Dan sesempurna apa pun kamu merasa menjalani hidup, sungguh ia tidak pernah sempurna di mata orang lain.
Pernahkah berada dalam situasi ini?
Ketika kamu masih sendiri, enjoy menjalani hari-hari dengan segala kesibukan yang kerap diatasnamakan untuk waktu yang mulai sempit, masih selalu heboh melewatkan waktu bersama teman-teman sepermainan meski hanya sekedar hangout, nongkrong di toko buku berjam- jam demi memuaskan rasa penasaran pada cerita dalam novel best seller atau nonton film kegemaran. Kamu merasa everythings gonna be okey. Tapi tidak dengan dunia sekitarmu. Mereka mulai mencari celah untuk bertanya. Apa ya kamu akan melewatkan hari demi hari seperti itu selamanya? Sampai kapan? Lalu bagaimana tujuan hidup ke depannya? Dan kita akan mulai merasa gerah untuk membuka telinga dengan mengunduh pertanyaan yang sama berulang-ulang. Sementara jawaban klasik yang kita usung seolah salah.
Ketika kamu sudah mulai meninggalkan hiruk pikuk bersama teman-teman, hanya sesekali saja di sela waktu kamu melewatkan kebersamaan yang terlampau indah untuk dihapuskan itu. Ketika tiba-tiba saja duniamu berubah dengan kehadiran seseorang yang memberi warna berbeda. Membuat duniamu semakin terasa lengkap dengan perhatian dan teman diskusi berbeda dari sebelumnya. Mungkin dia tak akan menggantikan tempat teman-temanmu tapi dialah yang kemudian membuatmu menemukan hal baru untuk digapai. Apakah sekitarmu sudah berhenti bertanya? Tidak. Justru pertanyaan itu akan semakin santer kamu dengar. Mulai dari keingintahuan "Kapan nih diresmiin? Udah deh jangan lana-lama, ntar disamber orang! Masih nunggu apalagi? Cepetan aja!"
Hey, hidup bukan perkara harus mengikuti keinginan orang lain. Menikah, siapa yang tak mau menggenapkan dien? Namun setiap orang tentu saja mempunyai kriteria dan pertimbangan matang sebelum akhirnya melangkah lebih serius. Bukankah menikah bukan tentang siapa yang lebih cepat atau terlambat? Bukan hanya tentang penyatuan kamu dan dia. Tapi pertautan dua keluarga besar. Sedang orang-orang diluar sana lalu serta merta menjadi hakim yang pantas memutuskan.
Ketika kamu telah menemukan belahan jiwa dan menyatukan cinta kalian dalam ikatan suci bernama pernikahan, maka tanya tak lantas sirna. Sesempurna apa kamu merasa hidupmu sekarang, tetap saja akan selalu ada tanya yang kembali singgah.
"Gimana udah hamil belum? Cepetan! Ngak usah ditunda! Jangan lama-lama!"
Seperti halnya menikah, mempunyai anak pun adalah hak prerogatif Tuhan. Dia yang Maha Tahu kapan waktu terbaik untuk setiap pasangan mendapat amanah indah itu.
Karena manusia akan selalu penuh tanya, maka luaskan hati untuk melihat dan menakar tanya itu dalam kacamata semestinya. Menjadikannya hal positif sebagai doa-doa terbaik yang harus diaminkan. Bukankah kita tidak pernah tahu dari lisan mana doa yang lebih dulu diijabah? Sebagai manusia yang saling peduli dan menginginkan kebaikan juga kebahagiaan bagi saudara-saudara kita diluar sana, alangkah baiknya jika tanya yang kerap kita hadirkan tidak terkesan menjudge. Tapi marilah kita sama-sama mendoakan agar kebaikan selalu menyertai mereka. Dan semoga kebaikan itu akan diberikan Tuhan pada kita.
Aamiin.
::: Selamat Bertemu Cinta :::

Tidak ada komentar:
Posting Komentar