Suatu hari di Panti …
Menapak lagi jejak di
pelataran panti, sebuah rasa mengajakku pada satu sudut yang bergemuruh. Selalu
begitu, meskipun ini bukan untuk yang pertamakalinya aku datang kesini. Suka
cita dan antusiasme tak biasa seolah menyihirku untuk kembali.
Suasana
masih sepi, sedikit tanya menuntunku bercengkerama. Hanya dua kali ucapan
salam, seorang perempuan paruh baya dengan paras yang masih terlihat cantik
seakan tergopoh menghampiri. Senyum itu langsung terkembang saat ia telah mampu
mencari rekam jejakku dalam ingatannya.
“Subhanallah, Dik En” ucapnya
Aku
segera menghambur dalam peluknya. Hangat yang telah lama tak menjamahku. Ada kerinduan yang rasanya
ingin aku tumpahkan. Titik air mata menggenang. Cengeng, begitu mungkin
pikirnya. Tapi aku tahu dia sangat mengenaliku. Keadaan haru macam begini, mana
pernah mampu kutahan air mata.
“Eh, anak gadis nggak boleh cengeng”
Aku
tertawa mendengar kalimat itu. Kalimat yang dulu selalu ia hadiahkan jika
hatiku terlampau cepat untuk haru. Tangan lembutnya menuntunku ke dalam panti.
Tak ada yang berubah walaupun beberapa sudut tampak mengalami pembaruan. Warna
dindingnya juga masih sama. Satu hal yang membuatku terkejut, ada satu bunga
mawar putih yang menyembul di balik jendela dan itu adalah satu-satunya. Baru
kali ini aku mendapatkan bunga itu di panti. Entah siapa yang menanamnya, aku
juga tak hendak mencari tahu. Ada
syukur yang terucap, Tuhan selalu indah dengan segala rencanaNya.
Beberapa
menit kemudian, langkahku sampai di ruang tengah yang biasa digunakan oleh
adik-adik panti untuk belajar bersama. Beberapa orang tampak asyik dengan
pelajarannya. Sementara yang lain ada yang sedang berlarian bermain bersama.
Bahagia itu adalah saat melihat tawa renyah mereka. Rasanya telah lama aku tak
datang kesini.
“Hey, lihat siapa yang datang” ucap ibu
panti
Aku
tersenyum ketika melihat wajah-wajah tak berdosa itu menoleh serentak.
Kubentangkan tangan untuk memberi mereka pelukan terhangat.
“Kakak …”
Seruan
itu serasa oase di gersang ladang hatiku. Sejuk seketika menyambutku dalam haru
biru. Panggilan yang telah lama terhanyut arus kesibukan dan rutinitas hingga
kulupakan waktu untuk menjenguk malaikat-malaikat kecilku disini.
Berada
di tengah-tengah mereka seolah menemukan sebuah dunia baru. Terlahir sebagai
anak bungsu membuatku tak pernah menerima panggilan “Kakak”. Seluruh keluarga
memanggilku “Adik”. Ciuman mereka yang tulus dalam ucap penuh cinta memberiku
energi luar biasa hari ini. Ada
rasa bersalah yang sempat terpenjara di sudut rasaku. Waktu terhenti dalam
detik yang berdetak.
“Dik, masih ingat dengan Adi ?”
Aku
terperangah mendengar pertanyaan Ibu panti. Seorang adik kecil berusia satu
setengah tahun digandengnya mendekatiku. Aku menyambut uluran tangannya yang mungil,
senyumnya mengembang. Mataku menoleh meminta penjelasan.
“Dia yang dulu pernah kamu gendong
sewaktu kamu datang kemari, waktu itu dia masih berusia tiga bulan”
Subahanallah, Adi kecil sudah bisa
berjalan sekarang. Saat pertamakali bertemu dengannya dulu, dia menjadi
penghuni baru di panti ini. saat usianya masih satu bulan, orang tuanya sudah
menitipkan dia di panti. Nelangsa dan sungguh lara melihat kenyataan ini. Mata
itu menyeretku pada kesyukuran tak terkira betapa diluar sana masih banyak orang yang hidup dalam
ketakberuntungan. Lalu pantaskah kita mengeluhkan hidup kala sesuatu terjadi
diluar apa yang kita mau. Sungguh, Tuhan adalah penyempurna yang Maha Sempurna.
Ingatan
mengajakku pada tiga malaikat kecil lainnya. Tuhan berkehendak lain, kali ini
aku tak lagi bisa berjumpa dengan mereka. Dua diantaranya telah diadopsi oleh
keluarga di luar kota.
Sementara yang satu lagi telah berada dalam pelukan Sang Maha Cinta. Hatiku
perih. Janji yang pernah tersemat untuk mereka belum bisa aku tuntaskan.
Sayang, waktu tak lagi menempatkan kami dalam masa dan waktu yang sama. Kini,
hanya doa yang bisa kupersembahkan untuknya. Semoga dalam peluk cintaNya, dia akan selalu tersenyum dalam
bahagia.
Malaikat-malaikat kecil …
Tentang kita, biar saja ada dalam
titahNya
Tentang kita, cukup hati yang merasa
Tentang kita, hanya waktu yang
menjawab
Degup
menderu
Dalam
kosmik ketulusan yang memeluk jiwa
Bertemunya
jemari kita adalah senyawa
Bersatunya
rasa adalah cinta sang Maha Cinta
Rindu akan terus memburu
Setangkup janji tak lagi tepikanmu di
sisa waktu
Luluhku dalam tatap mata terindahmu
Menuntunku pada jejak para penikmat
langit
Untuk terus memeluk hatimu
@Panti / 12 08 2012
“Catatan Hati Pecinta Senja”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar