Minggu, 28 Juli 2013

SEKISAH JEJAK



            Waktu mengikat jejak demikian intim. Menerobos ruang dan jarak yang seringkali dijadikan alasan untuk berkelit dari pertemuan. Tapi kita? Tidak! Pada satu batas maya yang memenjarakan resah, kita sanggup menyibaknya dengan tegas. 


            Juli 2011, perjalanan itu dimulai. Ah, menilik kembali jejak itu rasanya baru kemarin. Benar adanya jika kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya bisa berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang ada dengan sekeras usaha bersama taburan doa yang tak pernah bosan.
            Jakarta, dengan segala riuh menyambut tapak yang coba kita damaikan di stasiun itu. Segenap cerita mengiringi. Saat pekat langit menghilangkan senja, ketika rasa lelah sempat membuat ingin ini terhenti sebelum tujuan sampai. Lalu celoteh ibukota menyambut dengan senyum yang menghangat seiring mentari menjejak lirih.
            Laju roda empat pun mengantarkan kita pada pelepasan letih, sebelum pertemuan itu ada. Rasa tak sabar mendesak perih, akankah semua seperti yang diharapkan? Atau kejutan akan membuat kami berkilah? Entah!

            Satu persatu haru menghinggapi. Ketika wajah-wajah maya yang selama ini tulus saling bergenggaman muncul di hadapan. Aroma rindu dalam keteduhan pandang, pelukan hangat serta ramah sapa berbaur jadi satu. Sahabat, indahnya silaturrahmi sungguh tak tertandingi.
            Pertemuan pertama itu mengasah batin. Meski hanya dalam bilangan detik, sungguh berarti. Dan kita pun percaya, menulis membuat kita punya banyak sahabat. Tak terbantahkan, ada ruang kosong yang kemudian terisi dengan canda tawa bersama.
            Kini, dua tahun sudah berlalu dan perjalanan ini telah meninggalkan jejak bukan saja di Jakarta. Yogya, Bogor, Lamongan, Pulau Madura adalah bagian yang mengabadikan kita dalam kebersamaan yang indah. Bertemu sahabat hingga ke pelosok, belajar banyak hal yang selama ini nyaris tak terpikirkan.
            Mengenang semuanya, sungguh kangen itu ada. Meski kini kita kembali sendiri-sendiri menapaki ruang mimpi, tapi kita selalu percaya akan ada waktu dan tempat dimana kita akan mengukir kisah kembali. Bukan untuk diri, tapi untuk sesama. 

            Adamu, adaku dan adanya kita … semoga selamanya menebar manfaat.


Jumat, 12 Juli 2013

REVIEW NOVEL "KETIKA CINTA PUNYA RASA" Oleh Rahmah Chemist



Review Buku Ketika Cinta Punya Rasa: Cokelat, Cita-cita dan Cinta akhirnya bisa juga saya posting di blog ini. Yah, kali ini sebuah novel yang mengangkat cokelat sebagai pemanis dan juga penawar luka. - See more at: http://chemistrahmah.com/review-buku-ketika-cinta-punya-rasa-cokelat-cita-cita-dan-cinta.html#sthash.CCFj2hXu.dpuf








Judul: Ketika Cinta Punya Rasa
Penulis: Endang SSN
Editor: Abdul Latif
Desainer Sampul: Oesman Muhammad
Penerbit: Zettu
Tebal/Ukuran: 244 halaman/13 x 19 cm
ISBN: 978-602-7735-93-4

Ketika cokelat mampu memberikan solusi pada setiap kegundahan jiwa dan juga hal yang tak selalu sama dengan keinginan. Cokelat juga mampu memberikan ruang tersendiri dalam membenamkan pikiran yang sudah terlanjur tersulut oleh argumen pribadi yang seketika timbul karena prasangka. Semua ternetralisir dengan manisnya cokelat meski ada rasa “tak biasa” yang menyeruak di balik setiap kali melumatnya dengan penuh rasa.

Endang SSN, penulis dari novel Ketika Cinta Punya Rasa, mengangkat cerita yang biasa namun dikemas secara luar biasa. Kehidupan yang tak jarang menjadi salah satu skenario bagi penggiat kampus dan pejuang cita-cita mulia. Kehidupan seorang mahasiswi yang berjuang menyelesaikan harapan sang Ayah yang tak seirama dengan cita-cita sungguh bukan perkara mudah. Cokelat yang mampu memaniskan kelelahan dan menorehkan kekuatan hati. Seperti yang terjadi pada Denisa, mahasiswi dengan kemampuan akademik di atas rata-rata selalu ditemani dengan cokelat. Cokelat menjadi teman yang memberinya udara segar, ketika idealisme-nya tak sejalan dengan keinginan sang Ayah.

Denisa beruntung memiliki Lala, sang sahabat yang menjadi tempat kedua untuknya bercerita apapun yang dialaminya. Terpisah jarak dengan sahabat tak memberikan celah akan renggangnya persahabatan justru motivasi yang menguatkan satu sama lain. Meskipun Lala sedikit lebih beruntung daripada Denisa akan cita-cita yang begitu mudah diraih tanpa halangan berarti. Sebaliknya Denisa, berawal dari keterpaksaan hingga berujung perkenalan dengan lelaki jenius bernama Bagas.

Untuk hati Bagas, nyanyian cinta Denisa mengalun indah meskipun berawal dari kebencian dan prasangka. Namun tak ada seorang pun yang mampu menerka, cinta itu jatuhnya pada siapa. Begitu juga Denisa yang melabuhkan lirik-lirik cinta pada sebuah nyanyian harapan yang tak terucapkan. Bahkan menerima kenyataan jika jarak harus menjadi bagian dalam cintanya. Benarkah Bagas yang dituju Denisa?

Ketika cinta punya rasa, jiwa akan mengerti bagaimana bersyukur atas indahnya. Jarak hanya detik yang berdetak lebih lama tetapi detak tak akan berubah walau detik memenjarakan raga. 

Novel yang dikemas dengan 15 Bab ini masing-masing menawan rasa penasaran. Kejadian tak terduga kerap muncul di novel ini. Dan ini menjadi nilai lebih sehingga tak berani menerka inti dari setiap bab yang dituangkan. Yah, Ketika Cinta Punya Rasa membawa angan pada situasi akademik yang penuh lika-liku (baca: kampus). Di sana pula cinta bisa bermula dan berakhir. Bahkan terhenti di sebuah persimpangan.

Jika kamu penikmat cokelat dan mengatakan suka dengan cokelat, coba rasakan nikmatnya dengan mengunyah pelan-pelan bersama alur kisah dalam novel Ketika Cinta Punya Rasa ini. Overall, saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Note:
Hmmm… tak pernah bosan menanti setiap cerita yang dituliskan sang novelis bernama Endang SSN ini. Kesibukan di luar sana ternyata tak mematikan imajinya menuai karya. Sederhana namun bermakna. Ringan namun tersirat banyak harapan. Semoga terus berkarya buat penulisnya. Dan terima kasih untuk novel Ketika Cinta Punya Rasa ini. Pelengkap koleksi buku yang bermanfaat. Dan selalu siap jadi reviewer karyanya.

- See more at: http://chemistrahmah.com/review-buku-ketika-cinta-punya-rasa-cokelat-cita-cita-dan-cinta.html#sthash.CCFj2hXu.dpuf


THANKS TO : RAHMAH CHEMIST

KESAKSIAN MEREKA Tentang Novel 'KETIKA CINTA PUNYA RASA"

Mereka telah membuktikannya!

Lalu kamu? Kapan? Nggak usah nunggu waktu lagi! Sekarang juga, beli dan dapatkan legitnya cita rasa di dalam Novel ini.








Dan ... foto siapa lagi ya yang bakal mejeng disini? Dapatkan kejutan selanjutnya!

Semakin unik fotomu dengan Novel "Ketika Cinta Punya Rasa" maka peluang mendapatkan kejutan itu makin besar. 
Masih ada waktu, buruan beli! Baca! Dan Upload!

NEW NOVEL










“Ketika cinta punya rasa, jiwa akan mengerti bagaimana bersyukur atas indahnya. Jarak hanya detik yang berdetak lebih lama tapi detak tak akan berubah walau detik memenjarakan raga”

Cinta tak pernah berencana kepada siapa ia akan menjatuhkan hati dan kepada hati yang mana ia akan menetap. Seperti halnya cinta yang tak pernah mengucap kata selamat tinggal ketika tiba-tiba pergi.

Kehadiran Bagas membawa kidung cinta pertama di hati Denisa. Rasa yang berawal dari kebencian dan pertentangan. Namun sebuah kepedulian sanggup meleburkan beda. Sayang, manis tak selamanya menjadi rasa abadi. Kehadiran hati lain menawarkan kecemburuan yang berujung pada rasa pahit. Seiring mimpi yang sempat tertunda kembali menyapa, akankah Bagas menjadi dermaga pertama dan terakhir bagi sang pecinta cokelat? Karena cinta punya rasa.


So, Don't miss it
Buruan beli di Gramedia dan Toko Buku lainnya ya ....