Sabtu, 11 Agustus 2012

Puisi Senja, Sebuah Titik Balik




Ketika kau memberikan sesuatu kepada seseorang, maka jangan pernah memberikan hal yang serupa pada orang lain. Setiap karya selalu punya cita rasa yang tak sama. Hal yang sama juga akan menjadi berbeda ketika disemai pada ladang yang berbeda. Penerimaan kerap kali menjadi tak serupa. Ini pernah aku pahami dalam rasa. Namun aku terlupa betapa setiap orang selalu punya hak untuk melakukan apapun atas yang ia punya. Senja yang kucinta, mungkin saja tak serupa dengan yang mereka punya. Aku tahu ego menjeratku kala itu.

Sebuah kabar yang kukirimkan kepada seorang sahabat membuatku tersadar. Betapa semuanya belum bening. Masih saja ada dunia yang mencampurinya. Aku masih sempat berkelit padanya, manusiawi bukan jika aku merasa seperti itu. Kecewa yang melanda semata karena aku tak pernah menyangka jika kalimat-kalimat itu juga akan menjadi hadiah bagi orang lain. Hey, memangnya aku siapa. Aku boleh mencintai senja tapi ketika orang lain tiba-tiba menjadi tertarik untuk juga mengenal jingga, masa ya aku tak terima. Semestinya dalam kebeningan hati semua tak usah dirasakan sebagai kecewa, tapi sebentuk teguran dariNya bahwa kita harus segera berbenah. Menata kembali hati agar tak lagi terjangkiti oleh rasa-rasa tak benar seperti itu.

          Tuhan Maha Cinta, tak pernah ingin hamba-hambaNya tersesat. Kupahami bahasa kasihNya dengan sepenuhnya kepasrahan. Menepiskan sesuatu yang bergerak. Membiarkan ia datang dalam rangkaian cintaNya saja. Senja tak pernah sama, begitu juga dengan rasa. Yang terindah hanya yang datang dariNya saja.
          Aku berserah padaMu saja, Rabb.

Tidak ada komentar: