Senin, 23 Januari 2012
Gadis Pendobrak
Navadha Luciandary, gadis kecil bermata indah dengan gaun kuning ceria menyapaku di tempat registrasi para peserta workshop menulis. Semula aku kira dia adalah putri dari salah seorang peserta yang sekedar ikut sang bunda. Ups, aku masih heran saat dia turut mengisi daftar hadir. Dan sebuah kejutan yang indah ketika beberapa peserta mengatakan bahwa dialah penulis kecil yang berbakat itu. Satu-satunya peserta termuda dengan usia sembilan tahun. Subhanallah, aku beruntung bisa bertemu dengannya langsung. Jadi menerawang, sembilan tahun ? Saat usiaku seperti dia, aku ngapain aja ya.
Navadha tinggal terpisah dengan sang bunda, karena hingga saat ini masih menjadi salah satu buruh migran. Namun ikatan batin serta cinta yang sangat halus antara ibu dan anak tak ada yang dapat memenggalnya. Seluas apapun samudera memisahkan mereka, langit kasih itu akan tetap menaungi setiap langkah Navadha. Tegar dan mandiri, itu kesan awal saat berjumpa dia. Tak semua anak yang sanggup terpisah sedemikian jauh dan lama dengan bidadarinya.
Kejutan yang indah sudah kami siapkan siang itu. Atas permintaan sang bunda yang sangat ingin memberikan beasiswa menulis untuk malaikat kecilnya. Sebab menurut dia, Navadha sudah sejak lama mempunyai bakat itu. Sebagai orang tua, dia ingin semua itu mempunyai tempat yang tepat untuk berkembang agar tak sia-sia. Benar saja, sepanjang materi yang dipaparkan oleh Joni Lis Effendi, dia tampak mengikuti dengan antusias tanpa berkeluh bosan.
Saat semua perhatian nyaris tertuju pada tugas yang diberikan, kami berinisiatif untuk memberikan surprise itu. Dan sungguh satu hal yang pantas disyukuri, kecanggihan teknologi telah membuat kerinduan seorang malaikat kecil terbayar sudah. Navadha tak pernah tahu jika siang itu dia akan dapat menatap wajah bidadarinya, dapat tersenyum bersama, dapat mengucap terima kasih atas pengorbanan sang bunda, dapat merampungkan jutaan rindu yang menggunung dalam kalbunya.
Ketika sapa itu hadir, Navadha tampak tak percaya. Entah apa yang berkecamuk dalam hati gadis kecil itu, semua kata seolah lebur dalam tatap rindunya pada sang bunda. Titik air mata tak kuasa mengalir dari sudut mataku, begitu juga yang lainnya. Haru, bahagia juga senang menyaksikan pertemuan itu. Rabb, sungguh kuasaMu luar biasa.
“Ayo, Dik mau bilang apa sama Mama ?”
Gadis itu hanya diam
“Masih kaget ya ? Nggak nyangka akan ketemu Mama ?”
Navadha masih juga diam. Beberapa saat kemudian dia tersenyum namun tak ada satu kata yang sanggup ia lontarkan.
Kami tahu betapa gadis itu sangat kuat. Jika saja aku dan yang lainnya yang berada di posisi itu mungkin saja sudah menangis. Ada riak kecil di sudut matanya yang sempat tertangkap tapi Navadha dapat menyembunyikannya dengan sangat baik.
Ketegaran itu, sungguh aku salutkan. Sekuat itu dia menahan rasanya. Tapi benih kerinduan yang menjulang di langit hatinya, dapat kami rasakan. Begitu pula dengan sang bunda betapa dia sangat bangga dapat melihat langsung malaikat kecilnya yang cantik berada di tengah-tengah para penulis.
Bunda, berbahagialah. Sebab gadis kecilmu akan menjadi tonggak dan pendobrak dunia literasi. Kami yakin tarian penanya akan membuatmu tersenyum.
Navadha yang cantik, terus berjuang ya agar impian itu tak sekedar mimpi. Ada bakat luar biasa dalam dirimu dan kami dengan tangan terbuka menyambutmu sebagai bagian dari dunia literasi. Bersama kita belajar dan berbagi.
Selamat datang gadis cantik
Selamat datang malaikat kecil
Selamat datang pejuang pena
Membaca Pelangi 21 Januariku
2101 2012 …
Selaksa makna kembali menyapa di tahun ini. Sebuah kesyukuran tak terhingga atas anugerah nafas hidup yang diberikanNya dengan penuh cinta. Setapak demi setapak fase hidup kembali dimulai.
Sepanjang sejarah 21 Januari yang kupunya, baru kali ini aku mendapatkan ucapan tepat di pergantian hari, pukul 24.02. Ucapan pertama di usia baru dalam rangkaian aksara bersama lantunan doa malam itu semoga teraminkan oleh semesta. Sekali lagi, terima kasih. Nice surprise.
Aku mungkin salah satu orang yang terlalu cuek dengan perayaan ulang tahun. Buatku tak ada yang istimewa selain kita kembali merenungi diri apa yang telah kita perbuat dan kembali berfikir untuk mengisi usia berikutnya dengan sesuatu yang bermanfaat dan lebih baik lagi. Entah telah berapa kali aku bahkan melupakan tanggal itu. Alhasil beberapa sahabat yang justru menjadi pengingat dengan kejutan-kejutan yang sengaja mereka rancang sedemikian rupa.
21 Januari, hampir seharian aku tak bersentuhan dengan dunia maya. Tak tahu mengapa tiba-tiba hari itu aku sangat merindukan datang ke panti. Ingin melewati sepenggal kisah hari ini dengan melihat senyum mereka. Alhamdulillah karena bunda selalu mendukungku. Mungkin saja beliau juga tahu ada sesuatu yang tak sama di tahun ini karena Ayah tak lagi ada di sisiku. Tapi kado terindahnya telah dia berikan tepat di detik-detik terakhir kepergiannya. Al Quran kecil bersampul merah marun dan buku “Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu” yang dihadiahkan Ayah, kudekap seharian. Tak ada air mata karena aku ingin Ayah tetap tersenyum disana. “Tuhan yang Maha Baik, titip rindu untuk Ayah”, berulangkali kalimat itu terlantun dalam doaku.
Kejutan kedua menyapaku. Saat menjejakkan kaki di panti aku merasa ada yang asing. Suasana yang tak sehangat biasanya. Senyum yang tak seramah sebelumnya. Adakah yang terjadi selama hampir beberapa bulan aku tak datang. Sepi, tak ada sapa yang menyapaku berulang-ulang di sepanjang kamar-kamar itu. Orang-orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anaknya dan harus ditempatkan di panti jompo dengan berbagai alasan. Kemana mereka semua ?.
Tanyaku terjawab ketika salah seorang petugas memberiku penjelasan singkat. Panti ini telah digusur. Para penghuninya dipindahkan dan tempat ini telah menjelma sebagai salah satu kantor pemerintah. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama disini saja tak pernah didatangi oleh pihak keluarganya.
“Sudah kami tawarkan Mbak kepada keluarganya, jika ada yang mau menampung mereka kembali ya silahkan tapi jika tidak, kami memindahkan mereka ke panti-panti jompo yang lain diluar wilayah ini”
“Mereka berada di satu panti jompo juga ?”
“Nggak, Mbak. Mereka tersebar di beberapa panti tapi saya nggak hafal dimana saja”
Duh, rasanya perih mendengar semua itu. Ada keping hati yang tersayat membayangkan bagaimana mereka harus beradaptasi lagi. Semakin jauh saja dari keluarga, lalu akankah mereka masih diingati. Orang tua yang selama ini begitu ikhlas meski ditelantarkan anak-anaknya, kini harus mengalami ketakadilan seperti ini. Tak dapat melawan, hanya pasrah saja. Ada rasa tak terima melihat kenyataan begini di depan mata. Air mata luruh tapi aku tahu ini takkan bisa menyelesaikan masalah. Rabb, andai saja aku tak egois dengan waktu. Jika saja beberapa bulan terakhir masih sempat mengunjungi mereka, setidaknya masih bisa berusaha mencari keluarga mereka. “Tuhan yang Penuh Cinta, lindungi orang tua-orang tua yang penuh keikhlasan itu. Peluk mereka di setiap waktu”. Penggusuran selalu menjadi kepedihan dan ketakadilan.
Langkahku sedikit menyurutkan semangat. Sebuah pesan menyapa ponselku untuk segera bersiap karena sebentar lagi aku harus segera meluncur ke Surabaya, menjemput seorang penulis yang akan mengisi salah satu acara di tanggal 22 Januari. Pukul 15.00 sesuai kesepakatan, ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran seorang sahabat juga kakak terbaikku, Mbak Jazim Naira Chand. Dengan senyum khasnya, dia telah berdiri di depan pintu dengan setumpuk kado yang dibawanya. Subhanallah, kenapa tak mengabariku kalau akan datang kemari, Teteh.
“Selamat ulang tahun ya, Neng”
Tak ayal aku langsung memeluknya. Hangat dan dapat kurasakan cinta luar biasa seorang sahabat. Sekali lagi, kejutan yang indah di senjaku. Sekalipun hujan mengguyur dengan sangat deras, hangat jingga masih sangat lekat dalam ukhuwah ini. Tuhan Maha baik, disekaNya air mata yang beberapa saat lalu sempat nyata di pipiku. Teteh, terima kasih.
Di tengah guyuran hujan yang menyapa Surabaya, kendaraan segera meluncur menuju Terminal Purabaya. Janji untuk menjemput PP Joni Lis Effendi harus segera ditunaikan. Cerita lucu membuat hari ini benar-benar penuh makna. Karena kami berempat sama sekali belum pernah bertemu dengan sang tokoh maka sempat salah sasaran. Seorang lelaki dengan postur seperti dalam gambaran kami, sempat mengecoh ketika dia melintas di hadapan. Maksud hati hendak membuat kejutan tapi ternyata orang itu meluncur begitu saja menuju kumpulan orang yang menjemputnya. Kembali deh kami mulai menerawang seperti apa sosok PP sebenarnya.
“Sudah, kita jalan saja ke tempat kedatangan penumpang”
“Memangnya PP menungu di sebelah mana sih, Mbak ?”
“Di depan WC umum”
Spontan deh kami segera menoleh ke arah Mbak Fransiska, What ? Nggak ada yang lebih kerenkah tempatnya Mbak.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami menunggu juga dari tempat yang nggak jauh-jauh seperti yang PP katakan tapi nggak terlalu dekat juga. Hujan membuat kami enggan untuk menyeberang, karena ternyata dua payung yang ada tertinggal di kendaraan. Sempat terfikir bagaimana cara membuat kejutan. Saat otak masih mencari jalan dan cara terbaik, seorang lelaki muncul yang membuat kami sedikit kaget dan sontak berbalik arah bersamaan agar tak terlihat. Ups, terlambat karena ternyata diluar dugaan PP mengenali kami. Yah, gagal deh.
Aku sangat bersyukur karena di hari ulang tahunku, Tuhan menghadiahkanku sebuah kesempatan bertemu dengan penulis sehebat dia. Dan kejutan masih berlanjut sebab ternyata dia membawa hadiah dari Mbak Okti Lie, untukku. Hadiah yang dibawanya dari Taiwan tapi sayang aku nggak bisa bertemu langsung dengan Mbak Okti. Sebuah menara Taipei dengan lampu warna warninya, kalau dalam keadaan gelap indah banget cahayanya. Mbak Okti, terima kasih. Menaranya sekarang menjadi teman menulisku. Ups, hadiah novel karya PP juga keren banget. “Persembahan Cinta dari Surga” judulnya saja sudah membuat penasaran.
“Kupersembahkan novel ini untuk belahan jiwaku di bumi Allah. Tak letih lidah dan hati ini senantiasa mendoakan perjumpaan dalam sujud panjang di penghujung malam. Semoga Allah menyempurnakan cinta kita dalam mahligai indah pernikahan” Kalimat pembuka novel yang bagus dan manis, semoga novelnya terus laris dan kudoakan semoga cepat bertemu dengan belahan jiwanya ya. Terima kasih hadiahnya.
Pukul 22.00 aku baru sempat berselancar di ranah maya. Subhanallah, begitu banyak kata, kalimat, ucapan dan doa yang menyapaku. Terima kasih, terima kasih. Terima kasih. Hari ini, alhamdulillah Rabb.
Kepada para sahabat, saudara dan semua yang tak bisa aku sebutin satu persatu. Terima kasih untuk semua ucap dan doa yang mengalir baik di facebook, email dan sms yang belum sempat aku balas semuanya. Sungguh, adanya kalian membuatku lebih berarti. Semoga nafas ini semakin berarti untuk sesama. Amin.
Selaksa makna kembali menyapa di tahun ini. Sebuah kesyukuran tak terhingga atas anugerah nafas hidup yang diberikanNya dengan penuh cinta. Setapak demi setapak fase hidup kembali dimulai.
Sepanjang sejarah 21 Januari yang kupunya, baru kali ini aku mendapatkan ucapan tepat di pergantian hari, pukul 24.02. Ucapan pertama di usia baru dalam rangkaian aksara bersama lantunan doa malam itu semoga teraminkan oleh semesta. Sekali lagi, terima kasih. Nice surprise.
Aku mungkin salah satu orang yang terlalu cuek dengan perayaan ulang tahun. Buatku tak ada yang istimewa selain kita kembali merenungi diri apa yang telah kita perbuat dan kembali berfikir untuk mengisi usia berikutnya dengan sesuatu yang bermanfaat dan lebih baik lagi. Entah telah berapa kali aku bahkan melupakan tanggal itu. Alhasil beberapa sahabat yang justru menjadi pengingat dengan kejutan-kejutan yang sengaja mereka rancang sedemikian rupa.
21 Januari, hampir seharian aku tak bersentuhan dengan dunia maya. Tak tahu mengapa tiba-tiba hari itu aku sangat merindukan datang ke panti. Ingin melewati sepenggal kisah hari ini dengan melihat senyum mereka. Alhamdulillah karena bunda selalu mendukungku. Mungkin saja beliau juga tahu ada sesuatu yang tak sama di tahun ini karena Ayah tak lagi ada di sisiku. Tapi kado terindahnya telah dia berikan tepat di detik-detik terakhir kepergiannya. Al Quran kecil bersampul merah marun dan buku “Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu” yang dihadiahkan Ayah, kudekap seharian. Tak ada air mata karena aku ingin Ayah tetap tersenyum disana. “Tuhan yang Maha Baik, titip rindu untuk Ayah”, berulangkali kalimat itu terlantun dalam doaku.
Kejutan kedua menyapaku. Saat menjejakkan kaki di panti aku merasa ada yang asing. Suasana yang tak sehangat biasanya. Senyum yang tak seramah sebelumnya. Adakah yang terjadi selama hampir beberapa bulan aku tak datang. Sepi, tak ada sapa yang menyapaku berulang-ulang di sepanjang kamar-kamar itu. Orang-orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anaknya dan harus ditempatkan di panti jompo dengan berbagai alasan. Kemana mereka semua ?.
Tanyaku terjawab ketika salah seorang petugas memberiku penjelasan singkat. Panti ini telah digusur. Para penghuninya dipindahkan dan tempat ini telah menjelma sebagai salah satu kantor pemerintah. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama disini saja tak pernah didatangi oleh pihak keluarganya.
“Sudah kami tawarkan Mbak kepada keluarganya, jika ada yang mau menampung mereka kembali ya silahkan tapi jika tidak, kami memindahkan mereka ke panti-panti jompo yang lain diluar wilayah ini”
“Mereka berada di satu panti jompo juga ?”
“Nggak, Mbak. Mereka tersebar di beberapa panti tapi saya nggak hafal dimana saja”
Duh, rasanya perih mendengar semua itu. Ada keping hati yang tersayat membayangkan bagaimana mereka harus beradaptasi lagi. Semakin jauh saja dari keluarga, lalu akankah mereka masih diingati. Orang tua yang selama ini begitu ikhlas meski ditelantarkan anak-anaknya, kini harus mengalami ketakadilan seperti ini. Tak dapat melawan, hanya pasrah saja. Ada rasa tak terima melihat kenyataan begini di depan mata. Air mata luruh tapi aku tahu ini takkan bisa menyelesaikan masalah. Rabb, andai saja aku tak egois dengan waktu. Jika saja beberapa bulan terakhir masih sempat mengunjungi mereka, setidaknya masih bisa berusaha mencari keluarga mereka. “Tuhan yang Penuh Cinta, lindungi orang tua-orang tua yang penuh keikhlasan itu. Peluk mereka di setiap waktu”. Penggusuran selalu menjadi kepedihan dan ketakadilan.
Langkahku sedikit menyurutkan semangat. Sebuah pesan menyapa ponselku untuk segera bersiap karena sebentar lagi aku harus segera meluncur ke Surabaya, menjemput seorang penulis yang akan mengisi salah satu acara di tanggal 22 Januari. Pukul 15.00 sesuai kesepakatan, ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran seorang sahabat juga kakak terbaikku, Mbak Jazim Naira Chand. Dengan senyum khasnya, dia telah berdiri di depan pintu dengan setumpuk kado yang dibawanya. Subhanallah, kenapa tak mengabariku kalau akan datang kemari, Teteh.
“Selamat ulang tahun ya, Neng”
Tak ayal aku langsung memeluknya. Hangat dan dapat kurasakan cinta luar biasa seorang sahabat. Sekali lagi, kejutan yang indah di senjaku. Sekalipun hujan mengguyur dengan sangat deras, hangat jingga masih sangat lekat dalam ukhuwah ini. Tuhan Maha baik, disekaNya air mata yang beberapa saat lalu sempat nyata di pipiku. Teteh, terima kasih.
Di tengah guyuran hujan yang menyapa Surabaya, kendaraan segera meluncur menuju Terminal Purabaya. Janji untuk menjemput PP Joni Lis Effendi harus segera ditunaikan. Cerita lucu membuat hari ini benar-benar penuh makna. Karena kami berempat sama sekali belum pernah bertemu dengan sang tokoh maka sempat salah sasaran. Seorang lelaki dengan postur seperti dalam gambaran kami, sempat mengecoh ketika dia melintas di hadapan. Maksud hati hendak membuat kejutan tapi ternyata orang itu meluncur begitu saja menuju kumpulan orang yang menjemputnya. Kembali deh kami mulai menerawang seperti apa sosok PP sebenarnya.
“Sudah, kita jalan saja ke tempat kedatangan penumpang”
“Memangnya PP menungu di sebelah mana sih, Mbak ?”
“Di depan WC umum”
Spontan deh kami segera menoleh ke arah Mbak Fransiska, What ? Nggak ada yang lebih kerenkah tempatnya Mbak.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami menunggu juga dari tempat yang nggak jauh-jauh seperti yang PP katakan tapi nggak terlalu dekat juga. Hujan membuat kami enggan untuk menyeberang, karena ternyata dua payung yang ada tertinggal di kendaraan. Sempat terfikir bagaimana cara membuat kejutan. Saat otak masih mencari jalan dan cara terbaik, seorang lelaki muncul yang membuat kami sedikit kaget dan sontak berbalik arah bersamaan agar tak terlihat. Ups, terlambat karena ternyata diluar dugaan PP mengenali kami. Yah, gagal deh.
Aku sangat bersyukur karena di hari ulang tahunku, Tuhan menghadiahkanku sebuah kesempatan bertemu dengan penulis sehebat dia. Dan kejutan masih berlanjut sebab ternyata dia membawa hadiah dari Mbak Okti Lie, untukku. Hadiah yang dibawanya dari Taiwan tapi sayang aku nggak bisa bertemu langsung dengan Mbak Okti. Sebuah menara Taipei dengan lampu warna warninya, kalau dalam keadaan gelap indah banget cahayanya. Mbak Okti, terima kasih. Menaranya sekarang menjadi teman menulisku. Ups, hadiah novel karya PP juga keren banget. “Persembahan Cinta dari Surga” judulnya saja sudah membuat penasaran.
“Kupersembahkan novel ini untuk belahan jiwaku di bumi Allah. Tak letih lidah dan hati ini senantiasa mendoakan perjumpaan dalam sujud panjang di penghujung malam. Semoga Allah menyempurnakan cinta kita dalam mahligai indah pernikahan” Kalimat pembuka novel yang bagus dan manis, semoga novelnya terus laris dan kudoakan semoga cepat bertemu dengan belahan jiwanya ya. Terima kasih hadiahnya.
Pukul 22.00 aku baru sempat berselancar di ranah maya. Subhanallah, begitu banyak kata, kalimat, ucapan dan doa yang menyapaku. Terima kasih, terima kasih. Terima kasih. Hari ini, alhamdulillah Rabb.
Kepada para sahabat, saudara dan semua yang tak bisa aku sebutin satu persatu. Terima kasih untuk semua ucap dan doa yang mengalir baik di facebook, email dan sms yang belum sempat aku balas semuanya. Sungguh, adanya kalian membuatku lebih berarti. Semoga nafas ini semakin berarti untuk sesama. Amin.
Gadis Pendobrak
Navadha Luciandary, gadis kecil bermata indah dengan gaun kuning ceria menyapaku di tempat registrasi para peserta workshop menulis. Semula aku kira dia adalah putri dari salah seorang peserta yang sekedar ikut sang bunda. Ups, aku masih heran saat dia turut mengisi daftar hadir. Dan sebuah kejutan yang indah ketika beberapa peserta mengatakan bahwa dialah penulis kecil yang berbakat itu. Satu-satunya peserta termuda dengan usia sembilan tahun. Subhanallah, aku beruntung bisa bertemu dengannya langsung. Jadi menerawang, sembilan tahun ? Saat usiaku seperti dia, aku ngapain aja ya.
Navadha tinggal terpisah dengan sang bunda, karena hingga saat ini masih menjadi salah satu buruh migran. Namun ikatan batin serta cinta yang sangat halus antara ibu dan anak tak ada yang dapat memenggalnya. Seluas apapun samudera memisahkan mereka, langit kasih itu akan tetap menaungi setiap langkah Navadha. Tegar dan mandiri, itu kesan awal saat berjumpa dia. Tak semua anak yang sanggup terpisah sedemikian jauh dan lama dengan bidadarinya.
Kejutan yang indah sudah kami siapkan siang itu. Atas permintaan sang bunda yang sangat ingin memberikan beasiswa menulis untuk malaikat kecilnya. Sebab menurut dia, Navadha sudah sejak lama mempunyai bakat itu. Sebagai orang tua, dia ingin semua itu mempunyai tempat yang tepat untuk berkembang agar tak sia-sia. Benar saja, sepanjang materi yang dipaparkan oleh Joni Lis Effendi, dia tampak mengikuti dengan antusias tanpa berkeluh bosan.
Saat semua perhatian nyaris tertuju pada tugas yang diberikan, kami berinisiatif untuk memberikan surprise itu. Dan sungguh satu hal yang pantas disyukuri, kecanggihan teknologi telah membuat kerinduan seorang malaikat kecil terbayar sudah. Navadha tak pernah tahu jika siang itu dia akan dapat menatap wajah bidadarinya, dapat tersenyum bersama, dapat mengucap terima kasih atas pengorbanan sang bunda, dapat merampungkan jutaan rindu yang menggunung dalam kalbunya.
Ketika sapa itu hadir, Navadha tampak tak percaya. Entah apa yang berkecamuk dalam hati gadis kecil itu, semua kata seolah lebur dalam tatap rindunya pada sang bunda. Titik air mata tak kuasa mengalir dari sudut mataku, begitu juga yang lainnya. Haru, bahagia juga senang menyaksikan pertemuan itu. Rabb, sungguh kuasaMu luar biasa.
“Ayo, Dik mau bilang apa sama Mama ?”
Gadis itu hanya diam
“Masih kaget ya ? Nggak nyangka akan ketemu Mama ?”
Navadha masih juga diam. Beberapa saat kemudian dia tersenyum namun tak ada satu kata yang sanggup ia lontarkan.
Kami tahu betapa gadis itu sangat kuat. Jika saja aku dan yang lainnya yang berada di posisi itu mungkin saja sudah menangis. Ada riak kecil di sudut matanya yang sempat tertangkap tapi Navadha dapat menyembunyikannya dengan sangat baik.
Ketegaran itu, sungguh aku salutkan. Sekuat itu dia menahan rasanya. Tapi benih kerinduan yang menjulang di langit hatinya, dapat kami rasakan. Begitu pula dengan sang bunda betapa dia sangat bangga dapat melihat langsung malaikat kecilnya yang cantik berada di tengah-tengah para penulis.
Bunda, berbahagialah. Sebab gadis kecilmu akan menjadi tonggak dan pendobrak dunia literasi. Kami yakin tarian penanya akan membuatmu tersenyum.
Navadha yang cantik, terus berjuang ya agar impian itu tak sekedar mimpi. Ada bakat luar biasa dalam dirimu dan kami dengan tangan terbuka menyambutmu sebagai bagian dari dunia literasi. Bersama kita belajar dan berbagi.
Selamat datang gadis cantik
Selamat datang malaikat kecil
Selamat datang pejuang pena
Navadha tinggal terpisah dengan sang bunda, karena hingga saat ini masih menjadi salah satu buruh migran. Namun ikatan batin serta cinta yang sangat halus antara ibu dan anak tak ada yang dapat memenggalnya. Seluas apapun samudera memisahkan mereka, langit kasih itu akan tetap menaungi setiap langkah Navadha. Tegar dan mandiri, itu kesan awal saat berjumpa dia. Tak semua anak yang sanggup terpisah sedemikian jauh dan lama dengan bidadarinya.
Kejutan yang indah sudah kami siapkan siang itu. Atas permintaan sang bunda yang sangat ingin memberikan beasiswa menulis untuk malaikat kecilnya. Sebab menurut dia, Navadha sudah sejak lama mempunyai bakat itu. Sebagai orang tua, dia ingin semua itu mempunyai tempat yang tepat untuk berkembang agar tak sia-sia. Benar saja, sepanjang materi yang dipaparkan oleh Joni Lis Effendi, dia tampak mengikuti dengan antusias tanpa berkeluh bosan.
Saat semua perhatian nyaris tertuju pada tugas yang diberikan, kami berinisiatif untuk memberikan surprise itu. Dan sungguh satu hal yang pantas disyukuri, kecanggihan teknologi telah membuat kerinduan seorang malaikat kecil terbayar sudah. Navadha tak pernah tahu jika siang itu dia akan dapat menatap wajah bidadarinya, dapat tersenyum bersama, dapat mengucap terima kasih atas pengorbanan sang bunda, dapat merampungkan jutaan rindu yang menggunung dalam kalbunya.
Ketika sapa itu hadir, Navadha tampak tak percaya. Entah apa yang berkecamuk dalam hati gadis kecil itu, semua kata seolah lebur dalam tatap rindunya pada sang bunda. Titik air mata tak kuasa mengalir dari sudut mataku, begitu juga yang lainnya. Haru, bahagia juga senang menyaksikan pertemuan itu. Rabb, sungguh kuasaMu luar biasa.
“Ayo, Dik mau bilang apa sama Mama ?”
Gadis itu hanya diam
“Masih kaget ya ? Nggak nyangka akan ketemu Mama ?”
Navadha masih juga diam. Beberapa saat kemudian dia tersenyum namun tak ada satu kata yang sanggup ia lontarkan.
Kami tahu betapa gadis itu sangat kuat. Jika saja aku dan yang lainnya yang berada di posisi itu mungkin saja sudah menangis. Ada riak kecil di sudut matanya yang sempat tertangkap tapi Navadha dapat menyembunyikannya dengan sangat baik.
Ketegaran itu, sungguh aku salutkan. Sekuat itu dia menahan rasanya. Tapi benih kerinduan yang menjulang di langit hatinya, dapat kami rasakan. Begitu pula dengan sang bunda betapa dia sangat bangga dapat melihat langsung malaikat kecilnya yang cantik berada di tengah-tengah para penulis.
Bunda, berbahagialah. Sebab gadis kecilmu akan menjadi tonggak dan pendobrak dunia literasi. Kami yakin tarian penanya akan membuatmu tersenyum.
Navadha yang cantik, terus berjuang ya agar impian itu tak sekedar mimpi. Ada bakat luar biasa dalam dirimu dan kami dengan tangan terbuka menyambutmu sebagai bagian dari dunia literasi. Bersama kita belajar dan berbagi.
Selamat datang gadis cantik
Selamat datang malaikat kecil
Selamat datang pejuang pena
Naskah yang tak jadi dikirim (Lewat DL)
Rasa Dalam Sekat
Malam masih berjelaga. Pekat selimuti raga dalam dingin yang kian menyentuh. Ada hampa juga haru. Resah beradu dengan denting dawai hati yang mencoba mengetuk, datang sesaat menyelinap bersama sapa tak biasa.
“Astaghfirullah” aku tersentak
“Kenapa ? Mimpi buruk ?” seru Bunda yang menemaniku malam itu
Mengambil wudhu dan bermunajat dalam dua rokaat di sepertiga malam, mencoba mengadu di atas sajadah panjang. Sungguh, aku tak pernah tahu ada makna apa dibalik semua pertanda. Namun aku sangat percaya segala yang dihadirkanNya dalam sadar atau tidak, senantiasa berbahasa. ***
Sebuah bayang dalam samar menyentuh sisi hati yang selama ini terlalu lama kulindungi. Tak ingin melangkah dalam rasa yang tak semestinya, maka kutautkan saja benang-benang rindu dalam dekap sang Maha Cinta. Lalu malam itu, dalam peluk hangatNya, aku larungkan tanya. Adakah yang harus aku syukuri atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Sayang atau cinta, semua masih sangat misteri. Tak ada satupun hati yang dapat memastikannya. Begitu juga aku. Tak ingin terjebak dalam ego yang hanya menyesatkan kemurnian perasaan belaka.
“Kau mengenalnya ? Lalu kenapa tak mencoba menyingkap misteri, mengapa tak berusaha menjegal sekat yang ada diantara kalian ?” tanya Dinda, sahabatku
“Aku hanya ingin rasa itu datang semata karenaNya. Disaat hatinya memilihku, maka itu karena Dia. Begitu juga sebaliknya”
“Tapi sampai kapan kalian saling berdiam ? Menikmati perasaan itu hanya dalam diam saja ? Bagaimana sekat itu akan menghilang jika satu dan yang lain saling bertahan dengan egonya ?”
Aku tersenyum, entah. Semua memang terjadi dalam diam. Sang Maha Cinta mendatangkan bayangnya dalam waktu yang tak pernah kurencana. Menyapa begitu saja, murni. Hati-hati saling terjaga untuk sebenarnya memurnikan rasa. Bagaimana semua itu akan berujung, maka biar Rabbku saja yang memberikan ruang terindah itu.
Pertautan rasa ini memang tak biasa. Apa yang kami jalani bukan sebuah pertemuan seperti yang terjadi pada mereka diluar sana. Aku merasakan sebuah penemuan. Sebentuk ingin yang akhirnya aku temukan. Menemukan sebuah pencapaian yang ada pada diriku. Kadangkala terkesan rumit, tapi indah. Damai dan sederhanakan saja. ***
Rindu, menjadi bumbu paling manis dalam aura merah jambu sebuah hati. Disaat mereka berlomba dalam ribuan kalimat puitis yang melambungkan, maka aku hanya diam. Dia juga diam. Tapi ada rasa yang terhubung, dalam diam.
“Lalu bagaimana jika rindu tergelitik menyapa sisi manusiawimu ?” ucap Dinda
“Saat rindu menyapa maka nyanyikan saja syair jiwa itu kepada sang Maha Cinta. Tunduk dalam sujud panjang agar Dia menyampaikannya kepada sang empunya hati” jelasku
Dan dalam temaram malam yang semakin pekat, ada ego yang bertanya. Kenapa bertahan dalam sekat juga diam, sedang menjelaskan semuanya dalam kalimat gamblang akan lebih indah. Aku tersenyum menatap pijar galaksi bintang di langit, dalam diam. Hatiku terusik dalam jawab yang teryakini.
“Sekat itu masih ada, tapi aku percaya Allah sedang mengatur pertemuan itu dalam nyata dengan cara yang sangat indah untuk hambaNya. Maka masih pantaskah kita resah dan gulana”
Menikmati saja rasa yang masih bermisteri, indah saja.
Malam masih berjelaga. Pekat selimuti raga dalam dingin yang kian menyentuh. Ada hampa juga haru. Resah beradu dengan denting dawai hati yang mencoba mengetuk, datang sesaat menyelinap bersama sapa tak biasa.
“Astaghfirullah” aku tersentak
“Kenapa ? Mimpi buruk ?” seru Bunda yang menemaniku malam itu
Mengambil wudhu dan bermunajat dalam dua rokaat di sepertiga malam, mencoba mengadu di atas sajadah panjang. Sungguh, aku tak pernah tahu ada makna apa dibalik semua pertanda. Namun aku sangat percaya segala yang dihadirkanNya dalam sadar atau tidak, senantiasa berbahasa. ***
Sebuah bayang dalam samar menyentuh sisi hati yang selama ini terlalu lama kulindungi. Tak ingin melangkah dalam rasa yang tak semestinya, maka kutautkan saja benang-benang rindu dalam dekap sang Maha Cinta. Lalu malam itu, dalam peluk hangatNya, aku larungkan tanya. Adakah yang harus aku syukuri atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Sayang atau cinta, semua masih sangat misteri. Tak ada satupun hati yang dapat memastikannya. Begitu juga aku. Tak ingin terjebak dalam ego yang hanya menyesatkan kemurnian perasaan belaka.
“Kau mengenalnya ? Lalu kenapa tak mencoba menyingkap misteri, mengapa tak berusaha menjegal sekat yang ada diantara kalian ?” tanya Dinda, sahabatku
“Aku hanya ingin rasa itu datang semata karenaNya. Disaat hatinya memilihku, maka itu karena Dia. Begitu juga sebaliknya”
“Tapi sampai kapan kalian saling berdiam ? Menikmati perasaan itu hanya dalam diam saja ? Bagaimana sekat itu akan menghilang jika satu dan yang lain saling bertahan dengan egonya ?”
Aku tersenyum, entah. Semua memang terjadi dalam diam. Sang Maha Cinta mendatangkan bayangnya dalam waktu yang tak pernah kurencana. Menyapa begitu saja, murni. Hati-hati saling terjaga untuk sebenarnya memurnikan rasa. Bagaimana semua itu akan berujung, maka biar Rabbku saja yang memberikan ruang terindah itu.
Pertautan rasa ini memang tak biasa. Apa yang kami jalani bukan sebuah pertemuan seperti yang terjadi pada mereka diluar sana. Aku merasakan sebuah penemuan. Sebentuk ingin yang akhirnya aku temukan. Menemukan sebuah pencapaian yang ada pada diriku. Kadangkala terkesan rumit, tapi indah. Damai dan sederhanakan saja. ***
Rindu, menjadi bumbu paling manis dalam aura merah jambu sebuah hati. Disaat mereka berlomba dalam ribuan kalimat puitis yang melambungkan, maka aku hanya diam. Dia juga diam. Tapi ada rasa yang terhubung, dalam diam.
“Lalu bagaimana jika rindu tergelitik menyapa sisi manusiawimu ?” ucap Dinda
“Saat rindu menyapa maka nyanyikan saja syair jiwa itu kepada sang Maha Cinta. Tunduk dalam sujud panjang agar Dia menyampaikannya kepada sang empunya hati” jelasku
Dan dalam temaram malam yang semakin pekat, ada ego yang bertanya. Kenapa bertahan dalam sekat juga diam, sedang menjelaskan semuanya dalam kalimat gamblang akan lebih indah. Aku tersenyum menatap pijar galaksi bintang di langit, dalam diam. Hatiku terusik dalam jawab yang teryakini.
“Sekat itu masih ada, tapi aku percaya Allah sedang mengatur pertemuan itu dalam nyata dengan cara yang sangat indah untuk hambaNya. Maka masih pantaskah kita resah dan gulana”
Menikmati saja rasa yang masih bermisteri, indah saja.
Selasa, 17 Januari 2012
PERSIAPAN PERNIKAHAN SAHABATKU, LISA
Tahun 2012 sepertinya menjadi saat yang bahagia untuk kedua orang sahabatku. Tapi kalau aku bilang sih, tahun ini adalah titik balik penemuan mereka. Dan orang yang paling bahagia dari penemuan mereka, aku.
Aku menjadi seksi supersibuk di tahun ini, tepatnya beberapa bulan ke depan. Kedua orang sahabatku memutuskan untuk menikah di tahun ini, dengan pasangannya masing-masing tentunya. Saat mendengar kabar itu, syukur langsung terucap. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari cerita indah itu.
“Mau atau nggak mau, kamu harus jadi panitia pernikahanku. Bersiaplah mengantarkan sang pengantin mengurus segala keperluan”
Pesan dari Lisa membuatku terhenyak. Bukan karena aku tak percaya dengan kesiapannya tapi baru beberapa minggu yang lalu dia masih meragukan Ebi. Subhanallah, Tuhan Maha Tahu atas setiap hati. Doa Ebi terkabul, Lisa kini begitu yakin untuk melangkah.
“Selamat, Lis. Semoga sakinah ya”
Singkat, hanya itu yang kubalas. Aku tahu pasti di sudut sana dia sedang sumringah.
Mengurus hal semacam ini nyatanya tak semudah yang aku kira. Hampir setiap hari ada saja yang tak sesuai dengan keinginan Lisa. Alhasil aku harus selalu siap mengantarkannya berulangkali demi survey catering, gaun pengantin hingga gedung. Belum lagi ketika dia terlibat ketaksepahaman dengan Ebi. Berada di tenga-tengah mereka seolah dilema untukku. Memihak salah satu jelas tak mungkin tapi kadang salah satu pendapat mereka ada benarnya.
Dua jiwa, dua raga maka pendapatnyapun seringkali tak menyatu. Aku kadang tertawa melihat sikap mereka yang malah terkesan kekanak-kanakan. Apa sepasamg pengantin harus melewati hal semacam ini ?. Hingga tadi siang mereka harus berselisih tentang nuansa dan konsep pernikahan yang ingin diusung, sementara kabar bahwa beberapa gedung sudah terisi sempat membuat keduanya panik. Lelah bukan hanya milik aku sebagai sahabatnya tapi mereka jauh lebih tertekan sepertinya. Bukan tak ingin melibatkan banyak pihak, tapi Lisa telah bersepakat dengan Ebi untuk menyiapkan sendiri pernikahan mereka. Dibantu beberapa sahabatnya seperti aku dan Yuni.
“Aku sudah capek, En”
“Kenapa ?”
“Pernikahan itu ribet banget ya ?”
Aku tertawa menanggapi kekesalannya tadi.
“Dinikmati saja, semuanya indah. Suatu saat kamu akan merindukan suasana seperti itu. Hanya saja kamu dan Ebi harus lebih sabar satu sama lain. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik “
“Lis, kenapa sih nggak pakai konsep sederhana saja ? Akad yang sakral dan pesta yang biasa saja ? Kenapa harus di gedung jika halaman rumahmu saja sudah cukup kau sulap jadi pesta kebun. Kalau bisa sederhana, kenapa harus mewah ?”
Ups, aku lupa bahwa setiap orang punya prinsip yang berbeda. Wajah cantiknya berubah cemberut.
“Ini impian aku dan Ebi, En. Karena itu kami berusaha mempersiapkannya semaksimal mungkin”.
Lis, sorry. Konsep apapun yang akan kamu gunakan, aku hanya ingin kamu tetap bahagia. Menjalani masa persiapan ini dengan tetap tersenyum. Jangan cemberut seperti tadi lagi. Cantiknya nanti hilang lho, Hehehe.
Bahagia itu disini (hati)
Selamat berbahagia to : Lisa & Ebi
Aku menjadi seksi supersibuk di tahun ini, tepatnya beberapa bulan ke depan. Kedua orang sahabatku memutuskan untuk menikah di tahun ini, dengan pasangannya masing-masing tentunya. Saat mendengar kabar itu, syukur langsung terucap. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari cerita indah itu.
“Mau atau nggak mau, kamu harus jadi panitia pernikahanku. Bersiaplah mengantarkan sang pengantin mengurus segala keperluan”
Pesan dari Lisa membuatku terhenyak. Bukan karena aku tak percaya dengan kesiapannya tapi baru beberapa minggu yang lalu dia masih meragukan Ebi. Subhanallah, Tuhan Maha Tahu atas setiap hati. Doa Ebi terkabul, Lisa kini begitu yakin untuk melangkah.
“Selamat, Lis. Semoga sakinah ya”
Singkat, hanya itu yang kubalas. Aku tahu pasti di sudut sana dia sedang sumringah.
Mengurus hal semacam ini nyatanya tak semudah yang aku kira. Hampir setiap hari ada saja yang tak sesuai dengan keinginan Lisa. Alhasil aku harus selalu siap mengantarkannya berulangkali demi survey catering, gaun pengantin hingga gedung. Belum lagi ketika dia terlibat ketaksepahaman dengan Ebi. Berada di tenga-tengah mereka seolah dilema untukku. Memihak salah satu jelas tak mungkin tapi kadang salah satu pendapat mereka ada benarnya.
Dua jiwa, dua raga maka pendapatnyapun seringkali tak menyatu. Aku kadang tertawa melihat sikap mereka yang malah terkesan kekanak-kanakan. Apa sepasamg pengantin harus melewati hal semacam ini ?. Hingga tadi siang mereka harus berselisih tentang nuansa dan konsep pernikahan yang ingin diusung, sementara kabar bahwa beberapa gedung sudah terisi sempat membuat keduanya panik. Lelah bukan hanya milik aku sebagai sahabatnya tapi mereka jauh lebih tertekan sepertinya. Bukan tak ingin melibatkan banyak pihak, tapi Lisa telah bersepakat dengan Ebi untuk menyiapkan sendiri pernikahan mereka. Dibantu beberapa sahabatnya seperti aku dan Yuni.
“Aku sudah capek, En”
“Kenapa ?”
“Pernikahan itu ribet banget ya ?”
Aku tertawa menanggapi kekesalannya tadi.
“Dinikmati saja, semuanya indah. Suatu saat kamu akan merindukan suasana seperti itu. Hanya saja kamu dan Ebi harus lebih sabar satu sama lain. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik “
“Lis, kenapa sih nggak pakai konsep sederhana saja ? Akad yang sakral dan pesta yang biasa saja ? Kenapa harus di gedung jika halaman rumahmu saja sudah cukup kau sulap jadi pesta kebun. Kalau bisa sederhana, kenapa harus mewah ?”
Ups, aku lupa bahwa setiap orang punya prinsip yang berbeda. Wajah cantiknya berubah cemberut.
“Ini impian aku dan Ebi, En. Karena itu kami berusaha mempersiapkannya semaksimal mungkin”.
Lis, sorry. Konsep apapun yang akan kamu gunakan, aku hanya ingin kamu tetap bahagia. Menjalani masa persiapan ini dengan tetap tersenyum. Jangan cemberut seperti tadi lagi. Cantiknya nanti hilang lho, Hehehe.
Bahagia itu disini (hati)
Selamat berbahagia to : Lisa & Ebi
Senin, 16 Januari 2012
Ini, untuk senyum kalian
Malaikat-malaikat kecil,
Entah kenapa yang terfikir justru berbagi ini dengan kalian. Sua yang tak dinyana, sapa yang tak disengaja dan senyum yang tak kusangka selalu menari setiap kali mengingat wajah kalian satu persatu. Kepolosan , keluguan serta keceriaan yang selalu terbingkai sekalipun hidup tak menjanjikan kalian apa-apa. Aku belajar banyak hal dari kalian, dan semua itu pasti tak pernah kalian kira. Ada rasa yang harus lebih diluweskan, ada hati yang mesti lebih dilembutkan dan ada sabar yang senantiasa harus dikedepankan serta kesyukuran yang harus selalu teringati.
Kado kecil ini mungkin hanya deretan angka. Tapi bukan itu yang kumaksud. Warna ini bukan karena sang empunya ide sangat menyukainya, tapi ini punya makna. Kalimat-kalimat itu bukan tentang rangkaian aksara yang mengedepankan keindahan saja, tapi ini juga punya arti.
Lembaran angka yang berderet rapi, tanpa kita sadari selalu meliriknya di setiap hari. Aku tahu kalian punya mimpi, kupahami bagaimana waktu terasa begitu sempit diantara segudang aktifitas yang harus kalian jalankan demi sesuap nasi. Lihat saja angka-angka penanda hari itu, waktu tak pernah bisa diulang. Jika hari ini kita menunda satu mimpi maka belum tentu esok ia akan menghampiri. 365 hari tak lagi menjadi catatan waktu yang lama. Sesaat saja tahun juga segera berganti. Maka sungguh menjadi orang yang merugi saat kita hanya menyiakannya begitu saja.
Aku adalah salah satu orang yang percaya akan mimpi-mimpi kalian, maka sudilah bergerak untuk menggapainya. Melewati setiap deretan angka itu dengan sesuatu yang berarti.
Hamparan tanah kita sarat dengan nuansa hijau. Kuketahui dengan pasti sebelum menjejakkan raga di sekolah ini, kalian masih harus berjuang bersama kedua mutiara hati demi hidup hari ini, entah esok. Berlari-lari dari sawah, kadang tanpa alas kaki demi bangku sekolah. Salutku tak cukup sebab kalian semestinya berhak mengecap yang jauh lebih baik dari sekolah alam kita.
Alam kita sangat hijau, maka kumau kalian merasa begitu dekat dengannya. Warnanya juga sangat menyegarkan, semoga kalian selalu bersemangat untuk terus berlari mengejar mimpi. Tak ada yang harus kalian korbankan untuk semua itu. Bakti pada orang tua, guru juga persaudaraan dengan sesama. Semua dapat berjalan seiring. Masih ingat kan kita pernah bicara bahwa alam itu selalu berbahasa, ada makna dalam segala pertanda.
Kedekatan kalian dengan alam, sebuah nada rasa yang tak bisa kulupakan begitu saja. Lekat, sungguh lekat dalam kalbu. Hijau, milik alam, aku, kamu, mereka juga kita.
Rasanya kalimat-kalimat yang tercatat diantara deretan angka itu terlalu muluk ya untuk diterjemahkan ? Tapi aku mau kalian mampu melakukannya. Aku percaya, mereka juga. Jadi jangan pernah menyangsikan apapun yang menjadi impian kalian. Setiap orang berhak bermimpi sebab impian itu bukan hanya milik satu orang tapi punya semua orang yang mau memperjuangkannya. Kita hanya punya sekolah alam yang mungkin sangat jauh dari kata sempurna, tapi kita juga boleh bermimpi yang sama besarnya dengan mereka diluar sana. Saatnya kalian buktikan, bisa. Aku yakin kalian bisa.
Finally, tersenyumlah untuk segala yang telah kita lewati juga yang akan kita jelang. Hadapi semuanya dengan kebesaran hati dan jadikan kita berarti bagi dunia, juga sesama.
::: Terima kasih pada sebuah hati yang telah membantu mewujudkan semua ini, untuk malaikat kecil di pelosok sana. Bahagia itu saat bisa membahagiakan orang lain. Mimpi terindah itu bukan saja ketika mampu menggapai impian kita sendiri tapi saat waktu memberi kita ruang untuk orang lain mewujudkan impiannya :::
Kembali teryakini, hati ini tak hidup sendiri
Entah kenapa yang terfikir justru berbagi ini dengan kalian. Sua yang tak dinyana, sapa yang tak disengaja dan senyum yang tak kusangka selalu menari setiap kali mengingat wajah kalian satu persatu. Kepolosan , keluguan serta keceriaan yang selalu terbingkai sekalipun hidup tak menjanjikan kalian apa-apa. Aku belajar banyak hal dari kalian, dan semua itu pasti tak pernah kalian kira. Ada rasa yang harus lebih diluweskan, ada hati yang mesti lebih dilembutkan dan ada sabar yang senantiasa harus dikedepankan serta kesyukuran yang harus selalu teringati.
Kado kecil ini mungkin hanya deretan angka. Tapi bukan itu yang kumaksud. Warna ini bukan karena sang empunya ide sangat menyukainya, tapi ini punya makna. Kalimat-kalimat itu bukan tentang rangkaian aksara yang mengedepankan keindahan saja, tapi ini juga punya arti.
Lembaran angka yang berderet rapi, tanpa kita sadari selalu meliriknya di setiap hari. Aku tahu kalian punya mimpi, kupahami bagaimana waktu terasa begitu sempit diantara segudang aktifitas yang harus kalian jalankan demi sesuap nasi. Lihat saja angka-angka penanda hari itu, waktu tak pernah bisa diulang. Jika hari ini kita menunda satu mimpi maka belum tentu esok ia akan menghampiri. 365 hari tak lagi menjadi catatan waktu yang lama. Sesaat saja tahun juga segera berganti. Maka sungguh menjadi orang yang merugi saat kita hanya menyiakannya begitu saja.
Aku adalah salah satu orang yang percaya akan mimpi-mimpi kalian, maka sudilah bergerak untuk menggapainya. Melewati setiap deretan angka itu dengan sesuatu yang berarti.
Hamparan tanah kita sarat dengan nuansa hijau. Kuketahui dengan pasti sebelum menjejakkan raga di sekolah ini, kalian masih harus berjuang bersama kedua mutiara hati demi hidup hari ini, entah esok. Berlari-lari dari sawah, kadang tanpa alas kaki demi bangku sekolah. Salutku tak cukup sebab kalian semestinya berhak mengecap yang jauh lebih baik dari sekolah alam kita.
Alam kita sangat hijau, maka kumau kalian merasa begitu dekat dengannya. Warnanya juga sangat menyegarkan, semoga kalian selalu bersemangat untuk terus berlari mengejar mimpi. Tak ada yang harus kalian korbankan untuk semua itu. Bakti pada orang tua, guru juga persaudaraan dengan sesama. Semua dapat berjalan seiring. Masih ingat kan kita pernah bicara bahwa alam itu selalu berbahasa, ada makna dalam segala pertanda.
Kedekatan kalian dengan alam, sebuah nada rasa yang tak bisa kulupakan begitu saja. Lekat, sungguh lekat dalam kalbu. Hijau, milik alam, aku, kamu, mereka juga kita.
Rasanya kalimat-kalimat yang tercatat diantara deretan angka itu terlalu muluk ya untuk diterjemahkan ? Tapi aku mau kalian mampu melakukannya. Aku percaya, mereka juga. Jadi jangan pernah menyangsikan apapun yang menjadi impian kalian. Setiap orang berhak bermimpi sebab impian itu bukan hanya milik satu orang tapi punya semua orang yang mau memperjuangkannya. Kita hanya punya sekolah alam yang mungkin sangat jauh dari kata sempurna, tapi kita juga boleh bermimpi yang sama besarnya dengan mereka diluar sana. Saatnya kalian buktikan, bisa. Aku yakin kalian bisa.
Finally, tersenyumlah untuk segala yang telah kita lewati juga yang akan kita jelang. Hadapi semuanya dengan kebesaran hati dan jadikan kita berarti bagi dunia, juga sesama.
::: Terima kasih pada sebuah hati yang telah membantu mewujudkan semua ini, untuk malaikat kecil di pelosok sana. Bahagia itu saat bisa membahagiakan orang lain. Mimpi terindah itu bukan saja ketika mampu menggapai impian kita sendiri tapi saat waktu memberi kita ruang untuk orang lain mewujudkan impiannya :::
Kembali teryakini, hati ini tak hidup sendiri
Tuhan, terima kasih
Bahagia, seperti itu semestinya setiap hati termaknai. Memintal setiap inci jejak langkah sebagai bentuk anugerah yang tak semua orang berkesempatan mencicipinya. Ada lara juga rasa kehilangan. Ada raut yang gulana juga galau tak tentu.
“Rasa, menjadi sesuatu yang cukup kita dan Tuhan saja yang memahaminya”
Sebuah pelajaran indah yang tersemat hari ini dari mereka yang sedang berada dalam masa ketakberuntungan. Sekelam apapun hari yang dijalani, selalu ada judul yang akan membuat hati-hati itu kembali tegak berdiri. Menghapus jejak kata “Menyerah” yang sesungguhnya tak punya arti apa-apa. Menghapus nuansa rapuh yang sempat menyelinap tanpa kompromi menjadi catatan ketangguhan seorang manusia.
“Kenapa harus merasa sendiri sedang Tuhan memberi kita banyak hati yang selalu siap menemani”
Malaikat kecil, baru ini yang bisa aku katakan hari ini. Lihat saja diluar sana, sekalipun mereka terkesan tak ramah apa kita pernah tahu seberapa pedulinya mereka. Maka tak usah terlalu risau dengan apa yang terasa jika itu hanya membuat gundah dan ketakikhlasan. Bisa jadi dibalik kalimat dan sikap tak halusnya justru merekalah orang-orang yang sedang berada dalam keikhlasan berbaginya. Tuhan selalu menemani, menghangatkan setiap hati kita dengan rengkuhNya. Masihkah kita tak menyadari betapa Dia Maha Baik.
Dalam tetes asa, dalam selimut rasa, dalam titian hati ujar ini terlalu lirih. Tuhan, terima kasih telah membawa raga pada perjalanan yang indah. Pertemuan dengan orang-orang “Luar biasa”. Pertemuan dengan detik-detik yang menjuntai makna hidup.
Bahagia itu tak pernah bersyarat
Yakini saja bahwa hati kita tak hidup sendiri ...
::: Catatan Pecinta Senja :::
“Rasa, menjadi sesuatu yang cukup kita dan Tuhan saja yang memahaminya”
Sebuah pelajaran indah yang tersemat hari ini dari mereka yang sedang berada dalam masa ketakberuntungan. Sekelam apapun hari yang dijalani, selalu ada judul yang akan membuat hati-hati itu kembali tegak berdiri. Menghapus jejak kata “Menyerah” yang sesungguhnya tak punya arti apa-apa. Menghapus nuansa rapuh yang sempat menyelinap tanpa kompromi menjadi catatan ketangguhan seorang manusia.
“Kenapa harus merasa sendiri sedang Tuhan memberi kita banyak hati yang selalu siap menemani”
Malaikat kecil, baru ini yang bisa aku katakan hari ini. Lihat saja diluar sana, sekalipun mereka terkesan tak ramah apa kita pernah tahu seberapa pedulinya mereka. Maka tak usah terlalu risau dengan apa yang terasa jika itu hanya membuat gundah dan ketakikhlasan. Bisa jadi dibalik kalimat dan sikap tak halusnya justru merekalah orang-orang yang sedang berada dalam keikhlasan berbaginya. Tuhan selalu menemani, menghangatkan setiap hati kita dengan rengkuhNya. Masihkah kita tak menyadari betapa Dia Maha Baik.
Dalam tetes asa, dalam selimut rasa, dalam titian hati ujar ini terlalu lirih. Tuhan, terima kasih telah membawa raga pada perjalanan yang indah. Pertemuan dengan orang-orang “Luar biasa”. Pertemuan dengan detik-detik yang menjuntai makna hidup.
Bahagia itu tak pernah bersyarat
Yakini saja bahwa hati kita tak hidup sendiri ...
::: Catatan Pecinta Senja :::
Minggu, 15 Januari 2012
D E T A K ( Sebuah Perjalanan Hati )
15 Januari 2012
Tuhan mengajakku dengan cara terindahNya, menjejak sejenak pada pelataran hati yang selama ini mungkin saja jarang tersentuh. Sebuah perjalanan yang hari ini menjadi sebentuk kesyukuran tak bertepi. Kata terima kasih rasanya tak cukup memaknai segalanya.
@ KAPAL FERY
Di kapal fery, aku dipertemukan dengan dua bocah penyemir sepatu. Awalnya tak ada yang istimewa hingga raga mereka semakin mendekat. Sebentuk sesak seakan telah memenuhi rongga hatiku. Dalam keterbatasan fisik yang tak serupa dengan manusia normal lainnya, mereka masih penuh semangat. Tak menyerah dan meratapi hidup. Senyum itu masih tulus terurai bagi setiap orang yang tak sengaja bersitatap dengan mata elangnya. Tak terkecuali aku. Entah mengapa aku begitu terpana oleh keduanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka kembali menawarkan jasa kepada beberapa orang. Sayang, gelengan kepala membuat mereka cukup bersyukur hanya dengan rezeki beberapa ribu rupiah saja. Keduanya lalu menepi dan duduk bersandar. Satu hal yang akhirnya membuatku sangat terpana. Keduanya mengeluarkan buku dari dalam tas plastik yang dari tadi dipegangnya. Aku mencoba mendekat, demi mengurangi rasa penasaran. Subhanallah, buku pelajaran sekolah.
"Masih sekolah, Dik ?" sengaja aku bertanya
"Nggak"
"Terus buku itu ? Bukannya itu ..."
"Kami menemukan ini di tong sampah, Kak. Daripada dibuang mending kami baca saja. Siapa tahu bisa pintar walaupun nggak punya uang untuk sekolah"
Keduanya lalu tersenyum menatapku. Mereka kembali asyik dengan kembaranya dalam buku itu. Sedang aku ? Rabb, pemandangan ini serasa tamparan hebat untukku. Betapa apa yang telah aku mulai nyatanya belum apa-apa. Masih banyak malaikat-malaikat kecil yang tak tersentuh.
@ RUMAH SAKIT
Jejak keduaku menuju sebuah rumah sakit. Hujan yang setiap hari menemaniku saat senja dengan tanpa kompromi telah membuat badanku demam. Menurutku sih hanya panas demam biasa, masuk angin atau flu. Namun untuk seorang bunda, semua begitu mengkhawatirkan. Demi membuatnya tenang, akupun menuruti keinginannya untuk ke dokter. Alhasil hanya flu biasa. Namun suasana rumah sakit membuatku sangat tak nyaman. Rasanya seluruh badan menjadi sakit saat aroma obat tercium demikian hebat. Dalam gelisah aku mengirim pesan pada seseorang.
"Ternyata di rumah sakit itu nggak enak, ketemunya orang-orang sakit semua"
Maksud hati untuk menenangkan diri sambil menunggu panggilan dokter. Sayang, mungkin karena kesibukan yang mendera pesan itupun tak berbalas.
Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Kunikmati saja apa yang ada. Ketika beberapa menit kemudian dua orang yang sudah sepuh duduk di sebelahku. Seperti biasa, aku menyapa mereka. Dan kali ini aku kembali harus bersyukur oleh kenyataan yang ada di sekitarku. Betapa diluar diri kita sesungguhnya masih banyak orang-orang yang tak beruntung.
"Sakit apa, Bu ?"
"Gagal ginjal, Mbak. Saya sudah beberapa kali kesini untuk cuci darah. Dalam seminggu harus chek up dua kali. Biayanya mahal lagi"
Rabb, dadaku kembali sesak. Rasanya tak tega melihat kedua orang itu. Dan tanpa sebuah kesepakatan suami istri ini langsung saja menumpahkan segenap perasaan mereka. Hari ini aku menjadi pendengar yang baik. Mungkin tanganku tak bisa berbuat lebih, tak mengapa menyediakan hati untuk sekedar mendengar. Tapi satu hal yang sangat aku salutkan pada mereka. Cinta, ya cinta yang sangat indah. Mereka telah merawat dan menjaga rasa itu dengan begitu indah. Kesetiaan yang tak lekang dari pasangannya membuat ibu itu kuat dan tegar.
Sebenarnya aku sudah tak ada urusan lagi di rumah sakit ini. Namun entah mengapa ada rasa yang membuatku masih ingin berdiam sejenak. Hingga akhirnya kedua orang itu selesai melakukan transfusi darah. Aku tak mengenal mereka namun Tuhan telah memberiku kesempatan mengenal orang-orang hebat seperti mereka. Rabb, indahnya caraMu mengajarkanku makna hidup.
@TERMINAL JEMBATAN
Sembari menunggu penumpang penuh, angkutan kota ini menepi. Beberapa saat kemudian seorang ibu dengan umur diatas lima puluh tahun menghampiri. Memetik alat musik sederhana yang terbuat dari kayu serta tutup botol minuman. Suaranya ? Jangan ditanya. Mungkin memang jauh dari kata merdu. Satu hal yang menggelitikku, dia mau berusaha untuk menjalani hidup dengan kerja keras bukan menengadahkan tangan. Dan sekali lagi, fisiknya tak sempurna. Aku terhenyak ketika tak sengaja melihat tangannya tanpa jemari sama sekali. Takbirku berkumandang dalam hati. Rabb, lindungi ibu ini. Aku tak tahu dimana sisi kepedulian sebenarnya berada, diantara penuh sesaknya penumpang tak ada satupun yang tergerak menyodorkan receh. Malah beberapa orang sempat mengejeknya. Ibu itu hanya tersenyum. Pelajaran yang indah, sekeras apapun hidup menjeratmu, tersenyum saja sebab ada yang Maha akan segalanya yang selalu terjaga untuk melindungiMu.
Limpahan doa terus saja dialamatkannya padaku, walaupun hanya sedikit saja peduli itu. Akupun tersenyum seraya mengaminkan doanya. Bukankah kita tak pernah tahu dari lisan yang mana doa itu akan terkabul.
Tuhanku yang Maha Baik,
Terima kasih telah membawaku dalam perjalanan yng indah hari ini. Sebuah penjelajahan yang takkan bisa aku tukr dengan apapun. Aku bersyukur, akan selalu bersyukur.
Tuhanku yang Maha Cinta,
Ijinkan pintaku ini. Berilah aku selalu berlimpah hati dan alasan untuk selalu membuat orang lain tersenyum dalam bahagia yang tak pernah bersyarat.
Amin ...
Pecinta Senja ...
Langganan:
Postingan (Atom)



