Kamis, 08 Agustus 2013

Pelarian Cinta Sang Duffytic



            Love is blind, ungkapan manis yang layak disematkan di pundak Tiffany. Kalimat sakral yang kerap menuai aksi protes dari para pelakunya. Sayang, walaupun mengajukan berbagai argumentasi tetapi sikap yang nyata terpampang di depan mata adalah bukti halus yang tak sanggup disangkal kebenarannya. Pada nasihat yang tak jemu menghampiri, Tiffany masih saja bergeming.
            “Tif, cobalah kamu gunakan nalar! Gimana bisa? Kamu ngejar cowok yang kamu kenal belum genap sebulan lamanya?” tanya Tamara.
            “Ada yang salah? Bukankah kamu sendiri yang bilang? Cinta nggak pernah bisa direncanakan kapan akan datang dan pada hati yang mana ia berlabuh,” jawab Tiffany.
            “Tapi bukan begini caranya,” tegas Tamara.
            “Ah, udahlah! Aku tahu kamu nggak suka aku dekat dengan Duffy, karena kamu juga punya rasa yang sama. Namun sayangnya dia lebih milih aku dibanding kamu. Sadar deh, Tam!” bentak Tiffany.
            “Tif, aku nggak pernah berpikiran sepicik itu. Kamu itu sahabatku, gimana bisa? Aku ngehancurin kebahagiaan kamu. Masalahnya …” ujar Tamara cekat.
            “Tam, stop mengatur hidupku! Jangan pernah ikut campur! Aku juga butuh privacy!” hardik Tiffany.
            “Apa? Privacy katamu? Sejak kapan? Kamu membatasi hidup dalam dinding bernama privacy. Tif, jatuh cinta pada Duffy bukan hal yang salah, tapi akan menjadi keliru karena kamu sudah memiliki Antoni. Aku nggak ingin ada yang terluka diantara kalian, itu saja. Aku hanya peduli! Bukan gengsi apalagi benci,” jelas Tamara.
            Tamara bergegas meninggalkan Tiffany di sudut taman. Ada belati yang seakan menusuk ketika mendengar bantahan Tiffany. Ia sungguh merasa bersalah karena telah mengenalkan Tiffany pada Duffy. Jalan yang tak pernah ingin Tamara lihat akan seperti apa ujungnya kelak.
            ***

            “Kamu nggak sedang bercanda kan, Tif?” tanya Duffy heran.
            “Duffy, percaya deh! Aku sendiri nggak ngerti kenapa seperti ini. Ada rasa nyaman bila di dekatmu, tenang setiap kali berbincang denganmu dan detak yang ada di hatiku berbeda dari apa yang aku alami selama ini,” papar Tiffany.
            “Bukankah kamu pernah cerita udah punya pacar yang saat ini sedang bertugas di Sulawesi? Lalu gimana dengan dia? Kamu akan menduakannya denganku?” tanya Duffy.
            Tiffany terhenyak. Sesaat bayangan Antoni muncul di pelupuk matanya. Senyum yang selama ini membuatnya begitu tergila. Namun kehadiran Duffy telah memberi ruang tersendiri di hatinya. Ia tak rela jika harus melepaskan lelaki itu kepada perempuan lain.
            Bukan berambisi memiliki keduanya namun Tiffany sungguh tak bisa melepaskan dua arjuna yang telah mengisi hidupnya dalam nuansa bahagia yang tak sama.
            “Tapi aku suka kamu, Duf. Aku sangat sayang sama kamu,” rengek Tiffany.
            Duffy menghela napas panjang, ada beban yang memberatinya. Tersudut pada satu kenyataan yang sebenarnya tak bisa ia maafkan sebagai seorang lelaki. Tapi rasa yang melagu di hatinya mengajak dia berdamai dalam satu penerimaan tanpa rasa sakit. Selain hanya cemburu yang kadang singgah setiap kali melihat Tiffany tengah peduli pada Antoni.
            Okey,” jawab Duffy datar dan singkat.
            Tiffany memandang Duffy dengan rasa heran. Ia sama sekali tak bisa menerka jawaban seperti apa yang sedang dilontarkan oleh lelaki yang dikaguminya itu.
            “Maksud kamu? Okey?” selidik Tiffany.
            “Hehehe Tif, kamu lucu banget sih kalau sedang bingung begitu,” goda Duffy.
            “Duf, aku sedang nggak ingin bercanda nih. Maksud kamu apa sih?” tanya Tiffany.
            Duffy beringsut mendekat ke arah Tiffany lalu dengan lembut dipegangnya tangan gadis itu. Cinta, kembali memainkan peran dengan sangat baik. Dalam keadaan yang terbilang tak mungkin sekalipun, cinta masih bisa berbicara atas nama cinta.
            “Kita jalani ya apa yang saat ini kita rasakan. Aku tahu ada satu hati lain yang memiliki hatimu. Namun aku juga tak bisa membohongi diriku. Aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan,” tegas Duffy.
            “Hah? Duf, aku nggak sedang bermimpi bukan? Kamu mau pacaran dengan aku?” tanya Tiffany.
            Duffy mengangguk. Dilihatnya binar indah menari-nari di sepasang mata Tiffany.
            ***
           
            Langit menjanjikan malam dalam kemegahan semesta. Senyum sang bintang tak henti menghadiahi temaram sebentuk cahaya. Gulita bergerak menjelma pelita. Degup rindu berayun lirih dan berbisik mesra.
            Bayangan Tiffany dengan lesung pipit dan sikap manjanya membuat Duffy terhenyak. Ia sungguh tak pernah mengira akan terjebak dalam permainan cinta rumit yang justru sangat ia nikmati. Terbersit sekalipun tak pernah ada dalam benaknya.
            “Dia sangat menggilaimu. Aku saja heran, Duf. Padahal dia udah punya Antoni tapi gimana bisa? Masih menginginkanmu. Hmm, Duffytic,” kata Tamara.
            Teringat kalimat yang pernah dikatakan oleh Tamara. Rasa heran mungkin bukan saja menjadi milik Tamara tapi juga dirinya. Namun ia masih tak menemukan jawaban itu. Duffytic, adalah istilah yang diberikan oleh Tamara untuk perempuan-perempuan yang tergila-gila kepada Duffy.
Duffy mematut dirinya di cermin. Mencoba meneliti satu persatu apa yang membuat perempuan-perempuan seperti Tiffany menjadi demikian suka padanya. Kesederhanaan yang jauh dari kata glamour adalah kesehariannya. Tapi di zaman seperti ini mana ada yang mau menerima itu. Ia juga bukan ukuran otak yang jenius walau bisa memecahkan persoalan-persoalan rumit. Perlengkapan pribadinya belum bisa dibanggakan selain hanya motor butut yang mengantarkannya ke tempat kerja setiap hari.
            “Lalu aku harus bagaimana, Tam? Menghindar dari Tiffany dan perempuan-perempuan itu?” balas Duffy.
            “Nggak juga sih, Duf. Aku juga bingung. Kamu syukuri aja mungkin,” jawab Tamara.   
            Duffy tersenyum mendengar perkataan Tamara di akhir perbincangan mereka. Bersyukur, ya mungkin itulah yang cukup bijak ia lakukan saat ini. Menjalani anugerah pertemuannya dengan Tiffany dalam bahagia saja.
            ***

            “Duf, ayo sarapan dulu! Ibu udah menyiapkan nasi goreng kesukaan kalian,” kata ibu Tiffany.
            Bu Maria, ibunda sang kekasih dengan penuh kasih sayang memperlakukan dia layaknya anak sendiri. Duffy merasa menemukan keluarga yang selama ini begitu hambar dia rasakan. Terpisah jauh dari keluarga demi mengejar cita masa depan adalah sebuah perjuangan yang tak mudah. Kadang rasa rindu memenjarakannya dengan sangat egois, tak memberi sedikit kesempatan untuk berdamai.
            “Lho kok malah bengong. Ayo nggak usah sungkan-sungkan! Anggap saja di rumah sendiri! Anggap kami ini seperti kedua orang tuamu saja!” pinta Bu Maria.
            “Hehehe apalagi ayah nggak punya anak laki-laki,” sambung ayah Tiffany.
            “Terima kasih,” jawab Duffy.
            Kalimat manis itu tiba-tiba meluncur dari bibir Duffy yang mulai kelu. Lisannya seolah mengatup dalam bisu. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan sangat istimewa. Diduakan dengan Antoni, kini bukan lagi alasan yang ia persoalkan. Apalagi kedekatan keluarga besar Tiffany dengan dirinya menjadi poin penting yang tak bisa dilawan.
            ***
           
            Waktu dan jarak adalah keramat yang menjadi alasan untuk sebuah keputusan maha penting dalam hidup juga kelangsungan sebuah hubungan. Seringkali detak yang serupa memilih menyerah pada detik hanya karena terperdaya oleh kilometer yang terukur. Bahagia akan teruji, ketika masa memberi ruang pada dua hati untuk menganalisa sekali lagi makna sebuah rasa.
            “Apa? Tidaaaaaakkkkk!!!”
            Tiffany menjerit histeris. Air matanya bersimbah seiring ratapan pilu yang menyayat kalbu. Tiga ratus enam puluh lima hari bukan bilangan yang sebentar. Kehadiran Duffy telah menyihir hari-harinya menjadi energi tersendiri.
            Ada dentum gelora semangat yang membuatnya bangkit dari setiap kegagalan yang ada. Semua karena lelaki berparas menawan itu. Lalu kini selembar keputusan dari tempatnya bekerja membuat Duffy memilih jalan untuk mengakhiri semuanya.
            “Nggak Duf, aku nggak mau kita putus! Nggak mau, aku nggak mau!”
            “Tif, aku nggak mungkin menjalani hubungan ini lagi. Kota dingin ini sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan bagiku. Jarak kita memang masih dalam bentangan yang terjangkau namun aku bukan pribadi yang bisa bertahan pada Long Distance Relationship. Jarak hanya pemanis sesaat karena setelah itu dua hati nggak akan pernah bisa beradu dalam cawan yang sama. Seperti halnya kamu dan Antoni,” jelas Duffy.
            “Kami bisa dan kamu tahu sendiri bukan kalau sampai saat ini Antoni masih bisa bertahan dalam kesetiaannya padaku,” terang Tiffany.
            “Tapi kamu tidak!” bentak Duffy.
            Tiffany terhenyak mendengar ultimatum dari Duffy. Gadis itu menunduk dan terus terisak. Air mata masih menghangati ranum pipinya. Duffy memilih bungkam dalam diamnya sebab ia mengerti saat ini hati mereka sama-sama tersakiti. Lubang yang mereka ciptakan sendiri sejak mula, sesungguhnya. Pasrah pada takdir, merengkuh nafas cinta yang masih terserak di pelataran taman hati.
            ***

            Duffy berhenti di sebuah taman kota Malang. Sebentar lagi ia akan meninggalkan kota yang selama dua tahun ini telah memberinya warna warni hidup. Keputusan telah dibuat, tak ada yang harus ia pertanyakan dalam kesepakatan hidupnya.
            Secarik kertas dibukanya. Dipandanginya berlama-lama tulisan yang tertera.
            Menugaskan Saudara Duffy Satriawan sebagai supervisor di area wilayah Surabaya. Terhitung mulai tanggal 01 Juli 2011.
            Kalimat itu sangat tegas tanpa penolakan. Ada dilema yang menyerangnya. Bertahan dengan jabatan yang sekarang namun tetap bahagia dengan Tiffany atau mengejar impian yang telah lama tergadaikan.
            Ketika segalanya telah nyata di hadapan, masihkah menolak segenap anugerah yang belum tentu akan menghampirinya kembali di masa yang akan datang? Tak ada jalan lain! Melepaskan juga butuh keikhlasan seperti halnya sebuah penerimaan.
            Degup luruh diantara daun-daun yang berguguran. Permintaan maafnya pada seluruh keluarga besar Tiffany masih menyisakan kepedihan. Tapi tekad Duffy telah bulat, ia harus segera mengejar impiannya di kota pahlawan.
            Langkahnya bergegas meninggalkan taman kota. Dalam geliat aroma kota dingin untuk terakhir kalinya.
            “Duf,” panggil Tiffany.
            Sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Duffy menoleh dalam ragu. Seorang gadis tampak berjalan mendekat.
            “Tif, maaf. Aku benar-benar minta maaf,” jawab Duffy.
            “Terima kasih untuk hari-hari yang indah. Bagiku semua sangat berarti. Bukan tentang singkatnya waktu, bukan pula jalan kita yang mungkin keliru atau perasaan yang terlalu memilih tapi aku bahagia bisa mengenalmu, Duf. Selamat jalan. Semoga kamu bahagia dan menggapai semua mimpi itu,” kata Tiffany.
            Tiffany segera beranjak meninggalkan Duffy, sebelum lelaki itu memberi jawaban. Tiba-tiba Duffy terhenyak ketika dirasakannya sebuah kertas telah ada di genggaman.
            Duf, terima kasih telah membantuku untuk memilih dan menemukan pelarian cinta. Mungkin, Antonilah dermagaku. Tempat untuk tinggal dan menetap. Datanglah ke hari bahagia kami, aku tunggu.
            “Tiffany, aku …”
            Duffy merasakan sesak yang dalam. Hatinya telah berlubang, sakit. Sungguh, sangat sakit.
 ***









Tidak ada komentar: