Selasa, 17 Januari 2012

PERSIAPAN PERNIKAHAN SAHABATKU, LISA

Tahun 2012 sepertinya menjadi saat yang bahagia untuk kedua orang sahabatku. Tapi kalau aku bilang sih, tahun ini adalah titik balik penemuan mereka. Dan orang yang paling bahagia dari penemuan mereka, aku.
Aku menjadi seksi supersibuk di tahun ini, tepatnya beberapa bulan ke depan. Kedua orang sahabatku memutuskan untuk menikah di tahun ini, dengan pasangannya masing-masing tentunya. Saat mendengar kabar itu, syukur langsung terucap. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari cerita indah itu.

“Mau atau nggak mau, kamu harus jadi panitia pernikahanku. Bersiaplah mengantarkan sang pengantin mengurus segala keperluan”
Pesan dari Lisa membuatku terhenyak. Bukan karena aku tak percaya dengan kesiapannya tapi baru beberapa minggu yang lalu dia masih meragukan Ebi. Subhanallah, Tuhan Maha Tahu atas setiap hati. Doa Ebi terkabul, Lisa kini begitu yakin untuk melangkah.
“Selamat, Lis. Semoga sakinah ya”
Singkat, hanya itu yang kubalas. Aku tahu pasti di sudut sana dia sedang sumringah.

Mengurus hal semacam ini nyatanya tak semudah yang aku kira. Hampir setiap hari ada saja yang tak sesuai dengan keinginan Lisa. Alhasil aku harus selalu siap mengantarkannya berulangkali demi survey catering, gaun pengantin hingga gedung. Belum lagi ketika dia terlibat ketaksepahaman dengan Ebi. Berada di tenga-tengah mereka seolah dilema untukku. Memihak salah satu jelas tak mungkin tapi kadang salah satu pendapat mereka ada benarnya.

Dua jiwa, dua raga maka pendapatnyapun seringkali tak menyatu. Aku kadang tertawa melihat sikap mereka yang malah terkesan kekanak-kanakan. Apa sepasamg pengantin harus melewati hal semacam ini ?. Hingga tadi siang mereka harus berselisih tentang nuansa dan konsep pernikahan yang ingin diusung, sementara kabar bahwa beberapa gedung sudah terisi sempat membuat keduanya panik. Lelah bukan hanya milik aku sebagai sahabatnya tapi mereka jauh lebih tertekan sepertinya. Bukan tak ingin melibatkan banyak pihak, tapi Lisa telah bersepakat dengan Ebi untuk menyiapkan sendiri pernikahan mereka. Dibantu beberapa sahabatnya seperti aku dan Yuni.

“Aku sudah capek, En”
“Kenapa ?”
“Pernikahan itu ribet banget ya ?”
Aku tertawa menanggapi kekesalannya tadi.
“Dinikmati saja, semuanya indah. Suatu saat kamu akan merindukan suasana seperti itu. Hanya saja kamu dan Ebi harus lebih sabar satu sama lain. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik “

“Lis, kenapa sih nggak pakai konsep sederhana saja ? Akad yang sakral dan pesta yang biasa saja ? Kenapa harus di gedung jika halaman rumahmu saja sudah cukup kau sulap jadi pesta kebun. Kalau bisa sederhana, kenapa harus mewah ?”
Ups, aku lupa bahwa setiap orang punya prinsip yang berbeda. Wajah cantiknya berubah cemberut.
“Ini impian aku dan Ebi, En. Karena itu kami berusaha mempersiapkannya semaksimal mungkin”.

Lis, sorry. Konsep apapun yang akan kamu gunakan, aku hanya ingin kamu tetap bahagia. Menjalani masa persiapan ini dengan tetap tersenyum. Jangan cemberut seperti tadi lagi. Cantiknya nanti hilang lho, Hehehe.

Bahagia itu disini (hati)

Selamat berbahagia to : Lisa & Ebi

Tidak ada komentar: