Minggu, 19 Agustus 2012

Ketika Diammu Adalah Bahasa Cinta Terindah


            Cinta adalah bahasa universe yang singgah pada setiap hati tanpa pernah dinyana dan direncana. Sebuah kebetulan dalam kacamata manusia yang sesungguhnya telah ada pada skenario Tuhan. Tabuh bertalu pada genderang hati dengan irama yang syahdu, dalam alunan merdu rindu yang bergerak lirih di labirin kalbu.
            “Tuhan, apa yang sedang bergerak demikian halus di hati ini ?” tanya itu pernah menjadi muara pada seberkas keraguan yang belum sanggup diterjemahkan oleh Riana
            Malam-malam panjang menjadi rekam jejak rasa yang dibaginya kepada langit. Di sudut kamar dengan jendela lebar, ia leluasa untuk menatap bintang di angkasa. Aksaranya bisu namun tidak saat pertemuannya dengan malam. Ia tumbuh dengan semangat luar biasa dan menjelma selayak bidadari dalam rona tatapan tajam.
            Rasa itu datang, tak pernah diminta. Rasa itu menari, tak pernah berhenti. Berawal dari pertemuan tak sengajanya dengan seorang lelaki muda yang belum juga sempat ia temui. Dalam maya yang memeluk mereka, kedekatan terjalin demikian erat. Bisa karena biasa, begitu mungkin yang sedang ia alami kini. The right man in the right time. Lara yang menoreh luka demikian dalam di hati Riana seakan terbasuh oleh kehadiran Reza. Hatinya memang belum lagi utuh sejak kepergian sang kekasih dalam sebuah penghianatan janji setahun silam. Kejadian yang nyaris menguras air matanya hingga mengering. Samudera kesabaran menjadi ujian yang luar biasa kala itu.

            “Kadang kita terlalu egois memandang sebuah kejadian. Padahal sesungguhnya kita pantas untuk berterima kasih pada segala kegetiran itu. Sebab dari sanalah kita tahu bahwa kita adalah pribadi tangguh yang sanggup bangkit di atas segala keterpurukan” nasihat Reza
            “Kamu bisa berkata begitu sebab kamu nggak berada di posisiku sekarang. Andai saja …”
            “Jangan pernah berandai-andai. Tuhan tak suka itu”
            “Okey, sekarang apa yang harus aku lakukan ? Diam begitu saja setelah apa yang dia lakukan padaku ?”
            “Ya. Diam, ikhlas dan maafkan saja”
            “Apa ? Kamu nggak bercanda bukan ?”
            “Lakukan saja. Kamu nggak akan pernah tahu kamu mampu jika tak pernah mencobanya. Untuk apa menangisi semuanya, hanya membuang waktu saja. Untuk apa terpuruk oleh kenyataan, sia-sia saja. Aku yakin kamu bisa, masa kamu sendiri nggak yakin ?”
            Ucapan-ucapan Reza yang sungguh lugas sempat menyentil kesensitifan rasa Riana. Ada yang tak bisa ia terima namun dalam akal sehat ia pernah membenarkan semua itu. Hingga akhirnya ia putuskan untuk melakukan apa yang disarankan oleh Reza.
            Kedekatan mengalir begitu saja. Keduanya menjadi demikian erat dalam pertalian yang tak pernah mereka sadari. Malam-malam selalu menjadi muara yang mengantarkan khayalan mereka tentang masa depan pada sebuah diskusi. Riana merasa nyaman berbagi tentang apa saja pada Reza. Lelaki itu bukan lagi hanya teman sesaat yang kemudian hilang tak berjejak. Reza justru menjadi bagian dari hidup yang tak lagi bisa dihilangkan begitu saja. Ada sebuah ruang yang sedang Riana buka. Ruang yang dulu pernah berpenghuni namun kemudian sang penghuni memilih untuk meninggalkan ruang itu. Riana sempat menutup rapat pintu ruang itu, berharap tak akan pernah lagi terbuka. Sayang, waktu tak bisa diajak berdamai. Dengan kesabaran penuh, dalam keramahan sangat Reza dapat memutar kunci dan membuka pintu ruang itu. Ia memang belum melangkahkan kakinya untuk tinggal namun Riana telah menyiapkan taman terindah disana. Bukan sekedar disinggahi tapi membuat Reza menetap nyaman hingga takdir sang empunya hidup menyatukan mereka pada sakral nan suci atas nama pernikahan.
            ***
           
            Tak sengaja kesibukan menjadi jeda pertemuan maya mereka. Kehidupan nyata bergerak demikian hebat hingga luang menjadi sesuatu yang sangat langka untuk didekap. Reza hanyut dalam kesibukan rutinitasnya. Ia menjadi sangat jarang menggeluti kehidupan maya. Sesekali saja menyapa, sayang waktu tak lagi mempertemukannya dengan Riana. Gadis itu terpaku mendekap hangatnya rindu. Entah mengapa serasa ada yang bergolak namun tak mampu dibacanya.
            Berkali-kali Riana mendatangi rumah maya Reza. Bukan lelaki itu yang ia temui tapi perempuan-perempuan hebat lainnya. Mereka yang dengan sikap keterusterangannya dengan gamblang mengabarkan ketertarikan hati. Hingga ada beberapa yang menjelaskan dengan sangat hebat tentang perasaan mereka. Kalimat-kalimat cantik yang puitis semakin sering saja menggenapi pelataran beranda Reza. Riana menyadari dalam segala keterbatasan dirinya, ada ruang yang sebenarnya sanggup menyempurna. Dan itu akan nyata dengan adanya Reza. Sayang, ia tak sanggup menterjemahkan segala perhatian yang selama ini dicurahkan oleh Reza. Sebelumnya ia pernah mengira, dialah perempuan terpilih itu. Tetapi perhatian itu bukan hanya dihadiahkan oleh Reza kepadanya saja sebab nyaris semua perempuan yang mengenalnya mendapatkan hal serupa.
            “Banyak banget ya yang mengagumi kamu ?” ucap Riana suatu kali
            “Disyukuri saja. Aku nggak bisa melarang orang lain untuk suka padaku. Itu hak mereka”
            “Lalu kamu ?”
            “Semua sudah aku anggap adik kok”
            Riana tersentak. Adik ? Ah jangan-jangan, itu pula yang terjadi dengan dirinya.
            “Banyak banget dong adiknya. Aku adik yang keberapa nih ?” sengaja ia memancing demi mendapati jawaban
            Henig, diam. Reza tak pernah menjawab pertanyaan itu bahkan hingga detik ini. Riana cukup berlega hati, setidaknya Reza mengisyaratkan bahwa dia berbeda dengan yang lainnya.
            ***

            “Rez, selamat ulang tahun ya. Semoga umurnya berkah dan cepat bertemu dengan bidadari hati”
            Aamiin. Aku yakin Tuhan sedang mengaturnya dengan cara yang sangat indah untukku kini”
            Riana semakin tegas akan apa yang berbisik di kalbunya. Kedekatan yang belum pernah mempertemukan mereka dalam nyata telah sanggup menggiringnya pada sebuah keputusan besar. Ya, Reza adalah lelaki tepat yang diinginkannya. Bukan karena status, wajah atau materi. Tapi kedekatannya dengan Tuhan yang menjadikan Reza begitu istimewa.
            Perlahan makna cinta dipahami Riana dalam bahasa berbeda. Tak ada lagi sikap menggebu yang berapi-api untuk menyatakan cinta. Riana menjelma menjadi gadis lembut yang sangat menata hatinya untuk sebuah rasa. Reza mungkin telah berhasil membuka hatinya tapi Riana tak pernah merelakan  perasaannya mengabadi pada lelaki itu. Rasa itu hanya dilabuhkannya kepada Tuhan, segenap rindu yang tumbuh dikabarkannya kepada Tuhan saja. Tak pernah ia biarkan seorangpun membacanya kecuali Tuhan.
           
            Duhai penilai hati,
            Tertatih hati meniti jalan cintaMu
            Dalam percaya yang mendatangi diri
            Luruh aku pada separuh hati yang ternanti

            Rindu mengalun syahdu
            Di kedalaman rasa yang berdenting lirih
Berbisik teramat halus dan kelu
Dalam bahasa diam yang coba tereja

Kutitipkan rindu di pelataran senja
Tentang jingga yang sedang kau renda
Tentang waktu yang harus kueja
Tentang bahasa bisu yang bernyawa

Riana hanyut dalam malam-malam panjang pada pertemuannya dengan Tuhan. Sajian langit di sepertiga malam menjadi jamuan cinta paling romantis yang pernah ia temui. Hatinya merindu, namun dilabuhkannya pada Tuhan. Cukup Dia saja yang mengabarkan kepada Reza tentang apa yang bergerak di sepenggal hatinya. Mendamba karena Tuhan, merindu sebab Tuhan dan mencinta cukup karenaNya saja. Riana mencoba menggiring hatinya pada penantian indah yang dijanjikan sang pemilik hati. Penantian yang kelak akan berbuah manis ketika takdir menyatukan pertalian mereka pada seutas tali indah bernama pernikahan nan suci. Doa malam menjadi labuhan yang terpantaskan bagi para perindu.
***

            Perlahan waktu menjarakkan keduanya. Saling membatasi diri untuk lebih peka atas apa yang ada diantara mereka. Kadangkala kita memang butuh “jauh” untuk merasakan artinya “dekat”. Seperti halnya kalimat yang tak bermakna jika tak ada spasi.

            Untuk bidadari hati, entah siapa, entah dimana
            Gemericik nada rindu memintal rasa
Sepenggal sapa menjadi bahasa
            Seutas rindu menautkan jiwa
            Izinkan berlabuh di cintaNya saja

             Kalimat puitis yang ditemuinya pada catatan Reza memberikan penegasan bahwa sesungguhnya Riana sedang berada dalam penantian. Sebuah masa yang ia sendiri tak tahu sampai kapan. Dipahaminya apa yang bergejolak di kalbu tapi iapun mencoba memberi ruang yang tepat bagi sapa manis cinta.
            Waktu telah merenggangkan ruang antara mereka tapi bukan untuk terberai. Reza sedang memberi jarak untuk Riana mengasah peka. Reza sedang menata hatinya dengan sangat rapi untuk Riana memahami makna hakiki sebuah rasa.

            Tak ada lagi pertemuan yang intens pada dunia maya mereka. Diam, hening pada titian kalbu yang sedang diterjemahkan dengan lebih bijak. Dalam diam Reza, ada bahasa cinta yang terindah. Cinta memang tak pernah meminta untuk menanti tapi memberi kesempatan kepada dua hati untuk berjumpa pada bahasa cintaNya. Segenap rasa dibiarkan menari dalam cintaNya saja, untuk sebuah pertemuan yang Dia janjikan kelak.
            ***








Surat Kecil Untuk Ayah


          Ayah, apa kabar ? Fajar baru kembali menaungi kami hari ini. Gema kemenangan membahana di semesta raya. Suka cita menjadi labuhan suci para perinduNya. Takbir tak henti bergemuruh seiring kembalinya fitri hati-hati di keagungan cintaNya.
          Ayah, kamipun larut dalam gemerlap. Menyambut nafas baru yang terlahir lagi meski sedikit sesak saat ramadhan beranjak pergi. Dalam sepenuh harap semoga berkahNya akan membawa kami pada ramadhan di tahun-tahun mendatang serta menyempurnakan lagi ibadah ini dalam bilangan yang tergenapi.

          Sehari jelang idul fitri, seperti biasa rumah kitapun berbenah. Saling bahu membahu membereskan segalanya. Sayup ingatan kami terbang padamu. Tahun kemarin kita masih bercanda di bawah jendela ini seraya membersihkan kaca-kacanya yang mulai kotor oleh debu halus.
          “Kenapa bisa kotor begini, padahal setiap hari kita tak pernah absen untuk membersihkannya ?”
          “Ini ibarat hati kita, Dik. Lihat deh walaupun setiap hari kita selalu membersihkan kaca ini, tetap saja ada debu-debu halus yang singgah. Kalau dibiarkan lama-lama bisa menumpuk, tebal dan kaca ini jadi gelap tak terlihat”
          Teringat ucapmu, kemarin akupun sempat termenung. Bagian pesan singkat yang kini tak lagi bisa kudengar darimu. Seperti itu kau ajarkan aku tentang hati, untuk tak pernah lelah membersihkannya, untuk tak pernah lupa mendatanginya, untuk tak pernah beku sekedar menyapanya. Kau ajarkan aku segala hal tentang hidup cukup dalam bahasa kelembutan, cukup dalam sejuknya petuah bijak yang tak pernah terkesan menggurui apalagi memaksa. Kau biarkan aku untuk mencerna dan menemukan jawaban itu dalam nurani.
          Ayah, gema takbir membahana di sepanjang malam. Kesedihan sempat bergelayut di hati aku, kakak dan ummi. Tahun kemarin kita masih melewati malam takbir bersama.
Masih jelas saat kau bilang,
“CintaNya yang telah mengantarkan kita pada detik ini, menikmati ramadhan juga hari kemenangan. Kita tak pernah tahu entah ramadhan tahun depan masih bisa merasakan lezatnya ibadah ini atau tidak. Dik, jangan pernah menyiakan waktu. Dekati terus Allah dan RosulNya”
          “Kan ada Ayah yang akan terus mengingatkanku”
          “Itu kalau Ayah masih di sisimu. Sebab kamu, kakak dan Ummi adalah tanggung jawab yang akan Ayah bawa di hari perhitungan kelak. Tapi kalau Allah menjemput Ayah lebih cepat bagaimana ?”
          Air mataku masih terus mengalir, Ayah. Mengingat ucapmu setahun yang lalu. Mengingat idul fitri tahun kemarin dikala Allah masih memberi kesempatan kita bersama. Air mata kami membasah semalam.

          Pagi ini, semesta menyambut kami dalam riang dan takbir yang tak henti memuja kebesaranNya. Tanpamu, semua memang tak sama. Ada yang kosong dalam satu sisi hidup. Aku, kakak dan ummi mencoba menguatkan hati untuk tegar. Ikhlas itu telah nyata tapi manusia adalah pengarsip kenangan yang paling kuat. Bertahan untuk tetap menghadirkanmu dalam setiap doa-doa kami. Sebab kami yakin kau masih selalu mendiami hati kami. Waktu dan masa dunia hanyalah jarak, sekedar jeda yang akan membuat kita bertemu kembali di kehidupan indah dalam aroma surgawiNya kelak, kata Ummi. Semoga, Aamiin.
          Selepas sholat Id, telaga bening sungguh tak terbendung. Ayah, kami datang. Di pemakaman keluarga ini setahun yang lalu, kaulah yang memimpin doa tahlil. Tapi tahun ini, kami datang menziarahimu. Kukuatkan hati untuk tak mendatangkan segala kenanganmu tapi melihat wajah ummi yang sendu dalam kesedihan, menatap matanya yang berair namun coba ia tahan sekuat hatinya, sungguh aku tak kuasa. Ayah, ijinkan aku menangis. Gundukan tanah merah masih semerbak. Tanah ini masih selalu basah. Taburan bunga memenuhi pusaramu dan taburan doa tak henti kami lantunkan untukmu. Semoga Allah senantiasa memberimu cahaya disana. Mengampuni segala khilaf, menerima segala ibadah dan amal serta memberimu tempat terbaik seperti yang Ia janjikan bagi orang-orang beriman.

          Ayah, terima kasih atas segala ajaran hidup dan caramu yang indah mengenalkanku pada Sang Maha Cinta. Terima kasih untuk tak pernah lelah mengarahkanku untuk terus melembutkan hati.
          Oh ya, Ayah aku masih mencintai senja sampai hari ini. Terima kasih ya sudah membawaku untuk mengenalnya. Dan malaikat-malaikat kecil di simpang itu, alhamdulillah masih nyata. Meski adik-adik di panti telah banyak yang tak bisa kutemui lagi.

          Ayah, peluk hangat dan cinta kami untukmu.
          Meski ini adalah idul fitri pertama tanpamu, walau tahun ini berbeda tapi kami percaya Allah akan terus membersamai perjalanan ini. Bukankah hidup tak pernah membiarkan kita terpuruk selama kita berusaha untuk terus bangkit. Seperti katamu, hidup bukan tentang usia dan angka tapi sebuah perjalanan yang hasilnya akan kita bawa di hari perhitungan kelak.

          ::: Putri kecilmu :::        

Sabtu, 18 Agustus 2012

Lelaki : Kutunggu Lelakumu


Lelaki, Kutunggu Lelakumu

Buku Baru!
Judul : LELAKI : Kutunggu Lelakumu
Penulis: Dian Nafi dan Endang Ssn
Penerbit : Hasfa Publisher
Terbit : Juni 2012
ISBN : 978-602-7693-04-3

            Cinta datang pada setiap hati dengan cara yang sangat indah. Sesuatu yang kadang tak pernah mampu dinalar oleh kemanusiawian kita. Menyapa dalam rasa, mengetuk dalam bahasa yang  dimengerti oleh para perindu. Hanya saja tak semua hati memiliki keberanian yang cukup untuk mengungkapkan segenap anugerah itu. Seperti halnya Indra yang memilih untuk terpaku pada rasa yang dibingkai dalam impian-impian indahnya seorang diri. Kehadiran Mayana dalam segala pesona sempat menawannya pada sebuah titik balik, walau kemudian menguap untuk menyeretnya pada masa yang dia relakan menghilang begitu saja. Ia percaya apa yang telah disiapkan untuknya akan datang dalam sebuah kepastian.
            Esti dan Agung merasa perlu untuk mendekatkan keduanya. Mereka paham bagaimana Indra memperlakukan perasaannya sendiri. Dilema menyeruak ketika Arif juga menaruh rasa yang sama kepada Mayana. Sikap terbuka dan tangguh yang ada dalam diri Arif membuatnya memilih untuk melepaskan perasaan itu demi Indra. Sayang, semua menjadi sia-sia ketika Indra meninggalkan tanah air demi mengejar masa depan yang dipercayainya.
            Jarak bukan fatamorgana, masa juga bukan pedang yang merajam. Pergulatan kisah membuat Indra dan Mayana sekali lagi terdampar dalam dimensi waktu, walau pada kepingan detik yang tak lagi sama. Kepedulian menyatukan mereka atas nama cinta pada sesama. Perpisahan yang tak terelakkan pada akhirnya menjadi sebuah catatan panjang yang mengantarkan keduanya pada sebuah proses pendewasaan diri.
            Geliat ragu belum juga meninggalkan Indra. Sesaat rasanya berada pada pusaran yang pasti namun kemudian luruh pada tanya yang tak pernah terjawab. Lelah tak terelakkan, Mayana tunduk dalam bungkam. Membisu, keduanya berdansa dengan hatinya masing-masing. Kepergian orang-orang tercinta dari sisi keduanya, tetap saja belum mampu menggugah makna betapa kejujuran akan rasa menjadi hal penting. Saling bersikukuh bahwa cinta cukup dalam diam. Bahwa rasa cukup karena peka saja. Bahwa hati cukup dengan bahasa yang ia mengerti. Mereka tak sadar bahwa untuk sesuatu hal adakalanya butuh sebentuk ketegasan.
            Akankah Indra dan Mayana bertemu pada titian rasa terindah ? Atau segalanya justru sirna bersama kebisuan rasa.

Selamat Idul Fitri 1433 H


Menakar satu persatu rasa. Memintalnya di pelataran hati. Pada jejak ramadhan yang menanti detik beranjak, sesaat hati luruh dalam sederet kalimat maaf. Bukan untuk seremoni masa, tak sekedar penggenap hari kemenangan. Tulus ini mengalir dalam lembut tutur kata, demi ridhoNya yang menyempurna di fajar nan baru.

Atas nama jiwa, mohon beri ruang untuk menghapus rangkaian salah yang tak sengaja menyakiti, tak sangka torehkan lara, tak nyana melukis luka. Maaf atas segala kesengajaan yang hadir dalam khilaf insani, untuk setiap geliat ungkap yang getirkan ucap. 




SELAMAT IDUL FITRI 1433 H
Mohon maaf lahir dan batin

            Kesucian menyeruak di detak nadi. Pelukan hangat Sang Maha Cinta telah janjikan kemenangan hakiki dalam sabar yang terukir. Semoga hati kita senantiasa berada dalam cahaya iman hingga ujung usia untuk hidup indah yang terjanji.

Minggu, 12 Agustus 2012

Tentang Kita



Suatu hari di Panti …

Menapak lagi jejak di pelataran panti, sebuah rasa mengajakku pada satu sudut yang bergemuruh. Selalu begitu, meskipun ini bukan untuk yang pertamakalinya aku datang kesini. Suka cita dan antusiasme tak biasa seolah menyihirku untuk kembali.
          Suasana masih sepi, sedikit tanya menuntunku bercengkerama. Hanya dua kali ucapan salam, seorang perempuan paruh baya dengan paras yang masih terlihat cantik seakan tergopoh menghampiri. Senyum itu langsung terkembang saat ia telah mampu mencari rekam jejakku dalam ingatannya.
          Subhanallah, Dik En” ucapnya
          Aku segera menghambur dalam peluknya. Hangat yang telah lama tak menjamahku. Ada kerinduan yang rasanya ingin aku tumpahkan. Titik air mata menggenang. Cengeng, begitu mungkin pikirnya. Tapi aku tahu dia sangat mengenaliku. Keadaan haru macam begini, mana pernah mampu kutahan air mata.

          “Eh, anak gadis nggak boleh cengeng”
          Aku tertawa mendengar kalimat itu. Kalimat yang dulu selalu ia hadiahkan jika hatiku terlampau cepat untuk haru. Tangan lembutnya menuntunku ke dalam panti. Tak ada yang berubah walaupun beberapa sudut tampak mengalami pembaruan. Warna dindingnya juga masih sama. Satu hal yang membuatku terkejut, ada satu bunga mawar putih yang menyembul di balik jendela dan itu adalah satu-satunya. Baru kali ini aku mendapatkan bunga itu di panti. Entah siapa yang menanamnya, aku juga tak hendak mencari tahu. Ada syukur yang terucap, Tuhan selalu indah dengan segala rencanaNya.

          Beberapa menit kemudian, langkahku sampai di ruang tengah yang biasa digunakan oleh adik-adik panti untuk belajar bersama. Beberapa orang tampak asyik dengan pelajarannya. Sementara yang lain ada yang sedang berlarian bermain bersama. Bahagia itu adalah saat melihat tawa renyah mereka. Rasanya telah lama aku tak datang kesini.

          Hey, lihat siapa yang datang” ucap ibu panti
          Aku tersenyum ketika melihat wajah-wajah tak berdosa itu menoleh serentak. Kubentangkan tangan untuk memberi mereka pelukan terhangat.
          “Kakak …”
          Seruan itu serasa oase di gersang ladang hatiku. Sejuk seketika menyambutku dalam haru biru. Panggilan yang telah lama terhanyut arus kesibukan dan rutinitas hingga kulupakan waktu untuk menjenguk malaikat-malaikat kecilku disini.
          Berada di tengah-tengah mereka seolah menemukan sebuah dunia baru. Terlahir sebagai anak bungsu membuatku tak pernah menerima panggilan “Kakak”. Seluruh keluarga memanggilku “Adik”. Ciuman mereka yang tulus dalam ucap penuh cinta memberiku energi luar biasa hari ini. Ada rasa bersalah yang sempat terpenjara di sudut rasaku. Waktu terhenti dalam detik yang berdetak.

          “Dik, masih ingat dengan Adi ?”
          Aku terperangah mendengar pertanyaan Ibu panti. Seorang adik kecil berusia satu setengah tahun digandengnya mendekatiku. Aku menyambut uluran tangannya yang mungil, senyumnya mengembang. Mataku menoleh meminta penjelasan.
          “Dia yang dulu pernah kamu gendong sewaktu kamu datang kemari, waktu itu dia masih berusia tiga bulan”
          Subahanallah, Adi kecil sudah bisa berjalan sekarang. Saat pertamakali bertemu dengannya dulu, dia menjadi penghuni baru di panti ini. saat usianya masih satu bulan, orang tuanya sudah menitipkan dia di panti. Nelangsa dan sungguh lara melihat kenyataan ini. Mata itu menyeretku pada kesyukuran tak terkira betapa diluar sana masih banyak orang yang hidup dalam ketakberuntungan. Lalu pantaskah kita mengeluhkan hidup kala sesuatu terjadi diluar apa yang kita mau. Sungguh, Tuhan adalah penyempurna yang Maha Sempurna.

          Ingatan mengajakku pada tiga malaikat kecil lainnya. Tuhan berkehendak lain, kali ini aku tak lagi bisa berjumpa dengan mereka. Dua diantaranya telah diadopsi oleh keluarga di luar kota. Sementara yang satu lagi telah berada dalam pelukan Sang Maha Cinta. Hatiku perih. Janji yang pernah tersemat untuk mereka belum bisa aku tuntaskan. Sayang, waktu tak lagi menempatkan kami dalam masa dan waktu yang sama. Kini, hanya doa yang bisa kupersembahkan untuknya. Semoga dalam peluk cintaNya, dia akan selalu tersenyum dalam bahagia.


          Malaikat-malaikat kecil …
          Tentang kita, biar saja ada dalam titahNya
          Tentang kita, cukup hati yang merasa
          Tentang kita, hanya waktu yang menjawab

                    Degup menderu
                    Dalam kosmik ketulusan yang memeluk jiwa
                    Bertemunya jemari kita adalah senyawa
                    Bersatunya rasa adalah cinta sang Maha Cinta

          Rindu akan terus memburu
          Setangkup janji tak lagi tepikanmu di sisa waktu
          Luluhku dalam tatap mata terindahmu
          Menuntunku pada jejak para penikmat langit
          Untuk terus memeluk hatimu

          @Panti / 12 08 2012
          “Catatan Hati Pecinta Senja”
         

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hari yang bisu


          Menjadi terbiasa, lalu tak biasa ketika yang biasa berubah tak biasa. Manusia selalu mengalami fase ini. Kehidupan yang berulang dengan catatan-catatan penting dalam setiap peristiwa. Seringkali pada sebuah pertautan jiwa, manusia merasakan ada yang harus ia pertanyakan tentang sebuah kesungguhan juga kepastian. Walau kadangkala kesadaran itu tunduk pada satu jawab bahwa segala kepastian hanya milikNya semata. Adakalanya dalam sebuah keyakinan, ada yang harus diuji.

Aku dan Pena


          Ada gundah saat tak berjumpa, ada gelisah kala tak bersama. Gumpalan rindu meradang memenjarakan geliat-geliat aksara yang terus saja berlarian dengan liar. Tak rela melepaskannya namun tak berdaya  saat raga lemah dan menjemput dalam sebentuk ketentuan untuk mengistirahatkan pena sejenak.
          Senja begitu saja terlewat, langit tak sempat kusapa seperti biasa namun pena seolah tak hendak terlalu lama bersandar. Satu persatu aksara kembali mengetuk pintu-pintu nalar. Mengajaknya berkelana lagi untuk bertemu dengan milyaran aksara, jutaan kalimat dan ribuan ide yang selalu tak bisa duduk berdiam.
          Diantara raga yang masih melemah, kurangkai lagi aksara. Malam ini semua hendak kumulai. Bertaruh lagi dengan waktu untuk memenuhi segenap janji yang telah tersemat.
         
          Detik telah menggariskan bahwa menulis bukanlah sekedar ceremonial jiwa tapi ia adalah ruh. Setiap detik, segala yang terlihat dan terdengar adalah aksara alam yang berbahasa. Tak ada lagi yang harus terpenjara dalam sekat sebab aksaraku akan selalu bersahabat dengan pena. Penaku tak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergerak, bergerak, bergerak, terus bergerak.

Cinta Itu Sederhana


            Pada sepenggal senja di tapal batas kota, aku luruh dalam sajian istimewa. Ramuan makna yang dihadirkan senja dalam kesederhanaan yang luar biasa. Di ujung hari ketika para pengejar mimpi telah pulang dengan segenggam harap nan pasti di tangan, sepasang hati justru masih berkutat dengan impian-impian yang disusun sedemikian rapinya.
            Kuhentikan laju sejenak. Sapa senja yang menjingga tak kuasa kutolak. Telah beberapa hari mendung mengiringiku hingga hujan mengajakku berdansa dengan mesra. Aku masih mencari jingga, masih selalu menanti dalam sabar yang tak berbatas.
            Sesaat memandang langit diantara pematang. Hijau yang menghampar berpadu dengan jingga di langit. Sungguh lukisan sang Maha Cinta yang selalu membawaku pada kekaguman luar biasa.
            “Sedang apa, Mbak ?”
            Sapa yang mungkin heran melihatku. Seorang lelaki paruh baya dengan sabit dan beberapa perlengkapan yang dibawanya dari sawah juga seorang perempuan yang telah renta. Keduanya tersenyum, kurasakan tulus yang nyata.
            Lalu keduanya seakan serempak menoleh ke arah jingga yang sedari tai kupandang.
            “Mbak suka dengan langit itu ? Kalau sore cuaca secerah ini biasanya banyak yang mampir kemari. Sama seperti yang Mbak lakukan sekarang, memandang saja. Entah apa yang mereka fikirkan”
            Aku tersenyum. Keduanya lalu duduk pada batu di sebelahku.

            “Ini punya bapak dan ibu ?” tanyaku seraya menunjuk ke arah sawah di depan kami
            “Bukan, Mbak. Kami hanya menggarapnya saja. Seperti inilah, hasilnya memang tak seberapa tapi Tuhan Maha Adil walaupun dari ukuran manusia seolah tak mencukupi toh nyatanya kami bisa mengantarkan anak-anak kami untuk belajar di sebuah pondok di Jombang”
            “Oh ya ?” tiba-tiba aku merasa menemukan sahabat yang asyik untuk berbagi
            “Ya. Dua anak kami sekarang sedang mondok. Awalnya mereka nggak mau, Mbak. Katanya mereka tak tega melihat kami harus mencari biaya dan mengirimi mereka setiap bulannya. Hanya saja saya dan suami berprinsip akan selalu ada kemudahan untuk setiap jalan Tuhan. Rezeki yang menurut kacamata orang lain kecil, tapi yang kami cari adalah yang berkah. Mengantarkan anak-anak menuju cita-citanya adalah kebahagiaan setiap orang tua. Kami memang miskin tapi kami ingin anak-anak kami bisa meraih apa yang mereka impikan. Hanya semangat, doa dan kerja keras ini yang bisa kami lakukan. Tak ada yang tak mungkin asalkan kita mau berusaha. Kami selalu percaya Tuhan akan selalu ada di setiap langkah ini”
            Aku tercengang. Mereka yang sederhana itu mempunyai pemikiran yang sangat luas.
            “Pulang ke rumah selalu sore begini ?”
            “Ya, Mbak”
            Sejenak kulihat gurat lelah di tubuh yang makin renta itu. Sang istri kulihat membuka perbekalan mereka. Nasi dengan lauk sederhana, tapi jujur aku suka banget. Tempe goreng selalu menghadirkan aroma yang sedap untukku. Mereka menawariku tapi aku hanya berujar terima kasih. Lalu sesekali kulihat sang istri menyuapi sang suami yang terlihat mengelap keringatnya. Mereka pasti sangat lelah. Tubuh yang tak sekuat masa mudanya masih harus melewati pekerjaan seberat ini. Demi anak-anak dan masa depan mereka kelak. Subhanallah, sebuah cermin yang seharusnya kita kaji.
           
Aku tersenyum melihat keduanya. Romantis itu begini. Saat satu dan yang lainnya saling menerima kekurangan,  saling menguatkan, saling berbagi dalam senyum dan tangis, saling menjaga. Mereka tak butuh ucapan cinta yang menggombal. Cinta bagi mereka itu sederhana. Saling mengerti juga memahami dalam kata yang tak perlu diucap, dalam sabar tak berbatas yang saling dimiliki, dalam lautan syukur yang tak kenal waktu. Bagi mereka mungkin ini hal biasa tapi untukku pemandangan ini sungguh adalah cinta.
Senja ini romantis. Aku bertemu dengan cinta sederhana milik sepasang hati yang tak henti menebar bahagia untuk sesama, milik mereka yang tak pernah lelah berjuang, milik mereka yang ikhlas, milik mereka yang sangat mencintai RabbNya.
Cinta itu sederhana. Walau tiada kata, ada Tuhan juga nurani yang akan selalu meyakinkan bahasa hati. Membawa rasa pada peka yang terasah oleh sabar dan masa.

Catatan Senja di tapal Batas Klobungan
           

Para Pejuang Mimpi ( sebuah sudut dari kelas PR )


Ilmu adalah sajian langit pasti
Menebar rasa di persada semesta
Menantang jiwa-jiwa pemimpi
Menjemput titian berjuta makna

Tak perlu lelah menjelaga
Tiada celah untuk kata menyerah menyapa
Bukankah perjuangan sebuah proses indah
Bagi setitik hidup nan berkah

          Siapa bilang menuntut ilmu hanya milik mereka yang masih muda saja. Siapa bilang menuntut ilmu hanya bagi mereka dengan segenap waktu luang saja. Di sebuah sudut kelas, aura berbeda itu mengajakmu untuk terbang pada jutaan mimpi yang  sedang mereka renda.
          PR tak pernah sunyi, PR tak pernah sepi. Selalu saja ada keseruan di dalamnya. 10 kepala dengan isi otak yang berbeda-beda, berada dalam imaji yang tak sama dan tipikal yang aneka warna. Namun semangat merupa untuk mimpi masa depan. Belajar adalah energi yang akan menjadi kendaraan super canggih untuk sampai pada tujuan hidup yang terangan.

          Anto Nugroho, sang ketua kelas. Selain sebagai pengusaha ternak, ia juga menyalurkan hobinya dengan menjadi MC berbagai acara. Walaupun anak-anaknya telah beranjak remaja namun semangatnya untuk belajar tetap saja tak mau kalah. Alhasil ketika nilai IP sudah ada di tangan, dengan tak sabar segera dipotretnya untuk dipamerkan kepada anak-anaknya. Ah, sebuah usaha menyemangati mereka dengan cara ilmiah, cara cerdas. Sebagai ketua kelas seringkali dia menjadi bahan percobaan untuk menghadapi beberapa dosen demi mendapat salinan materi kuliah. Tapi kalau sedang nggak mood, kelas sedikit sunyi. Maklum saja sebagai seorang MC, dia tak pernah melewatkan hari tanpa cuap-cuap. Kadang-kadang pertanyaannya aneh, tapi tetap saja mendapat tanggapan. Seru dan lucu, menghidupkan suasana dengan cara yang segar.

          Wisnu, bapak yang satu ini juga tak kalah dengan sang ketua kelas. Semangatnya berkobar-kobar untuk tetap belajar disela-sela kesibukan sebagai kepala rumah tangga dan staf pada salah satu dinas di pemerintahan kota. Kebiasaannya meninggalkan kelas setiap jam lima sore semula sempat menjadi pertanyaan. Ada ritual apakah gerangan ? Alhasil ternyata dia berkewajiban menjemput sang buah hati yang hingga saat ini masih belum ia percaya untuk membawa kendaraan sendiri. Sama halnya seperti sang ketua kelas, ia juga sering menjadi tenaga penyulut suasana seru di kelas. Komentar-komentarnya yang kadang sepotong-potong selalu menjadi umpan yang bersambut.

          Peny, sangat salut dengan ibu yang satu ini. Malang – Surabaya bukan jarak yang dekat, namun demi ilmu dia rela menempuhnya. Semangat juangnya untuk terus belajar di tengah kesibukannya menjadi sebuah energi tersendiri di kelas. Sakit yang kadang ia derita tak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus bergerak, tak kalah cepat dengan teman-teman muda lainnya. Sungguh beruntung bisa belajar banyak hal dari beliau yang tak segan berbagi semua pengalaman hidupnya.

          Taufik, bertubuh tinggi tegap membuatnya selalu memilih bangku nomor dua dari belakang di sudut sebelah kiri. Sepertinya itu bangku favoritnya deh. Sebagai salah seorang PNS, dia tak terlena dengan apa yang sudah didapat. Masih banyak mimpi yang ingin dicapainya. Apa yang telah ada bukan berarti menjadi sebuah pencapaian yang sanggup menghentikan langkahnya. Satu hal yang patut disalutkan. Disela-sela kesibukan formalnya, dia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar pada salah satu tempat pendidikan. Ada panggilan jiwa yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Sebentuk kepedulian yang barangkali sudah sedikit menyusut di jaman sekarang. Demi ilmu pula ia harus menyeberang selat. Madura – Surabaya bukan jarak yang dekat walaupun telah terhubung dengan jembatan Suramadu. Tetap saja dibutuhkan niat dan tekat kuat disana.

          Yudo, sebagai PNS ia juga terlihat begitu peduli dengan semangat untuk terus belajar. Bahkan sebuah kepedulian terlihat dari setiap pertanyaan yang dilontarkannya untuk kemajuan instansi tempatnya bekerja. Ilmu yang didapatnya tak egois. Tak hendak dimilikinya sendiri namun semua handak ia aplikasikan bagi instansinya. Sangat jarang bukan kita mendapatkan karyawan yang seperti itu ? Maka bersyukurlah para perusahaan yang memiliki orang-orang seperti ini. semangat …

          Afan Alfian, pejuang tangguh. Bayangkan saja ia harus menempuh jarak Lamongan - Surabaya bahkan ketika jam delapan malam kelas baru saja usai. Lalu jam sembilan pagi keesokan harinya harus kembali berada di kelas. Sebagai pegawai pada salah satu koperasi rumah sakit, semangatnya juga menggebu untuk mengembangkan keadaan yang dilihatnya memang harus dibenahi. Fenomena-fenomena di lapangan tak segan dishare di kelas sehingga menjadi wacana bagi yang lainnya. Tempat duduk paling depan sisi kiri sepertinya tak pernah lepas dari incarannya, entah mengapa.

          Dayat, sang jurnalis yang aktif. Tiada hari tanpa interupsi dan bertanya. Dari ujung timur pulau Madura semua mimpi itu dimula untuk diperjuangkan. Pernah demi tak tertinggal kelas, ia harus rebahan dulu di musholla sembari menanti jam kuliah. Jika bukan karena tekad dan kesungguhan semua itu tak akan pernah terjadi. Tiada lelah, tiada keluh pun kesah. Bukankah mimpi memang harus diperjuangkan ?.

          Kiki, teman seperjuangan menyeberang selat demi meraih ilmu. Sekalipun kesibukan dengan rutinitas yang kadang mengharuskannya pulang hingga larut, tetap saja ia merasa ilmu tak pernah punya alasan untuk menyerah begitu saja. Segala sesuatu memang butuh perjuangan. Semua akan terbayar dengan indah kelak. Lalu mimpi ? Bukan lagi sekedar mimpi.

          Rindra, cewek dengan rutinitas yang padat bahkan kadang hari libur sekalipun masih mengharuskannya bekerja. Datangnya sih kadang telat di kelas, maklum saja karena dia masih harus bekerja sebelumnya. Terlihat aktif namun rasa lelah tak pernah menyurutkan langkah untuk terus meraih ilmu. Berbeda itu istimewa, maka jadilah yang berbeda.

          Aku ? Seperti mereka, sedang berjuang mengejar mimpi.
          Mereka ? Semoga bisa hadir dalam sebuah karya inspirasi, sebagai kado saat kita telah wisuda nanti.
           

Tuhan, terima kasih


            Bahagia, seperti itu semestinya setiap hati termaknai. Memintal setiap inci jejak langkah sebagai bentuk anugerah yang tak semua orang berkesempatan mencicipinya. Ada lara juga rasa kehilangan. Ada raut yang gulana juga galau tak tentu.

“Rasa, menjadi sesuatu yang cukup kita dan Tuhan saja yang memahaminya
Sebuah pelajaran indah yang tersemat hari ini dari mereka yang sedang berada dalam masa ketakberuntungan. Sekelam apapun hari yang dijalani, selalu ada judul yang akan membuat hati-hati itu kembali tegak berdiri. Menghapus jejak kata “Menyerah” yang sesungguhnya tak punya arti apa-apa. Menghapus nuansa rapuh yang sempat menyelinap tanpa kompromi menjadi catatan ketangguhan seorang manusia.

            “Kenapa harus merasa sendiri sedang Tuhan memberi kita banyak hati yang selalu siap menemani”
            Malaikat kecil, baru ini yang bisa aku katakan hari ini. Lihat saja diluar sana, sekalipun mereka terkesan tak ramah apa kita pernah tahu seberapa pedulinya mereka. Maka tak usah terlalu risau dengan apa yang terasa jika itu hanya membuat gundah dan ketakikhlasan. Bisa jadi dibalik kalimat dan sikap tak halusnya justru merekalah orang-orang yang sedang berada dalam keikhlasan berbaginya. Tuhan selalu menemani, menghangatkan setiap hati kita dengan rengkuhNya. Masihkah kita tak menyadari betapa Dia Maha Baik.

            Dalam tetes asa, dalam selimut rasa, dalam titian hati ujar ini terlalu lirih. Tuhan, terima kasih telah membawa raga pada perjalanan yang indah. Pertemuan dengan orang-orang “Luar biasa”. Pertemuan dengan detik-detik yang menjuntai makna hidup.

            Hati ini tak hidup sendiri …. [Pecinta Senja]
           

Catatan Senja (1)


          Setapak dan perlahan jejak kian terpatri di tapal batas. Roda kehidupan terus bergerak hingga tak terasa menjejak di satu titik yang membuat jiwa kita luruh. Waktu selalu tak bisa diulang, tapi Tuhan senantiasa memberi kita kemampuan untuk mempelajari apa yang telah terlewati. Sayang, tak semua jiwa menyambutnya dengan mesra.
          Pada sebuah jejak senja, senyum anak-anak langit membahana. Sapa ramah walau dalam getir meracik penat demikian jujur. Tulus tak terbeli, dendang rasa menyapa. Di simpang lampu merah ini, senja memberiku siluet berharga, sebuah mahakarya atas satu ruang bernama hati. Ruang yang selalu membentangkan layarnya untuk titik-titik kepedulian.

          Aku masih terpaku pada sudut yang tak kumengerti. Menatap sorot mata itu satu persatu. Kucoba menepikan ego yang pernah begitu lama bersahabat. Memejamkan pandang untuk sejenak terbang bersama jiwa-jiwa mereka. Tersentak seketika kala sebuah sentuhan terasa demikian hangatnya. Kubuka mata perlahan. Senyum manis menyambutku, seraut wajah sudah ada di sisiku.
          Tangannya terjulur. Satu gelas minuman air mineral diulurkannya. Entah mengapa aku tak menolak. Sembari membalas senyum itu dengan sebuah elusan di kepala.
          “Terima kasih”
          “Sama-sama, Kak”
          Hatiku tergetar mendengar sebutan itu. Betapa telah lama aku kehilangan Ahmad, seorang malaikat kecil yang dulu selalu menemaniku mencanda senja. Sosok yang senantiasa kutemui di simpang lampu merah dengan semangat tak kenal menyerahnya. Seorang pejuang mimpi yang pernah memaksaku untuk tak pernah berhenti menyalakan impian tentang senja di Central Park. Segala yang bersungguh-sungguh senantiasa akan menemukan arahnya. Meski kini ia telah tenang di surga, aku masih tetap mencanda senja.
          “Kenapa menangis, Kak ?”
          Tersadarku akan tanya itu. Entah telah berapa detik kubiarkan gadis kecil itu menemani kebisuanku. Langit kian pekat, sesaat lagi malam akan berganti peran. Jingga akan berubah. Tapi kuyakin esok ia pasti akan kembali. Senja akan menemui para pecintanya, senja akan selalu datang pada pengejanya.

          “Dik, sudah adzan. Kita harus pulang” seorang anak lelaki memanggil
          “Ya. Kak, aku pulang ya”
          “Mau kemana ?” tanyaku
          “Ke surau. Kami sholat dan mengaji di surau”
          Rabb, betapa indah senjaMu. Oh jiwa, lihatlah dalam keterbatasan yang menghimpit mereka, tiada keluh yang dikesahkannya. Mereka tetap bertafakur dalam kesyukuran. Memahami hidup dari sisi yang tak dipahami oleh jiwa-jiwa yang berkecukupan. Sungguh, betapa kita tak lengkap tanpa mereka.

          Adakalanya kita mesti belajar untuk memahami orang lain. menghempaskan rasa angkuh juga ego. Memberi ruang yang lebih luas pada hati untuk menerima apa yang ada dan tak pernah lupa untuk senantiasa berbagi. Pada air mata mereka, kita mestinya belajar arti tawa. Pada lara mereka, kita mestinya belajar makna suka cita. Pada keteguhan mereka, kita mestinya belajar bagaimana berdamai dengan keadaan yang tak teringin.

          ::: Pecinta Senja :::

Saat mereka memanggilmu “Ayah”



          Ayah, bukan sebutan yang hanya menjadi pemanis di bibir saja. Dalam kata sederhana itulah sesungguhnya makna luar biasa sedang dipertaruhkan. Terbayangkankah ketika di belahan bumi lain begitu banyak jiwa-jiwa yang merindukan panggilan itu. Mungkin selama ini nyaris tertutupi oleh peran perempuan-perempuan tangguh yang kerap menjadi sorotan berbagai media.
          Pada sebuah jejak, langkah terhenti di satu sudut pembelajaran berharga yang kudapati siang itu. Terik menyengat, debu beterbangan tanpa kompromi. Kicau burung tak semerdu biasanya. Rinai suara nyanyian bambu semakin mempertegas persaksian tapak kaki di sebuah desa terdalam. Tegas nian semesta berbahasa.

           “Ayah datang, ayah datang, ayah datang”
          Suara anak kecil menyita perhatian. Seorang lelaki muda yang tengah melangkah bersama kami tampak tersenyum. Sekilas kulihat wujud kasih sayang tulus terhampar demikian jernih. Tangannya hanya sempat menggapai sesaat saja di kepala sang anak.
          “Oleh-olehnya mana, Yah ?”
          Tanya itu membuatku tersenyum getir. Siluet masa kecil begitu saja tergambar dengan jelas. Aku sama sepertinya, beberapa tahun lalu. Aku juga selalu menunggu Ayah pulang dari kerja. Aku juga selalu berangan oleh-oleh apa yang akan dibawa oleh Ayah di sore hari. Aku juga senantiasa memupuk rindu sedari pagi. Akupun kerap mendamaikan hati dan memupuk begitu banyak kejutan untuknya. Memamerkan hasil ulangan, merangkai cerita-cerita seru bahkan tak segan melawan rasa kantuk ketika Ayah harus bekerja lebih ekstra dan terpaksa pulang hingga larut malam.
          “Maaf, Nak. Hari ini Ayah nggak bawa oleh-oleh. Besok ya”
Nada kesedihan yang coba dibungkus dengan tawa renyah. Sunggingan senyum menjadi hadiah manis yang kemudian berbalas anggukan tanda mengerti. Aku terkesima akan bahasa nan halus. Nada kecewa sempat terbaca pada raut wajah bocah itu tapi ia tak juga protes meskipun ada nelangsa akan ingin yang tak terjawab.

Bocah kecil itu kembali bermain dan berbaur dengan kawan-kawannya. Sementara sang ayah kembali menerangkan beberapa hal kepada kami. Bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, saat ini menjadi sebuah tugas yang harus aku jalani sebagai konsekuensi atas jabatan baru yang diamanahkan di pundakku. Ada perbedaan yang jauh dibandingkan ketika aku hanya bertemu mereka di kantor saja. Ruang dingin berAC hanya sempat menjamah sedikit saja sisi hati mereka. Keramahan dan ketulusan yang harus melekat dalam diri kami tetap saja menjadikan jarak masih terasa. Mungkin karena kesan formil masih terjaga. Namun ketika berinteraksi di lapangan, sungguh sebuah anugerah indah sebab Tuhan telah memberikanku kesempatan mengenal mereka dari sisi yang sangat dekat.
Ada perjuangan, kerja keras, tawa, air mata serta kegigihan atas apa yang ingin mereka capai. Andai saja setiap jiwa bersedia memberikan sedikit saja dari waktu yang dia punya, betapa diluar sana di pelosok desa itu masih banyak hati-hati yang harus disentuh. Masih banyak tangan-tangan yang harus kita gapai atas nama “Peduli dan kemanusiaan”.

Merasakan kembali suasana keakraban masyarakat yang mungkin tak lagi nyata di kota-kota besar. Senyuman ramah dari orang yang lalu lalang sekalipun mereka tak mengenali kami, menjadi sebuah catatan betapa persahabatan itu menarik jiwa-jiwa dengan sendirinya dalam bingkai ketulusan. Saat kau bentangkan hatimu untuk mereka, maka magnet demikian cepat bereaksi. Hangat jiwa-jiwa itu membuat dinginnya udara tak lagi terasa. Aku kembali tergelitik melihat bocah kecil yang kini sendiri, setelah kawan-kawannya telah pergi meninggalkannya. Ia berlari menuju sang ayah lalu dengan sangat manja duduk di pangkuannya.
“Dia memang selalu begini, Mbak. Kalau saya datang, dari dalam rumah dia berlari lalu minta digendong. Biasanya menanyakan oleh-oleh yang saya bawa. Setelah itu dia akan bercerita tentang apa saja yang dialaminya seharian ini. Ada saja yang ingin ia pamerkan, anak sekecil ini mana tahu kalau orang tuanya lelah dan ingin cepat istirahat”
“Kalau dalam keadaan capek, biasanya kita mudah terpancing emosi. Sempat merasakan seperti itu ?” tanyaku
Sembari tertawa, lelaki itu mengecup kening si bocah yang tengah asyik memainkan pesawat kertasnya sambil tertawa renyah.
Pernah. Tapi kemudian saya sadar, dia nggak salah apa-apa. Wajar kalau dia meminta perhatian saya, sebab selama seharian nggak bertemu sama sekali. Melihat keluguannya rasa lelah itu sirna, Mbak. Celotehnya yang ringan, keinginan-keinginannya yang dipaparkan dalam bahasa anak-anak adalah energi tersendiri yang membuat saya semakin bersemangat untuk bekerja dan memberikan yang terbaik bagi keluarga. Saya ingin kelak ia bisa mencapai cita-citanya”
“Dia sangat beruntung”
“Saya rasa setiap orang tualah yang beruntung dianugerahi anak-anak. Amanah yang tak semua orang dapat memilikinya. Maka sangat miris ketika ada beberapa ayah yang rela menelantarkan keluarganya. Padahal dalam doa anak-anak itulah sesungguhnya berkah akan mengalir. Mbak dengar bukan ketika anak saya tadi menagih oleh-oleh dan saya tak membawanya ?”
Aku mengangguk pelan. Menanti apa yang akan ia paparkan selanjutnya.
“Sedih, Mbak. Saya tahu dia telah berharap itu sejak saya pergi tadi pagi. Saya tahu dia telah berangan tentang apa yang akan ia nikmati nantinya. Binar matanya yang mengerjap saat melihat saya dari kejauhan, sungguh pemandangan yang indah. Ada yang menanti kita, kerja keras itu seakan tiada terasa. Tapi saya tahu ketika saya tak membawa apa yang diharapkannya, dia akan berdoa agar esok saya datang dengan hasil yang lebih baik”
Kedekatan mereka yang natural mungkin terjadi pada setiap ayah dan anak. Berbahagialah ketika mereka memanggilmu “Ayah”, sebab disanalah Tuhan senantiasa mengingatkan akan tanggung jawab yang nyata di pundakmu. Ada harapan yang sedang kau perjuangkan. Ada impian yang sedang kau rintis jalannya agar kelak mereka dapat menitinya dengan sempurna. Ada cinta yang sedang kau bentangkan untuk pengejawantahan kasih orang tua yang tak kenal masa. Ada hidup yang sedang kau sulam untuk sebuah masa depan.

Dari mereka, aku mengerti. Mengapa seorang ayah akan selalu menganggap anak-anaknya adalah anak kecil. Karena mereka tak pernah ingin sesuatu yang buruk terjadi sehingga berusaha melindungi sang buah hati dengan sempurna. Siluet itu tergambar seketika di depan mataku. Teringat betapa jasa Ayah tak pernah bisa terbalas. Rasa kekhawatirannya setiap kali menungguku pulang kerja hingga larut, jiwanya yang tak pernah lelah untuk memberiku nasehat kehidupan dan cintanya yang kadang bungkam dalam sikap disiplinnya semata agar aku mampu menjadi putrinya yang tangguh.

Untuk seluruh “Ayah” di dunia,
Berbahagialah sebab kalian adalah ayah terhebat bagi setiap anak, ayah nomor satu yang selalu mereka banggakan diluar sana. Ayah terbaik yang senantiasa mereka sanjungi, ayah terkasih yang tak pernah lepas dari lafaz-lafaz doanya. Seperti apapun kecewa yang kadang kau rasakan atas tingkah mereka, sungguh mereka hanya ingin menarik perhatianmu saja. Berbagilah rasa, jangan pernah menjadikan mereka sebagai sisa waktumu. Merekalah semangat juangmu, merekalah tujuan langkah hidupmu, merekalah arti kerja kerasmu, merekalah dirimu.

::: Inspiring by => sebuah perjalanan di Desa Jaddih Timur :::