Waktu mengikat jejak demikian intim. Menerobos ruang dan jarak yang seringkali dijadikan alasan untuk berkelit dari pertemuan. Tapi kita? Tidak! Pada satu batas maya yang memenjarakan resah, kita sanggup menyibaknya dengan tegas.
Juli 2011, perjalanan itu dimulai. Ah, menilik kembali jejak itu rasanya baru kemarin. Benar adanya jika kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya bisa berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang ada dengan sekeras usaha bersama taburan doa yang tak pernah bosan.
Jakarta, dengan segala riuh menyambut tapak yang coba kita damaikan di stasiun itu. Segenap cerita mengiringi. Saat pekat langit menghilangkan senja, ketika rasa lelah sempat membuat ingin ini terhenti sebelum tujuan sampai. Lalu celoteh ibukota menyambut dengan senyum yang menghangat seiring mentari menjejak lirih.
Laju roda empat pun mengantarkan kita pada pelepasan letih, sebelum pertemuan itu ada. Rasa tak sabar mendesak perih, akankah semua seperti yang diharapkan? Atau kejutan akan membuat kami berkilah? Entah!
Satu persatu haru menghinggapi. Ketika wajah-wajah maya yang selama ini tulus saling bergenggaman muncul di hadapan. Aroma rindu dalam keteduhan pandang, pelukan hangat serta ramah sapa berbaur jadi satu. Sahabat, indahnya silaturrahmi sungguh tak tertandingi.
Pertemuan pertama itu mengasah batin. Meski hanya dalam bilangan detik, sungguh berarti. Dan kita pun percaya, menulis membuat kita punya banyak sahabat. Tak terbantahkan, ada ruang kosong yang kemudian terisi dengan canda tawa bersama.
Kini, dua tahun sudah berlalu dan perjalanan ini telah meninggalkan jejak bukan saja di Jakarta. Yogya, Bogor, Lamongan, Pulau Madura adalah bagian yang mengabadikan kita dalam kebersamaan yang indah. Bertemu sahabat hingga ke pelosok, belajar banyak hal yang selama ini nyaris tak terpikirkan.
Mengenang semuanya, sungguh kangen itu ada. Meski kini kita kembali sendiri-sendiri menapaki ruang mimpi, tapi kita selalu percaya akan ada waktu dan tempat dimana kita akan mengukir kisah kembali. Bukan untuk diri, tapi untuk sesama.
Adamu, adaku dan adanya kita … semoga selamanya menebar manfaat.










