Kamis, 08 Agustus 2013

KIDUNG SATU DETAK




          Kirana berlari tanpa peduli. Ia terus saja bergerak mendekat di ujung hari yang lambat memenjara waktu dalam air mata tanpa bahasa.
            “Aaaaghhh …” teriaknya hebat.
            Deru ombak sisi Parangkusumo berayun gemulai seiring lekukan hari yang kian senja. Merah saga diantara lipatan jingga semakin meredup. Detak beradu, menderu pilu. Sayat-sayat lara tak lagi sanggup ia tahan. Meski ragu sesaat tegakkan dirinya dalam genggam tanya yang tak jua pasti menemukan jawab.
            “Udahlah Kiran! Kamu nggak perlu menunggu lagi! Semua hanya semu yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana bisa? Satu hati membuka ruang dua rasa yang tak sama. Walau pun atas nama cinta, dalam bahasa berbeda. Kamu bodoh! Sangat bodoh! Hanya perempuan yang nggak ngerti gimana mencintai cinta yang menakar penantian sebagai kepastian di suatu hari nanti,” kata Artur.
            Kirana mendesah. Terngiang kembali percakapannya dengan Artur beberapa waktu lalu. Sahabat yang sangat mengenalnya selayak saudara sedarah. Orang yang diharapkannya mengerti posisi tersulitnya kini namun justru menjadi bagian dari orang-orang yang menghujat keputusannya.
            Jiwa yang ia andalkan untuk memahaminya dalam kacamata berbeda malah menjadi bagian dari orang yang menyudutkannya di gerbang kesalahan. Apa yang salah dengan sebuah penantian? Mengapa banyak hati yang memilih melepaskan dalam keikhlasan terbata? Kenapa rindu yang ia agungkan justru dinilai sebagai jeruji semu yang tak punya harga? Kirana sesak dalam kelu.
             ***
           
            “Kiran, tahu nggak? Semalam aku dapat email dari Shinta. Kamu masih ingat nggak dengan dia?” tanya Bagas.
            “Shinta, teman SMU kita yang dapat beasiswa kuliah ke Jepang itu?” selidik Kirana.
            Bagas mengangguk sambil tersenyum penuh sipu. Kirana menangkap ada yang berbeda dalam nada suara Bagas saat membicarakan Shinta. Wajahnya yang bersemu merah tak bisa ia tutupi.
            “Ada apa dengan dia?” tanya Kirana penasaran.
            “Hmm, dia cerita tentang keadaan disana. Kampus juga kultur mahasiswa di Jepang sangat berbeda dengan kita disini katanya. Nyaris mereka nggak ada waktu untuk santai. Setiap menit sangat berarti. Sekali saja lengah maka akan tertinggal di belakang. Awalnya Shinta merasa berat, namun setelah dua tahun disana dia sudah terbiasa dengan ritme baru itu. Oh ya, dia jadi salah satu mahasiswa teladan yang dapat penghargaan bergengsi beberapa waktu lalu. Kita patut bangga sebagai temannya,” papar Bagas.
            “Oh gitu,” balas Kirana datar.
            “Kamu kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” ucap Bagas.
            “Apa?” seru Kirana.
            Kirana merasa tak enak karena Bagas menangkap perubahan sikapnya.
            “Nggak ada apa-apa kok. Mungkin aku terlalu capek aja seharian ini praktikum di laboratorium terus. Aku pulang dulu ya,” jawab Kirana lekas.
            “Kirana, tunggu!” teriak Bagas.
            Bagas mengejar Kirana yang semakin mempercepat langkahnya. Entah mengapa Kirana merasakan bahwa Bagas hendak memberitahunya sesuatu dan itu tak pernah ingin ia dengar. Caranya bercerita serta senyum tak pernah lepas setiap kali menyebut nama Shinta adalah mimpi buruk yang seharusnya akan hilang saat membuka mata.
            Sebuah sentuhan lembut di tangannya membuat Kirana terpaksa berhenti. Degup memacu tak menentu. Ada lara yang menyerang tiba-tiba dan semua itu ia sembunyikan dibalik bahasa tubuh tak bersahabat.
            “Kirana, aku belum selesai. Ada yang harus kamu tahu!” tegas Bagas.
            “Apa, Gas?” jawab Kirana.
            “Shinta sempat bilang kalau selama tiga tahun di SMU dia menaruh rasa padaku dan tadi malam dengan segenap kejujuran ia ungkapkan semua itu. Aku harus gimana, Kiran? Apa yang harus aku katakan pada dia?” tanya Bagas.
            “Apa?” teriak Kirana.
            Apa yang selama ini ia takutkan sungguh menjadi nyata. Waktu telah lebih dulu memberi Shinta kesempatan untuk mengungkapkan rasa. Sementara dia, hanya sanggup menepikan rasa itu di sebuah ruang sepi. Atas satu alasan, tak ingin Bagas pergi menjauh saat semua telah ia ungkapkan. Kadangkala menari dalam cinta sendiri jauh lebih leluasa dibanding ungkapan rasa.
            “Gas, kamu sayang sama dia?” balas Kirana lemah.
            Pertanyaan lirih itu terasa sebagai beban berat. Kirana mengalihkan pandangnya ke arah taman kampus.
            Menapak jejak di UGM dengan Bagas adalah kebanggaan tersendiri yang sangat senang ia bagi kepada khalayak. Namun ia tak pernah mengira jika dua tahun terlalu sebentar bagi sang waktu untuk membaca rasa.
            “Aku nggak tahu. Aku ngerasa nyaman saat ada di dekatnya. Lalu ketika dia jauh, aku ngerasakan rindu. Apa itu namanya cinta?” jelas Bagas.
            “Mungkin,” jawab Kirana.
            “Maksud kamu?” selidik Bagas.
            “Cinta sulit untuk dimengerti. Kadang logika menjadi demikian terbatas untuk menterjemahkannya. Urusan hati, siapa yang sanggup menerka?” tegas Kirana.
             ***
           
            Kirana termenung di ujung malam. Suara gemericik gerimis yang menyentuh bumi seolah kidung hati sang pecinta. Langit tak bersahabat, dalam jejak pilu kembara hatinya yang menanti selama lima tahun. Masihkah waktu menguji batas setianya kembali?
            Ia mematut hati di depan monitor. Lalu dalam hitungan detik, jemarinya telah lincah menuliskan kata-kata.
            Satu detak lirih menyapa sejak mula
            Degup rasa terbaca demikian rupa
            Sapa tak sanggup diterjemahkan lebih dari biasa
            Ketika hatimu menyuruh rinduku menepi
            Aku diam tak peduli dan masih menanti
            Pilu bermisteri di siluet hati
            ***

            “Kenapa kamu harus menangis jika cinta tak berpamrih? Mengapa merasa pilu jika tulus adalah energi hatimu? Aku tak tahu! Bagaimana hatimu menterjemahkan penantian? Jika gundah yang menggeliat hanya beri semu, lalu untuk apa kamu memilih menanti kembali? Kiran, Bagas hanya punya satu hati. Ia tak mungkin membangun dua ruang rasa disana. Saat titah cinta memilih Shinta, maka kamu tak punya pilihan selain pulang dari hatinya,” ucap Artur.
            “Aku tahu semua menjadi demikian tak tersentuh. Tapi jika dia bisa menilai penantian Shinta selama tiga tahun, bagaimana dia tak membaca penantianku selama lima tahun?” bantah Kirana.
            “Sebenarnya cinta itu sederhana. Saat kamu meyakini satu detak, maka biarkan kidung rasa itu bernyanyi dengan merdu. Tak perlu membuatnya bersembunyi diblik label persahabatan. Gimana Bagas akan ngerti? Jika kamu sendiri nggak pernah ngasih kesempatan kepada hatimu untuk mengatakan itu. Bahasa cinta itu sederhana.”
            Kirana menghela napas panjang. Ada beban yang menyanggah lalu menyeruak lara di sekerat hatinya. Ia tunduk pada pilu yang tersenyum simpul. Taman Pelangi sore ini penuh energi. Sementara jingga mulai menampakkan diri perlahan.
            “Hai, Kiran! Langit yang indah ya?” seru Bagas.
            “Bagas, ngagetin aja deh,” gerutu Kirana.
            “Lagi bahagia ya?” goda Bagas centil.
            “Kamu juga lagi bahagia bukan?” balas Kirana.
            Bagas tersenyum lalu melemparkan pandangnya ke arah senja. Keduanya diam, beku dalam kelu.
            “Aku bahagia bisa merasakan detak ini, saat bersamamu. Tak peduli bagaimana ia memainkan melodinya, namun yang kutahu aku menemukan ujung rindu itu di sisimu,” bisik Bagas dalam hati.
            “Aku bahagia, sungguh bahagia. Mendengar degup di satu detak yang selama ini masih terus menantimu. Aku akan tetap menanti, masih menanti. Meski pun waktu tengah memberiku kisah tentangmu dan Shinta. Ah, detik masih saja mencandaiku dengan genit,” Kirana berkata dalam kalbu.

            Senja merona jingga. Aroma malam segera berganti peran. Satu detak utuh melagu di segumpal senyum sang pecinta. Dua hati yang serasi, saling memuji dalam doa rahasia. Gerimis bertanya, mengapa tak menyatu saja? Mereka menunggu! Saling menunggu! Jawab sang pelangi. 
            Begitulah rindu berkisah!
            ***


           

Tidak ada komentar: