Senin, 05 Maret 2012

Selamat Jalan, Guru

Minggu, 4 Maret 2012 menjadi catatan kesedihan untuk kesekian kalinya. Sebuah kabar yang tak pernah kuduga menghampiri. Kepergian orang yang berjasa mengantarkan banyak insan menuju gerbang kesuksesan dan meraih mimpi.

Nur Salama, guru Sekolah Dasar yang mengenalkanku pada aksara dan kalimat, yang tak kenal kata menyerah membuatku berani bermimpi, yang menyemangatiku untuk sebuah kompetisi hingga langkahku mampu menjejak Jakarta untuk pertamakalinya dalam balutan seragam putih merah dalam usia sembilan tahun. Kedekatannya dengan sebagian besar murid adalah wujud nyata betapa ketulusan dalam memberi kami ilmu tak perlu diragukan lagi.

Hari ini, rumah itu masih juga mendung. Sebuah kejutan luar biasa ketika aku menjejakkan lagi kaki disana, begitu banyak teman sejawat yang juga datang dari berbagai tempat. Maklum saja, perjuangan hidup akhirnya membuat kami terberai di berbagai pelosok. Hanya saja seperti biasanya selalu ada waktu untuk berkumpul di rumah ini. Kami sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri.

Sedikit bernostalgia, kamipun larut pada masa kanak-kanak dulu. Ketika kenakalan-kenakalan kerapkali menjadi sebuah permainan seru. Tertawa lepas setiap kali mendapatkan hukuman bersama. Saling mengadu demi menyelamatkan nasib masing-masing. Tapi Bu Nur tak pernah menghukum kami dengan berat. Apa yang dilakukannya selalu saja pada akhirnya membuat kami jera, belajar dari kesalahan dan tak pernah mau mengulanginya lagi. Aku masih ingat betapa bahasa daerah menjadi pelajaran yang sangat sedikit peminatnya. Maklum saja untuk berbahasa daerah dengan sangat santun sungguh sulit, ada tingkatan-tingkatan bahasa yang harus kami kuasai. Beliau tak kenal menyerah membuat kami menyenangi pelajaran itu.

Pernah kami bertanya apa yang membuat beliau dapat mengingati kami satu persatu setelah sekian lama berlalu. Bayangkan saja meskipun sudah beranjak ke jenjang SLTP, SMU bahkan perguruan tinggi, rumah ini selalu menjadi ajang reuni yang asyik. Malah beberapa kawan yang sudah mempunyai anakpun tak jarang pula membawanya kemari.
Yang paling diingat oleh guru dari muridnya adalah murid yang pandai, murid yang nakal dan murid yang paling tertinggal di kelas. Dan kalian semua komplit”

Tawa lepas yang dulu pernah nyata. Hari ini ketika suami dari Bu Nur mengulangi pernyataan yang sama, serasa ada telaga bening yang tak kuasa untuk mengalir. Kerinduan, menjalari nadi kami. Mengingat kesibukan akhir-akhir ini telah membuat kami lama tak berkunjung. Lalu kini kami kembali dipertemukan, dalam suasana berbeda. Beliau telah pergi untuk selamanya.

Rabb, sungguh kematian itu sangat dekat kepada setiap insan. Bu Nur menjemput panggilanNya dalam kelapangan tanpa sakit. Seharian masih bercanda dengan anak dan cucunya, nyeri baru terasa ketika menjelang jam sebelas malam. Sebelum sempat sampai di rumah sakit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam perjalanan ke rumah sakit juga masih biasa. Masih bercerita seperti tak ada yang terasa sakit. namun di detik-detik terakhir, tiba-tiba saja tangannya terkulai lemas dan nafas itupun berhembus untuk terakhir kalinya. Subhanallah, Rabb semoga Kau terima segala amal ibadahnya.

Sungguh, kepergiannya yang tiba-tiba masih menyisakan rasa tak percaya. Bukan saja bagi keluarga yang ditinggalkan namun juga bagi kami murid-muridnya. Lebih mengejutkan lagi ketika Tuhan sekali lagi memperlihatkan kuasaNya. Tetangga Bu Nur, tepat di depan rumahnya juga meninggal dunia tepat setelah jenazah Bu Nur dimakamkan. Kabut duka menaungi dua keluarga yang berhadapan. Semua dalam waktu yang tak pernah disangka-sangka dan tanpa firasat apapun.

Sesungguhnya dunia adalah penantian saja. Setiap insan menanti saatnya masing-masing. Sebuah waktu yang tak akan pernah diketahui kapan datangnya. Mempersiapkan bekal dengan sebaik mungkin demi perjumpaan yang indah dengan sang empunya hidup.

Guru, selamat jalan
Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisiNya

Tidak ada komentar: