6 Cerita cinta, 6 Penulis
Cuplikan Novelet "SRIKANDI DA'IRING"
1. Sunrise, Aku mencumbumu
Pagi menyemarak, gundah lepas sudah. Terpukau kalimat cinta dalam tabur
pelangi. Berdenting pada irama semusim yang berganti. Mengalun syahdu untuk
menghempas fatamorgana waktu. Perempuan itu terhenyak ketika sebuah suara
mengejutkannya dari belakang.
“Mengapa kita harus berjuang ?
Bukankah tanah ini telah cukup memberi apa yang kita mau” tanya perempuan
itu
“Sebab hidup bukan sekedar
menerima. Hidup adalah teriakan-teriakan nadi pada zaman yang tak mau memberi
kita ruang berlebih” jawab lelaki renta itu
“Begitukah ? Apakah itu bukan
bisikan kecemburuan yang menguasai jiwa, tak sanggup terbaca lalu memilih
berontak pada saat dan masa yang tak tepat ?”
“Tak tepat katamu ? Hey Nona, lihat
sekelilingmu. Apa yang kau baca dari tanah ini ? Aku ragu apakah darahmu masih
mendidih ketika kukatakan kau tak pantas menjadi anak tanah ini”
Perbincangan pagi, selepas embun meninggalkan dedaunan dan berpulang pada
kedamaian hakikinya. Sri, gadis desa yang tumbuh meremaja dengan segenap
kompleksitas tanah airnya. Tanah tempatnya mencium aroma surgawi setiap kali
melihat hamparan laut yang bergerak mendayu-dayu. Saat ombak berarak dan
berlari ke arahnya setiap kali dia datang di sisi pantai. Ketika kicau burung
menyenandung syair semesta dalam dentuman impian yang menggunung. Manakala
berjuta ingin membuncah untuk membawa keindahan tanah ini pada dunia diluar sana.
Da’iring, ia sangat mencintai
desa itu. Terlahir dalam keluarga sederhana yang masih tergolong cukup untuk
memberinya kesempatan mengenyam pendidikan hingga bangku universitas. Ini juga
adalah sebuah perjuangan di tengah hiruk pikuk masyarakat yang lebih memilih
untuk menikahkan anak gadis mereka di usia yang terlampau dini.
***
“Mau bagaimana lagi, Sri ? Aku tak punya pilihan lain”
“Kamu harus berjuang, Romlah. Nggak bisa menurut saja dengan
kehendak-kehendak yang mengurung mimpimu. Aku sangat mengenalmu, bakatmu
terlalu sayang untuk kau abaikan. Apa kamu mau terkurung di sangkar emas tanpa
punya daya kreasi sedikitpun ?”
“Dulu, aku pernah berfikir hal yang sama denganmu. Namun kini ? Aku
memang memilih menyerah. Kau lihat itu, debur ombak yang selalu berpadu dengan sunrise. Tempat ini terlalu berarti
untuk kutinggalkan. Ada
banyak amanah yang harus aku penuhi. Kadangkala hidup mengajak kita untuk
berderma pada sesuatu yang tak kita inginkan. Tapi aku percaya pada suatu masa
kelak, entah di dimensi waktu yang mana kita akan tersenyum dengan pilihan ini”
“Rom, jujurlah padaku. Apa kamu bahagia dengan pilihan ini ? Usia kita
sangat dini untuk menjalani tanggungjawab sebesar itu. Apa kamu nggak iri
dengan gadis-gadis diluar desa kita yang bisa dengan bebas menentukan nasibnya
? Apa kamu nggak ingin bisa melanglang buana hingga ke negeri Cina untuk masa
depan yang cerah ? Apa kamu nggak …”
“Sri, cukup. Aku bilang cukup. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sunrise
ini bukan lagi milikmu”
“Apa ? Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan ?”
“Aku bilang pergilah, pergi !. Aku sudah memilih dan kumohon jangan
pernah mengusik apa yang aku lakukan. Kamu urus saja dirimu. Kulihat kamu juga
nggak lebih membanggakannya dibanding aku. Apa kamu pernah bertanya pada orang
tuamu, benarkah mereka bisa melepasmu seperti yang kamu inginkan itu ? Aku
ragu”
Romlah berkata dengan sinis lalu ia pergi meninggalkan Sri sendiri. Dalam
sunyi yang menghening, sunrise sedikit
demi sedikit juga pergi. Terik mulai menyengat, namun Sri masih saja terpaku.
Tempat ini tak pernah bisa ia lepaskan begitu saja. Disinilah ia selalu
mengawali hari, bertemu dengan pelaku-pelaku hidup yang memberinya banyak ruang
untuk belajar. Air matanya mengalir, ada gemuruh di dadanya sebagai tanda tak
terima pada zaman.
“Aaaaaaggghhhhh”
Gadis itu berteriak memecah alam. Semesta bergidik mendengar seruan yang
sungguh tak biasa. Kelembutan itu telah lenyap, sapa manis itu tak lagi
tersirat di seraut wajah manis. Sri mematung, kelu dan beku melilit lidahnya. Asam
lambungnya seakan mulai memuncak dan memuntahkan bara-bara hangat ketaksepakatan.
Cintanya pada Da’iring tak bisa
dipungkiri tapi ia juga tak ingin memeluk Da’iring sepanjang hidupnya. Ada yang ingin dibaginya dengan dunia diluar sana. Da’iring serasa
labirin yang menjerat dan membuatnya terkurung tanpa menemukan arah jalan pulang.
***
Bagaimana kelanjutan dari kisah ini ? Temukan jawabannya dalam buku
CINTA : Kemarin, Esok dan Selamanya
Bisa dipesan dan dibeli dari sekarang
Masih ada 5 cerita lainnya yang sangat menarik, mengharu biru dan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. So, tunggu apa lagi. Serbuuuuuuuu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar