Ketika kau memberikan
sesuatu kepada seseorang, maka jangan pernah memberikan hal yang serupa pada
orang lain. Setiap karya selalu punya cita rasa yang tak sama. Hal yang sama
juga akan menjadi berbeda ketika disemai pada ladang yang berbeda. Penerimaan
kerap kali menjadi tak serupa. Ini pernah aku pahami dalam rasa. Namun aku
terlupa betapa setiap orang selalu punya hak untuk melakukan apapun atas yang
ia punya. Senja yang kucinta, mungkin saja tak serupa dengan yang mereka punya.
Aku tahu ego menjeratku kala itu.
Sebuah kabar yang
kukirimkan kepada seorang sahabat membuatku tersadar. Betapa semuanya belum
bening. Masih saja ada dunia yang mencampurinya. Aku masih sempat berkelit
padanya, manusiawi bukan jika aku merasa seperti itu. Kecewa yang melanda
semata karena aku tak pernah menyangka jika kalimat-kalimat itu juga akan
menjadi hadiah bagi orang lain. Hey, memangnya aku siapa. Aku boleh mencintai
senja tapi ketika orang lain tiba-tiba menjadi tertarik untuk juga mengenal
jingga, masa ya aku tak terima. Semestinya dalam kebeningan hati semua tak usah
dirasakan sebagai kecewa, tapi sebentuk teguran dariNya bahwa kita harus segera berbenah. Menata kembali hati agar tak
lagi terjangkiti oleh rasa-rasa tak benar seperti itu.
Tuhan
Maha Cinta, tak pernah ingin hamba-hambaNya
tersesat. Kupahami bahasa kasihNya
dengan sepenuhnya kepasrahan. Menepiskan sesuatu yang bergerak. Membiarkan ia
datang dalam rangkaian cintaNya saja.
Senja tak pernah sama, begitu juga dengan rasa. Yang terindah hanya yang datang
dariNya saja.
Aku
berserah padaMu saja, Rabb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar