Setapak
dan perlahan jejak kian terpatri di tapal batas. Roda kehidupan terus bergerak
hingga tak terasa menjejak di satu titik yang membuat jiwa kita luruh. Waktu
selalu tak bisa diulang, tapi Tuhan senantiasa memberi kita kemampuan untuk
mempelajari apa yang telah terlewati. Sayang, tak semua jiwa menyambutnya
dengan mesra.
Pada
sebuah jejak senja, senyum anak-anak langit membahana. Sapa ramah walau dalam
getir meracik penat demikian jujur. Tulus tak terbeli, dendang rasa menyapa. Di
simpang lampu merah ini, senja memberiku siluet berharga, sebuah mahakarya atas
satu ruang bernama hati. Ruang yang selalu membentangkan layarnya untuk
titik-titik kepedulian.
Aku
masih terpaku pada sudut yang tak kumengerti. Menatap sorot mata itu satu
persatu. Kucoba menepikan ego yang pernah begitu lama bersahabat. Memejamkan
pandang untuk sejenak terbang bersama jiwa-jiwa mereka. Tersentak seketika kala
sebuah sentuhan terasa demikian hangatnya. Kubuka mata perlahan. Senyum manis
menyambutku, seraut wajah sudah ada di sisiku.
Tangannya
terjulur. Satu gelas minuman air mineral diulurkannya. Entah mengapa aku tak
menolak. Sembari membalas senyum itu dengan sebuah elusan di kepala.
“Terima kasih”
“Sama-sama, Kak”
Hatiku
tergetar mendengar sebutan itu. Betapa telah lama aku kehilangan Ahmad, seorang
malaikat kecil yang dulu selalu menemaniku mencanda senja. Sosok yang
senantiasa kutemui di simpang lampu merah dengan semangat tak kenal
menyerahnya. Seorang pejuang mimpi yang pernah memaksaku untuk tak pernah
berhenti menyalakan impian tentang senja di Central Park. Segala yang
bersungguh-sungguh senantiasa akan menemukan arahnya. Meski kini ia telah
tenang di surga, aku masih tetap mencanda senja.
“Kenapa menangis, Kak ?”
Tersadarku
akan tanya itu. Entah telah berapa detik kubiarkan gadis kecil itu menemani
kebisuanku. Langit kian pekat, sesaat lagi malam akan berganti peran. Jingga
akan berubah. Tapi kuyakin esok ia pasti akan kembali. Senja akan menemui para
pecintanya, senja akan selalu datang pada pengejanya.
“Dik, sudah adzan. Kita harus pulang” seorang anak lelaki memanggil
“Ya. Kak, aku pulang ya”
“Mau kemana ?” tanyaku
“Ke surau. Kami sholat dan mengaji di
surau”
Rabb, betapa indah senjaMu.
Oh jiwa, lihatlah dalam keterbatasan yang menghimpit mereka, tiada keluh yang
dikesahkannya. Mereka tetap bertafakur dalam kesyukuran. Memahami hidup dari
sisi yang tak dipahami oleh jiwa-jiwa yang berkecukupan. Sungguh, betapa kita
tak lengkap tanpa mereka.
Adakalanya
kita mesti belajar untuk memahami orang lain. menghempaskan rasa angkuh juga
ego. Memberi ruang yang lebih luas pada hati untuk menerima apa yang ada dan
tak pernah lupa untuk senantiasa berbagi. Pada air mata mereka, kita mestinya
belajar arti tawa. Pada lara mereka, kita mestinya belajar makna suka cita.
Pada keteguhan mereka, kita mestinya belajar bagaimana berdamai dengan keadaan
yang tak teringin.
:::
Pecinta Senja :::

Tidak ada komentar:
Posting Komentar