Minggu, 12 Agustus 2012

Tentang Kita



Suatu hari di Panti …

Menapak lagi jejak di pelataran panti, sebuah rasa mengajakku pada satu sudut yang bergemuruh. Selalu begitu, meskipun ini bukan untuk yang pertamakalinya aku datang kesini. Suka cita dan antusiasme tak biasa seolah menyihirku untuk kembali.
          Suasana masih sepi, sedikit tanya menuntunku bercengkerama. Hanya dua kali ucapan salam, seorang perempuan paruh baya dengan paras yang masih terlihat cantik seakan tergopoh menghampiri. Senyum itu langsung terkembang saat ia telah mampu mencari rekam jejakku dalam ingatannya.
          Subhanallah, Dik En” ucapnya
          Aku segera menghambur dalam peluknya. Hangat yang telah lama tak menjamahku. Ada kerinduan yang rasanya ingin aku tumpahkan. Titik air mata menggenang. Cengeng, begitu mungkin pikirnya. Tapi aku tahu dia sangat mengenaliku. Keadaan haru macam begini, mana pernah mampu kutahan air mata.

          “Eh, anak gadis nggak boleh cengeng”
          Aku tertawa mendengar kalimat itu. Kalimat yang dulu selalu ia hadiahkan jika hatiku terlampau cepat untuk haru. Tangan lembutnya menuntunku ke dalam panti. Tak ada yang berubah walaupun beberapa sudut tampak mengalami pembaruan. Warna dindingnya juga masih sama. Satu hal yang membuatku terkejut, ada satu bunga mawar putih yang menyembul di balik jendela dan itu adalah satu-satunya. Baru kali ini aku mendapatkan bunga itu di panti. Entah siapa yang menanamnya, aku juga tak hendak mencari tahu. Ada syukur yang terucap, Tuhan selalu indah dengan segala rencanaNya.

          Beberapa menit kemudian, langkahku sampai di ruang tengah yang biasa digunakan oleh adik-adik panti untuk belajar bersama. Beberapa orang tampak asyik dengan pelajarannya. Sementara yang lain ada yang sedang berlarian bermain bersama. Bahagia itu adalah saat melihat tawa renyah mereka. Rasanya telah lama aku tak datang kesini.

          Hey, lihat siapa yang datang” ucap ibu panti
          Aku tersenyum ketika melihat wajah-wajah tak berdosa itu menoleh serentak. Kubentangkan tangan untuk memberi mereka pelukan terhangat.
          “Kakak …”
          Seruan itu serasa oase di gersang ladang hatiku. Sejuk seketika menyambutku dalam haru biru. Panggilan yang telah lama terhanyut arus kesibukan dan rutinitas hingga kulupakan waktu untuk menjenguk malaikat-malaikat kecilku disini.
          Berada di tengah-tengah mereka seolah menemukan sebuah dunia baru. Terlahir sebagai anak bungsu membuatku tak pernah menerima panggilan “Kakak”. Seluruh keluarga memanggilku “Adik”. Ciuman mereka yang tulus dalam ucap penuh cinta memberiku energi luar biasa hari ini. Ada rasa bersalah yang sempat terpenjara di sudut rasaku. Waktu terhenti dalam detik yang berdetak.

          “Dik, masih ingat dengan Adi ?”
          Aku terperangah mendengar pertanyaan Ibu panti. Seorang adik kecil berusia satu setengah tahun digandengnya mendekatiku. Aku menyambut uluran tangannya yang mungil, senyumnya mengembang. Mataku menoleh meminta penjelasan.
          “Dia yang dulu pernah kamu gendong sewaktu kamu datang kemari, waktu itu dia masih berusia tiga bulan”
          Subahanallah, Adi kecil sudah bisa berjalan sekarang. Saat pertamakali bertemu dengannya dulu, dia menjadi penghuni baru di panti ini. saat usianya masih satu bulan, orang tuanya sudah menitipkan dia di panti. Nelangsa dan sungguh lara melihat kenyataan ini. Mata itu menyeretku pada kesyukuran tak terkira betapa diluar sana masih banyak orang yang hidup dalam ketakberuntungan. Lalu pantaskah kita mengeluhkan hidup kala sesuatu terjadi diluar apa yang kita mau. Sungguh, Tuhan adalah penyempurna yang Maha Sempurna.

          Ingatan mengajakku pada tiga malaikat kecil lainnya. Tuhan berkehendak lain, kali ini aku tak lagi bisa berjumpa dengan mereka. Dua diantaranya telah diadopsi oleh keluarga di luar kota. Sementara yang satu lagi telah berada dalam pelukan Sang Maha Cinta. Hatiku perih. Janji yang pernah tersemat untuk mereka belum bisa aku tuntaskan. Sayang, waktu tak lagi menempatkan kami dalam masa dan waktu yang sama. Kini, hanya doa yang bisa kupersembahkan untuknya. Semoga dalam peluk cintaNya, dia akan selalu tersenyum dalam bahagia.


          Malaikat-malaikat kecil …
          Tentang kita, biar saja ada dalam titahNya
          Tentang kita, cukup hati yang merasa
          Tentang kita, hanya waktu yang menjawab

                    Degup menderu
                    Dalam kosmik ketulusan yang memeluk jiwa
                    Bertemunya jemari kita adalah senyawa
                    Bersatunya rasa adalah cinta sang Maha Cinta

          Rindu akan terus memburu
          Setangkup janji tak lagi tepikanmu di sisa waktu
          Luluhku dalam tatap mata terindahmu
          Menuntunku pada jejak para penikmat langit
          Untuk terus memeluk hatimu

          @Panti / 12 08 2012
          “Catatan Hati Pecinta Senja”
         

Tidak ada komentar: