Sabtu, 09 Februari 2013

Surat Untuk Sahabat



            09 Februari 2013, langit Surabaya kembali terik. Meski mendung sempat menyapa di sisa embun pagi namun geliat semangat yang menyembul lewat sentuhan sang surya tak sanggup redup.
            Sahabat, ingatan itu kembali mengudara di sepanjang angan yang melebarkan kenangan. Saat beberapa waktu dulu kita pernah bersentuhan dalam sebuah kompetisi tingkat nasional ketika seragam putih merah menjadi identitas yang teguh kita pertahankan. Ego telah merengkuh kita pada putaran waktu untuk berjuang demi sekolah, kota juga nama baik provinsi. Ah, nyatanya sejak dulu kita telah digembleng untuk mengerti apa arti sebuah perjuangan.

            Sahabat, aku sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk belajar arti sebuah persahabatan. Nilai yang tak bisa kita pelajari dalam kurikulum manapun. Entah bagaimana mula dari segala keterikatan ini, yang kupahami tiba-tiba kita begitu dekat. Aku masih tersenyum kala ingat betapa di arena itu kita masih sepasang musuh bebuyutan. Aku dengan tegas membela nama Jawa Timur, sedangkan kamu harus berjuang sebagai wakil Sumatera Barat. Meski aku sempat memenangkan perlombaan itu namun toh aku juga akhirnya harus menyerah kalah dari Aceh. Hey, kamu masih ingat betapa kita tak menangisi kekalahan itu namun justru tertawa. Satu alasan yang kita inginkan sebenarnya, karena setelah lepas dari semua rutinitas yang mengharuskan kita melahap buku super tebal setiap hari, kita punya waktu untuk mencicipi indahnya jalan-jalan ke Blok M, Monas dan lainnya. Kamu tahu, boneka yang kubeli di pasar minggu sampai sekarang masih ada. Setiap kali melihatnya, memori itu kembali terpampang. Hadiah yang kudapat, karena bisa melaju ke babak semifinal plus iming-iming dari para pembimbing supaya mau terus belajar untuk pertandingan selanjutnya. Rasanya memang jadi takjub ya, betapa buku setebal itu kita nyaris hafal diluar kepala. Walaupun hasilnya tak seperti yang kita impikan tapi kupercaya kita sangat bangga kala itu karena bisa berhadapan langsung dengan Bapak Presiden dan beberapa menterinya. Hey, kamu ingat nggak, waktu itu ada beberapa artis yang mengisi acara saat penutupan lomba di TMII ? Duh rasanya senang banget bisa melihat mereka dari dekat. Namanya juga anak daerah ya, hehehe. 


            Sahabat, setelah waktu berakhir dan kita harus meninggalkan Asrama Pondok Gede Jakarta, rasanya ada yang hilang. Kembali ke daerah masing-masing dan bertemu lagi dengan rutinitas sebagai anak SD dengan segala masa kanak-kanak yang indah. Aku menjemput masa indah itu diantara para sahabat disini, begitu juga dengan dirimu. Tapi hal luar biasa yang kita jalani saat itu adalah kejaiban surat. Entah darimana ide itu datangnya. Aku bahkan sangat terkejut ketika menerima surat untuk pertamakalinya. Membaca tulisanmu satu persatu, seakan ada dunia baru. Mulai belajar merangkai kata untuk membalasnya walaupun sekedar menjawab pertanyaan yang kamu ajukan di surat itu. Dan kamu tahu, sejak saat itu aku merasa setiap hari penuh semangat. Ada sesuatu yang dinantikan, ada kabar yang ingin segera dibagikan.

            Waktu dan jarak sungguh tak menjadi penghalang bagi kita. Ketika seragam putih biru mulai tersemat di tubuh kita, kebiasaan berkirim surat itupun tak jua hilang. Bahkan hingga kita melewati masa SMU dan masa-masa sebagai mahasiswi. Sejauh itu, kita tak pernah bersua meski sekali. Bahkan kita bertekad untuk tak saling berkirim foto hingga ketika Tuhan memberikan kita waktu kelak untuk berjumpa, semua akan menjadi sesuatu yang sangat berarti dan indah. Sungguh tak pernah terbayangkan jika akhirnya kita akan berkecimpung di dunia yang sama, perbankan. Sama-sama lulus dengan predikat terbaik dan diterima bekerja pada waktu yang sama pula. Sayang, kita masih juga berjarak. BI telah merengkuhmu di ibukota. Permintaan yang kamu kirimkan untuk ditempatkan di Surabaya tak mendapat respon. Kecewa pernah kita rasakan kala itu tapi kembali pada awal yang kita mau, pasti Tuhan sedang merancang pertemuan yang indah suatu hari nanti. Aku dan kamu masih perlu bersabar sambil membayangkan seperti apa ya gadis padang yang pernah kutemui di Jakarta saat kanak-kanak dulu itu.

            Tahun 2011, akhirnya doa kita terjawab. Dunia menulis yang kutekuni sejak awal 2011 telah mengantarkanku pada gerbang yang sangat lama kita nantikan. Saat launching nasional salah satu buku yang memuat karyaku di Jakarta, saat itulah kita berkesempatan untuk bertemu. Ah, rasanya ingin tertawa. Sahabat pena yang aku tunggu selama bertahun-tahun ternyata sudah lewat di depanku berulangkali tapi kita tetap tak bertegur sapa. Bahkan aku masih ingat sewaktu Miny berbisik ada yang mencariku. Saat kita kembali bersalaman dengan menyebut nama masing-masing. Aku bersorak girang dalam syukur tiada tara. Sahabat pena, sahabat sejati yang selama ini tak pernah letih mengirimiku surat sekarang ada di hadapan. Kita larut dalam takjub akan kebesaranNya.

            09 Februari, aku tak pernah melupakan tanggal ini sejak pertamakali kita bertemu dan kamu menuliskan data tanggal lahir itu di buku pena kita. 

            Reska Prasetya, Selamat mengulang tanggal lahir. Segenap doa terbaik untukmu. Teruslah maju, sukses dan penuh berkah di usia yang tertapak. Jangan pernah menyerah dalam hidup yang memang tak mudah. Bahagiaku tak pernah putus untuk jiwamu yang telah bertemu pangeran impian dan membawamu untuk menggenapkan diennya serta anugerah bidadari mungil. Jadilah keluarga Samara, jangan pernah letih untuk terus bergerak walau dalam diam sekalipun.

            Res, surat-suratmu masih tersimpan utuh dan rapi disini. Kelak jika Tuhan mengijinkan pertemuan itu lagi, kita bernostalgia ya dengan tulisan dan kisah-kisah lucu masa kecil itu.

            Sahabat, terima kasih telah memberiku ruang istimewa dalam hidupmu. Semoga kisah persahabatan ini dapat kamu bagi pada dua malaikat kecilmu, suatu hari nanti.

1 komentar:

Teknik Dasar Listrik mengatakan...

Tulisan2 kamu sangat menggoda, En.. :)