Selasa, 17 April 2012
Cinta Itu Sederhana
Pada sepenggal senja di tapal batas kota, aku luruh dalam sajian istimewa. Ramuan makna yang dihadirkan senja dalam kesederhanaan yang luar biasa. Di ujung hari ketika para pengejar mimpi telah pulang dengan segenggam harap nan pasti di tangan, sepasang hati justru masih berkutat dengan impian-impian yang disusun sedemikian rapinya.
Kuhentikan laju sejenak. Sapa senja yang menjingga tak kuasa kutolak. Telah beberapa hari mendung mengiringiku hingga hujan mengajakku berdansa dengan mesra. Aku masih mencari jingga, masih selalu menanti dalam sabar yang tak berbatas.
Sesaat memandang langit diantara pematang. Hijau yang menghampar berpadu dengan jingga di langit. Sungguh lukisan sang Maha Cinta yang selalu membawaku pada kekaguman luar biasa.
“Sedang apa, Mbak ?”
Sapa yang mungkin heran melihatku. Seorang lelaki paruh baya dengan sabit dan beberapa perlengkapan yang dibawanya dari sawah juga seorang perempuan yang telah renta. Keduanya tersenyum, kurasakan tulus yang nyata.
Lalu keduanya seakan serempak menoleh ke arah jingga yang sedari tadi kupandang.
“Mbak suka dengan langit itu ? Kalau sore cuaca secerah ini biasanya banyak yang mampir kemari. Sama seperti yang Mbak lakukan sekarang, memandang saja. Entah apa yang mereka fikirkan”
Aku tersenyum. Keduanya lalu duduk pada batu di sebelahku.
“Ini punya bapak dan ibu ?” tanyaku seraya menunjuk ke arah sawah di depan kami
“Bukan, Mbak. Kami hanya menggarapnya saja. Seperti inilah, hasilnya memang tak seberapa tapi Tuhan Maha Adil walaupun dari ukuran manusia seolah tak mencukupi toh nyatanya kami bisa mengantarkan anak-anak kami untuk belajar di sebuah pondok di Jombang”
“Oh ya ?” tiba-tiba aku merasa menemukan sahabat yang asyik untuk berbagi
“Ya. Dua anak kami sekarang sedang mondok. Awalnya mereka nggak mau, Mbak. Katanya mereka tak tega melihat kami harus mencari biaya dan mengirimi mereka setiap bulannya. Hanya saja saya dan suami berprinsip akan selalu ada kemudahan untuk setiap jalan Tuhan. Rezeki yang menurut kacamata orang lain kecil, tapi yang kami cari adalah yang berkah. Mengantarkan anak-anak menuju cita-citanya adalah kebahagiaan setiap orang tua. Kami memang miskin tapi kami ingin anak-anak kami bisa meraih apa yang mereka impikan. Hanya semangat, doa dan kerja keras ini yang bisa kami lakukan. Tak ada yang tak mungkin asalkan kita mau berusaha. Kami selalu percaya Tuhan akan selalu ada di setiap langkah ini”
Aku tercengang. Mereka yang sederhana itu mempunyai pemikiran yang sangat luas.
“Pulang ke rumah selalu sore begini ?”
“Ya, Mbak”
Sejenak kulihat gurat lelah di tubuh yang makin renta itu. Sang istri kulihat membuka perbekalan mereka. Nasi dengan lauk sederhana, tapi jujur aku suka banget. Tempe goreng selalu menghadirkan aroma yang sedap untukku. Mereka menawariku tapi aku hanya berujar terima kasih. Lalu sesekali kulihat sang istri menyuapi sang suami yang terlihat mengelap keringatnya. Mereka pasti sangat lelah. Tubuh yang tak sekuat masa mudanya masih harus melewati pekerjaan seberat ini. Demi anak-anak dan masa depan mereka kelak. Subhanallah, sebuah cermin yang seharusnya kita kaji.
Aku tersenyum melihat keduanya. Romantis itu begini. Saat satu dan yang lainnya saling menerima kekurangan, saling menguatkan, saling berbagi dalam senyum dan tangis, saling menjaga. Mereka tak butuh ucapan cinta yang menggombal. Cinta bagi mereka itu sederhana. Saling mengerti juga memahami dalam kata yang tak perlu diucap, dalam sabar tak berbatas yang saling dimiliki, dalam lautan syukur yang tak kenal waktu. Bagi mereka mungkin ini hal biasa tapi untukku pemandangan ini sungguh adalah cinta.
Senja ini romantis. Aku bertemu dengan cinta sederhana milik sepasang hati yang tak henti menebar bahagia untuk sesama, milik mereka yang tak pernah lelah berjuang, milik mereka yang ikhlas, milik mereka yang sangat mencintai RabbNya.
Cinta itu sederhana. Walau tiada kata, ada Tuhan juga nurani yang akan selalu meyakinkan bahasa hati. Membawa rasa pada peka yang terasah oleh sabar dan masa.
170412
Catatan Senja di tapal Batas Klobungan
Rabu, 11 April 2012
Sebuah Bahasa Hati [ Untukmu Saudaraku ]
Bangkalan, 11 April 2012
Terkesiap, tak percaya. Sebuah kabar membawa ragaku berlari mencari penjelasan. Tanya seketika menyeruak, berharap semua hanya ilusi dari mimpi belaka. Nafas memburu, langkah terhenti dan lidahpun kelu kala dengan jelas telingaku mengaminkan berita itu.
Gempa kembali menerjang tanah negeriku, ibu pertiwi menangis lagi. Aceh, beberapa tahun silam pernah membuat hati luluh lantak. Begitu banyak kehilangan, terlalu banyak air mata. Tak sedikit senyum yang harus direlakan terhempas. Lara itu masih ada, membekas meskipun satu persatu hati mulai bangkit dari keterpurukan. Membangun lagi apa yang pernah pergi. Lalu kini, semua kembali musnah. Rabb, semoga ini bukan bencana melainkan ujianMu semata.
Disini, langit masih sumringah mengajakku menari. Maaf, aku tak mampu berdansa diatas derita saudara-saudaraku. Langit, mengertilah untuk saat ini. Hatiku resah, gelisah menanti kabar yang menghampiri perlahan. Apa yang terjadi disana, bagaimana mereka mengatasi kepanikan itu, Kuatkah mereka berlari menghindari semuanya. Siapa yang dapat menyeka air mata yang tak henti dalam geliat hati yang bingung. Aku bertanya dan masih saja bertanya.
Langit, bintangmu berkedip genit. Kutahu, ia tak ingin aku bersedih. Namun apalah artinya bahagia jika di belahan bumi lain saudaraku sedang berjuang. Mereka sedang berduka. Duka ini bukan hanya milik mereka tapi ini punya semesta. Tidakkah kau juga merasakan apa yang mereka rasakan disana.
Tak ada satupun kejadian yang kebetulan, semua sudah ada dalam rencanaNya. Hanya Dia saja pemilik semesta juga segenap hati. Dialah sang Maha Pelindung. Hanya kepadaNya saja tempat melabuhkan pinta.
Langit, aku terhenyak. Malam kian pekat, kuyakin aksaraku masih akan bermuara. Dalam segala kerendahan hati, dengan segenapm ketulusan ijinkan kugenapkan pinta hari ini.
“Rabb, Maha Kasih. Hanya Engkau sebaik-baik pelindung. Jagakanlah saudara-saudaraku dari segala bencana. Lindungi mereka dimanapun mereka berada”
Terkesiap, tak percaya. Sebuah kabar membawa ragaku berlari mencari penjelasan. Tanya seketika menyeruak, berharap semua hanya ilusi dari mimpi belaka. Nafas memburu, langkah terhenti dan lidahpun kelu kala dengan jelas telingaku mengaminkan berita itu.
Gempa kembali menerjang tanah negeriku, ibu pertiwi menangis lagi. Aceh, beberapa tahun silam pernah membuat hati luluh lantak. Begitu banyak kehilangan, terlalu banyak air mata. Tak sedikit senyum yang harus direlakan terhempas. Lara itu masih ada, membekas meskipun satu persatu hati mulai bangkit dari keterpurukan. Membangun lagi apa yang pernah pergi. Lalu kini, semua kembali musnah. Rabb, semoga ini bukan bencana melainkan ujianMu semata.
Disini, langit masih sumringah mengajakku menari. Maaf, aku tak mampu berdansa diatas derita saudara-saudaraku. Langit, mengertilah untuk saat ini. Hatiku resah, gelisah menanti kabar yang menghampiri perlahan. Apa yang terjadi disana, bagaimana mereka mengatasi kepanikan itu, Kuatkah mereka berlari menghindari semuanya. Siapa yang dapat menyeka air mata yang tak henti dalam geliat hati yang bingung. Aku bertanya dan masih saja bertanya.
Langit, bintangmu berkedip genit. Kutahu, ia tak ingin aku bersedih. Namun apalah artinya bahagia jika di belahan bumi lain saudaraku sedang berjuang. Mereka sedang berduka. Duka ini bukan hanya milik mereka tapi ini punya semesta. Tidakkah kau juga merasakan apa yang mereka rasakan disana.
Tak ada satupun kejadian yang kebetulan, semua sudah ada dalam rencanaNya. Hanya Dia saja pemilik semesta juga segenap hati. Dialah sang Maha Pelindung. Hanya kepadaNya saja tempat melabuhkan pinta.
Langit, aku terhenyak. Malam kian pekat, kuyakin aksaraku masih akan bermuara. Dalam segala kerendahan hati, dengan segenapm ketulusan ijinkan kugenapkan pinta hari ini.
“Rabb, Maha Kasih. Hanya Engkau sebaik-baik pelindung. Jagakanlah saudara-saudaraku dari segala bencana. Lindungi mereka dimanapun mereka berada”
Langganan:
Postingan (Atom)

