Hari ini kembali sebuah pelajaran berharga
singgah di rapalan jejak yang kupunya. Pada lembaran baru di halaman yang tak
lagi terhitung, semesta mengajak satu sisi hati kembali mencumbui catatan raga.
Sukses adalah impian banyak orang. Aku,
kamu juga mereka diluar sana.
Tapi tak banyak orang yang mau berjuang menggapainya dari titik nol. Segala
yang diinginkan, mesti lekas terjadi. Padahal hidup bukanlah proses yang serba
instan. Sedikit sekali orang yang menghargai susah payahnya sebuah pencapaian
sebagai sebuah pelajaran maha indah yang kelak akan menjadi pembelajaran bagi
tunas-tunas kita.
Kali ini sengaja aku tak sarapan pagi di
rumah seperti biasanya. Salah satu alasan adalah rasa penasaran oleh cerita
salah seorang kawan yang mengatakan bahwa nasi pecel pincuk di stadion
Bangkalan itu enak banget. Menurutku pecel sih sama saja dimana-mana, yang
membedakan paling cuma cita rasa manis atau pedasnya saja. Karena tak hanya
satu orang yang memberikan testimoni maka tak ayal akupun tergelitik untuk
mencoba. Mungkin beberapa orang menganggapku ketinggalan zaman karena hari ini
adalah untuk pertamakalinya aku mencicipi nasi pecel pincuk itu. Tanpa membuang
waktu, kami segera meluncur ke stadion. Jam begini sudah sepi. Ada ketakutan jangan-jangan nasi pecelnya
sudah habis. Hmm, benar saja, si penjual bilang mungkin kalau untuk 6 orang
masih bisa. Pas deh, dengan 4 bungkus titipan kawan lainnya.
Suasana disini memang nyaman. Sejuk dengan
pemandangan yang asri. Menikmati makanan sederhana seperti ini diselingi senda
gurau para pengunjung adalah keadaan yang sejenak bisa merehatkan pikiran dari
kesibukan di kantor.
“Pasti
deh mulai wawancara”
Aku selalu geli setiap kali mendengar
kalimat ini. Sudah menjadi kebiasaan saat bertemu orang-orang seperti mereka,
aku tak hanya menikmati menu yang tersaji tapi juga mengajak si penjual
ngobrol. Karena aku selalu yakin, akan ada pelajaran berharga yang bisa kita
dapatkan dan kita tak pernah tahu darimana itu akan datang.
Bapak Ahmad, mungkin bisa dikatakan salah
satu orang yang sukses dengan usahanya. Tapi dibalik semua itu dia adalah
pejuang hidup yang keras dan tangguh.
“Sudah lama berjualan seperti ini, Pak ?”
“Belum terlalu lama, Neng”
“Hmm kenapa memilih nasi pecel pincuk ?”
“Ceritanya panjang. Dulu bapak kerja di
perusahaan yang ada di Jakarta.
Cukup sukses sih karena sampai menduduki salah satu posisi penting. Tapi
kemudian kolaps dan bangkrut”
“Terus ?”
“Bapak pulang kembali kesini. Jadi
pengangguran dan hanya berjualan sticker
kecil-kecilan. Yang beli juga anak-anak SD. Kehidupan masih tetap, tak berubah
padahal anak-anak sudah mulai sekolah. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk
makan saja susah. Sampai akhirnya bapak berdiskusi sama istri untuk buka usaha
saja. Dengan pinjaman modal, akhirnya kami sepakat untuk menjual nasi pecel
pincuk. Awalnya ide itu datang dari obrolan beberapa teman. Setiap kali mereka
datang kesini selalu tanya nasi pecel yang enak itu dimana, harganya berapa.
Rata-rata kan
Rp 9000 lalu bapak bilang, ya sudah Rp 5000 saja beli di aku”
“Lalu mulailah mencari tempat. Dengan
sepeda motor butut akhirnya kami harus mengangkut barang-barang dari rumah ke
stadion. Kami memilih menjualnya malam hari. Spekulasi juga sih mana ada orang
yang mau makan nasi pecel malam-malam. Tapi segala sesuatu kalau belum dicoba
nggak akan tahu hasilnya seperti apa. Sebenarnya kita hanya butuh keberanian
untuk mengambil resiko, itu saja. Tapi bapak percaya bahwa jika kita berikhtiar
dengan benar maka Tuhan sudah menyiapkan jalannya. Sungguh saat itu bapak
benar-benar sudah mengesampingkan segala rasa malu. Walaupun dulu pernah
mengenakan dasi seperti orang-orang kantoran itu dan kini banting setir seperti
ini, rasanya nggak ada yang salah. Yang salah hanya mereka yang tak pernah
berani untuk bangkit ketika terjatuh. Hidup nggak selamanya manis. Kalau kita
tak pernah merasakan keadaan seperti ini mungkin kita tak akan pernah bisa
belajar selamanya. Kehancuran yang lebih besar tentu saja akan menghampiri
kita”
“Hmm, pencapaiannya seperti apa setelah
menjalani semua itu ?”
“Bapak nggak pernah mengira, Neng. Tuhan
menjawab segala kerja keras dan semangat tak kenal menyerah itu dengan cara
yang indah. Bayangkan saja mana ada nasi pecel yang harus mengantri dengan
pakai nomor untuk membelinya. Macam mau menabung di bank Neng saja ya”
Aku tertawa bersama sinar matanya yang
masih penuh dengan semangat. Aku memasuki sebuah ranah baru, tentang hidup yang
harus dihadapi apapun keadaannya. Letih, lelah, perih dan air mata adalah kegetiran
yang telah dijadikan obat paling mujarab oleh Pak Ahmad untuk bangkit dan
menemukan keberhasilannya. Masihkah kita memasung hati dan jiwa dalam tangis
yang berdarah-darah hanya karena sentilan sesaat, masihkan kita mencemburui
manisnya hidup yang dimiliki orang lain padahal Tuhan sedang memberikan ruang
yang jauh lebih indah andai saja kita tetap pada prasangka terbaik untukNya
serta berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.
“Neng pasti nggak percaya, bonus apa yang
sudah Tuhan berikan dengan cara yang sangat indah ?”
“Apa ?”
Dia menunjuk pada sebuah kendaraan roda 4
yang diparkir di sebelah kanan dari tempatnya berjualan. Aku berjalan mendekati
kendaraan itu dan tersenyum ketika sebuah banner
juga sudah terpasang disana. Kemajuan yang luar biasa. Dan semua itu hanya ia
dapatkan dalam jangka waktu 8 bulan saja. Subhanallah,
kado yang indah. Hanya orang-orang yang mau bangkit, tak meratapi keterpurukan
lalu mengumpulkan semangat untuk berjuang. Hidup tidak mudah tapi akan menjadi
indah jika kita mengerti bagaimana untuk hidup, sesungguhnya.
Bertemu dengan Pak Ahmad pagi ini adalah
anugerah yang pantas kusyukuri. Tak semua orang berkesempatan mendengar
pelajaran hidup yang demikian berarti.
Kepada Pak Ahmad dan orang-orang diluar
sana yang tetap bersahaja dalam kesederhanaan, yang selalu berbaik sangka pada
Tuhan, yang tak lupa berterimakasih pada segala kegetiran hidup serta yang tak
kenal kata gengsi walau harus kembali memulai hidup dari nol, kepada merekalah
kita harus belajar. Tentang perjuangan, pemaknaan air mata juga indahnya
senyum.
Akan selalu ada pelangi, selepas hujan
Jadi jangan pernah menyerah
Walau
air mata akan menjadi bagian cerita
Karena
hidup lebih berwarna dengan perjuangan
Mereka
bisa, kita juga bisa