Pada
sepenggal senja di tapal batas kota,
aku luruh dalam sajian istimewa. Ramuan makna yang dihadirkan senja dalam
kesederhanaan yang luar biasa. Di ujung hari ketika para pengejar mimpi telah
pulang dengan segenggam harap nan pasti di tangan, sepasang hati justru masih
berkutat dengan impian-impian yang disusun sedemikian rapinya.
Kuhentikan laju sejenak. Sapa senja
yang menjingga tak kuasa kutolak. Telah beberapa hari mendung mengiringiku
hingga hujan mengajakku berdansa dengan mesra. Aku masih mencari jingga, masih
selalu menanti dalam sabar yang tak berbatas.
Sesaat memandang langit diantara
pematang. Hijau yang menghampar berpadu dengan jingga di langit. Sungguh
lukisan sang Maha Cinta yang selalu membawaku pada kekaguman luar biasa.
“Sedang apa, Mbak ?”
Sapa yang mungkin heran melihatku.
Seorang lelaki paruh baya dengan sabit dan beberapa perlengkapan yang dibawanya
dari sawah juga seorang perempuan yang telah renta. Keduanya tersenyum,
kurasakan tulus yang nyata.
Lalu keduanya seakan serempak
menoleh ke arah jingga yang sedari tai kupandang.
“Mbak suka dengan langit itu ? Kalau
sore cuaca secerah ini biasanya banyak yang mampir kemari. Sama seperti yang
Mbak lakukan sekarang, memandang saja. Entah apa yang mereka fikirkan”
Aku tersenyum. Keduanya lalu duduk
pada batu di sebelahku.
“Ini punya bapak dan ibu ?” tanyaku
seraya menunjuk ke arah sawah di depan kami
“Bukan, Mbak. Kami hanya
menggarapnya saja. Seperti inilah, hasilnya memang tak seberapa tapi Tuhan Maha
Adil walaupun dari ukuran manusia seolah tak mencukupi toh nyatanya kami bisa
mengantarkan anak-anak kami untuk belajar di sebuah pondok di Jombang”
“Oh ya ?” tiba-tiba aku merasa
menemukan sahabat yang asyik untuk berbagi
“Ya. Dua anak kami sekarang sedang mondok.
Awalnya mereka nggak mau, Mbak. Katanya mereka tak tega melihat kami harus
mencari biaya dan mengirimi mereka setiap bulannya. Hanya saja saya dan suami
berprinsip akan selalu ada kemudahan untuk setiap jalan Tuhan. Rezeki yang
menurut kacamata orang lain kecil, tapi yang kami cari adalah yang berkah.
Mengantarkan anak-anak menuju cita-citanya adalah kebahagiaan setiap orang tua.
Kami memang miskin tapi kami ingin anak-anak kami bisa meraih apa yang mereka
impikan. Hanya semangat, doa dan kerja keras ini yang bisa kami lakukan. Tak
ada yang tak mungkin asalkan kita mau berusaha. Kami selalu percaya Tuhan akan
selalu ada di setiap langkah ini”
Aku tercengang. Mereka yang
sederhana itu mempunyai pemikiran yang sangat luas.
“Pulang ke rumah selalu sore begini
?”
“Ya, Mbak”
Sejenak kulihat gurat lelah di tubuh
yang makin renta itu. Sang istri kulihat membuka perbekalan mereka. Nasi dengan
lauk sederhana, tapi jujur aku suka banget. Tempe goreng selalu menghadirkan aroma yang
sedap untukku. Mereka menawariku tapi aku hanya berujar terima kasih. Lalu
sesekali kulihat sang istri menyuapi sang suami yang terlihat mengelap
keringatnya. Mereka pasti sangat lelah. Tubuh yang tak sekuat masa mudanya
masih harus melewati pekerjaan seberat ini. Demi anak-anak dan masa depan
mereka kelak. Subhanallah, sebuah
cermin yang seharusnya kita kaji.
Aku tersenyum melihat keduanya. Romantis itu begini. Saat satu dan yang
lainnya saling menerima kekurangan,
saling menguatkan, saling berbagi dalam senyum dan tangis, saling
menjaga. Mereka tak butuh ucapan cinta yang menggombal. Cinta bagi mereka itu
sederhana. Saling mengerti juga memahami dalam kata yang tak perlu diucap,
dalam sabar tak berbatas yang saling dimiliki, dalam lautan syukur yang tak
kenal waktu. Bagi mereka mungkin ini hal biasa tapi untukku pemandangan ini
sungguh adalah cinta.
Senja ini romantis. Aku bertemu dengan cinta sederhana milik sepasang
hati yang tak henti menebar bahagia untuk sesama, milik mereka yang tak pernah
lelah berjuang, milik mereka yang ikhlas, milik mereka yang sangat mencintai
RabbNya.
Cinta itu sederhana. Walau tiada kata, ada Tuhan juga nurani yang akan
selalu meyakinkan bahasa hati. Membawa rasa pada peka yang terasah oleh sabar
dan masa.
Catatan Senja di tapal Batas Klobungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar