Ada gundah saat tak
berjumpa, ada gelisah kala tak bersama. Gumpalan rindu meradang memenjarakan
geliat-geliat aksara yang terus saja berlarian dengan liar. Tak rela
melepaskannya namun tak berdaya saat
raga lemah dan menjemput dalam sebentuk ketentuan untuk mengistirahatkan pena
sejenak.
Senja
begitu saja terlewat, langit tak sempat kusapa seperti biasa namun pena seolah
tak hendak terlalu lama bersandar. Satu persatu aksara kembali mengetuk
pintu-pintu nalar. Mengajaknya berkelana lagi untuk bertemu dengan milyaran
aksara, jutaan kalimat dan ribuan ide yang selalu tak bisa duduk berdiam.
Diantara
raga yang masih melemah, kurangkai lagi aksara. Malam ini semua hendak kumulai.
Bertaruh lagi dengan waktu untuk memenuhi segenap janji yang telah tersemat.
Detik
telah menggariskan bahwa menulis bukanlah sekedar ceremonial jiwa tapi ia adalah ruh. Setiap detik, segala yang
terlihat dan terdengar adalah aksara alam yang berbahasa. Tak ada lagi yang
harus terpenjara dalam sekat sebab aksaraku akan selalu bersahabat dengan pena.
Penaku tak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergerak, bergerak, bergerak,
terus bergerak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar