Minggu, 15 Januari 2012

D E T A K ( Sebuah Perjalanan Hati )


15 Januari 2012

Tuhan mengajakku dengan cara terindahNya, menjejak sejenak pada pelataran hati yang selama ini mungkin saja jarang tersentuh. Sebuah perjalanan yang hari ini menjadi sebentuk kesyukuran tak bertepi. Kata terima kasih rasanya tak cukup memaknai segalanya.

@ KAPAL FERY

Di kapal fery, aku dipertemukan dengan dua bocah penyemir sepatu. Awalnya tak ada yang istimewa hingga raga mereka semakin mendekat. Sebentuk sesak seakan telah memenuhi rongga hatiku. Dalam keterbatasan fisik yang tak serupa dengan manusia normal lainnya, mereka masih penuh semangat. Tak menyerah dan meratapi hidup. Senyum itu masih tulus terurai bagi setiap orang yang tak sengaja bersitatap dengan mata elangnya. Tak terkecuali aku. Entah mengapa aku begitu terpana oleh keduanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka kembali menawarkan jasa kepada beberapa orang. Sayang, gelengan kepala membuat mereka cukup bersyukur hanya dengan rezeki beberapa ribu rupiah saja. Keduanya lalu menepi dan duduk bersandar. Satu hal yang akhirnya membuatku sangat terpana. Keduanya mengeluarkan buku dari dalam tas plastik yang dari tadi dipegangnya. Aku mencoba mendekat, demi mengurangi rasa penasaran. Subhanallah, buku pelajaran sekolah.

"Masih sekolah, Dik ?" sengaja aku bertanya
"Nggak"
"Terus buku itu ? Bukannya itu ..."
"Kami menemukan ini di tong sampah, Kak. Daripada dibuang mending kami baca saja. Siapa tahu bisa pintar walaupun nggak punya uang untuk sekolah"
Keduanya lalu tersenyum menatapku. Mereka kembali asyik dengan kembaranya dalam buku itu. Sedang aku ? Rabb, pemandangan ini serasa tamparan hebat untukku. Betapa apa yang telah aku mulai nyatanya belum apa-apa. Masih banyak malaikat-malaikat kecil yang tak tersentuh.


@ RUMAH SAKIT
Jejak keduaku menuju sebuah rumah sakit. Hujan yang setiap hari menemaniku saat senja dengan tanpa kompromi telah membuat badanku demam. Menurutku sih hanya panas demam biasa, masuk angin atau flu. Namun untuk seorang bunda, semua begitu mengkhawatirkan. Demi membuatnya tenang, akupun menuruti keinginannya untuk ke dokter. Alhasil hanya flu biasa. Namun suasana rumah sakit membuatku sangat tak nyaman. Rasanya seluruh badan menjadi sakit saat aroma obat tercium demikian hebat. Dalam gelisah aku mengirim pesan pada seseorang.
"Ternyata di rumah sakit itu nggak enak, ketemunya orang-orang sakit semua"
Maksud hati untuk menenangkan diri sambil menunggu panggilan dokter. Sayang, mungkin karena kesibukan yang mendera pesan itupun tak berbalas.

Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Kunikmati saja apa yang ada. Ketika beberapa menit kemudian dua orang yang sudah sepuh duduk di sebelahku. Seperti biasa, aku menyapa mereka. Dan kali ini aku kembali harus bersyukur oleh kenyataan yang ada di sekitarku. Betapa diluar diri kita sesungguhnya masih banyak orang-orang yang tak beruntung.
"Sakit apa, Bu ?"
"Gagal ginjal, Mbak. Saya sudah beberapa kali kesini untuk cuci darah. Dalam seminggu harus chek up dua kali. Biayanya mahal lagi"
Rabb, dadaku kembali sesak. Rasanya tak tega melihat kedua orang itu. Dan tanpa sebuah kesepakatan suami istri ini langsung saja menumpahkan segenap perasaan mereka. Hari ini aku menjadi pendengar yang baik. Mungkin tanganku tak bisa berbuat lebih, tak mengapa menyediakan hati untuk sekedar mendengar. Tapi satu hal yang sangat aku salutkan pada mereka. Cinta, ya cinta yang sangat indah. Mereka telah merawat dan menjaga rasa itu dengan begitu indah. Kesetiaan yang tak lekang dari pasangannya membuat ibu itu kuat dan tegar.

Sebenarnya aku sudah tak ada urusan lagi di rumah sakit ini. Namun entah mengapa ada rasa yang membuatku masih ingin berdiam sejenak. Hingga akhirnya kedua orang itu selesai melakukan transfusi darah. Aku tak mengenal mereka namun Tuhan telah memberiku kesempatan mengenal orang-orang hebat seperti mereka. Rabb, indahnya caraMu mengajarkanku makna hidup.


@TERMINAL JEMBATAN
Sembari menunggu penumpang penuh, angkutan kota ini menepi. Beberapa saat kemudian seorang ibu dengan umur diatas lima puluh tahun menghampiri. Memetik alat musik sederhana yang terbuat dari kayu serta tutup botol minuman. Suaranya ? Jangan ditanya. Mungkin memang jauh dari kata merdu. Satu hal yang menggelitikku, dia mau berusaha untuk menjalani hidup dengan kerja keras bukan menengadahkan tangan. Dan sekali lagi, fisiknya tak sempurna. Aku terhenyak ketika tak sengaja melihat tangannya tanpa jemari sama sekali. Takbirku berkumandang dalam hati. Rabb, lindungi ibu ini. Aku tak tahu dimana sisi kepedulian sebenarnya berada, diantara penuh sesaknya penumpang tak ada satupun yang tergerak menyodorkan receh. Malah beberapa orang sempat mengejeknya. Ibu itu hanya tersenyum. Pelajaran yang indah, sekeras apapun hidup menjeratmu, tersenyum saja sebab ada yang Maha akan segalanya yang selalu terjaga untuk melindungiMu.

Limpahan doa terus saja dialamatkannya padaku, walaupun hanya sedikit saja peduli itu. Akupun tersenyum seraya mengaminkan doanya. Bukankah kita tak pernah tahu dari lisan yang mana doa itu akan terkabul.

Tuhanku yang Maha Baik,
Terima kasih telah membawaku dalam perjalanan yng indah hari ini. Sebuah penjelajahan yang takkan bisa aku tukr dengan apapun. Aku bersyukur, akan selalu bersyukur.

Tuhanku yang Maha Cinta,
Ijinkan pintaku ini. Berilah aku selalu berlimpah hati dan alasan untuk selalu membuat orang lain tersenyum dalam bahagia yang tak pernah bersyarat.
Amin ...

Pecinta Senja ...

Tidak ada komentar: