Bangkalan, 11 April 2012
Terkesiap, tak percaya. Sebuah kabar membawa ragaku berlari mencari penjelasan. Tanya seketika menyeruak, berharap semua hanya ilusi dari mimpi belaka. Nafas memburu, langkah terhenti dan lidahpun kelu kala dengan jelas telingaku mengaminkan berita itu.
Gempa kembali menerjang tanah negeriku, ibu pertiwi menangis lagi. Aceh, beberapa tahun silam pernah membuat hati luluh lantak. Begitu banyak kehilangan, terlalu banyak air mata. Tak sedikit senyum yang harus direlakan terhempas. Lara itu masih ada, membekas meskipun satu persatu hati mulai bangkit dari keterpurukan. Membangun lagi apa yang pernah pergi. Lalu kini, semua kembali musnah. Rabb, semoga ini bukan bencana melainkan ujianMu semata.
Disini, langit masih sumringah mengajakku menari. Maaf, aku tak mampu berdansa diatas derita saudara-saudaraku. Langit, mengertilah untuk saat ini. Hatiku resah, gelisah menanti kabar yang menghampiri perlahan. Apa yang terjadi disana, bagaimana mereka mengatasi kepanikan itu, Kuatkah mereka berlari menghindari semuanya. Siapa yang dapat menyeka air mata yang tak henti dalam geliat hati yang bingung. Aku bertanya dan masih saja bertanya.
Langit, bintangmu berkedip genit. Kutahu, ia tak ingin aku bersedih. Namun apalah artinya bahagia jika di belahan bumi lain saudaraku sedang berjuang. Mereka sedang berduka. Duka ini bukan hanya milik mereka tapi ini punya semesta. Tidakkah kau juga merasakan apa yang mereka rasakan disana.
Tak ada satupun kejadian yang kebetulan, semua sudah ada dalam rencanaNya. Hanya Dia saja pemilik semesta juga segenap hati. Dialah sang Maha Pelindung. Hanya kepadaNya saja tempat melabuhkan pinta.
Langit, aku terhenyak. Malam kian pekat, kuyakin aksaraku masih akan bermuara. Dalam segala kerendahan hati, dengan segenapm ketulusan ijinkan kugenapkan pinta hari ini.
“Rabb, Maha Kasih. Hanya Engkau sebaik-baik pelindung. Jagakanlah saudara-saudaraku dari segala bencana. Lindungi mereka dimanapun mereka berada”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar