Sabtu, 11 Agustus 2012

Catatan Senja (1)


          Setapak dan perlahan jejak kian terpatri di tapal batas. Roda kehidupan terus bergerak hingga tak terasa menjejak di satu titik yang membuat jiwa kita luruh. Waktu selalu tak bisa diulang, tapi Tuhan senantiasa memberi kita kemampuan untuk mempelajari apa yang telah terlewati. Sayang, tak semua jiwa menyambutnya dengan mesra.
          Pada sebuah jejak senja, senyum anak-anak langit membahana. Sapa ramah walau dalam getir meracik penat demikian jujur. Tulus tak terbeli, dendang rasa menyapa. Di simpang lampu merah ini, senja memberiku siluet berharga, sebuah mahakarya atas satu ruang bernama hati. Ruang yang selalu membentangkan layarnya untuk titik-titik kepedulian.

          Aku masih terpaku pada sudut yang tak kumengerti. Menatap sorot mata itu satu persatu. Kucoba menepikan ego yang pernah begitu lama bersahabat. Memejamkan pandang untuk sejenak terbang bersama jiwa-jiwa mereka. Tersentak seketika kala sebuah sentuhan terasa demikian hangatnya. Kubuka mata perlahan. Senyum manis menyambutku, seraut wajah sudah ada di sisiku.
          Tangannya terjulur. Satu gelas minuman air mineral diulurkannya. Entah mengapa aku tak menolak. Sembari membalas senyum itu dengan sebuah elusan di kepala.
          “Terima kasih”
          “Sama-sama, Kak”
          Hatiku tergetar mendengar sebutan itu. Betapa telah lama aku kehilangan Ahmad, seorang malaikat kecil yang dulu selalu menemaniku mencanda senja. Sosok yang senantiasa kutemui di simpang lampu merah dengan semangat tak kenal menyerahnya. Seorang pejuang mimpi yang pernah memaksaku untuk tak pernah berhenti menyalakan impian tentang senja di Central Park. Segala yang bersungguh-sungguh senantiasa akan menemukan arahnya. Meski kini ia telah tenang di surga, aku masih tetap mencanda senja.
          “Kenapa menangis, Kak ?”
          Tersadarku akan tanya itu. Entah telah berapa detik kubiarkan gadis kecil itu menemani kebisuanku. Langit kian pekat, sesaat lagi malam akan berganti peran. Jingga akan berubah. Tapi kuyakin esok ia pasti akan kembali. Senja akan menemui para pecintanya, senja akan selalu datang pada pengejanya.

          “Dik, sudah adzan. Kita harus pulang” seorang anak lelaki memanggil
          “Ya. Kak, aku pulang ya”
          “Mau kemana ?” tanyaku
          “Ke surau. Kami sholat dan mengaji di surau”
          Rabb, betapa indah senjaMu. Oh jiwa, lihatlah dalam keterbatasan yang menghimpit mereka, tiada keluh yang dikesahkannya. Mereka tetap bertafakur dalam kesyukuran. Memahami hidup dari sisi yang tak dipahami oleh jiwa-jiwa yang berkecukupan. Sungguh, betapa kita tak lengkap tanpa mereka.

          Adakalanya kita mesti belajar untuk memahami orang lain. menghempaskan rasa angkuh juga ego. Memberi ruang yang lebih luas pada hati untuk menerima apa yang ada dan tak pernah lupa untuk senantiasa berbagi. Pada air mata mereka, kita mestinya belajar arti tawa. Pada lara mereka, kita mestinya belajar makna suka cita. Pada keteguhan mereka, kita mestinya belajar bagaimana berdamai dengan keadaan yang tak teringin.

          ::: Pecinta Senja :::

Tidak ada komentar: