Harapan adalah energi. Harapan adalah celah yang
menggulirkan milyaran semangat untuk melangkah. Hidup serasa punya
arah ketika harapan kian membuncah. Aura positif yang lahir bak
magnet masa depan. Setiap orang merasakan hal yang sama. Namun, tidak
semua orang punya kelapangan jiwa dan keluasan hati serupa. Hati yang
akan mudah untuk kembali pada pikiran positif ketika harapan yang
terlanjur melangit, akhirnya harus terhempas.
Kita pasti pernah merasakan keaadan ini. Diakui atau
tidak, seringkali air mata menjadi pelampiasan dari rasa kesal,
kecewa dan tidak terima. Hei! Kita bukan satu-satunya orang yang
pernah kecewa, bukan satu-satunya orang yang merasa ditinggalkan atau
kehilangan. Buka diri dan pandangan, betapa diluar sana masih banyak
yang kesedihannya melebihi apa yang kita alami dan nyatanya mereka
semua masih bisa berdiri tegak.
Lalu apa bedanya antara kita dengan mereka? Kita
berpijak di bumi yang sama dan berada dibawah langit yang sama pula.
Tapi kenapa kita justru larut dalam kesedihan berkepanjangan?
Bukankah hidup masih harus terus berlanjut?
Disana, ada yang sedang kehilangan kekasih hati.
Disana, ada yang baru saja ditinggalkan cinta. Disana, ada yang belum
juga bertemu dengan jodohnya. Disana, ada pula yang masih merindukan
buah hati tercinta yang masih belum dikirimkan Tuhan. Disana, ada
yang baru saja membanting cita-citanya yang tak kesampaian. Disana,
ada yang baru saja kehilangan pekerjaan. Dan, lihat! Apa yang mereka
lakukan dengan kesedihan itu? Mereka tetap berdiri tegak menatap
dunia.
Harapan boleh hilang tapi ia tak boleh lekang. Harapan
boleh enyah tapi ia tak boleh menyerah. Harapan bisa fana tapi ia
harus terus menyala. Kita hanya perlu memahami segala kekecewaan
dengan kelapangan rasa. Tuhan tidak pernah salah dengan hidup yang
Dia anugerahkan kepada setiap manusia. Ada perhitungan Maha Baik agar
kita menjalani hidup dengan jauh lebih baik dari waktu ke waktu.
Dunia belum berakhir. Jika harapan yang sudah terlanjur
melangit tiba-tiba tak sama dengan apa yang terjadi pada
kenyataannya, maka tak perlu berpikir negatif akan hidup. Mungkin
saja Tuhan ingin kita sebagai hamba untuk lebih dekat lagi padaNya.
Dia merindukan rintihan kepasrahan dan keikhlasan dari kita. Dia
merindukan hamba yang selama ini selalu merindukanNya lalu tiba-tiba
menjauh. Dia mencintai kita dengan caraNya yang paling indah.
Bukankah Dia memahami kita, lebih dari apa yang kita pahami sendiri?
Datanglah padaNya dengan cinta, dengan kasih dan
harapan yang terus bermuara padaNya saja. Percaya satu hal bahwa
Tuhan bukan tidak mengabulkan pinta. Dia mendengar. Dia melihat. Dia
Tahu. Tapi Dia sangat paham kapan waktu terbaik harapan itu Dia
berikan kepada kita.
Masih ada mentari di esok hari selepas hujan malam ini.
Masih ada hangat senja di esok sore selepas pekat ini. Masih ada
orang-orang tercinta yang akan terus mencintai kita tanpa pamrih.
Masih ada hati yang tak pernah rela melihat gerimis di mata kita dan
masih ada Dia yang tak pernah pergi, meski kita seringkali
meninggalkanNya. Masih ada cinta, masih ada harap.
Masih ada ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar