Senin, 23 Januari 2012

Gadis Pendobrak



Navadha Luciandary, gadis kecil bermata indah dengan gaun kuning ceria menyapaku di tempat registrasi para peserta workshop menulis. Semula aku kira dia adalah putri dari salah seorang peserta yang sekedar ikut sang bunda. Ups, aku masih heran saat dia turut mengisi daftar hadir. Dan sebuah kejutan yang indah ketika beberapa peserta mengatakan bahwa dialah penulis kecil yang berbakat itu. Satu-satunya peserta termuda dengan usia sembilan tahun. Subhanallah, aku beruntung bisa bertemu dengannya langsung. Jadi menerawang, sembilan tahun ? Saat usiaku seperti dia, aku ngapain aja ya.

Navadha tinggal terpisah dengan sang bunda, karena hingga saat ini masih menjadi salah satu buruh migran. Namun ikatan batin serta cinta yang sangat halus antara ibu dan anak tak ada yang dapat memenggalnya. Seluas apapun samudera memisahkan mereka, langit kasih itu akan tetap menaungi setiap langkah Navadha. Tegar dan mandiri, itu kesan awal saat berjumpa dia. Tak semua anak yang sanggup terpisah sedemikian jauh dan lama dengan bidadarinya.

Kejutan yang indah sudah kami siapkan siang itu. Atas permintaan sang bunda yang sangat ingin memberikan beasiswa menulis untuk malaikat kecilnya. Sebab menurut dia, Navadha sudah sejak lama mempunyai bakat itu. Sebagai orang tua, dia ingin semua itu mempunyai tempat yang tepat untuk berkembang agar tak sia-sia. Benar saja, sepanjang materi yang dipaparkan oleh Joni Lis Effendi, dia tampak mengikuti dengan antusias tanpa berkeluh bosan.


Saat semua perhatian nyaris tertuju pada tugas yang diberikan, kami berinisiatif untuk memberikan surprise itu. Dan sungguh satu hal yang pantas disyukuri, kecanggihan teknologi telah membuat kerinduan seorang malaikat kecil terbayar sudah. Navadha tak pernah tahu jika siang itu dia akan dapat menatap wajah bidadarinya, dapat tersenyum bersama, dapat mengucap terima kasih atas pengorbanan sang bunda, dapat merampungkan jutaan rindu yang menggunung dalam kalbunya.

Ketika sapa itu hadir, Navadha tampak tak percaya. Entah apa yang berkecamuk dalam hati gadis kecil itu, semua kata seolah lebur dalam tatap rindunya pada sang bunda. Titik air mata tak kuasa mengalir dari sudut mataku, begitu juga yang lainnya. Haru, bahagia juga senang menyaksikan pertemuan itu. Rabb, sungguh kuasaMu luar biasa.

“Ayo, Dik mau bilang apa sama Mama ?”
Gadis itu hanya diam
“Masih kaget ya ? Nggak nyangka akan ketemu Mama ?”
Navadha masih juga diam. Beberapa saat kemudian dia tersenyum namun tak ada satu kata yang sanggup ia lontarkan.

Kami tahu betapa gadis itu sangat kuat. Jika saja aku dan yang lainnya yang berada di posisi itu mungkin saja sudah menangis. Ada riak kecil di sudut matanya yang sempat tertangkap tapi Navadha dapat menyembunyikannya dengan sangat baik.
Ketegaran itu, sungguh aku salutkan. Sekuat itu dia menahan rasanya. Tapi benih kerinduan yang menjulang di langit hatinya, dapat kami rasakan. Begitu pula dengan sang bunda betapa dia sangat bangga dapat melihat langsung malaikat kecilnya yang cantik berada di tengah-tengah para penulis.

Bunda, berbahagialah. Sebab gadis kecilmu akan menjadi tonggak dan pendobrak dunia literasi. Kami yakin tarian penanya akan membuatmu tersenyum.

Navadha yang cantik, terus berjuang ya agar impian itu tak sekedar mimpi. Ada bakat luar biasa dalam dirimu dan kami dengan tangan terbuka menyambutmu sebagai bagian dari dunia literasi. Bersama kita belajar dan berbagi.

Selamat datang gadis cantik
Selamat datang malaikat kecil
Selamat datang pejuang pena

Tidak ada komentar: