Jumat, 22 Februari 2013

Mengeja Hidup dari Si Pecel Pincuk





     Hari ini kembali sebuah pelajaran berharga singgah di rapalan jejak yang kupunya. Pada lembaran baru di halaman yang tak lagi terhitung, semesta mengajak satu sisi hati kembali mencumbui catatan raga.
     Sukses adalah impian banyak orang. Aku, kamu juga mereka diluar sana. Tapi tak banyak orang yang mau berjuang menggapainya dari titik nol. Segala yang diinginkan, mesti lekas terjadi. Padahal hidup bukanlah proses yang serba instan. Sedikit sekali orang yang menghargai susah payahnya sebuah pencapaian sebagai sebuah pelajaran maha indah yang kelak akan menjadi pembelajaran bagi tunas-tunas kita.
    
     Kali ini sengaja aku tak sarapan pagi di rumah seperti biasanya. Salah satu alasan adalah rasa penasaran oleh cerita salah seorang kawan yang mengatakan bahwa nasi pecel pincuk di stadion Bangkalan itu enak banget. Menurutku pecel sih sama saja dimana-mana, yang membedakan paling cuma cita rasa manis atau pedasnya saja. Karena tak hanya satu orang yang memberikan testimoni maka tak ayal akupun tergelitik untuk mencoba. Mungkin beberapa orang menganggapku ketinggalan zaman karena hari ini adalah untuk pertamakalinya aku mencicipi nasi pecel pincuk itu. Tanpa membuang waktu, kami segera meluncur ke stadion. Jam begini sudah sepi. Ada ketakutan jangan-jangan nasi pecelnya sudah habis. Hmm, benar saja, si penjual bilang mungkin kalau untuk 6 orang masih bisa. Pas deh, dengan 4 bungkus titipan kawan lainnya.
     Suasana disini memang nyaman. Sejuk dengan pemandangan yang asri. Menikmati makanan sederhana seperti ini diselingi senda gurau para pengunjung adalah keadaan yang sejenak bisa merehatkan pikiran dari kesibukan di kantor. 




     “Pasti deh mulai wawancara”
     Aku selalu geli setiap kali mendengar kalimat ini. Sudah menjadi kebiasaan saat bertemu orang-orang seperti mereka, aku tak hanya menikmati menu yang tersaji tapi juga mengajak si penjual ngobrol. Karena aku selalu yakin, akan ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dan kita tak pernah tahu darimana itu akan datang.

     Bapak Ahmad, mungkin bisa dikatakan salah satu orang yang sukses dengan usahanya. Tapi dibalik semua itu dia adalah pejuang hidup yang keras dan tangguh.
     “Sudah lama berjualan seperti ini, Pak ?”
     “Belum terlalu lama, Neng”
     “Hmm kenapa memilih nasi pecel pincuk ?”
     “Ceritanya panjang. Dulu bapak kerja di perusahaan yang ada di Jakarta. Cukup sukses sih karena sampai menduduki salah satu posisi penting. Tapi kemudian kolaps dan bangkrut”
     “Terus ?”
     “Bapak pulang kembali kesini. Jadi pengangguran dan hanya berjualan sticker kecil-kecilan. Yang beli juga anak-anak SD. Kehidupan masih tetap, tak berubah padahal anak-anak sudah mulai sekolah. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja susah. Sampai akhirnya bapak berdiskusi sama istri untuk buka usaha saja. Dengan pinjaman modal, akhirnya kami sepakat untuk menjual nasi pecel pincuk. Awalnya ide itu datang dari obrolan beberapa teman. Setiap kali mereka datang kesini selalu tanya nasi pecel yang enak itu dimana, harganya berapa. Rata-rata kan Rp 9000 lalu bapak bilang, ya sudah Rp 5000 saja beli di aku”
     “Lalu mulailah mencari tempat. Dengan sepeda motor butut akhirnya kami harus mengangkut barang-barang dari rumah ke stadion. Kami memilih menjualnya malam hari. Spekulasi juga sih mana ada orang yang mau makan nasi pecel malam-malam. Tapi segala sesuatu kalau belum dicoba nggak akan tahu hasilnya seperti apa. Sebenarnya kita hanya butuh keberanian untuk mengambil resiko, itu saja. Tapi bapak percaya bahwa jika kita berikhtiar dengan benar maka Tuhan sudah menyiapkan jalannya. Sungguh saat itu bapak benar-benar sudah mengesampingkan segala rasa malu. Walaupun dulu pernah mengenakan dasi seperti orang-orang kantoran itu dan kini banting setir seperti ini, rasanya nggak ada yang salah. Yang salah hanya mereka yang tak pernah berani untuk bangkit ketika terjatuh. Hidup nggak selamanya manis. Kalau kita tak pernah merasakan keadaan seperti ini mungkin kita tak akan pernah bisa belajar selamanya. Kehancuran yang lebih besar tentu saja akan menghampiri kita”
     “Hmm, pencapaiannya seperti apa setelah menjalani semua itu ?”
     “Bapak nggak pernah mengira, Neng. Tuhan menjawab segala kerja keras dan semangat tak kenal menyerah itu dengan cara yang indah. Bayangkan saja mana ada nasi pecel yang harus mengantri dengan pakai nomor untuk membelinya. Macam mau menabung di bank Neng saja ya”
    
     Aku tertawa bersama sinar matanya yang masih penuh dengan semangat. Aku memasuki sebuah ranah baru, tentang hidup yang harus dihadapi apapun keadaannya. Letih, lelah, perih dan air mata adalah kegetiran yang telah dijadikan obat paling mujarab oleh Pak Ahmad untuk bangkit dan menemukan keberhasilannya. Masihkah kita memasung hati dan jiwa dalam tangis yang berdarah-darah hanya karena sentilan sesaat, masihkan kita mencemburui manisnya hidup yang dimiliki orang lain padahal Tuhan sedang memberikan ruang yang jauh lebih indah andai saja kita tetap pada prasangka terbaik untukNya serta berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

     “Neng pasti nggak percaya, bonus apa yang sudah Tuhan berikan dengan cara yang sangat indah ?”
     “Apa ?”
     Dia menunjuk pada sebuah kendaraan roda 4 yang diparkir di sebelah kanan dari tempatnya berjualan. Aku berjalan mendekati kendaraan itu dan tersenyum ketika sebuah banner juga sudah terpasang disana. Kemajuan yang luar biasa. Dan semua itu hanya ia dapatkan dalam jangka waktu 8 bulan saja. Subhanallah, kado yang indah. Hanya orang-orang yang mau bangkit, tak meratapi keterpurukan lalu mengumpulkan semangat untuk berjuang. Hidup tidak mudah tapi akan menjadi indah jika kita mengerti bagaimana untuk hidup, sesungguhnya. 
     Bertemu dengan Pak Ahmad pagi ini adalah anugerah yang pantas kusyukuri. Tak semua orang berkesempatan mendengar pelajaran hidup yang demikian berarti.
     Kepada Pak Ahmad dan orang-orang diluar sana yang tetap bersahaja dalam kesederhanaan, yang selalu berbaik sangka pada Tuhan, yang tak lupa berterimakasih pada segala kegetiran hidup serta yang tak kenal kata gengsi walau harus kembali memulai hidup dari nol, kepada merekalah kita harus belajar. Tentang perjuangan, pemaknaan air mata juga indahnya senyum.

     Akan selalu ada pelangi, selepas hujan
     Jadi jangan pernah menyerah
Walau air mata akan menjadi bagian cerita
Karena hidup lebih berwarna dengan perjuangan

Mereka bisa, kita juga bisa

Tidak ada komentar: