Jumat, 23 Maret 2012
Ketaksempurnaan Itu Sempurna
En, kemandiriannya yang menjadikan dia sempurna.
Sepenggal kalimat itu aku hadiahkan untuk diriku. Pertemuan tak terduga yang mengantarkan pada pelajaran hidup yang sangat berarti.
Selepas bertemu sahabat di Surabaya tanggal 18 Maret 2011, jam lima sore aku memutuskan untuk pulang dengan menggunakan bis kota menuju pelabuhan. Menunggu sudah terlalu lama dan khawatir dengan kemacetan yang ada, akhirnya kuputuskan mengalihkan transportasi dengan taksi. Baru saja hendak mencegat taksi yang lewat, tiba-tiba sebuah bis kota menampakkan dirinya. Karena jalan yang menikung dan tak ada halte untuk berhenti maka aku harus berlari mengejar bis itu di tengah kepadatan lalu lintas. Alhamdulillah, aman sampai di dalam bis namun aku harus mengikhlaskan hati untuk tak dapat tempat duduk. Bis benar-benar penuh, nyaris tak ada sela. Sempat juga menggerutu dalam hati, andai saja aku mengambil pilihan sebelumnya mungkin akan lebih nyaman.
Selang lima belas menit, sang kondektur memberiku kode untuk bergerak ke belakang. Tepat di pojok paling belakang ada sebuah kursi kosong. Terima kasih Rabb, syukurku. Ah, rasanya lega mengingat perjalanan menuju pelabuhan Perak sebagai pemberhentian terakhir masih jauh. Apalagi aku tak perlu berdesakan dengan para penumpang, tempat ini cukup terlindungi. Beberapa lagu yang dimainkan oleh para penyanyi jalanan sempat menyihirku dengan lirik-liriknya yang nyaris semuanya berbau protes juga sindiran. Aku sempat tersenyum menilai kreativitas mereka. Asset yang bagus hanya saja belum tersentuh oleh industri saja.
Di depan RSI, diantara kerumunan penumpang yang berebut naik tampak seorang anak kecil dan seorang lelaki setengah baya memakai kaca mata hitam. Fikirku, dia sehat-sehat saja dan kacamata itu sekedar aksesoris belaka. Astaghfirullah, aku sangat malu pada diriku ketika tahu lelaki itu tak mampu melihat. Membawa tas ransel besar juga dua dus barang, tak mau saat dibantu naik ke bis. Dia menolak dan mengatakan “Saya bisa, saya bisa”. Aku terpana, entah apa yang menyelinap di hatiku kala itu. Gadis kecil itu duduk di sebelahku yang masih kosong, membawa kantong plastik yang berisi sepuluh buah sarikaya di tangannya.
“Namanya siapa ?” seraya kuulurkan tangan
“Nova, Kak”
“Mau kemana, Nov ?”
“Ke Makasar, jenguk nenek yang sedang sakit”
“Cuma berdua saja ?”
“Ya, sama ayah. Kakak mau kemana ?”
“Ke Bangkalan. Sudah pernah ke Madura belum ?”
“Belum tapi kalau ayah sudah pernah”
Senyumnya, sungguh membuatku rindu malam ini. Gadis berusia sepuluh tahun dengan keberanian luar biasa menemani sang ayah yang tak bisa melihat, menyeberangi laut seluas itu. Bukan tentang keberanian semata, tapi keikhlasan dan cintanya pada sang ayah yang menggugahku. Ada rasa tak biasa saat kuusap kepalanya. Mungkin aku terlalu cengeng, tapi tetesan hangat itu tak bisa aku tahan. Aku memang terlahir sebagai anak terakhir, menemukan malaikat-malaikat kecil seperti mereka selalu membuat duniaku berwarna.
Beberapa waktu yang lalu aku masih protes pada keadaan karena merasa salah memilih bis kota ini namun ternyata Tuhan sedang menyiapkan hadiah terindah I dalamnya. Bertemu Nova juga sang ayah yang sangat tangguh.
Ketika sampai di pelabuhan, kulihat ia juga tak mau dibantu untuk membawa barang-barangnya. Sekalipun beberapa orang berusaha menawarkan jasanya. Aku masih tak beranjak, menatap kepergian mereka menuju kapal yang berbeda denganku. Gadis kecil itu menoleh ke arahku yang masih mematung, melambaikan tangannya dengan senyuman manis yang masih kuingat hingga malam ini.
“Kakak” serunya
“Sampai jumpa, Nova” bisikku lirih
Aku sangat tak suka dengan kalimat “Selamat tinggal” sebab aku yakin Tuhan akan mempertemukanku kembali, entah kapan dan dimana.
Hari ini aku belajar, bahwa ketaksempurnaan tak mengharuskan kita bergantung kepada orang lain. Selalu ada alasan untuk setiap keadaan dan Tuhan telah menyiapkan semuanya dengan cara yang sangat indah. Melapangkan hati dan menjalani semua dengan keikhlasan.
Nova, dia mengajariku tentang cinta yang sejati. Kedekatannya dengan sang ayah mengingatkanku pada Ayah yang telah tiada. Rinduku hanya bisa kulabuhkan dalam doa-doa untuknya.
“Tuhan yang Maha Mendengar, titip rindu untuk Ayah. Terangilah dan berikan selalu cahayaMu untuknya. Aamiin”
***
Mengeja Senja @ RSI => Pelabuhan Perak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar