Tuhan, aku minta maaf
Dalam segala lemahku, dalam ketaksengajaan yang kerapkali kujadikan alasan, bahkan saat mendatangimu kini. Tapi sungguh ini bukan alibi yang sengaja aku bangun. Aku benar-benar tak bermaksud menyakiti siapapun. Tak pernah sekalipun melupakan sebentuk janji.
Tuhan, aku minta maaf
Ketaksempurnaanku dalam atribut insan tanpa kusadari menyudutkanku pada sepenggal sikap yang tak kupahami telah membuat beberapa hati kecewa. Parahnya, aku masih mengira semuanya baik-baik saja. Aku yang tak pernah peka akan nada kecewa juga amarah yang terpendam. Semua memang tak seharusnya lahir dalam kata. Keyakinan hati terkadang jauh lebih kuat dibanding ribuan kalimat. Hanya saja, sekali lagi aku lemah menyadarinya.
Tuhan, aku minta maaf
Jika baru hari ini aku mengerti tentang semua ini. Ketika sebuah sentilan tiba-tiba mengejutkanku.
“Neng, kalau aku berada dalam posisinya aku juga akan marah. Aku saja hanya bisa menerka kemana kamu selama satu minggu ini, sakitkah ? Kekhawatiran yang coba aku tepis sebab tak ada satu orangpun saudara yang akan membiarkan fikirannya seperti itu. Aku hanya merasakan kamu sedang butuh waktu untuk sendiri saja”
“Teteh, kalau aku hilang tanpa kabar itu karena sakit. Ditambah lagi selama satu minggu ini ada audit dari pusat. Pulang kantor juga hingga larut, kondisi tubuh benar-benar nggak fit. Janji sebuah deadline mengharuskanku memburu sepotong senja sendiri di sebuah desa selama dua hari terakhir. Aku memang belum sempat memberi kabar kepada siapapun”
Tuhan, aku minta maaf
Sungguh tak pernah ada maksud untuk mengingkari sepotong janji yang pernah tersemat.
“Janji ya, jangan pernah menghilang tanpa kabar lagi”
Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Amanah yang selalu aku jaga dalam setiap tarikan nafas. Jika kali ini belum sempat kukabarkan semuanya, karena keadaan saja.
Tuhan, aku minta maaf
Kupahami amarah itu. Terbaca kecewa meski dalam diam. Selayaknya sebuah kesalahan, maka aku benar-benar minta maaf. Pelajaran berharga untuk hatiku yang masih terlalu manja. Betapa memahami sebuah bahasa “diam”, sungguh tak mudah. Peka yang terasah, sengaja kutempatkan pada perasangka baik.
Tuhan, aku minta maaf
Dalam bahasa yang dimengerti, tulus kata dari hati untuk tak pernah mengulangi kesalahan ini kembali. Maaf, benar-benar maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar