Sabtu, 10 Maret 2012

En, Karena kamu harus belajar tentang ini

Akhirnya hari ini aku dapat berucap ALHAMDULILLAH
Sebuah terima kasih untuk sahabatku yang sesaat lagi akan mengikrarkan dua hati dalam sebuah penyatuan suci atas namaNya. Sungguh setelah tiga bulan bersama kalian, menjadi yang terpilih untuk mempersiapkan pernikahan kalian adalah anugerah yang aku syukuri kini. Ah, rasanya aku malu pada kalian ketika mengingat betapa di awal aku sempat menolak dengan alasan tak mampu.

En, jangan pernah mengatakan tak sanggup jika kamu masih ingin berjuang
Sungguh kalimat itu menjadi sebuah lecutan, penyemangat yang mengantarkanku untuk tak pernah menyerah sebelum mencoba. Aku hanya tak ingin mengecewakan kalian dan kedua keluarga besar. Andai saja aku tetap bersikeras menolak tawaran kalian, mungkin hingga hari ini aku tak pernah tahu jika aku bisa melakukannya.

Sahabat, terima kasih atas semuanya. Kesempatan yang sangat langka untuk seorang event organizer pemula sepertiku. Sebuah alasan yang sempat kalian utarakan di beberapa waktu lalu pernah juga menyudutkanku pada tanya.
Kenapa harus aku ? Ini bukan event biasa dan aku tak pernah punya pengalaman. Ini acara yang sangat sakral dan harus sukses”
Kamu tahu kenapa ? Karena kami ingin kamu belajar tentang sesuatu”
“Sesuatu ? Apa ?”
“Hati, rasa juga cinta yang sebenarnya”

Klise, aku bahkan tertawa renyah mendengar kalian mengucapkan itu. Aku masih berfikir pemahamanku tentang itu kurasa lebih baik dari kalian berdua. Egoku mungkin yang berbicara. Sebab urusan hati, hanya Tuhanku saja yang memahaminya.

Sahabat,
Tiga bulan membersamai kalian dalam segala pesiapan. Kutahu ternyata penyatuan itu sungguh tak mudah. Tak sadarkah kalian, aku bahkan berkali-kali menjadi korban kemarahan kalian. Ketika ketaksepahaman hadir, saat resah justru menyeret hati kalian pada rasa cemburu, ketika tiba-tiba cinta merekatkan lagi hati itu, saat ego kemudian membelah keinginan yang berbeda tentang konsep juga warna terpilih. Sungguh aku sempat bingung dengan perubahan-perubahan itu. ingatkah kalian ketika aku bertanya :
Kenapa kalian akan menikah jika tak pernah sepaham begini ?” aku telah lelah kala itu memberi kalian pengertian tentang konsep kesederhanaan yang coba kutawarkan.

Ah, semuanya menjadi kenangan yang indah tapi sangat berarti untukku. Hari ini aku menemukan jawabnya. Terima kasih sudah mengajarkanku tentang
rasa, arti “Memahami”, tentang “Penerimaan”, Indahnya “Kecemburuan”, Manisnya sebuah “Rindu”, Jarak yang merunut “Kesetiaan”, Air mata yang hadir dalam “Amarah”, kesabaran dan indahnya “Cinta” yang kalian hadirkan semata karenaNya saja.

Sahabat, masih jelas dalam ingatan saat kubersamaimu. Ketika kudengar lafaz doamu di malam-malam panjang itu secara tak sengaja.
Rabb, jagakanlah hatinya agar selalu menghadirkanMu. Bimbing selalu langkahnya agar tak pernah lepas dari cahayaMu”
Tak ada sedikitpun kau sebutkan agar hatinya tetap setia kepadamu, agar cintanya hanya untukmu. Tak ada keegoisan dalam doamu. Semua yang kau lafazkan adalah untuk kebersamaan dia dan Rabbnya. Aku jatuh cinta pada kalimat doamu malam itu, sahabat. Inikah yang kau katakan cinta kalian karenaNya semata. Sungguh, aku beruntung berada dalam pendar-pendar bahagia kalian.

Dan akhirnya beberapa saat lagi, bahagia itu akan menjadi nyata. Doaku untuk kalian semoga bahagia, menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, selalu dalam lindungan dan cintaNya.

En, kedekatan spiritual itu tak butuh kata atau kalimat tanya sebab semua bisa dirasa disini (Hati)”
Masih sempat kalian memberiku pelajaran itu, disaat kita menanti hujan reda sore tadi. Walaupun aku hanya tersenyum saat mendengarnya, tapi aku merenungkannya.

Sahabat, terima kasih
Sungguh, terima kasih atas semua pelajaran ini

1 komentar:

avenir mengatakan...

terima kasih. aku juga bisa belajar dari ini.