Pada
almanak yang kesekian, debaran itu masih sangat nyata. Setiap kali
menginjakkan kaki di pelataran ini, ada rasa tak biasa. Bagaimana
bisa tak ranum? Jika cinta seolah menguasai seluruh sudut. Bagaimana
tak berdetak? Jika rindu seolah luruh seketika. Rindu, ya rindu yang
tak biasa. Ketika nadi tiba-tiba terhenti dalam detik yang memeluk
erat.
Duh,
cinta. Ramuan apa yang membuat hati tak pernah bisa berpaling? Kasih
tak berbatas membuat semua pecinta saling berlomba mendekat. Disini,
rumah paling nyaman yang selalu menyemai rindu. Disini, rumah paling
hangat yang selalu mengajak kami untuk selalu pulang. Selelah dan
seletih apa pun dunia menyergap seharian, rumah ini menjadi labuhan
paling damai. Tempat dimana kami bisa mengadu tanpa malu. Tempat
dimana kami bisa meminta apa pun dengan segala permohonan. Tempat
dimana semua orang bisa merayu dan merengek tanpa batas usia. Disini,
rumah Tuhan. Tempat dimana kita tunduk dalam ketakberdayaan. Tempat
yang menyadarkan kita betapa dunia tak pernah kekal.
Untuk
kesekian kali, sosok itu nyata. Dia yang menyadarkan bahwa Tuhan
selalu ada dengan segala cinta tanpa batas untuk manusia dengan
segala keterbatasan sekali pun. Tak sempurna secara fisik (read
: di mata manusia) namun tak membuatnya alpa untuk bersama dengan
orang-orang sekitar memuja dan bertasbih pada Sang Maha Cinta. Akan
selalu ada jalan untuk mereka yang benar-benar tulus mengenal cinta.
Dia, membuktikannya. Haru? Bukan. Ini bukan perasaan haru, kasihan
atau sekelasnya. Perasaan ini adalah bahagia. Seruan hati karena di
rumah ini, kami semua bersaksi bahwa di mata Tuhan tak ada yang
berbeda. Semua sama, yang membedakan hanya tingkat ketakwaan semata.
Bisa jadi, dialah sosok dengan hati paling tanpa pamrih di rumah ini.
Sosok dengan lantunan doa-doa sederhana namun sanggup membuka pintu
langit. Sosok yang hatinya dipenuhi oleh rindu.
Lantunan
AsmaNya kian jelas. Diantara debar yang semakin menyatu, ada lirih
harap. Tuhan, peliharalah cinta dalam hati kami agar tak pernah lalai
dalam mengingat Engkau. Jagalah lelaki tak sempurna yang tertatih
mengayuh roda duanya itu untuk selalu menemuiMu. Hanya karena cinta tak
berbatas, cinta yang langit pun tak sanggup untuk menahannya. Duhai
Maha Cinta, dekaplah lelaki dengan keterbatasan itu dalam rindu yang
selalu hangat. Rindu untuk terus menemuiMu, bukan hanya di lima
waktunya. Tuhan, tuntun dan bimbing jiwa-jiwa para perinduMu untuk
terus istiqomah.
Inspiring
by : Lelaki baya tak dikenal dengan keterbatasan di pelataran Masjid Kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar