Ayah, bukan sebutan yang hanya menjadi
pemanis di bibir saja. Dalam kata sederhana itulah sesungguhnya makna luar
biasa sedang dipertaruhkan. Terbayangkankah ketika di belahan bumi lain begitu
banyak jiwa-jiwa yang merindukan panggilan itu. Mungkin selama ini nyaris tertutupi
oleh peran perempuan-perempuan tangguh yang kerap menjadi sorotan berbagai
media.
Pada
sebuah jejak, langkah terhenti di satu sudut pembelajaran berharga yang
kudapati siang itu. Terik menyengat, debu beterbangan tanpa kompromi. Kicau
burung tak semerdu biasanya. Rinai suara nyanyian bambu semakin mempertegas
persaksian tapak kaki di sebuah desa terdalam. Tegas nian semesta berbahasa.
“Ayah datang, ayah datang, ayah datang”
Suara
anak kecil menyita perhatian. Seorang lelaki muda yang tengah melangkah bersama
kami tampak tersenyum. Sekilas kulihat wujud kasih sayang tulus terhampar demikian
jernih. Tangannya hanya sempat menggapai sesaat saja di kepala sang anak.
“Oleh-olehnya mana, Yah ?”
Tanya
itu membuatku tersenyum getir. Siluet masa kecil begitu saja tergambar dengan
jelas. Aku sama sepertinya, beberapa tahun lalu. Aku juga selalu menunggu Ayah
pulang dari kerja. Aku juga selalu berangan oleh-oleh apa yang akan dibawa oleh
Ayah di sore hari. Aku juga senantiasa memupuk rindu sedari pagi. Akupun kerap
mendamaikan hati dan memupuk begitu banyak kejutan untuknya. Memamerkan hasil
ulangan, merangkai cerita-cerita seru bahkan tak segan melawan rasa kantuk
ketika Ayah harus bekerja lebih ekstra dan terpaksa pulang hingga larut malam.
“Maaf, Nak. Hari ini Ayah nggak bawa
oleh-oleh. Besok ya”
Nada kesedihan yang coba dibungkus
dengan tawa renyah. Sunggingan senyum menjadi hadiah manis yang kemudian
berbalas anggukan tanda mengerti. Aku terkesima akan bahasa nan halus. Nada
kecewa sempat terbaca pada raut wajah bocah itu tapi ia tak juga protes
meskipun ada nelangsa akan ingin yang tak terjawab.
Bocah kecil itu kembali bermain dan
berbaur dengan kawan-kawannya. Sementara sang ayah kembali menerangkan beberapa
hal kepada kami. Bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,
saat ini menjadi sebuah tugas yang harus aku jalani sebagai konsekuensi atas jabatan
baru yang diamanahkan di pundakku. Ada
perbedaan yang jauh dibandingkan ketika aku hanya bertemu mereka di kantor
saja. Ruang dingin berAC hanya sempat menjamah sedikit saja sisi hati mereka.
Keramahan dan ketulusan yang harus melekat dalam diri kami tetap saja
menjadikan jarak masih terasa. Mungkin karena kesan formil masih terjaga. Namun
ketika berinteraksi di lapangan, sungguh sebuah anugerah indah sebab Tuhan
telah memberikanku kesempatan mengenal mereka dari sisi yang sangat dekat.
Ada perjuangan, kerja keras, tawa, air mata serta
kegigihan atas apa yang ingin mereka capai. Andai saja setiap jiwa bersedia
memberikan sedikit saja dari waktu yang dia punya, betapa diluar sana di pelosok desa itu
masih banyak hati-hati yang harus disentuh. Masih banyak tangan-tangan yang
harus kita gapai atas nama “Peduli dan kemanusiaan”.
Merasakan kembali suasana keakraban
masyarakat yang mungkin tak lagi nyata di kota-kota besar. Senyuman ramah dari
orang yang lalu lalang sekalipun mereka tak mengenali kami, menjadi sebuah
catatan betapa persahabatan itu menarik jiwa-jiwa dengan sendirinya dalam
bingkai ketulusan. Saat kau bentangkan hatimu untuk mereka, maka magnet
demikian cepat bereaksi. Hangat jiwa-jiwa itu membuat dinginnya udara tak lagi
terasa. Aku kembali tergelitik melihat bocah kecil yang kini sendiri, setelah
kawan-kawannya telah pergi meninggalkannya. Ia berlari menuju sang ayah lalu
dengan sangat manja duduk di pangkuannya.
“Dia
memang selalu begini, Mbak. Kalau saya datang, dari dalam rumah dia berlari
lalu minta digendong. Biasanya menanyakan oleh-oleh yang saya bawa. Setelah itu
dia akan bercerita tentang apa saja yang dialaminya seharian ini. Ada saja yang
ingin ia pamerkan, anak sekecil ini mana tahu kalau orang tuanya lelah dan
ingin cepat istirahat”
“Kalau
dalam keadaan capek, biasanya kita mudah terpancing emosi. Sempat merasakan
seperti itu ?” tanyaku
Sembari tertawa, lelaki itu mengecup
kening si bocah yang tengah asyik memainkan pesawat kertasnya sambil tertawa
renyah.
“Pernah.
Tapi kemudian saya sadar, dia nggak salah apa-apa. Wajar kalau dia meminta
perhatian saya, sebab selama seharian nggak bertemu sama sekali. Melihat
keluguannya rasa lelah itu sirna, Mbak. Celotehnya yang ringan,
keinginan-keinginannya yang dipaparkan dalam bahasa anak-anak adalah energi
tersendiri yang membuat saya semakin bersemangat untuk bekerja dan memberikan
yang terbaik bagi keluarga. Saya ingin kelak ia bisa mencapai cita-citanya”
“Dia
sangat beruntung”
“Saya
rasa setiap orang tualah yang beruntung dianugerahi anak-anak. Amanah yang tak
semua orang dapat memilikinya. Maka sangat miris ketika ada beberapa ayah yang
rela menelantarkan keluarganya. Padahal dalam doa anak-anak itulah sesungguhnya
berkah akan mengalir. Mbak dengar bukan ketika anak saya tadi menagih oleh-oleh
dan saya tak membawanya ?”
Aku mengangguk pelan. Menanti apa yang akan
ia paparkan selanjutnya.
“Sedih,
Mbak. Saya tahu dia telah berharap itu sejak saya pergi tadi pagi. Saya tahu
dia telah berangan tentang apa yang akan ia nikmati nantinya. Binar matanya
yang mengerjap saat melihat saya dari kejauhan, sungguh pemandangan yang indah.
Ada yang menanti kita, kerja keras itu seakan tiada terasa. Tapi saya tahu
ketika saya tak membawa apa yang diharapkannya, dia akan berdoa agar esok saya datang
dengan hasil yang lebih baik”
Kedekatan mereka yang natural mungkin
terjadi pada setiap ayah dan anak. Berbahagialah ketika mereka memanggilmu
“Ayah”, sebab disanalah Tuhan senantiasa mengingatkan akan tanggung jawab yang
nyata di pundakmu. Ada
harapan yang sedang kau perjuangkan. Ada
impian yang sedang kau rintis jalannya agar kelak mereka dapat menitinya dengan
sempurna. Ada
cinta yang sedang kau bentangkan untuk pengejawantahan kasih orang tua yang tak
kenal masa. Ada
hidup yang sedang kau sulam untuk sebuah masa depan.
Dari mereka, aku mengerti. Mengapa
seorang ayah akan selalu menganggap anak-anaknya adalah anak kecil. Karena
mereka tak pernah ingin sesuatu yang buruk terjadi sehingga berusaha melindungi
sang buah hati dengan sempurna. Siluet itu tergambar seketika di depan mataku.
Teringat betapa jasa Ayah tak pernah bisa terbalas. Rasa kekhawatirannya setiap
kali menungguku pulang kerja hingga larut, jiwanya yang tak pernah lelah untuk
memberiku nasehat kehidupan dan cintanya yang kadang bungkam dalam sikap
disiplinnya semata agar aku mampu menjadi putrinya yang tangguh.
Untuk seluruh “Ayah” di dunia,
Berbahagialah sebab kalian adalah ayah
terhebat bagi setiap anak, ayah nomor satu yang selalu mereka banggakan diluar sana. Ayah terbaik yang
senantiasa mereka sanjungi, ayah terkasih yang tak pernah lepas dari
lafaz-lafaz doanya. Seperti apapun kecewa yang kadang kau rasakan atas tingkah
mereka, sungguh mereka hanya ingin menarik perhatianmu saja. Berbagilah rasa,
jangan pernah menjadikan mereka sebagai sisa waktumu. Merekalah semangat
juangmu, merekalah tujuan langkah hidupmu, merekalah arti kerja kerasmu,
merekalah dirimu.
::: Inspiring by => sebuah perjalanan
di Desa Jaddih Timur :::

Tidak ada komentar:
Posting Komentar