jangan menunggu waktu apalagi menundanya lagi hanya dengan alasan “Lalu apa yang akan aku tulis ?”.
            Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru membuat pena kita tak pernah bergerak. Mulai saja dengan hal yang ringan. Para penulis hebat diluar sana juga memulainya dengan cara yang sederhana, bukan langsung menjelma tulisan yang bestseller. Hal yang terpenting itu adalah kita punya keberanian untuk memulai. Bagaimana akan tahu hasilnya jika tak pernah mencoba.

            “Aku nggak punya ide untuk menulis”
            Kalimat seperti ini juga sering kita dengar bukan ?. Ide itu sebenarnya banyak. Ia ada di sekitar kita, hanya saja kita kurang peka melihatnya. Coba melihat sekeliling dengan hati. Belajar memahami hal sekecil apapun. Melihat dan mendengarlah dengan hati, maka peka itu perlahan akan kita miliki.
            Banyak para penulis yang memulai menulisnya dengan mengakrabi diari. Hal apa saja yang dialami dan dilewati di sepanjang hari itu selalu ia tuangkan dalam sebuah tulisan. Tak harus menjadi catatan panjang, satu paragrafpun akan menjadi awal yang baik. Bahkan ada beberapa orang penulis yang bersemboyan “Seburuk apapun hari yang kamu lalui, jangan pernah lupa untuk memberinya judul”.
             

            Menulis itu adalah terapi. Ia harus diasah dan dilatih setiap waktu. Ketika kita sampai pada kecintaan sesungguhnya maka kita akan merasakan betapa menulis tak pernah menjadi bagian dari sisa waktu semata. Kita akan sadar bahwa tak akan pernah ada alasan untuk tak menulis. Coba kita lihat penulis-penulis seperti Gola Gong, Dee, A. Fuadi, Habiburrahman atau bahkan JK Rowling. Mereka adalah orang yang juga sibuk dengan kiprahnya di bidang masing-masing juga keluarga dan anak-anaknya. Tapi apa mereka pernah mengeluh tak ada waktu untuk menulis ? Tidak. Pena mereka terus menari. Karya-karya mereka masih terus membanjiri toko buku. Dalam segala kesempatan, waktu bahkan kesempitan yang menghadang sekalipun. Menulis adalah cinta. Menulis adalah jiwa, maka tak lagi berlaku alasan-alasan yang justru hanya akan menenggelamkan impian kita.

            “Lalu bagaimana kalau tiba-tiba merasa jenuh dan benar-benar nggak bisa menulis”
            Jawabannya membacalah. Ada yang beranggapan bahwa penulis itu hanya menulis tapi tahukah betapa seorang penulis itu dituntut untuk membaca jauh lebih banyak dibandingkan para pembaca itu sendiri. Gola Gong pernah berkata dalam sebuah tulisannya “Penulis itu adalah orang yang paling sedikit tidurnya tapi paling banyak membacanya dibandingkan dengan yang lain”.
            Sebanyak apa kita menulis maka setidaknya sebanyak itu pula kita membaca. So, tak ada alasan untuk tidak menulis sekarang juga bukan ?.

          Just Do It … Now.

Sabtu, 09 Februari 2013

Surat Untuk Sahabat



            09 Februari 2013, langit Surabaya kembali terik. Meski mendung sempat menyapa di sisa embun pagi namun geliat semangat yang menyembul lewat sentuhan sang surya tak sanggup redup.
            Sahabat, ingatan itu kembali mengudara di sepanjang angan yang melebarkan kenangan. Saat beberapa waktu dulu kita pernah bersentuhan dalam sebuah kompetisi tingkat nasional ketika seragam putih merah menjadi identitas yang teguh kita pertahankan. Ego telah merengkuh kita pada putaran waktu untuk berjuang demi sekolah, kota juga nama baik provinsi. Ah, nyatanya sejak dulu kita telah digembleng untuk mengerti apa arti sebuah perjuangan.

            Sahabat, aku sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk belajar arti sebuah persahabatan. Nilai yang tak bisa kita pelajari dalam kurikulum manapun. Entah bagaimana mula dari segala keterikatan ini, yang kupahami tiba-tiba kita begitu dekat. Aku masih tersenyum kala ingat betapa di arena itu kita masih sepasang musuh bebuyutan. Aku dengan tegas membela nama Jawa Timur, sedangkan kamu harus berjuang sebagai wakil Sumatera Barat. Meski aku sempat memenangkan perlombaan itu namun toh aku juga akhirnya harus menyerah kalah dari Aceh. Hey, kamu masih ingat betapa kita tak menangisi kekalahan itu namun justru tertawa. Satu alasan yang kita inginkan sebenarnya, karena setelah lepas dari semua rutinitas yang mengharuskan kita melahap buku super tebal setiap hari, kita punya waktu untuk mencicipi indahnya jalan-jalan ke Blok M, Monas dan lainnya. Kamu tahu, boneka yang kubeli di pasar minggu sampai sekarang masih ada. Setiap kali melihatnya, memori itu kembali terpampang. Hadiah yang kudapat, karena bisa melaju ke babak semifinal plus iming-iming dari para pembimbing supaya mau terus belajar untuk pertandingan selanjutnya. Rasanya memang jadi takjub ya, betapa buku setebal itu kita nyaris hafal diluar kepala. Walaupun hasilnya tak seperti yang kita impikan tapi kupercaya kita sangat bangga kala itu karena bisa berhadapan langsung dengan Bapak Presiden dan beberapa menterinya. Hey, kamu ingat nggak, waktu itu ada beberapa artis yang mengisi acara saat penutupan lomba di TMII ? Duh rasanya senang banget bisa melihat mereka dari dekat. Namanya juga anak daerah ya, hehehe. 


            Sahabat, setelah waktu berakhir dan kita harus meninggalkan Asrama Pondok Gede Jakarta, rasanya ada yang hilang. Kembali ke daerah masing-masing dan bertemu lagi dengan rutinitas sebagai anak SD dengan segala masa kanak-kanak yang indah. Aku menjemput masa indah itu diantara para sahabat disini, begitu juga dengan dirimu. Tapi hal luar biasa yang kita jalani saat itu adalah kejaiban surat. Entah darimana ide itu datangnya. Aku bahkan sangat terkejut ketika menerima surat untuk pertamakalinya. Membaca tulisanmu satu persatu, seakan ada dunia baru. Mulai belajar merangkai kata untuk membalasnya walaupun sekedar menjawab pertanyaan yang kamu ajukan di surat itu. Dan kamu tahu, sejak saat itu aku merasa setiap hari penuh semangat. Ada sesuatu yang dinantikan, ada kabar yang ingin segera dibagikan.

            Waktu dan jarak sungguh tak menjadi penghalang bagi kita. Ketika seragam putih biru mulai tersemat di tubuh kita, kebiasaan berkirim surat itupun tak jua hilang. Bahkan hingga kita melewati masa SMU dan masa-masa sebagai mahasiswi. Sejauh itu, kita tak pernah bersua meski sekali. Bahkan kita bertekad untuk tak saling berkirim foto hingga ketika Tuhan memberikan kita waktu kelak untuk berjumpa, semua akan menjadi sesuatu yang sangat berarti dan indah. Sungguh tak pernah terbayangkan jika akhirnya kita akan berkecimpung di dunia yang sama, perbankan. Sama-sama lulus dengan predikat terbaik dan diterima bekerja pada waktu yang sama pula. Sayang, kita masih juga berjarak. BI telah merengkuhmu di ibukota. Permintaan yang kamu kirimkan untuk ditempatkan di Surabaya tak mendapat respon. Kecewa pernah kita rasakan kala itu tapi kembali pada awal yang kita mau, pasti Tuhan sedang merancang pertemuan yang indah suatu hari nanti. Aku dan kamu masih perlu bersabar sambil membayangkan seperti apa ya gadis padang yang pernah kutemui di Jakarta saat kanak-kanak dulu itu.

            Tahun 2011, akhirnya doa kita terjawab. Dunia menulis yang kutekuni sejak awal 2011 telah mengantarkanku pada gerbang yang sangat lama kita nantikan. Saat launching nasional salah satu buku yang memuat karyaku di Jakarta, saat itulah kita berkesempatan untuk bertemu. Ah, rasanya ingin tertawa. Sahabat pena yang aku tunggu selama bertahun-tahun ternyata sudah lewat di depanku berulangkali tapi kita tetap tak bertegur sapa. Bahkan aku masih ingat sewaktu Miny berbisik ada yang mencariku. Saat kita kembali bersalaman dengan menyebut nama masing-masing. Aku bersorak girang dalam syukur tiada tara. Sahabat pena, sahabat sejati yang selama ini tak pernah letih mengirimiku surat sekarang ada di hadapan. Kita larut dalam takjub akan kebesaranNya.

            09 Februari, aku tak pernah melupakan tanggal ini sejak pertamakali kita bertemu dan kamu menuliskan data tanggal lahir itu di buku pena kita. 

            Reska Prasetya, Selamat mengulang tanggal lahir. Segenap doa terbaik untukmu. Teruslah maju, sukses dan penuh berkah di usia yang tertapak. Jangan pernah menyerah dalam hidup yang memang tak mudah. Bahagiaku tak pernah putus untuk jiwamu yang telah bertemu pangeran impian dan membawamu untuk menggenapkan diennya serta anugerah bidadari mungil. Jadilah keluarga Samara, jangan pernah letih untuk terus bergerak walau dalam diam sekalipun.

            Res, surat-suratmu masih tersimpan utuh dan rapi disini. Kelak jika Tuhan mengijinkan pertemuan itu lagi, kita bernostalgia ya dengan tulisan dan kisah-kisah lucu masa kecil itu.

            Sahabat, terima kasih telah memberiku ruang istimewa dalam hidupmu. Semoga kisah persahabatan ini dapat kamu bagi pada dua malaikat kecilmu, suatu hari nanti.