Senin, 25 Januari 2016

COKELATNYA JANUARI

(Sebuah Catatan Pecinta Cokelat)

Part 2

Jadilah bagian dari indahnya kebersamaan!

21 Januariku masih selalu semanis cokelat. Hal berbeda di tahun ini. Kejutan untuk orang yang selalu memberi kejutan ternyata jauh lebih riuh. Tidak biasanya. Ya, aku merasa ini bukan hal biasa. Setelah bertahun-tahun lamanya selalu bisa lolos dari rencana-rencana miring saat ultah. Tahun ini entah kenapa terbilang lengah. Kurang peka membaca situasi. But I Like It.

Tetiba tepukan gemuruh mengiringi pagi yang cerah selepas doa pagi. Lagu Happy Birthday disusul tart mungil bertabur cherry dan jeruk melengkapi kejutan yang indah. Hei! Terima kasih!

"Malam ini dinner  diluar ya?" Tanya  kekasih halal.
Aku menurut saja. Secara jarang-jarang kami bisa full time dengan suasana romantis. Meski tak setiap waktu tapi menghargai dan mengapresiasi momen-momen kecil yang ada dalam hidup kami adalah bumbu renyah falam sebuah hubungan. Tapi kenapa dia tak jua bergegas? Hingga akhirnya sebuah salam menghampiri kami seiring gemericik gerimis yang masih setia seharian.
"Lho bareng siapa?" Tanyaku.
Rizki Amalia, sahabatku itu hanya tersenyum. Bodohnya aku, tidak curiva sama sekali. Padahal dia membawa kue yang cukup besar, diantara guyuran hujan tapi tidak basah-basaham. Obrolan pun mengalir seputa kejadian pagi tadi di kantor.

Hari ini, hari yang kau tunggu
Tambah satu tahun usiamu
Bahagialah selalu ...

Aneh, baru kali ini ada pengamen pakai keroyokan nyanyi. Biasanya paling banyak cuma 3 orang.
Taraaaa ...
Ah, terharu. Tidak pernah menyangka sama sekali. Semua teman-teman dekat berkumpul dan melakukan penggrebekan di hari ulang tahunku. Entah bahasa apa yang pantas? Ketika melihat beberapa dari mereka masih terlihat berbasah-basahan karena harus menerobos hujan. Jarak yang cukup jauh sungguh tak mengurangi abadinya momen ini. Guys, terima kasih. Sungguh-sungguh terima kasih.

"Banyak yang nggak bisa dateng karena benar-benar terjebak hujan. Tapi semua menitipkan doa. Semoga selalu panjang umur, sehat, sukses."
Tuhan, bahagia ini sungguh nyata. Bukan karena kue bertabur cokelat, bukan sebab siraman keju yang super yummy. Bukan butiran-butiran kado yang menghujaniku. Namun kehadiran mereka semua adalah energi luar biasa yang menyalakan kembali kerling-kerling mimpi. Rangkulan hangat berbalut doa-doa yang melangit telah menguatkan perjalanan ini.
Sahabat ... Terima kasih telah menemani langkah kecil menuju bahagia. Saling menguatkan jemari dalam genggaman hangat.

Terima kasih untuk Rizki Amalia (Kejutan pembuka yang unik), Dennys Medya Putri, Hikmah Zuraini, Eva Rohmatul Laili, Satria Pradjantara (Hei! Persahabatan kita masih awet ya sampai hari ini hehehe), Novayana Kharisma (Thanks Pak Ketum untuk nada-nadanya), Lukman Dwi Eka Nanta (Tambah ndut ajah gegara ngabisin black forestku), Zemroni (Ah, sukses buat ide kreatifnya), Iman Khadafi (Thanks sudah meluangkan waktu meski Mama Ori lagi ultah juga), Erfan Effendi (Terima kasih sudah berkumpul dan memberi tumpangan untuk teman-teman lainnya), Wahyu Dwi Prasetyo (Akhirnya, setelah seharian menahan napas untuk bungkam).

Special Thanks to Arief Budiman (Cokelatnya enak banget, hehehe. Fotonya sukaaaaaaa banget), Cahya Nusantara (Makasih meski belum sempat kumpul) dan Bapak Rauf Efendy (Thanks).

And finally ...
HAPPY  BORNDAY 
E.N.D.A.N.G  -  S.S.N

Jumat, 22 Januari 2016

COKELATNYA JANUARI


(Sebuah Catatan Pecinta Cokelat) 

#Part

21 Januari 2016 
Mengulang kembali tanggal ini di tahun berbeda, masih selalu menjadi hal indah untuk dijamah. Pada kesederhanaan, ada banyak cerita yang membuat lidah kelu. Tuhan selalu memberi ruang yang baik bagi tiap diri untuk menterjemahkan apa yang telah dilewati. 

Tahun ini, seorang pangeran telah Tuhan kirimkan dalam ikatan suci sebagai jawaban dari pencarian panjang. Tentu saja semua menjadi berbeda, meski aku tahu kami sama-sama merasa bukanlah orang yang romantis. Anehnya, satu sama lain saling merasa apa yang diberikan meski hanya perhatian kecil, yang mungkin buat orang lain hal sepele, tapi kami merasa justru disanalah sisi romantis itu. Bukan pada kumpulan kata-kata puitis, meski aku seorang penggiat literasi. Bukan pada lantunan nada-nadaindah, meski pangeranku adalah salah satu gitaris. 

21 Januari, hari itu tepat adzan memanggil di dini hari aku tersentak. Melihat pangeranku sudah klimis dengan air wudhu dan sapaan ringan untuk menuju rumah Allah. Aku heran, kok jam dua belas malam tadi tidak ada surprise sih. Dan dini hari ini pun masih datar-datar saja. Atau jangan-jangan aku salah lihat tanggal. Lalu, aku memilih untuk cuek juga. Sampai aku bersiap untuk ke kantor jam tujuh itu, pangeranku masih belum juga mengucapkan selamat ulang tahun. Duh, enggak banget deh. Masa ya dia lupa hari spesial kekasih halalnya? 

"Happy Birthday My Lovely!
Sembari menyimpul senyum manis dan sebuah kotak kado silver yang ditariknya dari bawah Boneka Kodok di kamar. Aku masih tertegun. Ah, lega. Ternyata pangeranku tidak lupa dengan tanggal ini. 
"Kok aku nggak dikasih ucapan selamat ulang tahun jam dua belas malam tadi?" tanyaku heran. 
Pangeranku cuma tersenyum. Padahal aku pikir bakal ada kejutan di teng dua belas itu. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk memanjakan pasangannya. Buat kami romantis itu adalah saling menjaga dan saling membaikkan satu sama lain. Saling bekerjasama untuk mendapatkan cinta Sang Maha Cinta. Saling menghebatkan untuk bisa bermanfaat bagi sesama. 

Dan, ternyata kejutan ini belum genap. Karena tanpa basa basi tepat jam tujuh malam ketika aku pulang kantor, sebuah tart manis sudah menyambut. Ah ya, foto di kue itu adalah foto yang paling dia suka. Taburan cokelat menggenapkan kecintaanku akan cokelat. Januari itu selalu semanis cokelat. Jangan dibayangkan akan ada candle light dinner, sebab kami memang tidak romantis, meski selalu sama-sama mencintai sunset dan langit. Saat paling indah itu adalah ketika bisa melihat jingga di kaki langit. 

Tuhan, sangat-sangat terima kasih untuk semua nikmat ini. 
I'm Nothing Without You. 

Finally
Selamat Bertemu Cinta!
Semoga segala doa diijabahNya.
Selamat Ulang Tahun, ENDANG SSN !


Rabu, 20 Januari 2016

TENGADAHLAH! AGAR DUNIA TAK BASAH.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. 
Bahagia itu datang. Tanpa sengaja melihat sebuah pengumuman di salah satu koran nasional. Syukur banget karena salah satu karya kekasih halalku ternyata masuk dalam nominasi dan dimuat. Sungguh, Engkau Maha Baik. 

Sayang, seribu sayang. Cerita bahagia hari ini sedikit terusik. Sedikit, ya aku mengatakannya hanya sedikit. Karena sungguh aku tidak rela kalau harus melepaskan senyuman dan mengubahnya dengan air mata. 

Ketika tengah asyik ngobrol dengan beberapa orang teman kantor di ruang santai, tempat kami biasa melewatkan waktu untuk makan siang, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata. 
"Kamu nunda ya? Ikut KB?" 
Ups, pertanyaan itu sontak mengejutkanku. Maksudnya apa coba? Aku hany bisa menggeleng dengan rasa penasaran. Lalu tanpa sempat direm dengan cepat dia berdalih. 
"Makanya cepat-cepat ke dokter. Periksa semua, suami istri. Supaya kalau terjadi hal yang tidak diinginkan cepat tertolong. Segera ada solusi. Inget umur, kasihan juga orang tuamu kalau harus nunggu lama buat gendong cucu. Sebelum terlanjur kelamaan, cepet periksa biar ketemu. Ada masalah atau nggak." 
Duh, entah demi atas nama apa, sumpah rasanya sakit banget kalimat itu. Walaupun sebenarnya mungkin tujuannya baik. Tapi ups, aku menikah baru hitungan 3 bulan. Cuma gegara kawan-kawan lain yang pernikahannya bersamaan denganku dan sekarang tengah merasakan mual-mual karena hamil, masa langsung ngejudge begitu. Mungkin tujuannya baik tapi penyampaiannya sangat nggak nyaman. Kalau saja terlanjur melankolis, mungkin air mata sudah tak terbendung. Beruntung Tuhan masih memberiku kekuatan untuk bertahan dengan tetap tersenyum. Allah Maha Cinta, ampuni hambaMu ini. 

Perasaan itu, ah entah apa namanya. Tidak dipungkiri, sedikit sesak. Rasanya pengen pulang, berlari dan menangis dalam sujud. Mungkin perasaan ini yang terlalu melow, tapi tentang rasa, siapa yang bisa menakarnya. 

Aku percaya Tuhan selalu mempunyai cara dan waktu paling baik menurutNya. Seperti pertemuanku dengannya, yang sangat aku syukuri kini. Tak pernah diduga, tak pernah dinyana jika ternyata dialah yang sudah tertulis dalam kitab kehidupanku. Dan malaikat-malaikat kecil itu, aku yakin dan sangat percaya Tuhan akan mengirimkannya segera. Aku percaya Tuhan akan menitipkan amanah indah itu kepadaku dan suami. Aku yakin Tuhan akan mengisi rumah kami dengan tawa pangeran dan bidadari kecil dari rahimku. Tuhan, aku percaya. Tidak pernah ada yang sulit selama Engkau mudahkan dan tidak ada yang mudah tanpa Engkau mudahkan. 

Allah, aku padaMu saja. 

::: 14.30 -di sela lunch :::

Selasa, 19 Januari 2016

EGO ITU UNIK

Aku, kamu dan mereka pasti sering memeluk ego demikian erat. Entah untuk sebuah eksistensi atau sekedar ego yang bernama ego. 
Ego itu unik. Seunik kita memperlakukannya. Entah disadari atau tidak. Kita sering bersinggungan dengan orang lain hanya karena ego. 
Pernah nggak sih kita sadari? Kalau kita kadang bisa bersikap manis ketika sedang butuh. Berakrab ria ketika perlu saja. Itu menyakitkan banget lho. Seakan-akan sesuatu dianggap berarti hanya karena terpaksa. Padahal ketika semua lahir dari ketulusan, alangkah lebih manisnya. 

Ah, ego. Ya manusia seperti kita memang tidak pernah lepas dari ego. Tepatnya belum bisa memanage ego dengan baik. Malah kadang ego lebih bisa mengendalikan kita. Apa pun itu, kita harus terus mencoba untuk lebih membaikkan diri lagi. 

Semua akan terasa hambar kalau kita memperlakukan orang lain hanya karena kita membutuhkan mereka. Namun setelah itu, melepasnya begitu saja. Uniknya ego membuat manusia sering bertopeng. Apa yang kita lihat kadang tidak sama dengan apa yang disembunyikan di hatinya. Kebencian mungkin membuat kita menjauh tapi kebutuhan membuat kita mendekat, untuk kemudian kembali menjauh. Ayolah, hidup sejatinya bukan seperti ini. Ego adalah ego. Tapi hati tak seharusnya memeluk ego demikian erat hingga tak ada ruang tersisa untuk sebuah ketulusan. 

:::Sebuah Renungan:::

KARENA MANUSIA SELALU PENUH DENGAN TANYA



Dan sesempurna apa pun kamu merasa  menjalani hidup, sungguh ia tidak pernah sempurna di mata orang lain. 




Pernahkah berada dalam situasi ini?

Ketika kamu masih sendiri, enjoy menjalani hari-hari dengan segala kesibukan yang kerap diatasnamakan untuk waktu yang mulai sempit, masih selalu heboh melewatkan waktu bersama teman-teman sepermainan meski hanya sekedar hangout, nongkrong di toko buku berjam- jam demi memuaskan rasa penasaran pada cerita dalam novel best seller atau nonton film kegemaran. Kamu merasa everythings gonna be okey. Tapi tidak dengan dunia sekitarmu. Mereka mulai mencari celah untuk bertanya. Apa ya kamu akan melewatkan hari demi hari seperti itu selamanya? Sampai kapan? Lalu bagaimana tujuan hidup ke depannya? Dan kita akan mulai merasa gerah untuk membuka telinga dengan mengunduh pertanyaan yang sama berulang-ulang. Sementara jawaban klasik yang kita usung seolah salah. 

Ketika kamu sudah mulai meninggalkan hiruk pikuk bersama teman-teman, hanya sesekali saja di sela waktu kamu melewatkan kebersamaan yang terlampau indah untuk dihapuskan itu. Ketika tiba-tiba saja duniamu berubah dengan kehadiran seseorang yang memberi warna berbeda. Membuat duniamu semakin terasa lengkap dengan perhatian dan teman diskusi berbeda dari sebelumnya. Mungkin dia tak akan menggantikan tempat teman-temanmu tapi dialah yang kemudian membuatmu menemukan hal baru untuk digapai. Apakah sekitarmu sudah berhenti bertanya? Tidak. Justru pertanyaan itu akan semakin santer kamu dengar. Mulai dari keingintahuan "Kapan nih diresmiin? Udah deh jangan lana-lama, ntar disamber orang! Masih nunggu apalagi? Cepetan aja!" 
Hey, hidup bukan perkara harus mengikuti keinginan orang lain. Menikah, siapa yang tak mau menggenapkan dien? Namun setiap orang tentu saja mempunyai kriteria dan pertimbangan matang sebelum akhirnya melangkah lebih serius. Bukankah menikah bukan tentang siapa yang lebih cepat atau terlambat? Bukan hanya tentang penyatuan kamu dan dia. Tapi pertautan dua keluarga besar. Sedang orang-orang diluar sana lalu serta merta menjadi hakim yang pantas memutuskan. 

Ketika kamu telah menemukan belahan jiwa dan menyatukan cinta kalian dalam ikatan suci bernama pernikahan, maka tanya tak lantas sirna. Sesempurna apa kamu merasa hidupmu sekarang, tetap saja akan selalu ada tanya yang kembali singgah. 
"Gimana udah hamil belum? Cepetan! Ngak usah ditunda! Jangan lama-lama!"
Seperti halnya menikah, mempunyai anak pun adalah hak prerogatif Tuhan. Dia yang Maha Tahu kapan waktu terbaik untuk setiap pasangan mendapat amanah indah itu. 

Karena manusia akan selalu penuh tanya, maka luaskan hati untuk melihat dan menakar tanya itu dalam kacamata semestinya. Menjadikannya hal positif sebagai doa-doa terbaik yang harus diaminkan. Bukankah kita tidak pernah tahu dari lisan mana doa yang lebih dulu diijabah? Sebagai manusia yang saling peduli dan menginginkan kebaikan juga kebahagiaan bagi saudara-saudara kita diluar sana, alangkah baiknya jika tanya yang kerap kita hadirkan tidak terkesan menjudge. Tapi marilah kita sama-sama mendoakan agar kebaikan selalu menyertai mereka. Dan semoga kebaikan itu akan diberikan Tuhan pada kita. 
Aamiin. 

::: Selamat Bertemu Cinta ::: 


Rabu, 06 Januari 2016

JODOH ITU (Begitu Mereka Bilang)

Misteri, ya hampir semua orang bilang kalau jodoh itu misteri. Kita tak akan pernah tahu siapa jodoh kita sampai akhirnya ijab kabul selesai dilafazkan dan sebuah perjanjian berat telah diikrarkan dalam altar hati nan suci. Kita tak bisa menentukan dengan siapa kita akan berjodoh. Bahkan kadang ia datang dari arah yang tak pernah terlintas dalam pikiran sekali pun. Tanpa kita sadari, apa yang kita sangkal acapkali menjadi jalan yang menarik energi kita untuk mendekat dan kian dekat dengan jodoh itu sendiri. Karenanya banyak orang bilang pamali untuk berkata “Nggak mau!” atau “Ih, jangan sampai deh!” siapa tahu justru apa yang kita anggap “Enggak banget” itu adalah hal paling baik menurut Sang Pengatur hidup. Percaya satu hal, bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita tidak pernah secara kebetulan. Semuanya sudah ada dalam skenario terhebat dari Sang Maha Hebat.

Jodoh itu bisa saja berasal dari profesi yang sama atau justru bertolak belakang. Bisa saja dari hobi serupa atau justru sama sekali tidak bersinggungan. Bisa juga dari tempat yang dekat, namun tak menutup kemungkinan bisa dari negeri yang jauh, yang bahkan untuk diimpikan saja tak pernah. Begitulah, jodoh tetap saja misteri yang indah. Namun ketika kita telah sampai pada titik dimana dia adalah jawaban dari semua penantian, maka kita hanya bisa berucap syukur. Karena ternyata Tuhan sudah menyiapkan beragam kejutan indah yang membuat kita tersipu. Kalau saja, jika saja, mungkin … Ah kalimat-kalimat itu akan meluncur dengan lancar dari bibir kita. Tapi sebagai manusia kita harus bersyukur mengapa diperlukan waktu yang cukup untuk bertemu dengan kesejatian. Semata agar kita bisa belajar dan lebih siap ketika waktu itu sudah tiba. Ada yang bilang bahwa kadang kita harus bertemu dengan orang yang salah terlebih dulu sebelum disatukan dengan orang yang tepat.

Kesejatian tidak akan pernah membuat kita menunggu. Sebab ia sangat paham apa yang dicintai oleh Sang Pemilik Cinta. Maka berbahagialah ketika dipertemukan dengan orang yang lisan dan langkahnya sungguh sangat ringan untuk datang dan menyebut asma Rabbnya. Dia yang akan memintamu untuk menggenapkan dien dan beriringan meraih cintaNya.

Jatuh cintalah kepada seseorang yang mencintaimu karena Tuhan.


 Selamat Bertemu Cinta!

CINTA TANPA BATAS


Pada almanak yang kesekian, debaran itu masih sangat nyata. Setiap kali menginjakkan kaki di pelataran ini, ada rasa tak biasa. Bagaimana bisa tak ranum? Jika cinta seolah menguasai seluruh sudut. Bagaimana tak berdetak? Jika rindu seolah luruh seketika. Rindu, ya rindu yang tak biasa. Ketika nadi tiba-tiba terhenti dalam detik yang memeluk erat.

Duh, cinta. Ramuan apa yang membuat hati tak pernah bisa berpaling? Kasih tak berbatas membuat semua pecinta saling berlomba mendekat. Disini, rumah paling nyaman yang selalu menyemai rindu. Disini, rumah paling hangat yang selalu mengajak kami untuk selalu pulang. Selelah dan seletih apa pun dunia menyergap seharian, rumah ini menjadi labuhan paling damai. Tempat dimana kami bisa mengadu tanpa malu. Tempat dimana kami bisa meminta apa pun dengan segala permohonan. Tempat dimana semua orang bisa merayu dan merengek tanpa batas usia. Disini, rumah Tuhan. Tempat dimana kita tunduk dalam ketakberdayaan. Tempat yang menyadarkan kita betapa dunia tak pernah kekal.

Untuk kesekian kali, sosok itu nyata. Dia yang menyadarkan bahwa Tuhan selalu ada dengan segala cinta tanpa batas untuk manusia dengan segala keterbatasan sekali pun. Tak sempurna secara fisik (read : di mata manusia) namun tak membuatnya alpa untuk bersama dengan orang-orang sekitar memuja dan bertasbih pada Sang Maha Cinta. Akan selalu ada jalan untuk mereka yang benar-benar tulus mengenal cinta. Dia, membuktikannya. Haru? Bukan. Ini bukan perasaan haru, kasihan atau sekelasnya. Perasaan ini adalah bahagia. Seruan hati karena di rumah ini, kami semua bersaksi bahwa di mata Tuhan tak ada yang berbeda. Semua sama, yang membedakan hanya tingkat ketakwaan semata. Bisa jadi, dialah sosok dengan hati paling tanpa pamrih di rumah ini. Sosok dengan lantunan doa-doa sederhana namun sanggup membuka pintu langit. Sosok yang hatinya dipenuhi oleh rindu.

Lantunan AsmaNya kian jelas. Diantara debar yang semakin menyatu, ada lirih harap. Tuhan, peliharalah cinta dalam hati kami agar tak pernah lalai dalam mengingat Engkau. Jagalah lelaki tak sempurna yang tertatih mengayuh roda duanya itu untuk selalu menemuiMu. Hanya karena cinta tak berbatas, cinta yang langit pun tak sanggup untuk menahannya. Duhai Maha Cinta, dekaplah lelaki dengan keterbatasan itu dalam rindu yang selalu hangat. Rindu untuk terus menemuiMu, bukan hanya di lima waktunya. Tuhan, tuntun dan bimbing jiwa-jiwa para perinduMu untuk terus istiqomah.

Inspiring by : Lelaki baya tak dikenal dengan keterbatasan di pelataran Masjid Kota.