Jumat, 10 Februari 2017

KARENA KAMU TITIPAN TERINDAH

Gerimis menyapa rindu yang kami dulang di setiap detik. Dalam pinta tanpa letih yang selalu kami hadirkan di setiap tarikan nafas. Maha Cinta, sungguh tiada daya dan kekuatan selain pengharapan kepadaMu. 

Dipertemukan dengan cara yang baik, di jalan yang baik dan dengan orang terbaik dalam rencanaMu adalah catatan kehidupan yang selalu kami syukuri. Terima kasih tak terhingga atas semua rancangan Maha Sempurna ini. Melengkapi dan terlengkapi adalah titah kepastianMu. Kami, yang kadang begitu alpa merapal asmaMu, namun cintaMu tidak pernah sedikit pun meninggalkan kami. 

Manusia dalam keseharian yang tak pernah lepas dari keterusikannya kadang membuat kami jengah. Entah kami yang terlalu populer (sok famous) atau terlampau membuat mereka diluar sana penasaran. Masih teringat bagaimana kisah ini membuat khalayak terpaku. Ah, cinta bagi kami tetap sebuah keajaiban dan anugerah. Kami selalu percaya bahwa setiap perasaan berhak tersenyum. Hanya saja terlalu sedikit manusia yang berani menerimanya, dengan dalih hendak menemukan kesempurnaan. Kita yang angkuh kadang lupa bahwa tidak ada kesempurnaan yang berdiri sendiri. Ia akan lengkap saat tergenapi. Tidak ada hati yang tanpa kekurangan. Ia hanya akan utuh ketika dipertemukan. Kita, manusia yang penuh ketakutan yang justru tidak membiarkan pintu terbuka, bahkan ketika Tuhan sudah melebarkan jalan itu sendiri. 

Rindu, ya ini tentang rindu. 
Rindu kami mungkin lebih dari yang mereka tahu. Walau kami selalu saja menghadapi semua pertanyaan itu dengan senyuman. Ya, kini kami sadari bahwa selalu tersenyum atas masalah apa pun bisa memberikan energi positif. Sesuatu yang luar biasa, hati lebih bisa lapang. 

Kapan? Kapan? Kapan? Udah hampir setahun nih. 
Kalimat-kalimat itu sudah terlalu biasa kami dengar. Sedih, boleh jadi sempat hinggap di hati kami sebagai manusia biasa. Tapi kami sangat beruntung karena bisa saling menguatkan satu sama lain. Saling bergandengan dan terus menyemangati. Mengisi hari diluar kesibukan rutinitas kami dengan menekuni hobi secara lebih profesional. Aku, kembali bergelut dengan menulis dan dia terus memperdalam Ilmu fotografi. Tentu saja kami tidak pernah melewatkan waktu tanpa berdua. Travelling adalah cara yang bisa mengakomodasi hobi kami dalam satu waktu. Bersahabat dengan alam, mengcapture semua peristiwa dalam kacamata berbeda. Kami sepakat bahwa apa yang kami jalani harus abadi. Setidaknya anak-anak kami kelak mengerti dan paham bagaimana kehidupan sesungguhnya. Setiap perjalanan adalah kenangan. Setiap kenangan adalah pembelajaran hidup. 

26 September 2016, desir dingin menyapa sepi. Selepas shubuh dalam doa-doa panjang kesyukuran atas setahun penggenapan kami. 
"Subhanallah."
Tangisku pecah. Lidah kelu dalam ketakjuban. Sungguh, kami masih termangu. Dia, kulihat tak kuasa menahan haru. Kami, tunduk. Seutuhnya penyerahan. Tanda (2 strip) itu benar-benar nyata. 
Duhai Maha Kasih, terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Denyut mungil di rahim ini adalah anugerah dan mukjizat indahMu. Kami, pasrah dalam sebenar-benarnya kepasrahan. 

Kado indah di pernikahan kami. Tidak ada yang menandinginya. Semoga kami bisa menjaga amanah ini dengan baik. Semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah dengan titipanMu. 

Nak, sehat terus ya. Semoga Allah terus menjagaMu dalam sebaik-baiknya penjagaan. Semoga Engkau tumbuh kembang dengan baik, normal dan sempurna dalam cintaNya. Kami, menyayangimu utuh.

========================================================================
Tentang Kamu, Malaikat Kecilku.
Tulisan pertama Bunda, Untukmu.