Rabu, 29 April 2015

3 KM

Pulang ke kotamu ...
Yogyakarta, rumah kedua yang tak pernah bosan mengajak kami kembali. Entah ini pertemuan kami yang keberapa. Seingatku sih setiap kali kami hendak melakukan perjalanan, meeting point selalu di Yogya.

Stasiun Tugu, Malioboro, Titik Nol, Angkringan dan masih banyak titik lain yang menjadi akses pengingat kami.

Perjalanan kali ini dibuka dengan gerimis. Bukan hanya Yogya, hampir semua kota rata diguyur hujan. Ah, kami bersyukur. Turun hujan berarti rahmat. Semoga perjalanan kami mendapat berkah. Aamiin.

Gunung Kidul ...
Inilah salah satu tempat yang kami tuju. Sebuah pesantren yang baru berkembang. Kami mengenal mereka hanya dalam maya, tapi alhamdulillah Tuhan memberi kesempatan untuk berjumpa degan saudara-saudara baru ini dalam nyata. Meski menjejakkan kaki di Desa Panggang, Gunung Kidul belum pernah terbersit dalam pikiran kami.

Hehehe ternyata beda jarak itu bukan hanya di peta. Setiap warga yang kami minta informasinya selalu mengatakan kalau tempat itu sudah dekat, hanya 3 km. Tapi siapa sangka, sudah berkelok-kelok tanpa henti, kami belum bertemu rumah penduduk sama sekali.

Pohon besar dan seorang lelaki berpakaian putih adalah petunjuk berikutnya. Hari mulai gelap, ditemani lusinan bunga tebu yang mulai memutih sebagai cara kami menghibur diri bahwa tempat itu pasti sebentar lagi akan ada. Sayang, kembali kami bertemu dengan informasi serupa. "Hanya 3 km lagi kok," ucap salah seorang warga.

Taraaaaa ...
Tidak ada kegigihan yang sia-sia. Senyum terkembang dari dua wajah yang memancarkan keteduhan. Ah, inikah karunia Tuhan itu? Di tanah pedalaman ini masih ada orang-orang tanpa pamrih yang berjuang untuk orang lain, untuk anak-anak yang butuh masa depan.

Terima kasih Tuhan.
Perjalanan diantara gerimis yang memberi kami pelajaran indah.

Bersama Berbagi Bahagia.

Rabu, 22 April 2015

The Photographer

Check out this video I made with Animoto: The Photographer - http://animoto.com/play/xoC3DAVirS4S0D2udyk0Rw

Senin, 20 April 2015

LANGKAH

Pada akhirnya,
Setiap langkah akan menemukan teman seiring. Berjalan bersama tanpa harus saling mendahului. Seiring tanpa harus saling meninggalkan.

Seiring adalah seirama.
Tidak harus kakimu melangkah sama tapi cukup langkahmu dan langkahnya selaras. Cukup jejak kalian menjadi harmoni yang tidak sumbang.

Pada akhirnya,
Langkahmu tak pernah sendirian. Melodimu tak mungkin lagi sepi karena cerita yang akan kalian tinggalkan sebagai jejak zaman akan tertoreh dengan manis.

Satu ...
Padu ...
Menepis ragu ...
Utuh melagu ...

Aku ...
Kamu ...
Sepasang langkah ...