Sabtu, 11 Agustus 2012

Saat mereka memanggilmu “Ayah”



          Ayah, bukan sebutan yang hanya menjadi pemanis di bibir saja. Dalam kata sederhana itulah sesungguhnya makna luar biasa sedang dipertaruhkan. Terbayangkankah ketika di belahan bumi lain begitu banyak jiwa-jiwa yang merindukan panggilan itu. Mungkin selama ini nyaris tertutupi oleh peran perempuan-perempuan tangguh yang kerap menjadi sorotan berbagai media.
          Pada sebuah jejak, langkah terhenti di satu sudut pembelajaran berharga yang kudapati siang itu. Terik menyengat, debu beterbangan tanpa kompromi. Kicau burung tak semerdu biasanya. Rinai suara nyanyian bambu semakin mempertegas persaksian tapak kaki di sebuah desa terdalam. Tegas nian semesta berbahasa.

           “Ayah datang, ayah datang, ayah datang”
          Suara anak kecil menyita perhatian. Seorang lelaki muda yang tengah melangkah bersama kami tampak tersenyum. Sekilas kulihat wujud kasih sayang tulus terhampar demikian jernih. Tangannya hanya sempat menggapai sesaat saja di kepala sang anak.
          “Oleh-olehnya mana, Yah ?”
          Tanya itu membuatku tersenyum getir. Siluet masa kecil begitu saja tergambar dengan jelas. Aku sama sepertinya, beberapa tahun lalu. Aku juga selalu menunggu Ayah pulang dari kerja. Aku juga selalu berangan oleh-oleh apa yang akan dibawa oleh Ayah di sore hari. Aku juga senantiasa memupuk rindu sedari pagi. Akupun kerap mendamaikan hati dan memupuk begitu banyak kejutan untuknya. Memamerkan hasil ulangan, merangkai cerita-cerita seru bahkan tak segan melawan rasa kantuk ketika Ayah harus bekerja lebih ekstra dan terpaksa pulang hingga larut malam.
          “Maaf, Nak. Hari ini Ayah nggak bawa oleh-oleh. Besok ya”
Nada kesedihan yang coba dibungkus dengan tawa renyah. Sunggingan senyum menjadi hadiah manis yang kemudian berbalas anggukan tanda mengerti. Aku terkesima akan bahasa nan halus. Nada kecewa sempat terbaca pada raut wajah bocah itu tapi ia tak juga protes meskipun ada nelangsa akan ingin yang tak terjawab.

Bocah kecil itu kembali bermain dan berbaur dengan kawan-kawannya. Sementara sang ayah kembali menerangkan beberapa hal kepada kami. Bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, saat ini menjadi sebuah tugas yang harus aku jalani sebagai konsekuensi atas jabatan baru yang diamanahkan di pundakku. Ada perbedaan yang jauh dibandingkan ketika aku hanya bertemu mereka di kantor saja. Ruang dingin berAC hanya sempat menjamah sedikit saja sisi hati mereka. Keramahan dan ketulusan yang harus melekat dalam diri kami tetap saja menjadikan jarak masih terasa. Mungkin karena kesan formil masih terjaga. Namun ketika berinteraksi di lapangan, sungguh sebuah anugerah indah sebab Tuhan telah memberikanku kesempatan mengenal mereka dari sisi yang sangat dekat.
Ada perjuangan, kerja keras, tawa, air mata serta kegigihan atas apa yang ingin mereka capai. Andai saja setiap jiwa bersedia memberikan sedikit saja dari waktu yang dia punya, betapa diluar sana di pelosok desa itu masih banyak hati-hati yang harus disentuh. Masih banyak tangan-tangan yang harus kita gapai atas nama “Peduli dan kemanusiaan”.

Merasakan kembali suasana keakraban masyarakat yang mungkin tak lagi nyata di kota-kota besar. Senyuman ramah dari orang yang lalu lalang sekalipun mereka tak mengenali kami, menjadi sebuah catatan betapa persahabatan itu menarik jiwa-jiwa dengan sendirinya dalam bingkai ketulusan. Saat kau bentangkan hatimu untuk mereka, maka magnet demikian cepat bereaksi. Hangat jiwa-jiwa itu membuat dinginnya udara tak lagi terasa. Aku kembali tergelitik melihat bocah kecil yang kini sendiri, setelah kawan-kawannya telah pergi meninggalkannya. Ia berlari menuju sang ayah lalu dengan sangat manja duduk di pangkuannya.
“Dia memang selalu begini, Mbak. Kalau saya datang, dari dalam rumah dia berlari lalu minta digendong. Biasanya menanyakan oleh-oleh yang saya bawa. Setelah itu dia akan bercerita tentang apa saja yang dialaminya seharian ini. Ada saja yang ingin ia pamerkan, anak sekecil ini mana tahu kalau orang tuanya lelah dan ingin cepat istirahat”
“Kalau dalam keadaan capek, biasanya kita mudah terpancing emosi. Sempat merasakan seperti itu ?” tanyaku
Sembari tertawa, lelaki itu mengecup kening si bocah yang tengah asyik memainkan pesawat kertasnya sambil tertawa renyah.
Pernah. Tapi kemudian saya sadar, dia nggak salah apa-apa. Wajar kalau dia meminta perhatian saya, sebab selama seharian nggak bertemu sama sekali. Melihat keluguannya rasa lelah itu sirna, Mbak. Celotehnya yang ringan, keinginan-keinginannya yang dipaparkan dalam bahasa anak-anak adalah energi tersendiri yang membuat saya semakin bersemangat untuk bekerja dan memberikan yang terbaik bagi keluarga. Saya ingin kelak ia bisa mencapai cita-citanya”
“Dia sangat beruntung”
“Saya rasa setiap orang tualah yang beruntung dianugerahi anak-anak. Amanah yang tak semua orang dapat memilikinya. Maka sangat miris ketika ada beberapa ayah yang rela menelantarkan keluarganya. Padahal dalam doa anak-anak itulah sesungguhnya berkah akan mengalir. Mbak dengar bukan ketika anak saya tadi menagih oleh-oleh dan saya tak membawanya ?”
Aku mengangguk pelan. Menanti apa yang akan ia paparkan selanjutnya.
“Sedih, Mbak. Saya tahu dia telah berharap itu sejak saya pergi tadi pagi. Saya tahu dia telah berangan tentang apa yang akan ia nikmati nantinya. Binar matanya yang mengerjap saat melihat saya dari kejauhan, sungguh pemandangan yang indah. Ada yang menanti kita, kerja keras itu seakan tiada terasa. Tapi saya tahu ketika saya tak membawa apa yang diharapkannya, dia akan berdoa agar esok saya datang dengan hasil yang lebih baik”
Kedekatan mereka yang natural mungkin terjadi pada setiap ayah dan anak. Berbahagialah ketika mereka memanggilmu “Ayah”, sebab disanalah Tuhan senantiasa mengingatkan akan tanggung jawab yang nyata di pundakmu. Ada harapan yang sedang kau perjuangkan. Ada impian yang sedang kau rintis jalannya agar kelak mereka dapat menitinya dengan sempurna. Ada cinta yang sedang kau bentangkan untuk pengejawantahan kasih orang tua yang tak kenal masa. Ada hidup yang sedang kau sulam untuk sebuah masa depan.

Dari mereka, aku mengerti. Mengapa seorang ayah akan selalu menganggap anak-anaknya adalah anak kecil. Karena mereka tak pernah ingin sesuatu yang buruk terjadi sehingga berusaha melindungi sang buah hati dengan sempurna. Siluet itu tergambar seketika di depan mataku. Teringat betapa jasa Ayah tak pernah bisa terbalas. Rasa kekhawatirannya setiap kali menungguku pulang kerja hingga larut, jiwanya yang tak pernah lelah untuk memberiku nasehat kehidupan dan cintanya yang kadang bungkam dalam sikap disiplinnya semata agar aku mampu menjadi putrinya yang tangguh.

Untuk seluruh “Ayah” di dunia,
Berbahagialah sebab kalian adalah ayah terhebat bagi setiap anak, ayah nomor satu yang selalu mereka banggakan diluar sana. Ayah terbaik yang senantiasa mereka sanjungi, ayah terkasih yang tak pernah lepas dari lafaz-lafaz doanya. Seperti apapun kecewa yang kadang kau rasakan atas tingkah mereka, sungguh mereka hanya ingin menarik perhatianmu saja. Berbagilah rasa, jangan pernah menjadikan mereka sebagai sisa waktumu. Merekalah semangat juangmu, merekalah tujuan langkah hidupmu, merekalah arti kerja kerasmu, merekalah dirimu.

::: Inspiring by => sebuah perjalanan di Desa Jaddih Timur :::

Tidak ada komentar: