Senin, 23 Januari 2012

Membaca Pelangi 21 Januariku

2101 2012 …

Selaksa makna kembali menyapa di tahun ini. Sebuah kesyukuran tak terhingga atas anugerah nafas hidup yang diberikanNya dengan penuh cinta. Setapak demi setapak fase hidup kembali dimulai.
Sepanjang sejarah 21 Januari yang kupunya, baru kali ini aku mendapatkan ucapan tepat di pergantian hari, pukul 24.02. Ucapan pertama di usia baru dalam rangkaian aksara bersama lantunan doa malam itu semoga teraminkan oleh semesta. Sekali lagi, terima kasih. Nice surprise.
Aku mungkin salah satu orang yang terlalu cuek dengan perayaan ulang tahun. Buatku tak ada yang istimewa selain kita kembali merenungi diri apa yang telah kita perbuat dan kembali berfikir untuk mengisi usia berikutnya dengan sesuatu yang bermanfaat dan lebih baik lagi. Entah telah berapa kali aku bahkan melupakan tanggal itu. Alhasil beberapa sahabat yang justru menjadi pengingat dengan kejutan-kejutan yang sengaja mereka rancang sedemikian rupa.

21 Januari, hampir seharian aku tak bersentuhan dengan dunia maya. Tak tahu mengapa tiba-tiba hari itu aku sangat merindukan datang ke panti. Ingin melewati sepenggal kisah hari ini dengan melihat senyum mereka. Alhamdulillah karena bunda selalu mendukungku. Mungkin saja beliau juga tahu ada sesuatu yang tak sama di tahun ini karena Ayah tak lagi ada di sisiku. Tapi kado terindahnya telah dia berikan tepat di detik-detik terakhir kepergiannya. Al Quran kecil bersampul merah marun dan buku “Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu” yang dihadiahkan Ayah, kudekap seharian. Tak ada air mata karena aku ingin Ayah tetap tersenyum disana. “Tuhan yang Maha Baik, titip rindu untuk Ayah”, berulangkali kalimat itu terlantun dalam doaku.
Kejutan kedua menyapaku. Saat menjejakkan kaki di panti aku merasa ada yang asing. Suasana yang tak sehangat biasanya. Senyum yang tak seramah sebelumnya. Adakah yang terjadi selama hampir beberapa bulan aku tak datang. Sepi, tak ada sapa yang menyapaku berulang-ulang di sepanjang kamar-kamar itu. Orang-orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anaknya dan harus ditempatkan di panti jompo dengan berbagai alasan. Kemana mereka semua ?.
Tanyaku terjawab ketika salah seorang petugas memberiku penjelasan singkat. Panti ini telah digusur. Para penghuninya dipindahkan dan tempat ini telah menjelma sebagai salah satu kantor pemerintah. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama disini saja tak pernah didatangi oleh pihak keluarganya.
“Sudah kami tawarkan Mbak kepada keluarganya, jika ada yang mau menampung mereka kembali ya silahkan tapi jika tidak, kami memindahkan mereka ke panti-panti jompo yang lain diluar wilayah ini”
“Mereka berada di satu panti jompo juga ?”
“Nggak, Mbak. Mereka tersebar di beberapa panti tapi saya nggak hafal dimana saja”
Duh, rasanya perih mendengar semua itu. Ada keping hati yang tersayat membayangkan bagaimana mereka harus beradaptasi lagi. Semakin jauh saja dari keluarga, lalu akankah mereka masih diingati. Orang tua yang selama ini begitu ikhlas meski ditelantarkan anak-anaknya, kini harus mengalami ketakadilan seperti ini. Tak dapat melawan, hanya pasrah saja. Ada rasa tak terima melihat kenyataan begini di depan mata. Air mata luruh tapi aku tahu ini takkan bisa menyelesaikan masalah. Rabb, andai saja aku tak egois dengan waktu. Jika saja beberapa bulan terakhir masih sempat mengunjungi mereka, setidaknya masih bisa berusaha mencari keluarga mereka. “Tuhan yang Penuh Cinta, lindungi orang tua-orang tua yang penuh keikhlasan itu. Peluk mereka di setiap waktu”. Penggusuran selalu menjadi kepedihan dan ketakadilan.

Langkahku sedikit menyurutkan semangat. Sebuah pesan menyapa ponselku untuk segera bersiap karena sebentar lagi aku harus segera meluncur ke Surabaya, menjemput seorang penulis yang akan mengisi salah satu acara di tanggal 22 Januari. Pukul 15.00 sesuai kesepakatan, ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran seorang sahabat juga kakak terbaikku, Mbak Jazim Naira Chand. Dengan senyum khasnya, dia telah berdiri di depan pintu dengan setumpuk kado yang dibawanya. Subhanallah, kenapa tak mengabariku kalau akan datang kemari, Teteh.
“Selamat ulang tahun ya, Neng”
Tak ayal aku langsung memeluknya. Hangat dan dapat kurasakan cinta luar biasa seorang sahabat. Sekali lagi, kejutan yang indah di senjaku. Sekalipun hujan mengguyur dengan sangat deras, hangat jingga masih sangat lekat dalam ukhuwah ini. Tuhan Maha baik, disekaNya air mata yang beberapa saat lalu sempat nyata di pipiku. Teteh, terima kasih.

Di tengah guyuran hujan yang menyapa Surabaya, kendaraan segera meluncur menuju Terminal Purabaya. Janji untuk menjemput PP Joni Lis Effendi harus segera ditunaikan. Cerita lucu membuat hari ini benar-benar penuh makna. Karena kami berempat sama sekali belum pernah bertemu dengan sang tokoh maka sempat salah sasaran. Seorang lelaki dengan postur seperti dalam gambaran kami, sempat mengecoh ketika dia melintas di hadapan. Maksud hati hendak membuat kejutan tapi ternyata orang itu meluncur begitu saja menuju kumpulan orang yang menjemputnya. Kembali deh kami mulai menerawang seperti apa sosok PP sebenarnya.
“Sudah, kita jalan saja ke tempat kedatangan penumpang”
“Memangnya PP menungu di sebelah mana sih, Mbak ?”
“Di depan WC umum”
Spontan deh kami segera menoleh ke arah Mbak Fransiska, What ? Nggak ada yang lebih kerenkah tempatnya Mbak.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami menunggu juga dari tempat yang nggak jauh-jauh seperti yang PP katakan tapi nggak terlalu dekat juga. Hujan membuat kami enggan untuk menyeberang, karena ternyata dua payung yang ada tertinggal di kendaraan. Sempat terfikir bagaimana cara membuat kejutan. Saat otak masih mencari jalan dan cara terbaik, seorang lelaki muncul yang membuat kami sedikit kaget dan sontak berbalik arah bersamaan agar tak terlihat. Ups, terlambat karena ternyata diluar dugaan PP mengenali kami. Yah, gagal deh.
Aku sangat bersyukur karena di hari ulang tahunku, Tuhan menghadiahkanku sebuah kesempatan bertemu dengan penulis sehebat dia. Dan kejutan masih berlanjut sebab ternyata dia membawa hadiah dari Mbak Okti Lie, untukku. Hadiah yang dibawanya dari Taiwan tapi sayang aku nggak bisa bertemu langsung dengan Mbak Okti. Sebuah menara Taipei dengan lampu warna warninya, kalau dalam keadaan gelap indah banget cahayanya. Mbak Okti, terima kasih. Menaranya sekarang menjadi teman menulisku. Ups, hadiah novel karya PP juga keren banget. “Persembahan Cinta dari Surga” judulnya saja sudah membuat penasaran.
“Kupersembahkan novel ini untuk belahan jiwaku di bumi Allah. Tak letih lidah dan hati ini senantiasa mendoakan perjumpaan dalam sujud panjang di penghujung malam. Semoga Allah menyempurnakan cinta kita dalam mahligai indah pernikahan” Kalimat pembuka novel yang bagus dan manis, semoga novelnya terus laris dan kudoakan semoga cepat bertemu dengan belahan jiwanya ya. Terima kasih hadiahnya.

Pukul 22.00 aku baru sempat berselancar di ranah maya. Subhanallah, begitu banyak kata, kalimat, ucapan dan doa yang menyapaku. Terima kasih, terima kasih. Terima kasih. Hari ini, alhamdulillah Rabb.
Kepada para sahabat, saudara dan semua yang tak bisa aku sebutin satu persatu. Terima kasih untuk semua ucap dan doa yang mengalir baik di facebook, email dan sms yang belum sempat aku balas semuanya. Sungguh, adanya kalian membuatku lebih berarti. Semoga nafas ini semakin berarti untuk sesama. Amin.

Tidak ada komentar: