Bahagia, seperti itu semestinya
setiap hati termaknai. Memintal setiap inci jejak langkah sebagai bentuk
anugerah yang tak semua orang berkesempatan mencicipinya. Ada lara juga rasa kehilangan. Ada raut yang gulana juga
galau tak tentu.
“Rasa, menjadi sesuatu yang cukup kita dan Tuhan saja yang memahaminya”
Sebuah pelajaran indah yang tersemat hari ini dari mereka yang sedang
berada dalam masa ketakberuntungan. Sekelam apapun hari yang dijalani, selalu
ada judul yang akan membuat hati-hati itu kembali tegak berdiri. Menghapus
jejak kata “Menyerah” yang sesungguhnya tak punya arti apa-apa. Menghapus
nuansa rapuh yang sempat menyelinap tanpa kompromi menjadi catatan ketangguhan
seorang manusia.
“Kenapa harus merasa sendiri sedang
Tuhan memberi kita banyak hati yang selalu siap menemani”
Malaikat kecil, baru ini yang bisa
aku katakan hari ini. Lihat saja diluar sana,
sekalipun mereka terkesan tak ramah apa kita pernah tahu seberapa pedulinya
mereka. Maka tak usah terlalu risau dengan apa yang terasa jika itu hanya
membuat gundah dan ketakikhlasan. Bisa jadi dibalik kalimat dan sikap tak
halusnya justru merekalah orang-orang yang sedang berada dalam keikhlasan
berbaginya. Tuhan selalu menemani, menghangatkan setiap hati kita dengan rengkuhNya. Masihkah kita tak menyadari betapa Dia Maha Baik.
Dalam tetes asa, dalam selimut rasa,
dalam titian hati ujar ini terlalu lirih. Tuhan, terima kasih telah membawa
raga pada perjalanan yang indah. Pertemuan dengan orang-orang “Luar biasa”. Pertemuan
dengan detik-detik yang menjuntai makna hidup.
Hati ini tak hidup sendiri …. [Pecinta Senja]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar