Sabtu, 28 November 2015

MASIH ADA

Harapan adalah energi. Harapan adalah celah yang menggulirkan milyaran semangat untuk melangkah. Hidup serasa punya arah ketika harapan kian membuncah. Aura positif yang lahir bak magnet masa depan. Setiap orang merasakan hal yang sama. Namun, tidak semua orang punya kelapangan jiwa dan keluasan hati serupa. Hati yang akan mudah untuk kembali pada pikiran positif ketika harapan yang terlanjur melangit, akhirnya harus terhempas.

Kita pasti pernah merasakan keaadan ini. Diakui atau tidak, seringkali air mata menjadi pelampiasan dari rasa kesal, kecewa dan tidak terima. Hei! Kita bukan satu-satunya orang yang pernah kecewa, bukan satu-satunya orang yang merasa ditinggalkan atau kehilangan. Buka diri dan pandangan, betapa diluar sana masih banyak yang kesedihannya melebihi apa yang kita alami dan nyatanya mereka semua masih bisa berdiri tegak. 

Lalu apa bedanya antara kita dengan mereka? Kita berpijak di bumi yang sama dan berada dibawah langit yang sama pula. Tapi kenapa kita justru larut dalam kesedihan berkepanjangan? Bukankah hidup masih harus terus berlanjut?

Disana, ada yang sedang kehilangan kekasih hati. Disana, ada yang baru saja ditinggalkan cinta. Disana, ada yang belum juga bertemu dengan jodohnya. Disana, ada pula yang masih merindukan buah hati tercinta yang masih belum dikirimkan Tuhan. Disana, ada yang baru saja membanting cita-citanya yang tak kesampaian. Disana, ada yang baru saja kehilangan pekerjaan. Dan, lihat! Apa yang mereka lakukan dengan kesedihan itu? Mereka tetap berdiri tegak menatap dunia.

Harapan boleh hilang tapi ia tak boleh lekang. Harapan boleh enyah tapi ia tak boleh menyerah. Harapan bisa fana tapi ia harus terus menyala. Kita hanya perlu memahami segala kekecewaan dengan kelapangan rasa. Tuhan tidak pernah salah dengan hidup yang Dia anugerahkan kepada setiap manusia. Ada perhitungan Maha Baik agar kita menjalani hidup dengan jauh lebih baik dari waktu ke waktu.

Dunia belum berakhir. Jika harapan yang sudah terlanjur melangit tiba-tiba tak sama dengan apa yang terjadi pada kenyataannya, maka tak perlu berpikir negatif akan hidup. Mungkin saja Tuhan ingin kita sebagai hamba untuk lebih dekat lagi padaNya. Dia merindukan rintihan kepasrahan dan keikhlasan dari kita. Dia merindukan hamba yang selama ini selalu merindukanNya lalu tiba-tiba menjauh. Dia mencintai kita dengan caraNya yang paling indah. Bukankah Dia memahami kita, lebih dari apa yang kita pahami sendiri?

Datanglah padaNya dengan cinta, dengan kasih dan harapan yang terus bermuara padaNya saja. Percaya satu hal bahwa Tuhan bukan tidak mengabulkan pinta. Dia mendengar. Dia melihat. Dia Tahu. Tapi Dia sangat paham kapan waktu terbaik harapan itu Dia berikan kepada kita.

Masih ada mentari di esok hari selepas hujan malam ini. Masih ada hangat senja di esok sore selepas pekat ini. Masih ada orang-orang tercinta yang akan terus mencintai kita tanpa pamrih. Masih ada hati yang tak pernah rela melihat gerimis di mata kita dan masih ada Dia yang tak pernah pergi, meski kita seringkali meninggalkanNya. Masih ada cinta, masih ada harap.


Masih ada ...