Kamis, 21 Februari 2013

NEW NOVELET : LOVE

Ingin tahu bagaimana cinta dikemas dalam cerita yang berbeda ? Mau tahu setting-setting keren yang melengkapi setiap cerita ? Jangan lewatkan buku yang satu ini.

6 Cerita cinta, 6 Penulis




Cuplikan Novelet "SRIKANDI  DA'IRING"



1.   Sunrise, Aku mencumbumu

Pagi menyemarak, gundah lepas sudah. Terpukau kalimat cinta dalam tabur pelangi. Berdenting pada irama semusim yang berganti. Mengalun syahdu untuk menghempas fatamorgana waktu. Perempuan itu terhenyak ketika sebuah suara mengejutkannya dari belakang.
“Mengapa kita harus berjuang ? Bukankah tanah ini telah cukup memberi apa yang kita mau” tanya perempuan itu
“Sebab hidup bukan sekedar menerima. Hidup adalah teriakan-teriakan nadi pada zaman yang tak mau memberi kita ruang berlebih” jawab lelaki renta itu
“Begitukah ? Apakah itu bukan bisikan kecemburuan yang menguasai jiwa, tak sanggup terbaca lalu memilih berontak pada saat dan masa yang tak tepat ?”
“Tak tepat katamu ? Hey Nona, lihat sekelilingmu. Apa yang kau baca dari tanah ini ? Aku ragu apakah darahmu masih mendidih ketika kukatakan kau tak pantas menjadi anak tanah ini”
Perbincangan pagi, selepas embun meninggalkan dedaunan dan berpulang pada kedamaian hakikinya. Sri, gadis desa yang tumbuh meremaja dengan segenap kompleksitas tanah airnya. Tanah tempatnya mencium aroma surgawi setiap kali melihat hamparan laut yang bergerak mendayu-dayu. Saat ombak berarak dan berlari ke arahnya setiap kali dia datang di sisi pantai. Ketika kicau burung menyenandung syair semesta dalam dentuman impian yang menggunung. Manakala berjuta ingin membuncah untuk membawa keindahan tanah ini pada dunia diluar sana.
Da’iring, ia sangat mencintai desa itu. Terlahir dalam keluarga sederhana yang masih tergolong cukup untuk memberinya kesempatan mengenyam pendidikan hingga bangku universitas. Ini juga adalah sebuah perjuangan di tengah hiruk pikuk masyarakat yang lebih memilih untuk menikahkan anak gadis mereka di usia yang terlampau dini.
***

“Mau bagaimana lagi, Sri ? Aku tak punya pilihan lain”
“Kamu harus berjuang, Romlah. Nggak bisa menurut saja dengan kehendak-kehendak yang mengurung mimpimu. Aku sangat mengenalmu, bakatmu terlalu sayang untuk kau abaikan. Apa kamu mau terkurung di sangkar emas tanpa punya daya kreasi sedikitpun ?”
“Dulu, aku pernah berfikir hal yang sama denganmu. Namun kini ? Aku memang memilih menyerah. Kau lihat itu, debur ombak yang selalu berpadu dengan sunrise. Tempat ini terlalu berarti untuk kutinggalkan. Ada banyak amanah yang harus aku penuhi. Kadangkala hidup mengajak kita untuk berderma pada sesuatu yang tak kita inginkan. Tapi aku percaya pada suatu masa kelak, entah di dimensi waktu yang mana kita akan tersenyum dengan pilihan ini”
“Rom, jujurlah padaku. Apa kamu bahagia dengan pilihan ini ? Usia kita sangat dini untuk menjalani tanggungjawab sebesar itu. Apa kamu nggak iri dengan gadis-gadis diluar desa kita yang bisa dengan bebas menentukan nasibnya ? Apa kamu nggak ingin bisa melanglang buana hingga ke negeri Cina untuk masa depan yang cerah ? Apa kamu nggak …”
“Sri, cukup. Aku bilang cukup. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sunrise ini bukan lagi milikmu”
“Apa ? Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan ?”
“Aku bilang pergilah, pergi !. Aku sudah memilih dan kumohon jangan pernah mengusik apa yang aku lakukan. Kamu urus saja dirimu. Kulihat kamu juga nggak lebih membanggakannya dibanding aku. Apa kamu pernah bertanya pada orang tuamu, benarkah mereka bisa melepasmu seperti yang kamu inginkan itu ? Aku ragu”
Romlah berkata dengan sinis lalu ia pergi meninggalkan Sri sendiri. Dalam sunyi yang menghening, sunrise sedikit demi sedikit juga pergi. Terik mulai menyengat, namun Sri masih saja terpaku. Tempat ini tak pernah bisa ia lepaskan begitu saja. Disinilah ia selalu mengawali hari, bertemu dengan pelaku-pelaku hidup yang memberinya banyak ruang untuk belajar. Air matanya mengalir, ada gemuruh di dadanya sebagai tanda tak terima pada zaman.
“Aaaaaaggghhhhh”
Gadis itu berteriak memecah alam. Semesta bergidik mendengar seruan yang sungguh tak biasa. Kelembutan itu telah lenyap, sapa manis itu tak lagi tersirat di seraut wajah manis. Sri mematung, kelu dan beku melilit lidahnya. Asam lambungnya seakan mulai memuncak dan memuntahkan bara-bara hangat ketaksepakatan. Cintanya pada Da’iring tak  bisa dipungkiri tapi ia juga tak ingin memeluk Da’iring sepanjang hidupnya. Ada yang ingin dibaginya dengan dunia diluar sana. Da’iring serasa labirin yang menjerat dan membuatnya terkurung tanpa menemukan arah jalan pulang.
***


Bagaimana kelanjutan dari kisah ini ? Temukan jawabannya dalam buku 
CINTA : Kemarin, Esok dan Selamanya

Bisa dipesan dan dibeli dari sekarang 
Masih ada 5 cerita lainnya yang sangat menarik, mengharu biru dan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. So, tunggu apa lagi. Serbuuuuuuuu 

Tidak ada komentar: